Cotton Bud Dan Kapitalisme

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 June 2020

Semalam nyaris saja celaka. Cotton bud yang saya gunakan kapasnya lepas. Untung saja posisinya tidak pas di dalam telinga kiri. Agak di luar. Sehingga kapasnya masih bisa diambil. Kalau tidak, mungkin agak repot juga. Coba saja bayangkan, bagaimana kalau kapas cotton budnya masuk ke telinga. Hadeuuh.

Ya, untung saja. Mungkin ini salah satu ciri jiwa besar dari bangsa Indonesia. Kalau ada yang celaka, masih saja disebut: Untung. Bisa jadi namanya: Budi atau Selamet. Padahal sudah celaka. Tetap saja: Untung. Sering kali kita mendengar jika orang yang kecelakaan atau kena musibah: Untung saja “itu” nya engga lecet. Atau Untung saja “ini” nya masih ada. Saya curiga itu lebih pada ucapan untuk menghibur diri daripada sebuah ungkapan yang menyatakan kenyataan yang terjadi.

Tetap saja, rasa [kesal] itu masih ada. Cotton bud keparat itu hampir membuat telinga kiri saya bermasalah. Padahal dari kemasan dan bentuknya terlihat bagus. Bagaimana tidak bagus, lha itu buatan pabrik. Pasti udah melewati Quality Control. Walaupun saya tidak tahu seberapa ketat. Yang pasti itu buatan pabrik dan benda keparat itu hampir-hampir mencelakakan telinga kiri saya.

Kalau ada apa-apa dengan telinga saya bagaimana jadinya? Saya jadi tidak bisa mendengarkan Bed of Roses dan Blaze of Glory-nya Bon Jovi. Saya mungkin tidak bisa mendengarkan indahnya; Moonlight –nya Beethoven, Aida-nya Giuseppe Verdi, The Goldberg Variations-nya Johann Sebastian Bach, La Traviata-nya Giuseppe Verdi dan Symphonie Fantastique-nya Hector Berlioz. Atau mungkin saya juga tidak bisa mendengarkan Indahnya Suara Nella Kharisma lewat Jaran Goyang-nya.

Dari kejadian ini saya jadi beranggapan: Demikian bobroknya kah mentalitas para pengusaha sehingga demi mengejar laba rela mengorbankan kualitas produknya? Atau ini gambaran umum dari para kapitalis? Wajah-wajah kejam kapitalisme dalam rupa Cotton bud. Dimana etika bisnis berada? Apakah mereka tidak belajar tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis? Yang salah satu pendekatannya disebut: Utilitarian Approach? Yaitu setiap dan segala tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan. Ya, dengan cara tidak membahayakan. Ini malah kuping saya yang hampir jadi korban.
Sungguh saya jadi lebih bisa memaknai Kapitalisme.

Saya coba buka-buka lagi lembaran-lembaran 3 jilid tebal buku tentang kritik atas kapitalisme. Disitu tercatat:
“… Kapitalisme adalah sistem dimana minoritas penguasa modal (kapital) memonopoli alat-alat produksi (pabrik, tambang, mall, bank, dan seterusnya), mengeksploitasi kelas buruh, serta beroperasi dengan dorongan proses akumulasi kapital tanpa henti. Pertentangan pokok dalam sistem ekonomi kapitalisme dengan demikian bukanlah pertentangan antara perusahaan negeri (semacam BUMN) dengan perusahaan-perusahaan swasta.
…Eksploitasi demikian bisa berbentuk hubungan sosial di tempat kerja dimana buruh-buruh yang tidak memiliki perangkat produksi, dan tidak memiliki komoditas untuk dijual sehingga mereka harus menjual tenaga kerjanya untuk gaji (wage labour system). Ini berarti mereka tidak memiliki kontrol dari hasil kerjanya. Dalam sebuah sistem ekonomi seperti ini, tidak ada kemungkinan untuk merencanakan perekonomian demi kepentingan masyarakat luas.”

Saya nukil kalimat terakhir: “Dalam sebuah sistem ekonomi seperti ini, tidak ada kemungkinan untuk merencanakan perekonomian demi kepentingan masyarakat luas.” Ya, tidak ada kemungkinan. Jadi, jika dalam sistem ini orang merindukan keadilan sosial, ibarat peribahasa: Bagai pungguk merindukan bulan. Sesuatu hal yang mustahil terjadi.

Di bagian lain disebutkan:
“… Sebaliknya, setiap kapitalis didorong oleh kompetisi untuk membangun usaha dengan saling menjatuhkan pesaingnya, saling mengorbankan pihak lain yang dianggap penghalang bisnisnya, serta berorientasi menumpuk keuntungan bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini berarti yang kuat modalnya atau kapitalnya memakan yang lemah kapitalnya, khususnya mereka yang tidak punya kapital (dan alat produksi) sehingga hidupnya harus bergantung pada menjual tenaga kerja pada kapitalis. Inilah yang mengakibatkan eksploitasi dan alienasi pada kelas buruh serta mengarahnya kapitalisme pada krisis ekonomi.”

Apakah standar gaji para pekerja di perusahaan Cotton bud itu tidak layak, sehingga para pekerja bekerja hanya untuk menggugurkan kewajibannya saja. Sehingga bekerja tanpa: loyalitas dan standar kerja yang benar. Atau itu konsekuensi logis dari sebuah sistem ekonomi yang dianut. Atau mungkin ada hal lain yang saya tidak tahu. Entahlah. Yang saya tahu persis: Cotton bud keparat itu nyaris bikin kuping saya celaka.

Salam Dari Benteng Betawi

Cerpen Karangan: Ade Imam Julipar
Blog / Facebook: Ade Imam Julipar
Penulis saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang Manufacturing dan Importer Baja sebagai seorang Engineering.
Pria kelahiran Pamanukan, 07 Juli 1974 ini juga sebagai seorang pengajar Software untuk desain teknik (AutoCAD) kelas malam di salah satu lembaga pendidikan computer di kota Tangerang.
Sering menjadi Pembicara Seminar diberbagai Event AutoCAD. Diantaranya:
1.Pembicara Di Autodesk University Extension Indonesia 2014, Kamis, 13 November 2014 @ Le Meredien Hotel
2.Pembicara Di Autodesk Cad Camp 2015 —
25 April 2015, @ Gedung Jica (Fpmipa) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung
3.Pembicara Dari Indonesia Di Ajang Autodesk University Extension Asean 2015 @ Hotel MuliaSenayan- 16 September 2015
4.Pembicara Di Seminar Dan Pelatihan Nasional CAD Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, 15 Mei 2016
5.Pembicara Di National Gathering KOMUNITAS AUTOCAD INDONESIA,Yang Bekerjasama Dengan Autodesk Dan Sinar Mas Land @ The Breeze, BSD -11 September 2016

Buku-buku hasil karyanya yang sudah diterbitkan:
1. Jurus-Jurus Sakti AutoCAD Buku 1, @ 2016 Penerbit Rafikatama
2. Jurus-Jurus Sakti AutoCAD Buku 2, @ 2017 Penerbit Rafikatama
3. Jurus-Jurus Sakti AutoCAD Buku 3, @ 2017 Penerbit Rafikatama
4. Kitab AutoCAD 2 Dimensi @ 2017 Penerbit Rafikatama
5. Kitab AutoCAD 3 Dimensi @ 2017 Penerbit Rafikatama

Cerpen Cotton Bud Dan Kapitalisme merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


34 (1)

Oleh:
Aku melihat bapak dari kejauhan. Duduk di kursi kayu depan rumah kami yang lapuk. Beliau tertunduk. Memperlihatkan rambut yang telah tertutup uban. Entah apa yang dipikirkannya. Memikirkan apa yang

Jalan Tengah

Oleh:
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Abdul Rahim, yang dikampungnya kurang begitu popular sedang berbincang dengan seorang temannya, di kampung mereka teman abdul Rahim ini kurang begitu di suka. Abdul

Pemicu Semangat

Oleh:
Pukul 5 pagi, Abdi telah terjaga dari tidurnya. Segera saja, Abdi kembali membuka alamat e-mailnya dengan harapan ia mendapatkan kabar dari perusahaan yang 2 minggu lalu memanggil Abdi untuk

Hamba Berita

Oleh:
Pagi? Berita. Siang? Berita. Sore? Berita. Malamnya? Berita. Begitu seterusnya pemandangan di ruang keluarga itu. Dunia berita menjadi dunianya juga. Mendarah daging. Wajar saja, pemahamannya soal dunia luar memang

Satu Kelapa Dua Cinta

Oleh:
Hamparan pasir putih tersibak gelombang tinggi Pantai Selatan. Bukit Srandil hijau menjulang. Sepasang camar menukik berkejaran. Fandi dan Fanny bergandengan tangan berbasahan menyusuri bibir pantai. Fandi bercelana pantai bertelanjang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *