Cappucino Espresso

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 28 August 2013

Aku teringat saat itu. Ketika kehujanan dan nggak bawa payung, aku berteduh di depan cafe mu. Kamu yang melihat aku basah dan kedinginan, mempersilakan aku masuk dengan senyum cerahmu. Awalnya aku tidak mau, tapi karena tak enak sama kamu, aku pun masuk.

Sejujurnya, aku baru pertama kali ke cafe. Aku tidak terlalu suka nongkrong. Kamu mempersilakan aku duduk dan tak lama kamu membawa 2 cangkir kopi. “Ini apa?” tanyaku lugu. Ya, lugu. Aku tak terlalu suka kopi, bahkan belum pernah minum. “Ini cappucino. Kalau minum ini, badan kamu akan hangat. Hati kamu akan nyaman, dengan menghirup aromanya dan mencoba rasanya.” katamu, masih dengan senyum cerah itu. Aku mengikuti sarannya. Dia benar, aku merasa hangat dan nyaman. “Kalau yang kamu minum itu apa?” tanyaku, karena warna nya beda. Punyaku cokelat muda, punyamu hitam. “Ini? ini espresso. Kalau meminum ini, kamu akan merasa bersyukur. Rasa pahit itu, membuatmu bisa mensyukuri apa itu rasa manis.” katamu. Aku takjub. Kamu bukan hanya menjual kopi, tapi mengenalnya.

Aku dan kamu ngobrol berdua, seperti teman lama yang nggak pernah ketemu. Kamu asyik, ceria, lucu, cantik, pokoknya perfect. Minum kopi pertamaku, menjadi istimewa. Dilatar belakangi hujan, ditemani manisnya cappucino, senyum yang selalu tersungging di wajah indahmu. Kalau orang dibayar untuk tersenyum, kamu sudah kaya sekarang.

Setiap hari aku mengunjung cafe mu. Dan seperti biasa, kamu menyambutku dengan senyum cerah itu. Aku selalu memesan kopi favoritku, cappucino. Kopi pertamaku, yang aku minum di saat istimewa. Dan kamu selalu menemaniku, ditemani espresso mu. Pernah suatu hari aku memesan espresso. Kamu kaget “Kok tumben? Biasa nya cappucino?” tanya dia. “Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru. Aku ingin mensyukuri rasa manis yang selama ini ku dapat.” kataku. Kamu pun tersenyum. Tak lama, kamu mengantar 2 cangkir espresso ke meja. Aku menghirup, aroma yang berbeda dari cappucino, lebih pekat. Aku mencicip, dan benar, rasanya pahit. Kamu hanya tertawa melihatku “Hahaha. Bagaimana? Sudah bisa mensyukuri rasa manis?” tanya mu. “Su… sudah.” kataku. Kamu tertawa, dan aku ikut tertawa. Entah untuk alasan apa aku tertawa.

Tapi itu bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, kita sudah menjadi keluarga. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Apalagi sekarang, kamu sedang mengandung buah hati kita. Suatu hari, aku membuatkanmu susu ibu hamil. Kamu menolak. Katanya kamu sedang tidak ingin minum manis sekarang. “Bagaimana kamu bisa mensyukuri yang manis kalau minum yang manis saja kamu tak suka?” kataku. Akhirnya kamu mau meminumnya.

9 bulan, saat yang amat mendebarkan dalam hidupku. Istriku di dalam sana, di ruang bersalin. Sedang berjuang melahirkan insan manusia yang akan merubah dunia nantinya. Aku gugup. Satu jam, dua jam, belum juga keluar. Setelah 3 jam, dokter pun keluar. “Gimana dok?” adalah pertanyaan pertama setelah 3 jam mulut terkunci. Ekspressi dokter itu susah di tebak. “Anak bapak lahir selamat, sehat.” kata dokter. Alhamdulillah… batinku dalam hati. “Tapi istri bapak…” dan dokter itu mengucapkan satu kalimat. Satu kalimat, yang tak kuharap akan diucap. Satu kalimat, yang membuatku sedih di saat senang.

Lalu aku masuk ruang persalinan. Aku ke sebelah tubuh istriku, atau lebih tepatnya, jasad. Seluruh tubuh istriku ditutupi kain. Dan, tak satu kata terucap dari mulut. Air mata mengalir, menyampaikan pesanku pada Tuhan agar menjaganya di sana. Suster menyerahkan bayiku ke aku. Aku menggendongnya dengan kasih sayang. Bayi perempuan mungil ada di dekapanku, mirip sekali ibunya. Aku berjanji, Nak. Ayah berjanji akan membesarkanmu semampu Ayah. Bahkan saat Ayah tidak mampu, Ayah akan berusaha untuk mampu. Ayah janji…

Satu sore di sebuah cafe. Aku duduk di meja dimana kita pertama duduk. Anak kita, Carissa, duduk di depanku memakan cupcake kesukaannya. “Makannya pelan-pelan, Nak.” kataku. “Iya, Pa.” katanya. Hahaha, anak kita tumbuh besar. Kemarin dia baru kudaftarkan di SD. Aku memperhatikan dia makan, sungguh lucu. Senang rasanya melihat dia bisa sehat, terlalu sehat malah. Pipinya yang chubby tak henti-hentinya mengunyah. Sementara aku, duduk tenang memperhatikan buah hatiku, dan meminum secangkir espresso.

“Kenangan manis bukan untuk dilupakan, tapi untuk di kenang. Disediakan tempat khusus di dalam otak agar selalu terjaga Hidup akan hampa, jika hanya ada kenangan pahit di dalamnya.”

Cerpen Karangan: Bagas Hayujatmiko
Blog: bagashay.blogspot.com
Facebook: Bagas Hayujatmiko
TTL: Cirebon, 14-08-1996
Tempat Tinggal: Jakarta

Cerpen Cappucino Espresso merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anakku Matahariku

Oleh:
Semenjak penyakit ganas itu membawa pergi istri Kris, Krislah yang menggantikan posisi ibu bagi anak mereka. Tak luput sehari pun kris mengawali pagi kerjanya dengan mengantar anaknya ke sekolah.

Pekerjaan

Oleh:
Pekerjaan… Itulah yang aku lakukan setiap hari. Semenjak suami tercintaku menghembus napas terakhirnya aku harus bekerja lebih banyak untuk menghidupi anak-anakku yang tercinta. Itulah tugas seorang ibu, terutama bila

Sampul Biru Bermakna

Oleh:
Sepi tak ada orang yang menemaniku dalam hari yang istimewa ku ini dan menemaniku duduk disini, Apakah mungkin dia sibuk?, atau ada ganguan yang menghambatnya datang kesini? Saat ini

Kuasa

Oleh:
“Kenapa lo?,” tanya Riska saat mereka berkumpul bersama dengan anggotan Pro Techno. “Nggak papa kok.” “Hy guys!,” sapa Bram saat ia telah sapai di restoran itu. “Wuuzzz makin keren

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cappucino Espresso”

  1. annisa says:

    Pnya hikmah tersendiri;)

  2. Yanda says:

    ceritanya keren banget .. punya kesan yang amat dalam . like this 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *