Catatan Hati Seorang Pemulung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 November 2017

Hari sudah menjelang subuh, saatnya bagi budi untuk bersiap-siap untuk mencari nafkah di pinggiran jalan. Tidak lupa, dia melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu. Pekerjaan sehari-harinya adalah mengumpulkan sampah plastik kemudian dia akan menjualnya kembali. Terkadang dia hanya mendapatkan upah yang sangat minim sekali yaitu sebesar sepuluh ribu rupiah. Dia tinggal di sebuah desa terpencil, ayahnya sudah tidak mampu bekerja lagi karena dia ditabrak oleh seorang pengendara yang tidak bertanggung jawab. Karena ayahnya tidak mampu berjalan, akhirnya sebagai seorang kakak dia harus menangung beban keluarganya.

Sedangkan ibunya harus tinggal di rumah untuk merawat sang ayah. Sebelum berangkat, Budi berpamitan kepada kedua orangtuanya terlebih dahulu. Selama di perjalanan, dia melihat sekumpulan anak yang ingin berangkat sekolah. Dari lubuk hatinya dia ingin sekali kembali merasakan sekolah. Namun itu semua hanya harapan belaka, karena dia harus menanggung beban dan tanggu jawab keluarga.

Suatu hari saat dia sedang memuling, tiba-tiba dia melihat sekelompok pemuda yang sedang mabuk. Budi pun bertanya kepada sekelompok remaja yang sedang minum, “Sekarang sudah tengah hari, kalian tidak sekolah” Lalu dia menjawab, “Berisik ngapain sekolah kalau cuman mendapatkan Ijazah mending kamu pergi dari sini dasar pemulung!” dengan kasarnya.
Lalu Budi pun tersenyum sambil meninggalkan mereka yang sedang minum di tempat tongkrongan di pinggiran jalan.

Semakin hari cuaca semakin panas, saatnya Budi untuk beristirahat sejenak di sebuah pohon yang rindang. Selama dia beristirahat, tidak lupa dia selalu membaca buku pelajaran yang dia ambil di tempat rongsokan. Dengan membaca, hatinya bisa terhibur daan semakin menambah wawasan. Buku yang paling dia sukai adalah buku pelajaran bahasa-bahasa asing seperti bahasa Arab, Jepang dan inggris. Terkadang dia belajar untuk mempraktekannya baik di rumah atau sambil dia bekerja. Setelah beristirahat, akhirnya dia kembali memungut sampah plastik dan beberapa benda yang bisa dijual.

Saat berjalan, dia mendengar suara minta tolong dari salah satu warga negara asing. Tiba-tiba dia tertabrak oleh seorang pria yang membawa tas. Karena terburu-buru akhirnya dia berlari meninggalkan budi. Lalu budi memegang tas tersebut, dan kemudian warga asing memanggil Budi, “Wait!” Budi menjawab, “Yes, What can I do for you?” Warga asing menjawab, “It is my Bag, Give me please” sambil memohon. Budi pun memberikan tasnya kepada warga asing, ternyata tas itu adalah miliknya yang habis dirampok oleh orang yang tidak dikenal.

Mereka pun sempat berkenalan, warga negara asing itu bernama Robert. Kemudian Robert pun memberikan kartu tanda pengenal supaya Budi segera menemuinya besok Pagi. Keesokan harinya, Budi pun segera bersiap-siap untuk menemui Mr. Robert di sebuah kantor. Saat ditemui budi sempat diusir oleh salah satu satpam karena penampilanya yang kucel. Lalu dia bertemu dengan Mr. Robert, dengan sirgap Satpam pun dimarahi oleh Robert. Kemudian dia dibawa masuk ke kantor untuk membicarakan hal penting.

Ternyata Mr. Robert ingin mengangkat Budi sebagai sekretaris dan sebagai penerjemah bagi para karyawannya juga para investor asing karena kemampuan dia dalam berbahasa. Budi pun dengan senang hari menerimanya. Semenjak saat itu, hidupnya pun menjadi lebih baik dan penuh dengan kemewahan. Sekarang dia mempunyai sebuah apartemen pribadi dari usahanya sendiri. Akhirnya dia pun bisa membiayai berobat ayahnya sehingga dia bisa berjalan kembali. Dia menulis beberapa karya fiksi yang dikenal semua orang hingga ke mancanegara. Karena kerja kerasnya, akhirnya dia bisa menjadi seorang penulis terkenal.

Cerpen Karangan: Fidki Sya’ban
Facebook: Fidki Syaban

Cerpen Catatan Hati Seorang Pemulung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Demi Hari yang Menanti di Ujung Harapan

Oleh:
Pagi itu, ketika udara terasa basah oleh embun pagi, aku memulai rutinitas mingguanku menjelajahi kota. Dengan berbekal sepatu sport, aku pun melesat menyusuri jalan setapak sekitar rumahku. Belum 100

Zul Bocah Pemulung Luar Biasa

Oleh:
19 mei 2015 lalu sekolah kami mengadakan tour ke bali berangkat bersama 1053 teman seangkatanku, menggunakan 18 bus pariwisata. Ya memang terbilang konyol, tapi tiap tahun sekolahku menerima hampir

Catatan Harian Ari Si Anak Retail (Part 1)

Oleh:
14 September 2006. Azan subuh berkumandang, meneriakkan gema ta’zim untuk melakukan kewajiban menghadap sang kuasa. Gema tersebut terngiang di telingaku, mengumandangkan suasana ridho dan ikhlas dalam menghadapi hidup. Setengah

Anak Maduku

Oleh:
“Cinta kasih” dia adalah gadis kecil yang cantik, aku menyayanginya meski dia bukan anakku, ya dia bukan anak kandungku, melainkan anak dari selingkuhan suamiku, mungkin ini cara tuhan untuk

Aku Pulang

Oleh:
Entah di mana aku saat ini. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dari perjalananku yang entah ke mana, duduk bersandar pada sebuah ruko yang sudah tutup. Ternyata, kalau diperhatikan, langit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Catatan Hati Seorang Pemulung”

  1. hammam says:

    Bagus ceritanya 😀 , aku suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *