Catatan Harian Halaman Enam Belas (Untuk Kado Ulang Tahun Ayah)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 29 September 2015

Selasa, 20 Juni, dua tahun tiga bulan lalu adalah untuk pertama kali pipiku dicium seorang lelaki selain Ayahku. Catatan itu ku baca pada halaman enam belas buku harianku. Lucu. Geli, sekaligus rasa pilu mengenang peristiwa yang dipergoki Lina, adik bungsuku itu. Jentera hitam ini berawal dari situ, keluhku sambil membanting buku kecil tak berdosa itu. Beberapa lembar foto kenangan indah yang diselipkan di dalamnya berserakan di atas seprai. Ku coba melupakan, tetapi kian jelas dalam ingatan.

“Aku takut, Min. Ayah orangnya lain.” kataku waktu itu mencoba membagi rasa gundah hati dengan Rohmin, lelaki yang telah mencium pipiku itu.
“Aku minta maaf, Ti. Aku juga takut sama Ayahku. Ayahku malah lebih galak”
“Kalau saja mereka tidak tahu.”
“Ya, semoga saja orangtua kita tak tahu, Ti.” Rohmin memotong.

Muka Rohmin begitu pucat ketika Lina tiba-tiba muncul tanpa memberi salam, pada saat kami sedang berpelukan waktu itu. Kami sama-sama melepaskan rasa gembira hati kami setelah sama-sama berhasil lulus EBTA. Sama-sama pula kami berencana melanjutkannya. Kedatangan Lina yang sama sekali tak kami duga membuat kami terkejut. Hanya Lina yang mungkin bisa melukiskan wajah kami saat itu.
“Aku tak tahu kalau ada adikmu, Ti.”
“Aku yang salah. Aku lupa memberitahumu kalau dia tak ikut.”
“Ku kira Lina ikut Ayahmu.”
Akhirnya aku dan Rohmin mengajak Lina ke warung Lek Swadi makan sop buntut kesukaannya. Semoga dia tidak buka mulut.

Setiap detik yang aku lalui sejak peristiwa itu terasa begitu lambat berlalunya. Malam-malam sebelum tidur tak ada yang ku rasakan kecuali perasaan takut kalau-kalau Ayah atau Ibu mengetuk pintu kamarku. Lalu dia bertanya apa yang aku kerjakan dengan Rohmin hari Selasa itu. Hatiku terasa begitu kecut. Takut. Wajah galak Ayah ketika memakiku setahun sebelumnya membuat sekujur tubuhku terasa menggigil.

“Mau sekolah apa mau kawin, ha?!” bentak Ayah dengan kasar pada malam Sabtu itu sambil mendera kakiku dengan rotan hampir sebesar jari tangannya. Ayah begitu terpukul dan malu mendapat panggilan dari Kepala Sekolahku, gara-gara aku duduk berdua saja di perpustakaan. Kami dituduh berbuat tak pantas karena kebetulan penjaga perpustakaan sedang di kantin. Padahal kami tidak melakukan apa-apa selain membaca buku. Entah siapa sumber fitnahnya.

Dan sejak kejadian yang kata Ayah telah mencoreng mukanya dia selalu membatasi pergaulanku. Secara khusus Ayah memata-mataiku dan Rohmin Fahroni anak Pak Tahar teman sekerjanya itu. Terus terang aku memang tidak bisa memaksakan diriku untuk melupakannya. Maka terjadilah hubungan cinta bawah tanah di antara kami. Rohmin memang baik hati. Suka membantu. Hampir di setiap kesempatan dia membantuku. Dan nilai-nilai raportku yang tidak berwarna-warni seperti di kelas satu dulu, itu semua adalah karena bantuan Rohmin. Sayang, Ayahku tidak tahu itu.

Sekuat tenaga dan hati aku berusaha menutupi hubunganku dengan Rohmin di mata Ayah. Tapi di sekolah, kami malah menjadi bulan-bulanan gunjingan. Tidak hanya teman-teman, guru-guru pun kalau memarahi akan selalu mengaitkannya dengan hubungan kami.
“Ingat, sekolah ini tempat belajar. Mengerti, tak?” Pak Berdy yang kebetulan piket, suatu hari pernah memarahiku. Ingatku itu hari Senin. Hari itu sial sekali. Aku terlambat sampai.
“Kamu tak ikut upacara, ke mana, ha? Pasti sama si Rohmin lagi, kan?”
“Saya terlambat, Pak. Waktu saya sampai di gerbang, bendera sudah naik. Saya takut masuk, Pak”
“Terlambat ke mana? Rohmin juga tak ikut, kan?”
“Dia sakit sejak Sabtu, Pak. Mungkin masih sakit lagi, Pak.”
“Omong kosong.”

Alasan apa saja yang aku kemukakan selalu tidak diterima oleh guru-guru. Mereka selalu menuduh kalau aku tak datang ke sekolah atau terlambat, itu adalah karena aku pergi dengan Rohmin. Malah kami diharuskan menandatangani surat pernyataan untuk tidak akan berdua-dua lagi.
“Sudah. Sana, masuk kelas. Ayah sama anak tak ada bedanya,” bentak Pak Berdy sambil menggerutu. Ketus sekali suaranya.
Ingin rasanya aku meludahi muka hitler itu. Dia mengoyak perasaanku. Dia membawa-bawa nama Ayah. Aku tak suka Ayahku dikait-kaitkan dengan persoalan pribadiku.

Hari-hariku serasa selalu ada yang mengejar-ngejar. Aku selalu takut. Aku takut kalau Ayah sampai bertanya tentang aku dan Rohmin. Biarpun aku selalu merasa dimabuk rindu bila tak berjumpa sehari saja dengannya tapi Ayah tetap tidak akan merestui hubungan kami. Boleh jadi karena kami masih terlalu muda. Usia anak-anak, kata Ayah selalu. Dan ancaman Ayah itu? Ah, aku merasa jadi buronan Ayah dan Ibu sejak catatan hitam Selasa sial itu. Sampai akhirnya di suatu malam, enam hari berikutnya aku mendengar Ibu membelaku di depan Ayah. Ibu, sama sekali tidak mempersoalkan perbuatan kami itu.

“Itu persoalan anak-anak, Pak. Anak-anak lagi dilanda cinta monyet.”
“Tapi kita perlu hati-hati, Bu. Waspada sebelum terjadi apa-apa. Nanti memalukan kita. Anak-anak sekarang itu lain.”
“Hm Bapak, terlalu dibesar-besarkan. Tak anak sekarang tak anak dulu sama saja. Tergantung ininya,” suara Ibu agak tinggi.
Ayah tidak bersuara lagi ku dengar. Mungkin terpukul kata-kata Ibu. Ibu sudah lama tahu kalau Ayahku suka main perempuan. Tapi Ibu selalu merasa serba salah kalau mempersoalkannya. Paling-paling Ibu hanya berani membelaku mati-matian di depan Ayah sebagai pelampias kesalnya. Seperti pertengkaran malam itu. Ibu kembali membelaku. Di hatiku ada sebutir lega, malam itu.

Tapi itu dulu. Ya, dulu ketika aku baru saja lulus SMP. Lamunanku ternyata telah amat panjang. Tak ku sadari air mata ini mengalir lagi. Aku menangis. Ku kumpulkan foto-foto itu lalu ku simpan kembali di bawah bantal bersama catatan hitam itu. Pikiranku semakin kacau. Terdesak oleh perasaanku sendiri. Padahal saat ini aku sudah duduk di kelas tiga, SMA.

Pada saat seharusnya aku sibuk belajar, bersiap menghadapi EBSG Desember ini lalu EBSE dan akhirnya EBTA atau EBTANAS April atau Mei tahun depan aku malah merasa lebih suka mengurung diri di rumah dari pada memikirkan urusan sekolah. Aku merasa semakin malu berjumpa teman-teman di sekolah. Apalagi teman-teman di kelas III A3.2 itu. Aku paksa menekan perasaan malu untuk tetap datang ke sekolah. Hm terasa kepalaku pusing. Pusing untuk ke seratus kali barangkali.

Teringat kembali olehku temanku Siti Nursyamsibar, anak tetangga yang dulu satu SMP denganku. Kini telah pergi untuk selamanya. Ia tak sanggup melihat Ayahnya yang selalu pergi ke Teleju. Tempat memalukan. Padahal aku mempunyai Ibu yang lebih cantik dari pada penghuni gubuk-gubuk maksiat itu, keluhnya. Dan ketika hubungan gelapnya menghasilkan perutnya yang kian membuncit dan akan menjadi pergunjingan baru dalam keluarganya di samping Ayahnya sendiri maka temanku itu nekad bunuh diri. Dia minum baygon pada saat keluarganya tidak ada di rumah. Sebagai anak gadis, aku tak kuat menanggung beban seperti ini Ayah. Relakanlah anakmu pergi begitu bunyi surat yang ditinggalkan Nursyam.

Pikiranku kacau lagi. Terasa kepalaku semakin berat. Perutku mual kembali. Dan, aaak uuoook aku tak bisa menahan muntahku. Muntah kuning. Kental dan pahit sekali rasanya. Sejuta galau menyesak dadaku. Pandanganku berkunang-kunang. Wajah Ayah dan Ibu silih berganti di pelupuk mataku yang terasa kian gelap. Pertengkaran malam itu terngiang lagi di telingaku. Sebelum terjadi hal-hal memalukan, Bu. Sebelum terjadi hal-hal yang memalukan, Bu. Sebelum terjadi hal-hal memalukan, Bu Kalimat itu berulang-ulang menusuk telingaku. Wajah Ayah yang galak dan Ibu yang penuh pengertian berhimpitan menyesak dadaku. Aduh aduh. Kacaunya pikiranku.

Kalau saja kata-kata Ayah malam itu ku catat dalam buku harianku, atau pesan Ibu yang mulia itu juga kucatat dan ku patuhi ah Ayah Ibu maafkan anakmu ini. Aku tak sanggup lagi membendung tangis. Tangis sesal yang mungkin sudah tak ada gunanya. Perbuatan itu telah memburu dan mengejarku ke mana saja aku pergi. Rohmin yang ganteng, lembut, dan selalu ku rasakan lebih dewasa dari diriku yang seusia dengannya, seketika terbayang di mataku. Oh, Rohmin, kamu membuat aku benci. Terbayang bagaimana dia merayuku sambil membelai rambut dan punggungku. Rayuannya yang lembut menghilangkan kesadaran otakku. Tangannya yang ramah bagai menghipnotisku. Aku seperti dalam mimpi. Satu persatu dia lepas pakaianku tanpa aku merasa ingin menolaknya. Dan dengan menggadaikan cinta aku benar-benar terbius. Lalu terjadilah perbuatan laknat itu. Tuhan, rasanya aku ingin memekik.

“Asti, kita telah melakukannya. Kamu menyesal?” Kalimat pertama yang ku dengar setelah aku menyadari apa yang telah berlaku. Aku menutup muka dengan kedua tangan. Menangis. Itulah tangis pertama, tiga bulan lalu. Aku masih ingat, hari Sabtu 29 Juni. Hari yang seharusnya ku rayakan. Umurku tepat enam belas hari itu. Sayang, aku telah melumurinya dengan lumpur noda.
“Asti, kamu menyesal? Aku akan bertanggung jawab, Ti.”
Bertanggung jawab? Mulutku terasa terkunci. Bingung. Aku masih menutup muka. Malu bercampur takut. Ngeri. Aku hanya bisa mengeluarkan air mata.
“Tak usah menangis, sayang. Percayalah. Aku akan lakukan apa saja demi kita berdua. Kita sama-sama suka, kan?”

Suka? Aku suka? Benarkah aku melakukannya dengan hati yang suka? Begitu berat bibirku dibuka. Hatiku terasa teriris. Aku menyesal. Aneh. Aku sendiri heran, mengapa harus menyesal sekarang. Padahal dulu, peristiwa 20 Juni dua tahun lalu itu sama sekali aku tidak menyesalinya. Malah kian sering kami berbuat begitu. Aku tidak pernah menyesal.
Pesan Lina, adikku yang saat itu masih di sekolah, terbayang kembali. Begitu jelas terngiang di telingaku. Tumpukan sesalku terasa semakin tinggi.
“Lina sekolah lagi, Kak. Hati-hati jaga rumah. Kalau Bang Rohmin ke sini tak usah ajak ke dalam rumah. Nanti ribut lagi orang sebelah,” pesan adikku itu sebelum ia berangkat sekolah.

Lina yang sekolah di MTs memang belum libur. Biar SD sampai SMA sudah libur panjang tapi MTS belum. Jadi aku belum pulang kampung bersama Ayah dan Ibu. Aku sudah kirim surat, nanti pulang bersama Lina saja. Tanpa ku duga, Rohmin benar-benar datang pagi itu. Aku tak sanggup menolaknya masuk rumah. Rohmin memang sudah biasa masuk rumah kostku. Dia malah sudah menganggap rumah sendiri. Di desa sana pun Rohmin begitu. Dia biasa bertandang ke rumah. Hari itulah tembok itu hancur. Dan celakanya kami mengulanginya lagi entah berapa kali.
“Asti, sudahlah. Jika ada beban tanggung jawab yang harus ku pikul, itulah perbuatan kita ini. Kita sudah kelas tiga, Ti. Kita akan usahakan apa saja. Percayalah, sayang.” Rohmin membelai rambutku yang ku rasa kusut.
Ah, tanganmu itu begitu lembutnya, Min. Mungkinkah hati ini bisa tenang? Aku membiarkan saja Rohmin membelai rambutku. Matahari pagi bagai mengintip kami dari balik jendela kecil itu.

Diam-diam aku dan Rohmin mencoba bermacam cara untuk menggugurkan kandunganku yang memasuki bulan ketiga. Rohmin telah menyelewengkan tiga bulan uang BP-3 dan SPP-nya. Dia juga telah membohongi Ayahnya di desa sana dengan meminta uang yang katanya untuk persiapan EBTA. Padahal semester Ganjil saja belum. Dan yang paling membuat aku takut Rohmin mulai berani mencuri uang teman-teman di kelas.
“Mengapa kamu lakukan itu, Min?” Bagaimanapun bingung dan hancurnya perasaan hatiku, aku tak ingin Rohmin menjadi pencuri. Jangan dia sampai jauh tenggelam. Dia pun telah nekat menipu orangtuanya.
“Kita perlu duit, sayang.”
“Tapi tidak dengan begitu, Min.”
“Dengan bagaimana saja akan aku coba, Ti. Kita akan cari obat secepatnya. Tambah lama tambah berat nanti. Tampaknya dengan nenas saja tidak bisa. Itu pun harus dibeli.”
Aku terdiam.
“Mencuri uang rekan-rekan sendiri tak perlu takut. Kalau perlu kita usaha ke tempat lain,” tandasnya. Astaga.

Di sekolah aku selalu berusaha menyembunyikan perutku. Bajuku selalu di luar. Kalau guru-guru memperhatikan aku di kelas aku pura-pura membungkuk dan menulis apa saja. Atau aku meletakkan daguku di bibir meja agar buah dada dan perutku tersembunyi.
Telah dua kali aku dipanggil Bu Elfi, wali kelasku. Katanya aku selalu muram dan kurang gairah belajar. Syukurnya, dia selalu bisa aku bohongi.
“Demam malariaku akhir-akhir ini sering kumat, Bu.” Dan Bu Elfi akan percaya. Lalu memberi nasihat agar aku menjaga kesehatan dan bersemangat belajar karena sudah kelas tiga.

Aku sadar kalau aku telah beberapa kali membohongi guru-guru. Tapi sampai kapan aku membohongi mereka dan diriku sendiri? Bukankah perut dan buah dadaku ini kian menggunung? Akankah aku biarkan ia ranum sendiri? Oh tidak. Tidak. Aku mesti melenyapkannya. Pikiranku benar-benar kacau dan buntu. Rasanya aku tak sanggup hidup lebih lama lagi. Aku ingin mati saja. Daripada aku menanggung malu nantinya. Tiba-tiba wajah Siti Nursyamsibar itu menjelma lagi. Dia bagai mengejekku. Aku berusaha menghapus bayangan itu. Seribu usaha yang telah aku tempuh untuk menggugurkan embrio anak jadah di rahimku ini sama sekali belum juga menampakkan hasil. Pagi tadi aku sekali lagi meminum air parutan nenas mentah yang telah dibakar sebelumnya. Aku mencampurnya dengan ragi. Begitu pahit rasanya.

Siang itu aku pulang lebih awal. Jam pelajaran masih ada dua. Waktu istirahat kedua aku cabut. Perutku terasa mual. Terasa tidak enak di bagian bawah perutku. Aku juga merasa mau muntah. Tapi aku berusaha menahannya. Ku minta Rohmin melaporkan kepada guru piket bahwa demam malariaku kambuh. Aku permisi pulang. Di tengah jalan, kepalaku semakin berat. Bumi terasa berputar kencang. Aku paksakan kaki melangkah. Sampai di rumah aku terus ke kamar mandi. Mungkin mau buang air besar, kataku dalam hati. Rasa muntah pun bagai menyesak kerongkonganku.

Aku paksakan muntah tapi tak ada yang ke luar. Perutku malah terasa kian perih. Pedih bagai diiris pisau bercampur yodium. Dalam keadaan yang begitu sakit dan takut aku berlari ke kamar dan menelungkup di atas kasur. Ingin aku memekik sekuat-kuatnya. Tapi tak bisa. Aku tak sanggup menahan pedih. Tangisku ku tumpahkan ke atas kasur itu. Aku pasrah, membiarkan diriku begitu menderita. Jika aku harus mati karena perbuatan ini, biarlah. Biarlah aku mati, jeritku dalam tangis yang tak bersuara itu.

Tiba-tiba saja aku ingin menyesali semua perbuatanku dengan Rohmin selama ini. Lebih menyesalkan. Aku melakukannya justru karena melampiaskan rasa dendam kepada Ayah. Ya, Ayah yang sok alim. Sok bersih. Sok terhormat. Anaknya tak boleh berpacaran, karena dosa, konon. Sementara dia sendiri bergelimang dosa di tempat pelac*ran itu. Di rumah dia bagai rahib. Aku muak. Dan diam-diam aku melampiaskan rasa benciku itu bersama Rohmin. Wajah, Ayah, Ibu dan Rohmin bergantian mengisi bayangan di mataku.

Tapi benarkah Ayah seperti yang disebut-sebut orang itu? Benarkah Ayah suka jajan di tempat maksiat seperti yang selalu digunjingkan orang itu? Atau hanya karena kegoncangan jiwa dan perasaan sintimentalku saja? Ingin rasanya aku menyampaikan rasa benciku ini kepada Ayah. Aku tak tahan lagi menelan ejek-cemooh mereka. Oh Ayah, mengapa di depan kami, Ayah selalu membatasi segala-galanya? Kalau aku mempunyai teman yang aku senangi, itu dosa kata Ayah. Sekuat hati Ayah membuat aku untuk tidak berdosa. Tidak boleh melawan sedikit pun. Wejangan licik Ayah itu melintas lagi di benakku.

“Hormatilah orangtuamu ini,” kata Ayah. “Pagi, siang, malam Ayah berusaha adalah untuk kalian. Biar sekolah kalian tidak terkendala,” itu saja yang selalu diulangnya.
Pada hari yang lain dia akan berkhutbah lebih panjang lagi. Mungkinkah harapan Ayah dapat ku penuhi? Dalam hati kecilku, aku malah lebih senang berhenti sekolah seperti saran Rohmin seminggu lalu itu. Ah aku terus melamun.
“Ti, Asti” Itu suara Rohmin. Aku sudah hafal itu.
Dia sudah masuk sebelum aku sempat menyuruhnya.
“Mengapa? Kamu menangis?” Napasnya ku dengar masih belum teratur. Mungkinkah Rohmin berlari, pikirku. Aku masih menelungkup di kasur.
“Asti.” Sambil meletakkan tangan di punggungku. Terasa menyejukkan.

Aku coba membalikkan badan untuk duduk. Rasanya tak sanggup. Perutku terasa ngilu. Perih sekali. Aduh hanya Tuhan yang tahu.
“Ada apa, Ti?” Suara itu begitu manja ku dengar.
“Perutku.” Aku duduk sebisanya sambil mengusap mata. Perut ini rasanya bagai ditusuk-tusuk jarum.
“Kita harus cabut saja, Ti. Kita berhenti dan meninggalkan tempat ini. Kalau perlu kita kabur jauh-jauh.” Rohmin mengulangi permintaannya minggu lalu.
“Aku sudah bulat mau berhenti sekolah,” dia mempertegas keinginannya.

Ada rasa kaget di hatiku. Bagaimana harapan Ayahku itu? Aku memang sudah tidak berminat sekolah lagi. Pesan-pesan Ayah itu? Terus terang, aku masih berharap kandunganku ini gugur. Dan aku bisa sekolah lagi seperti teman-temanku.
“Bagaimana, Ti. Kamu setuju kan?”
Aku semakin bingung. Kalut sekali pikiranku, rasanya.
“Tadi aku dipanggil Pak Mustafa.”
“Pak Pembina OSIS?”
“Ya, Wakil Kepala Sekolah Pembina OSIS,” jawabnya datar. “Katanya atas panggilan Pak Kepala Sekolah.”
“Ha?” Jantungku berdebar.
“Katanya Kepala Sekolah sudah tahu”
“Tahu?” Ingin aku menjerit rasanya.
“Tapi Kepala Sekolah tak marah,”
“Ha?” Ada sejuta galau berkecamuk. Benarkah? Padahal aku tahu betul, Pak Lamina yang botak dan ubanan itu sangat disiplin. Kalau dia tahu lalu dia tak marah? Sedangkan Erma kelas II A.3.3 itu hampir diberhentikan hanya gara-gara pacaran keterlaluan. Apalagi aku begini. Aku tak bisa percaya.

“Supaya tidak ribut-ribut kita disuruh berhenti saja, Ti. Katanya dari pada sekolah tercemar.”
“Berhenti?” Tiba-tiba saja aku berani.
“Aku kira ini jalan terbaik, Ti. Kita mau sembunyi di mana, Ti. Lama-lama semua tahu juga.”
“Tidak, Min. Aku tak mau berhenti. Aku tak yakin ada yang tahu. Teman-teman saja tidak ada yang tahu. Aku tak mau, Min.” Aneh, aku jadi ingin sekali sekolah. Aku percaya sekali, hanya kami berdua yang tahu perbuatan kami ini. Dari mana Bapak itu bisa tahu?
“Sudahlah, Ti. Dari pada nanti, biarlah sekarang.”

Aku tercenung. Rohmin tampaknya tidak berniat sedikutpun mau sekolah. Adakah dia sebenarnya yang membuka rahasia ini? Padahal kalau dia menyuruh aku saja yang berhenti, tentu bisa. Dia laki-laki. Pasti orang tak akan tahu siapa lelaki yang menyemai benih di rahimku ini. Aneh, dia sendiri yang mengajak aku berhenti bersama.
“Bagaimana Ayahku, Min? Dia akan marah nanti.”
“Jangan pikir apa-apa lagi, Ti”

Keringat dingin membasahi baju sekolah yang masih belum aku buka dari tadi. Ketakutanku memuncak. Mendadak perutku perih lagi. Kamar ini berputar kencang. Dan perutku, perutku ini kian terasa sakit. Mulas bagai berputar segala isi di dalam. Aku mencoba menekannya namun tetap sakit. Sejuta pisau terasa menoreh-norehnya di dalam. Kepalaku juga serasa mau pecah. Sekujur tubuh terasa begitu letih.
“Kenapa, Ti?” Rohmin gugup aku dengar.
“Perutku. Aku tak tahan, Min. Tolong aku, Min,” Air mataku tumpah begitu saja menahan sakit. “Tolong aku, Min.” Sambil tetap menekan perutku yang terasa melilit-lilit. Keringat dinginku terus mengalir deras.
“Aku harus bagaimana, Ti?” Rohmin berdiri menutup pintu untuk kembali duduk di sampingku. Tanganya yang dari tadi mengurut hampir seluruh tubuhku kembali ia lakukan.
“Baring saja, Ti” Rohmin merebahkan tubuhku di atas kasur yang juga telah lembab oleh keringat dan air mata.

Pandanganku seketika terasa gelap. Kamar ini berputar lagi. Kencang sekali. Aku hanya merasa Rohmin tengah mengurut dan menggosok-gosok perutku dengan minyak angin.
“Min ”
‘Ya. Aku panggil dokter atau”
“Jangan, Min. Jangan. Nanti.” Tak sanggup rasanya meneruskan. Aku tak ingin ada yang tahu deritaku ini. Aku tak ingin Rohmin memanggil siapapun.
Ingin rasanya aku menjerit memanggil Ayah dan Ibu.
“Rohmin, Rohmin. Perutku sakit sekali, Min. Tolong aku, Min.” Begitu kecil rasanya aku di depan lelaki ini. Ingin rasanya aku mati saja dari pada menahan sakit.
“Asti. Aku aku akan menolongmu. Aku harus lakukan apa, Ti.” Begitu bingung sekali kedengaran suara itu. Suaranya juga ku dengar kian sayup.
“Kalau Ayah datang, katakan aku minta maaf, Min. Aku tak berniat menyusahkan Ayah. Katakan aku sayang sekali sama Ayah.” Aku tak tahu aku bicara apa. Yang aku rasa dunia ini begitu gelap dan kian sempit.
“Asti Asti. Kau bicara apa, hmm?”

Suara Rohmin semakin jauh ku dengar dari telingaku. Pandangan kian gelap. Hanya rasa perih perutku yang ku rasakan. Tangan Rohmin terus menerus menekan perutku. Dia ku biarkan membuka kancing bajuku sebelah bawah.
“Asti Ti, celanamu” Aku dengar suara Rohmin terputus-putus. Sayup. Seperti ketakutan.
Ingin rasanya aku tahu yang terjadi. Mengapa Rohmin begitu kaget. Tapi pandanganku kian hitam. Perut terasa tambah pedih. Entah ingin buag air besar, entah terasa mau buang air kecil semuanya bercampur baur dalam perasaan sakit. Ya Tuhan derita dan hukuman apakah yang tengah aku rasakan ini? Apakah aku berjuang menghadapi maut saat ini? Aku jadi takut mati.

Di hatiku yang paling dalam, ingin ku titipkan duka ini buat Ayah tersayang. Orang yang begitu harus ku hormati. Kalau aku pergi untuk selamanya, biarlah dosa ini aku genggam sendiri, Ayah. Semoga Rohmin mau menyampaikan titipan ini kepada kedua orangtuaku. Ayah, aku ingat hari ini adalah hari lahirmu. Aku tak akan pernah lupa, hari Sabtu dalam bulan September ini adalah hari yang begitu kita nanti bersama. Setiap kita berkumpul di hari yang kata Ayah sakti itu, Ayah akan memberi kami lagi khutbah baru sambil memotong kue. Ah. Begitu indahnya hari ini seharusnya.

Ayah, terimalah ini Ayah. Aku tak mampu membungkusnya sendiri. Anakmu tidak akan pernah melupakanmu. Lalu aku tak tahu lagi apa yang tengah terjadi. Pandanganku benar-benar gelap. Gelap sekali. Dunia terasa benar-benar gelap. Semuanya gelap. Ya, semuanya. Begitu juga hati ini begitu gelap.

Cerpen Karangan: M. Rasyid Nur
Facebook: facebook.com/mrasyidnur
M. Rasyid Nur. Seorang pendidik tinggal di Karimun Kepri.
Dari buku “Duka Cinta di Awal Cita”

Cerpen Catatan Harian Halaman Enam Belas (Untuk Kado Ulang Tahun Ayah) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Mau Menjadi

Oleh:
Di sudut sebuah ruangan tampak sesosok pria tua renta sedang duduk bersila menikmati makan siangnya, dengan perlahan ia memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutnya. Ia terlihat begitu

Kehilangan Bayangan Ayahku

Oleh:
Aku adalah anak perempuan bernama santi yang entah mengapa seperti tidak diinginkan. Aku mempunyai sesorang kakak perempuan dan laki laki dia begitu cantik, dia tampan dan dia disayangi oleh

Hari Pertama Pindah Sekolah

Oleh:
“Yana, ke kantin yuk?” “Eh, aku sudah bawa bekal” “Oh oke kalau gitu, kita ke kantin dulu ya” Aku mengangguk tersenyum. Ini hari pertama aku di sekolah baru, karena

Surau Yang Diwariskan

Oleh:
Sudah dua tahun, Tun ditinggal suaminya. Bukan uang dan juga rumah mewah yang diwariskan oleh suaminya, melainkan hanyalah sebuah gubuk yang dijadikan Surau oleh mendiang suaminya dan juga warga

Aku Hanya Ingin Kakakku Kembali

Oleh:
Handphone itu masih erat kugenggam, saat bulir-bulir air mata ini semakin melesat deras membanjirinya. Kuremas-remas benda tersebut menjadi semakin terkoyak. Kini barang itu remuk berkeping-keping dan kuhamburkan ke lantai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *