Cincin Berlian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 April 2019

Suara ombak yang berdebum di pinggiran pantai menyambut pagiku hari ini. Matahari masih belum menampakkan dirinya. Aku berjalan menyusuri pantai sendirian, di saat mata-mata lain masih tertutup. Ini memang sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Entah kenapa aku suka melakukannya. Mungkin karena aku bisa mendengar suara pantai dengan lebih jelas di suasana yang sesunyi ini, atau mungkin karena, kesendiriannya. Entahlah. Mungkin keduanya.

Langkahku terhenti. Kaki dinginku menginjak sesuatu yang terasa asing bagi telapak kakiku. Awalnya aku berniat untuk melangkah kembali, tapi entahlah, hatiku berkata lain. Akhirnya, dengan menuruti naluriku, aku berjongkok dan melihat benda asing apa yang tadi kuinjak.
Seketika mataku melebar. Itu adalah sebuah cincin! Bukan cincin biasa, melainkan cincin berlian! Sontak tanganku mengambil cincin itu. Ini pasti milik salah satu pengunjung. Siapapun itu, pasti dia sudah tidak di sini lagi. Kemarin adalah hari terakhir liburan panjang. Aku yakin, dia, si pemilik cincin ini, sudah kembali ke asalnya. Sempat terbesit di pikiranku untuk membawanya pulang dan meraup keuntungan darinya. Utang-utang ayahku yang menumpuk pasti bisa terlunasi dan ekonomi keluargaku akan membaik. Namun entahlah, aku tahu perbuatan ini sangat tidak benar. Bisa jadi malah ekonomi keluargaku semakin terpuruk gara-gara aku menggunakan uang yang sama sekali bukan hakku.

Setelah perdebatan hati yang begitu panjang, kuputuskan untuk memberikan cincin ini ke pusat penemuan barang. Si pemilik cincin ini, kuyakin dia akan kembali lagi. Tentu saja untuk mengambil cincin ini.

Hari sudah semakin terang. Matahari pun sudah menampakkan setengah dirinya. Nelayan-nelayan juga sudah kembali dari perjalanannya mencari ikan. Kulangkahkan kakiku menuju rumah kecil yang tak terlalu jauh dari pantai ini. Aku akan mengembalikan cincin ini nanti, setelah membersihkan diri dan membereskan rumah.

Sesampainya di sana, dapat kulihat ibu yang tengah duduk di teras rumah sambil mengecat kukunya. Aih, entah untuk apa dia melakukan itu. Membuang-buang waktunya saja. Aku pun bergegas masuk ke dalam rumah. Rumah, seperti biasa, begitu berantakan. Barang-barang rumah yang dijadikan adikku sebagai mainan berserakan di mana-mana. Asbak, puntung-puntung rokok, dan gelas-gelas bekas kopi hitam menambah kesan berantakan di rumah ini.

Aku berjalan menuju kamarku, lalu kuletakkan cincin berlian itu di laci nakas di sudut kamarku. Setelah itu aku keluar, melakukan rutinitasku seperti biasa. Membereskan rumah. Terkadang memasak juga, kalau ibu berkata, ‘aku takut cat kukuku rusak jadi, kau yang memasak ya? Terima kasih’. Cih. Melelahkan saja.
Kalau kalian bertanya ayahku di mana, tenang saja, dia ada di kamarnya, tertidur pulas sehabis bermain judi tadi malam. Menumpuk utang saja bisanya.

Memakan waktu yang agak banyak untuk membereskan rumah dan menyiapkan sarapan seorang diri. Tepat setelah aku meletakkan piring berisi lauk di atas meja, adikku keluar dari kamarnya. Seragam sekolah melekat di badannya. Tak lama setelahnya, ibuku masuk, lalu mendudukkan dirinya di kursi makan. Begitu pula denganku dan adikku. Jangan tanya ayahku di mana lagi. Dia masih bermimpi indah di kamarnya.

Sarapan pagi kami lewatkan dengan keheningan. Itu biasa. Toh, tidak ada topik pembicaraan yang mampir ke kepalaku untuk dibicarakan dengan mereka. Mungkin juga mereka sama denganku.
“Hey, sebelum berangkat ke sekolah, bersihkan dulu meja ini dan jangan lupa cuci piringnya”, ucapku pada adikku. Matanya melotot, sangat besar sampai-sampai bola matanya terlihat seperti akan keluar dari tempatnya.
“Tidak mau! Nanti kalau seragamku kotor bagaimana?!”. Sudah kuduga dia akan protes.
“Ya makanya hati-hati”, balasku.
“Tapi…”, dia berniat untuk protes lagi, tapi ibuku dengan cepat memotongnya.
“Sudah sudah, turuti saja apa kata kakakmu”. Aku tersenyum mengejek ke arahnya. Dia menatap sebal ke arahku, tapi aku tidak peduli.

Aku segera meninggalkan meja makan begitu piringku kosong. Begitu pula dengan ibuku. Tinggal adikku dengan hati gondoknya, bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya.

Setelah mandi, aku pergi ke kamar untuk berpakaian. Sederhana saja pakaianku hari ini. Sebuah kaos oblong berlengan pendek dan rok cokelat muda panjang bersaku. Kubuka laci nakasku, lalu kuambil cincin berlian itu. Dengan cepat, kumasukkan benda kecil namun berharga itu ke saku rokku, dan segera bergegas menuju pusat penemuan barang.
“Mau ke mana?”, tanya ibuku yang tengah bersiap untuk bekerja. Dia adalah seorang guru di sebuah sekolah kecil di desa ini.
“Ke surga”
PLETAK!
Duh, dahiku bisa-bisa bengkak nih.
“Jangan sembarangan kalau ngomong. Ya bagus sih kalau kamu masuk surga. Serius, kamu mau ke mana?”
“Mau ke pusat penemuan barang”. Ibuku mengernyitkan dahinya, heran. Tapi akhirnya dia mengerti. Jelas sekali aku ke sana untuk mengembalikan barang.
“Oh… Ya sudah sana”. Setelah mencium punggung tangan ibuku, aku langsung melesat pergi.

Di tengah perjalanan, beberapa orang-orang yang kukenal menyapaku. Aku hanya tersenyum pada mereka. Di antara orang-orang yang menyapaku, salah satunya adalah teman sekolahku dulu. Kini dia sudah menikah, padahal baru saja lulus SMA tahun lalu, sama sepertiku. Sebenarnya hal itu wajar di desa ini, bahkan yang menikah lebih muda darinya cukup banyak. Aku sih, belum mau. Siapa tahu aku masih berkesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Siapa tahu.

Kira-kira lima belas menit kemudian, aku sampai. Tempatnya cukup sepi, karena hanya dijaga oleh dua orang. Aku pun memberikan cincin berlian temuanku pada salah satu penjaga yang kukenal. Mulutnya sempat ternganga lebar ketika melihat cincin itu. Siapa sih yang tidak? Sedetik kemudian dia tersenyum dan mengatakan bahwa dia kagum akan kejujuranku. Senyuman kecil kuberikan padanya sebagai balasan. Mungkin kalau orang lain sudah lenyap cincin ini, tambahnya.

Aku melangkah pulang setelah memastikan cincin itu tersimpan dengan aman. Lagi-lagi, dalam perjalanan pulang, orang-orang menyapaku dengan ramah, memerlakukanku dengan baik. Hatiku tersenyum kecut. Mereka terlalu pandai berpura-pura.
Bukannya ayahnya adalah seorang penjudi?
Ibunya itu, orangnya aneh sekali. Guru sekolah kecil saja dandannya menor sekali.
Ayahnya sangat suka meminjam uang orang lain. Kemarin pamanku menjadi korbannya. Dia pemaksa sih ya…
Dan bisik-bisik lainnya. Telingaku ini terlalu tajam, jadi yah… mau tidak mau aku harus selalu mendengar suara-suara halus mematikan itu tiap kali melewati mereka. Namun, sesering apapun aku mendengar gunjingan-gunjingan mereka, telingaku tidak pernah kebal. Kukira aku akan terbiasa dengan hal itu, tapi entahlah, mulut-mulut mereka itu… selalu berhasil membuat hatiku berdenyut sakit.

Kehampaan menyambutku ketika sampai di rumah. Tentu saja, semua keluargaku tidak ada di rumah. Ibu dan adikku, kalian tahu mereka ada di mana bukan? Ayahku? Kubilang jangan tanya apapun tentangnya.

Kuputuskan untuk pergi ke ujung pantai, agar keramaian tidak menggangguku. Pasir yang lembut kujadikan sebagai tempat duduk, yang mampu memberikanku kenyamanan lebih dari apa yang kasur kapukku mampu berikan.
Laut begitu berkilauan hari ini, seakan-akan kerang laut tengah memuntahkan mutiaranya ke seluruh lautan. Lama kupandangi seluruh bagian pantai ini. Langit yang cerah, burung-burung yang berkicauan, anak-anak yang tengah bermain air, dan tentu saja, pasir kecokelatan yang lembut dan lautnya yang tidak henti membuat ombak.

Pantai ini, sungguh menyimpan banyak kenangan bagiku. Saat aku sedang bahagia, aku ke sini untuk menyuarakan kebahagiaanku. Saat aku sedang bersedih, aku ke sini untuk menumpahkan semua keluh kesahku. Saat aku sedang marah, pantai inilah yang menjadi pelampiasanku. Saat aku sedang gelisah, pantai inilah yang selalu ada untuk menenangkanku.

Sebelumnya, belum pernah kutemukan sosok teman sejati. Namun kini, aku menemukannya, dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Dia, selalu ada tiap kali aku mencari kenyamanan, ketenangan, bahkan, kesendirian. Dia, selalu ada di saat aku terguncang. Dia, selalu menahan langkahku dengan ombaknya tiap kali aku ingin membenamkan diri di dalamnya.

Mungkin, manusia bukanlah teman yang cocok untukku. Mungkin, temanku sedikit lebih istimewa daripada yang lainnya. Mungkin, Tuhan ingin lebih menunjukkan kekuasaannya padaku, menunjukkan bahwa pantai ini, tanah kelahiranku ini, dapat menjadi teman yang lebih baik daripada orang-orang yang menganggap rendah aku dan keluargaku.
Tanpa sadar, seulas senyum menghiasi wajahku. Entahlah, senyum ini terasa sangat berbeda dari senyum-senyumku sebelumnya. Yang ini lebih terasa… ringan dan melegakan.

Matahari kini berada di takhta tertingginya. Aku pun beranjak menuju tempat yang lebih teduh. Kusandarkan badan ringkihku di sebuah batang pohon kelapa, dengan daun kelapa sebagai naungannya.
Semilir angin yang terasa begitu lembut mulai menyapa tubuhku. Begitu lembutnya, hingga membuatku ingin cepat-cepat menjelajahi alam mimpi. Kedua mataku pun mulai sulit untuk diajak berkompromi. Sentuhan-sentuhan angin itu pun semakin lama semakin lembut, hingga akhirnya, aku terjatuh ke dalam lautan mimpi.

Kelopak mataku kembali terbuka ketika aku mendengar seseorang, atau mungkin sesuatu, memanggilku. Aku sangat terkejut ketika melihat langit yang sepertinya telah sepenuhnya menggelap. Bahkan bintang sebuah pun tak tampak. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, untuk melihat siapa yang panggilannya dapat menyadarkanku dari tidur panjangku.
Nihil. Sepertinya hanya aku satu-satunya orang yang ada di sini. Ah, aku jadi teringat rumah. Aku harus segera pulang.

Gerakanku terhenti seketika. Suara itu, suara yang sama dengan yang baru saja kudengar beberapa waktu yang lalu, datang kembali. Kali ini bukan hanya sekali. Berulang kali dipanggilnya aku untuk mendekat, tapi bahkan aku tak tahu di mana dia.

Aku pun berusaha untuk mengabaikan suara itu dan bergegas untuk pulang. Lagi-lagi, langkahku terhenti ketika menyadari bahwa tangan kiriku menjadi lebih berat dari biasanya. Kualihkan pandanganku ke tangan kiriku. Aku terdiam. Tubuhku seakan menjadi kaku seketika dan jantungku seperti akan melompat dari tempatnya. Cincin itu… cincin berlian yang kutemukan tadi subuh, kini tersemat elok di lingkar jari manisku.
Bagaimana mungkin?! Ah, ini pasti hanya halusinasiku saja. Atau mungkin aku masih berada di alam mimpi? Tapi tidak, aku tahu benar bahwa ini benar-benar nyata, sama sekali bukan mimpi maupun halusinasi.

Suara itu pun semakin jelas terdengar. Angin malam pun bertambah kencang, berbeda jauh dengan angin lembut yang meninabobokanku siang tadi. Suara itu terasa semakin dekat, dekat, dan…
“Bergabunglah bersamaku, wahai Gadis Malang”
DEG!
Rasa bingung dan frustasi menghantamku di saat yang bersamaan.
“Tak perlu kau bingung begitu, wahai Gadis bermata cokelat. Berjalanlah kau hingga ke bibir pantai, di situlah aku berada”
Otakku mengatakan tidak, namun hatiku menuntutku untuk menuruti perkataan sang Suara. Aku benar-benar bimbang saat ini, namun pada akhirnya, hatilah yang memenangkan perdebatan ini.

Dalam tujuh langkah, aku sudah menyentuh bibir pantai, sesuai permintaan sang Suara tak bertuan. Tiba-tiba, angin yang begitu kencang mengangkat pasir dan air laut yang ada di sekitarku, memutar mereka dengan kencangnya, hingga kusadari mereka memutari tubuh kecilku.
Aku … sedang tidak bermimpi bukan?
“Kau sadar sepenuhnya, sayang. Kenyataanlah yang kau lihat kini”
Oh, ini semakin mengerikan. Sepertinya dia bisa mendengar suara hatiku.
“Kau… siapa? Bisakah aku melihat wujudmu? Apakah kau yang telah menyematkan cincin ini di jariku?”. Tidak kupedulikan pusaran air laut dan pasir pantai yang semakin kencang. Aku hanya butuh penjelasan saat ini.

“Inilah wujudku, tuan putri. Akulah sang Pantai, pantai yang telah kau jadikan sebagai tempat pelarianmu dari duniamu yang penuh masalah. Terkadang juga kau jadikan tempat ini sebagai tempatmu untuk bersenang-senang. Cincin itu, dari awal, aku memang memberikannya padamu. Sebagai tanda persahabatan. Kalau kau memakainya saat itu, kau akan menyatu denganku, dan kita bisa meraih kebahagiaan bersama. Namun sayang, kau malah memberikannya pada orang lain. Anginkulah yang mengambil kembali cincin itu, lalu menyematkannya di jari manismu. Jadi kini, kau bisa menyatu denganku, dan kesepian, tidak akan lagi menghampirimu”
Aku tergugu. Kebahagiaan? Benarkah?

“Kau masih bisa kembali ke tempatmu semula, namun pada saat itu, aku, pantai ini, tidak akan lagi terlihat dan terasa sama seperti yang kau lihat dan rasakan sebelumnya. Jadi, apa kau mau ikut dan menyatu denganku?”
Entah kenapa, tiba-tiba hatiku terasa tenang. Mungkin ini memang takdirku. Jadi, kumantapkan hatiku, dan akhirnya…
“Baiklah. Aku akan ikut denganmu”

Dan seketika itu juga, sang Pantai membawa diriku pergi bersamanya.
Untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Naura Rafifa
Blog / Facebook: Naura Rafifa

Cerpen Cincin Berlian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Untuk Idaman

Oleh:
Sengaja aku buat surat ini untuk kenang-kenangan kepada keluargaku kelak. Siapa tahu, ya siapa yang bisa tahu persis jumlah umurku ini? Aku bisa baca tulis, dan tentu harus kupergunakan

Lexarion (Part 1)

Oleh:
Desing kipas angin menderu kencang. Menggema hingga ke setiap sudut ruangan. Seorang gadis sedang menikmati semilir angin dari kipas angin yang menggantung di plafon kamarnya sambil merebahkan diri di

The Power of Love

Oleh:
Aku masih mengingatnya. Sepuluh tahun yang lalu, di puncak bukit itu ada sebuah pohon beringin yang rindang. Sulurnya menjulur ke bawah, berwarna kecokelatan di pangkalnya. Dulu aku dan teman-teman

Tilang yang Berdarah

Oleh:
Seperti biasa jalan-jalan di kota ini dari pukul 03.00 sampai 00.00 tidak ada matinya, apalagi menjelang petang. Perempatan menuju Perumnas 3 itu selalu padat lalu lintas, perempatan ini entah

Seperti Malaikat

Oleh:
Gerobak tua itu terus berjalan pelan, sebentar berhenti lalu berjalan lagi. Suara deritnya begitu mencerminkan betapa tuanya gerobak penjual gorengan itu. Sinar matahari belum muncul tapi semangatnya untuk tetap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *