Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 31 May 2013

Perjalananku ke Semarang hampir sampai, sepuluh menit lagi Stasiun Tawang akan tampak. Malam terus bergulir, sepi.. dan kesepian ini mengikutiku, membiaskan perjalananku yang lalu-lalu, meniti galau yang lama ku pendam, jauh di lubuk hati ada nuansa yang meresahkanku, mengais geram menipisi dinding batin hingga membuatku risih, tapi sisi yang lain membuka rongga kesabaran, membuat amarahku segera luruh, lepas landas di ketidak berdayaan… Jiwaku hanya mampu terpaku, menyerah.. tak bisa memisahkan pergumulan batin yang tidak juga bertaut, getir bila di ingat.. phuuff.. Benar, aku merindui seseorang yang harus ku temui di kepulanganku ke Semarang.

Ketika sampai di stasiun, dingin merambat kesadaranku, menyusup pelan membungkus rasa bimbangku yang membara berganti hangat. Aku berjalan perlahan, menghitung setiap langkah yang ku kayuh.. Aku tak mau buru-buru, biarkan saja, aku hanya ingin bebas dulu membawa badanku entah sampai mana… Jaket tebalku belum mampu menahan hawa ini, angin masih saja menyeruak masuk pori-pori kulit jaket, aku menyilangkan lenganku erat memeluki badanku yang gemetar… Bberrr..
Jalan yang aku tapaki serasa berbatu meski sebenarnya trotoar ini mulus, tanpa cela tanpa lubang pusar di sana sini, mulus layaknya muka perawan tanpa jerawat dan lesung pipit..

Jam berjalan hingga pukul 04. 17 wib, satu dua warung pinggir jalan mulai buka, barang dagangan di keluar-keluarkan, di tata rapi berjejer di dak-dak kayu papan yang di paku dan di sangga pada tonggak kecil siku-siku, barang yang lainnya di atur di atas meja bertaplak plastik.
Di depan warung para abang becak dan sopir angkot mulai berkerubung, dengan mata masih sipit dan sesekali menguap lebar seenaknya, tanpa tending aling-aling gak perduli bau mulutnya yang busuk menebar sekeliling, maklum.. gak kenal sikat gigi dan cuci muka, mereka hanya berkumur segelas kopi dan menelannya sebagai minuman hangat pagi buta, nyamikan yang di sajikan di lepek kecil bundar rakus mereka makan untuk menyumpal perut yang kosong, makanan kemarin jelas sudah aus dan menyusut karena proses produksi alami tubuh.

Aku menghampiri warung itu, dan memesan kopi satu gelas.
“Gulanya sedikit saja ya mbak…”. Pintaku pada mbak penjualnya. Sebut saja mbak Fifi, dengan begitu akan mudah menggambarkannya… Mbak fifi berperawakan kurus tinggi, setengah baya dan rambutnya yang kusut dengan anak rambut di pelipis kanan kiri sudah banyak warna putih, sesekali berkreap jika mbak Fifi menoleh.
“Roti bakar atau mie rebus, mas?” tanya mbak fifi padaku. Aku terkesiap. Gak nyangka tiba-tiba mbak Fifi ada di depanku..
“Roti bakar saja, pake messes, jangan di kasih keju ya mbak..” jawabku terbata. Mbak Fifi hanya tersenyum, aku jadi malu, pasti ketahuan aku tadi menatapnya lama…
“Baru datang ya mas.. dari mana..” Lelaki di sebelahku menyapaku, berlogat Jawa Semarangan yang kental dengan kaki yang satu diangkat ke kursi orang tua ini makan lahap sekali.
“iya pak, dari Jakarta… naik Argobromo tadi..” jawabku.
“lho.. di stasiun kan banyak tempat makan, sampeyan malah jauh kesini…”. Lelaki tua itu menatapku heran, mungkin dipikirnya aku tak punya uang untuk memesan makanan di restoran stasiun yang memajang harga melangit hingga harus berjalan jauh mencari warung kecil di pinggiran, memang harganya bisa lebih murah dan sebenarnya masakannya lebih enak.
“saya cuma pengen jalan-jalan saja pak..” kataku, kemudian aku dengar kata “oo…” panjang dari mulutnya yang penuh makanan. Dan aku malas membuka kembali percakapanku dengan bapak tua itu, maka aku hanya diam.

Adzan subuh di masjid, surau, mushola, bersaing saut menggelegarkan sunyinya pagi, menggugah ayam jantan untuk lantang berkokok, menggeret selimut malam agar fajar bangun menyingsing, belum ada matahari, belum ada sinarnya datang, kabut juga masih menggigili badan, tapi hiruk pikuk kehidupan mulai menyala, cas cis cus suara kehidupan itu berisik di ambang pagi ini. Biar, biar aku nikmati kota ini, kota yang telah menanamkan benih ideologi tentang kehidupan di benakku, kota yang telah aku lalui dalam berbagai putaran peristiwa nasib. Karena di sini aku bisa ada, karena di sini pula aku bersuka duka…

Aku melambai pada taxi yang terpekur rapi di pinggir trotoar, gak seperti halnya Jakarta, taxi di Ibukota itu begitu gesit bila ada yang melambai, takut kalau taxi lain menyerobot lambaian itu. Jakarta gitu loh.. untuk satu butir beraspun di perebutkan, apalagi rejeki lain yang menjanjikan.
“Banyumanik ya pak…” pintaku. Aku lihat dari kaca spion dalam, sopir taxi itu memandangku sesaat kemudian fokus ke jalanan lagi. Aku tahu tandanya dia mengiyakan Semarang banyak berubah semenjak aku tinggalkan, bangunan merembak bagai jamur, gedung-gedung merapat sesak, meskipun tak segarang Jakarta, tapi Semarang tampak berbenah, Jalan masih tampak sepi, bagiku sepi.. karena di Jakarta saat subuh begini jalan mulai merambat padat.

Jalan Pemuda yang lebar melapangkan dadanya untuk lalu lalang kendaraan dengan leluasa, lengang dan bersih, pagi ini kota Semarang hangat sekali, sejuk dan indah, jauh di ujung arah selatan pucuk tugu muda mulai tampak, makin lama makin jelas kelihatan. Tugu muda gagah tegak berdiri tepat di tengah ramainya lalu lintas Semarang, sesekali embun air mancurnya menyentuh pengendara dan pengguna jalan di sekitarnya ketika terhembus angin. Di sebelah kiri gedung Lawang Sewu masih kokoh, beberapa bagian bangunannya tampak renovasi, gedung yang di lahirkan Belanda dengan tenaga menggigit menahan perihnya pemaksaan terhadap pribumi itu konon pernah menjadi penjara dan tempat penyiksaan bangsa ini juga, sekarang malah di jadikan salah satu jargon kota Semarang yang membanggakan, yang membanggakan? meski lebih di kenal sebagai gedung paling angker, apalagi setelah menjadi tempat uji nyali di acara tv, lebih terkenal sebagai gedung ter horor, ada-ada saja…

Pukul 07.42 wib sampai di rumah, ibu memelukku erat, aku rasakan kerinduan yang sangat didadaku, ibu tak juga melepas pelukannya malah semakin erat, aku lihat bulir air mata keluar dari pelupuk matanya yang sudah tua, tiba-tiba penyesalan yang dalam menggerus batinku, membuatku sesak bernafas, aku bersimpuh di antara kaki tua ibu, tak tahu apa yang harus aku ucapkan, rasa sakit dan serak di tengorokanku bagai di cekik sembilu, baru lega setelah tangisku tumpah… hhuuhhff.

Aku duduk termenung di tangga depan rumah, bagaimanapun kenyamananku di sini, di antara orang-orang yang mengasihiku, Yudi adikku duduk di sebelahku.
“Hai..”, sapanya hangat. Aku menolehnya dan tersenyum.
“Sudah merasa lebih baik..”, lanjut Yudi.
“Yahh…”, jawabku. Yudi bukan hanya adik, dia juga teman, sahabat, dan patner. Aku bangga padanya.
“Apa yang kamu dapat, selama aku tinggal Yud…?” lanjutku. Yudi tersenyum, dia memandang keramaian jalan di depan rumah.
“Semarang sering hujan, Lis.. musim gak bisa di prediksi.. aku males kemana-mana.. apalagi sejak kamu tinggal, ibu jadi protektif…”. Yudi sama sekali tak memandangiku, dia ceritakan semua hari-hari setelah aku tinggal pergi. Aku hanya membisu. Tak aku sangka aku merentangkan jarak sama mereka, keluargaku…
“Beberapa kali Yayan datang, beberapa kali dia kecewa tak ada yang dia dapat tentangmu, karena kami pun tak mengerti..”. lanjut Yudi. Darahku mendesir. Yayan.. gadis itu… itulah kenapa aku ingin kembali, gemuruh ini sudah tak bisa ku bendung, tak kuasa aku menahan lama.
“Kau tak kangen dengannya Lis..?” pertanyaan Yudi membuatku terbata.
“I.. iya.. iya.. aku kangen sama dia, nanti aku temui dia, ada banyak hal yang pengen aku ceritakan padanya”, jawabku. Tiba-tiba aku merasa sepi… entah.
“Karenanya kau pulang?” Yudi tajam menatapku, aku tak bergeming.
“Kau pergi hanya karena cintamu sebelumnya tak berending baik yaa.. kau tinggalkan kami, kau tinggalkan Yayan, kau tinggalkan semuanya.. picik banget kau..” kata-kata Yudi terdengar geram.
“Kau kayak anak kecil, Lis.. lalu.. apa yang kau dapat di sana..?!” Tajam Yudi berkata. Aku sempat meradang tapi ketika aku lihat mata Yudi.. ada sesuatu yang selama ini tak pernah aku bayangkan, mata itu… ada amarah yang tertahan, mata itu bukan hanya ombak besar, mata itu bagai tsunami yang membanting dan menyeretku pada kepasrahan dan rasa bersalah. Kemudian kami berdua hanya mampu berdiam.
“Kami semua sayang padamu, Lis.. kau adalah bagian dari kami, kami juga ikut merasakan apa yang kau rasakan…” Yudi menepuk pundakku pelan. Aku menghela nafas, berat dan perih…
“Kau hanya tak sensitif… aku tahu siapa kau..sementara kau tak pernah mau tahu bagaimana lingkunganmu..” lanjut Yudi.
“Temui Yayan, kau untuknya.. bukan untuk yang lain..” Yudi meringis, meninju bahuku dan ngeloyor pergi..

Ibu menyediakan kopi hangat di kamarku, dan mengingatkanku jam berapa aku mau pergi.
“Jam berapa ketemu Yayan, jangan lupa salam untuk keluarganya ya…” kata ibu. Kaget aku meloncat dari tempat tidur. Iya aku lupa, aku ada janji ketemu Yayan sore ini, tidak bisa telat, Yayan paling tidak suka molor waktu, aku pengen tahu apa reaksinya setelah sekian lama tak bertemu, pasti dia marah, sudah aku duga. Kesibukan jalan hidup merentangkan keakraban kami sehingga kami terpaksa masing-masing menjauh, tapi kerinduanku padanya tak akan pernah tuntas, aku yakin dia juga demikian.

Yayan masih seperti dulu, cantik dan apa adanya, dia menyambutku dengan riang, seriang suasana hatiku bila selalu ketemu dengannya. kami tak perlu banyak basa-basi, kami mengenal dekat secara pribadi. Aku ajak dia makan siang di luar, aku pengen ngobrol dengannya banyak hal. Yayan orangnya asyik, dan dia selalu jadi spirit bagiku
“Yan..”, kataku perlahan. Yayan memandangku tersenyum, seperti biasa wajah culasnya kembali muncul, aku hanya bisa nyengir saja..
“Kau kemana saja..” tanya dia
“Merantau..” Mata Yayan melotot lucu mendengar jawabanku.
“Wah.. ternyata kau nekat juga ya..” balasnya. Gemes aku kacaukan rambut sebahu Yayan.
“Mencari pengalaman hidup Yan, biar ada yang bisa aku ceritakan padamu..”.
“Terus apa yang kau dapatkan sekarang..” Yayan kelihatan serius.
“Aku jadi asisten manager di satu perusahaan di Jakarta, lumayanlah..” Aku melirik gadis di sampingku ini, tapi dia tak bergeming. Yayan asyik memandangi gunung Merbabu yang mulai redup karena senja.
Restoran tempat kami makan menyajikan pemandangan yang sangat indah, pemandangan gunung Merbabu yang menjulang mencakar langit yang mulai gelap dan hamparan kota Semarang di sisi yang lainnya.

Dan malam makin tenggelam, sedang kami masih betah disini, saling menautkan cerita selama kami berjarak waktu.
“Kenapa kamu pergi.. kamu cengeng sekali Lis..” Yayan jadi serius mengatakannya matanya menghujam menatapku, aku jadi terpana.
“Kau ingat… aku pernah bilang bahwa suatu saat, kau akan terbelit pada perasaan yang galau dan kamu akan susah sekali berkelit, jangan terlalu dalam mengikat kebersamaan dengan seseorang yang nantinya kamu akan merasa sakit hati.. Lis, keyakinan tetap akan jadi keyakinan, urusannya akherat, sudahlah.. kau sudahi saja.. jangan kau tenggelamkan pada perasaan.. kau ingat..” katanya.
Yaah.. dulu aku marah Yayan bicara demikian, dan aku pergi membawa beribu kegundahan, membawa perih kegagalan, sakit batinku membelenggu kenyataan, aku tak bisa menerimanya.. Kini perasaan itu tak ada lagi, aku sendiri gak ngerti kenapa.. dalam perantauanku, yang ada di benakku justru Yayan, yang membuat aku sakit hati, kecewa, gundah juga gadis ini, semakin aku kesal semakin aku ingat dia, kenapa justru Yayan… padahal aku tersakiti oleh gadis lain, gadis sekampusku yang aku pacari lama, Yayan mengenalnya… entahlah

Aku genggam tangan Yayan dengan kedua tanganku penuh rasa. Aku bilang padanya untuk tidak mengingat yang dulu, sekarang aku ingin menikmati senja dengan kelegaan. Aku catat perjalanan waktuku dengan senyum nikmat. Aku lihat Yayan memandangi Merbabu yang semakin hilang terhapus malam, aku tak tahu apa yang ada di benaknya, yang aku tahu dia menghempaskan nafasnya perlahan dan lirih sambil tersenyum… aku memang menyayanginya, dan aku lega.. kami tetap saling perduli…

Oleh : Emma Rahma , 2013

Cerpen Karangan: Emma Rahma
Facebook: rahma.dewayanti[-at-]yahoo.com

Cerpen Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melatonin

Oleh:
Aku terbangun. Di tengah heningnya malam, tanpa tahu apa yang akan kulakukan sampai melihat matahari terbit. Jadi aku melangkah ke meja laptop, membukanya, dan melanjutkan menulis. Dinginnya subuh membuatku

Percakapan Tiga Setengah Jam

Oleh:
Tiga jam berlalu sejak kami saling duduk berhadapan di antara hamparan kartu, uang, kulit kacang dan gelas-gelas wine kosong. Wajah Greg memerah sambil kedua alisnya bertaut, memandang hampa pada

Bintang Bersinar Bulan

Oleh:
“Laaaan! Gue dapet formulir panitia mahasiswa baru nih!”, teriak Kenari sambil berlari ke arahku yang sedang sibuk di depan barang berhargaku: laptop. “Aih… kenapa sih lu demen banget buat

Apple Tree

Oleh:
Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah pohon Apel yang terletak beberapa meter di belakang rumahku, begitu sampai aku duduk di bawah pohonnya yang rindang. Walaupun pohon itu masih kecil namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *