Cincin Kawin Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

Suara mesin jahit ibu sudah mulai terdengar, pertanda subuh sudah datang. Seperti biasa ibu meneriakiku untuk bangun dan salat subuh. “Bangun, Le. Sudah subuh,”

Ibu yang sudah bangun lebih pagi dari kita. Sudah menyiapkan baju, sarapan, air hangat untuk aku dan adikku mandi. Ya seperti biasa. Bangun pagi, salat subuh, sarapan lalu berangkat sekolah, begitulah keseharianku. Ibuku bekerja sebagai tukang jahit, dengan mesin jahitnya yang mulai kusam ibu membantu ayah menghidupi keluarga karena gaji ayah yang sebagai tukang kuli panggul di pasar tentunya tak cukup untuk kebutuhan keluarga. Aku hidup dua bersaudara dengan adikku yang masih duduk di bangku sekolah enam SD. Kami hidup di sebuah gubuk kecil peninggalan kakek, gubuk yang berdiri di sebuah tanah petak pemberian kakek masih asli disangga oleh kayu glugu dengan atap genteng yang mulai kehitaman karena saking lamanya tak diganti, lantainya masih berupa tanah asri dan papannya terbuat dari bambu yang masih kuning, pertanda bambu, “gedhek,” itu masih baru, baru beberapa hari yang lalu ayah menggantinya.

“Ibu.. Ibu,” aku berlari kegirangan sambil menunjukkan sebuah kertas yang ku bawa di tanganku.
“Apa iki, Le?”
“Aku Lulus! Aku lulus, Bu. Aku lulus dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah, Bu. Lihat ini, Bu. Aku Lulus!” aku kegirangan sambil menunjuk-nunjuk tulisan “LULUS!” yang tertera di atas kertas tersebut. Ibu langsung memelukku.
“Syukur Alhamdulillah ya, Le,” Ibuku menangis gembira, meskipun tetap saja tak dapat menyembunyikan mukanya yang mulai keriput termakan usia juga dahinya yang seketika mengkerut pertanda sedang memikirkan sesuatu.

Aku sadar betul berasal dari keluarga yang sederhana, sangat sederhana. Pasti ibu sedang memikirkan biaya untuk kuliahku nanti, biarpun aku mendapatkan beasiswa. Ibu mulai menyeka air matanya dan menyembunyikan wajahnya yang terlihat sendu. Biarpun aku berasal dari keluarga yang sederhana, bahkan sangat sederhana tapi aku punya mimpi yang tak sederhana. Sedari kecil cita-citaku adalah bisa kuliah dan hari ini aku membuktikannya, aku akan kuliah, bahkan tanpa merepotkan orangtuaku, aku mendapat beasiswa! Aku mulai disibukkan dengan beberapa lipatan baju, buku-buku. Ibu membantuku untuk mempersiapkan semuanya, besok pagi aku akan berangkat ke kota menggunakan bus paling awal. Meninggalkan ayah dan ibu di rumah bersama satu-satunya adik perempuanku yang masih kecil, Mela.

“Ini, Le,” Ibu menyodorkan sebuah cincin dan selembar uang lima puluh ribu.
“Ini, Le. Ambi ini. Gunakan sebaik mungkin untuk kuliahmu. Ibu hanya bisa memberi ini. Ini cincin kawin Ibu. Satu-satunya harta Ibu,”
“Tapi, Bu. Ini,” ibu langsung memotong kalimatku.
“Sudah, Sudah, Le. Bapakmu sudah mengizinkan. Jaga dirimu baik-baik saat di sana, kabari Ibu kalau sudah sampai, jangan lupa salat, belajar yang rajin. Ibu cuma bisa berdoa agar anak Ibu ini sukses,” Sambil terus menahan air matanya dan menepuk-nepuk punggungku ibu menyampaikan petuah-petuahnya. Malam itu diakhiri dengan makan malam bersama keluargaku, lauk ikan asin dan sambal pete dengan nasi panas terasa begitu nikmat.

Terminal Bintoro, aku diantar ayahku dengan menaiki sepeda ontelnya yang sudah mulai peot. Terdengar suara kepeotannya yang dihasilkan dari rantainya yang tak pernah dilumuri oli. Aku menciumi tangannya hingga tiga kali, ia membalas dengan senyum simpul restunya. “Berangatlah, Nak,” Ayah menungguiku sampai bus berangkat, dari bus yang mulai berjalan aku ikuti ayah dengan mataku, dengan bajunya yang mulai kusut, celana hitam yang mulai meluntur karena sudah beberapa tahun ini tak diganti ia terus mengayuh sepedanya dan perlahan hilang. Aku genggam cincin pemberian ibu semalam, sambil menyeka air mataku aku berjanji, “Anakmu ini akan sukses, Bu, Pak.”

Satu semester, dua semester, tiga semester sampai lima semester aku lalui dengan kerja keras dan menghasilkan nilai yang sangat memuaskan, setiap libur semester aku pulang dengan membawa salinan nilaiku, ayah dan ibu selalu bangga dan tersenyum melihatnya. Libur semester enam sudah si depan mata, kali ini aku juga membawa pulang nilai yang lebih memuaskan dari biasanya, pasti sesampainya di rumah si kecil Mela bakal berlari dan memelukku dan mengoreksi nilaiku terlebih dahulu lalu ia berlari dan memberikannya pada ibu dan ayah. Seperti biasa ia akan gembira seakan-akan dialah yang memperoleh nilai itu. Sungguh aku sudah merindukan keluarga kecilku, rindu sambal pete buatan ibu. Beberapa lipatan baju, buku, dan salinan nilaiku sudah ku masukkan ke dalam tas ranselku, ku pastikan tak ada yang ketinggalan, handphone, charger, dan cincin pemberian ibu yang sampai sekarang belum dan sebisa mungkin tak aku gunakan. Bus besok berangkat pukul delapan pagi.

Gubug kecilku sudah mulai terlihat, gentengnya semakin menghitam saja, papan “Gedhegnya,” sudah mulai kecokelatan. Sengaja aku tak mengabari ayah dan ibu kalau pulang hari ini, tak sampai hati kalau ayah harus menjemputku ke terminal Bintoro yang jaraknya sembilan kilo meter dari rumah, belum lagi jalannya yang bebatuan pasti akan menyulitkan tubuh dan sepedanya yang semakin termakan waktu. Tak seperti biasanya, rumahku begitu ramai, Mela juga tak muncul-muncul yang biasanya saat melihatku langsung berlari girang menghampiriku. Ku lihat ayah ke luar dari kerumunan orang dengan mata yang sendu, kantung matanya yang mengikat menandakan umurnya. Ayah langsung memelukku dengan isak tangis yang tak bersuara.

“Ibumu, Le. Sudah dipanggil Tuhan, Ibumu sudah pulang,” Seketika tubuhku lemas, serasa tulang-tulang dilolosi satu per satu, lembar salinan nilaiku terjatuh bersamaan air mataku. Aku berlari terpotong-potong menghampiri jasad ibuku. Aku peluk dan ku ciumi wajahnya yang keriput, tubuhnya kurus ronta dan tak lagi dibungkus kain warna bermotif seperti biasanya, kini telah terbungkus oleh kain putih bersih tak bermotif. Terus aku ciumi wajahnya, tangannya, kakinya yang sudah dingin.

“Jangan sampai air matamu mengenai jenazah Ibumu, Nak,” Suara ayah menambahkan sembari tangannya menepuk-nepuk punggungku. “Mela mana? Mela! Mela!” Aku mencari-cari adikku. Dia berdiri di bagian pojok dari kerumunan orang-orang, aku langsung menghampiri, memeluk dan menggendongnya.

Beberapa tahun berlalu, sudah tak ada lagi suara ibu yang membangunkanku untuk salat subuh, tak ada lagi ikan asin dan sambal pete dengan nasi yang panas tersedia setiap pagi di meja, tak ada lagi suara mesin jahit yang berputar. Sudah tak ada lagi. “Kak, Kakak! Kak Arif!” Suara Mela dari kejauhan memecahkan lamunanku.
“Duh, Kakak. Sudah berjas begini, sepatu sudah kinclong, dasi sudah rapi, kenapa malah berdiri di depan kantor? Coba lihat nilai kuliahku semester ini, tak kalah dengan nilai-nilai Kakak dulu, kan?” ia memperlihatkan salinan nilainya dengan tertawa kecil bangga. “Tentu saja, karena kau Adikku, calon sekretaris di perusahaan ini,” Aku semakin melambungkan semangatnya.

Si kecil Mela kini sudah menjadi gadis remaja yang cerdas, ia mengikuti jejakku dengan melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas negeri di Bandung. Ayahku menyusul ibu setelah beberapa bulan aku meraih sarjanaku. Kini aku hidup berdua dengan adikku dan mengurus perusahaan hasil kerja kerasku, sesalku belum bisa membuat orangtuaku merasakan keberhasilan anaknya. “Sampai hari ini, Bu, cincin pemberian Ibu masih aku simpan,” Aku menangis dengan ditutupi tanganku yang masih menggenggam cincin kawin ibu. Tentunya Mela juga merasakan kerinduan yang sama.

Cerpen Karangan: Akhil Bashiroh
Blog: akhldzatuhimmah.blogspot.com
Facebook: Bintu Aql

Cerpen Cincin Kawin Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Ada Rumah Yang Tak Akan Hancur

Oleh:
Ia terduduk di sudut kamarnya yang terkunci. Matanya ia pejamkan lekat-lekat, tangannya menutup rapat telinga -mencoba menghalang semua suara gaduh menyentuh syaraf pendengarannya, ia bernapas dengan cepat dan berat-bagai

Hadiah Buat Mama

Oleh:
Suatu hari saat Ina baru saja pulang sekolah, dia dikagetkan oleh suara mamanya yang memanggil namanya. “Ina… ina…” “iya ma ada apa?” Jawab Ina dengan sopan. “kamu itu lagi

Mata Pelangi

Oleh:
Gadis kecil itu duduk di teras rumah seorang diri. Tidak ada ayah ataupun nenek yang menemaninya kali ini. Hujan masih turun membasahi halaman rumah. Taman. Bunga. Pohon-pohon. Ayunan. Semua

Wake Me Up

Oleh:
Jakarta, 19.34 WIB. Gadis itu menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Seolah-olah ada hal buruk yang baru menimpanya. Lima menit yang lalu. Ia merasakan aliran deja vu menghampiri hidupnya.

Mother, I Love You

Oleh:
Hari terasa sangat gelap. Waktu itu, aku masih di sekolah menunggu hujan reda. Aku mengerti kondisi keluargaku. Ayah pergi merantau entah ke mana dan aku hanya sendiri bersama Ibu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cincin Kawin Ibu”

  1. patriani sukma says:

    ceritanya keren abis bikin terharu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *