Cuaca Dibawah Pipa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 29 April 2021

Langit terlihat begitu merah, pujian-pujian dilantunkan di setiap toa masjid tanda waktu akan beranjak menuju maghrib. Ada pula klakson kendaraan yang menyalak satu sama lain menginginkan pulang. Sebuah rutinitas biasa di kota yang luar biasa.

“Aku mau pulang, Mas!” Ratih menepis tangan suaminya yang sedari tadi menghalangi ia untuk pergi
“Mengapa kamu ingin pulang kampung sih?!” Jono tetap menarik tangan istrinya secara paksa

Diantara mereka ada Sardi, anak semata wayang mereka yang baru berumur 5 tahun menangis cukup kuat menyaingi suara-suara klakson dan toa masjid. Mereka berdiri di sebuah jembatan pipa PDAM yang memiliki lebar kurang lebih dua meter. Sudah 4 tahun Ratih dan Jono tinggal dibawah pipa besar itu. Mimpi besar yang dibawa Jono ketika datang ke kota kini dikikis habis oleh keraguan Ratih yang lelah menunggu mimpi itu terwujud.

Sampai saat ini Jono belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah pertama kali melamar pekerjaan ke pabrik-pabrik dan hasilnya gagal hingga mencoba pekerjaan serabutan seperti jadi kernet angkutan umum bahkan memulung barang-barang bekas sudah ia lakukan. Namun kehidupannya di kota tak kunjung berkembang walau setitik.

Tak ada hal lain yang bisa Ratih lakukan selain mengurus anak mereka dibawah dinginnya Pipa PDAM.
Namun kali ini, Ratih sudah mencapai puncak emosinya. Ia sudah lelah menunggu Jono yang penghasilannya hanya cukup untuk makan dan minum. Sardi sebentar lagi harus sekolah. Ratih khawatir Sardi tidak akan pernah menduduki bangku sekolah. Ratih ingin masa depan anaknya lebih cerah. Namun, hal itu tak akan terjadi kalau masih saja tinggal dibawah Pipa PDAM.

“Kamu mau tetangga-tetangga di kampung mengolok-olok kamu? Kamu gak muak apa? Dinyinyirim terus, diomongin terus! Kita bisa menghadapi ini semua!”
“Kamu udah ngomong itu ribuan kali Mas! Sejak 4 tahun lalu aku datang kesini sama kamu! Dengan alasan yang itu-itu juga, Aku capek Mas!”

Angin berhembus begitu kencang namun tak menyurutkan hawa panas diantara mereka berdua. Penduduk pipa PDAM yang lain hanya bisa menengok dari celah celah kayu yang mereka buat di rongga rongga jembatan. Penduduk yang lainnya terlalu sibuk mengangkat jemuran yang tertambat di sepanjang pipa. Sardi yang belum mengerti apa-apa hanya menangis dan memeluk erat ibunya berharap pertengkaran itu akan segera usai.

“Sardi harus sekolah Mas! Aku gak mau kalau dia cuma keluyuran main main di tepi jalan raya dan tidur di coran yang lembab dan dingin itu. Aku mau Sardi hidup lebih layak, aku gak mau Sardi menderita seperti itu!”
“Biarkan saja jika memang para tetangga mencibir. Aku sudi menelan semua hinaan itu daripada harus melewati malam-malam yang sunyi di bawah pipa itu! Memikirkan nasib anakku yang setiap pagi mandi di pinggir kali”
“PLAKK!” Jono tegas menampar Ratih
Keduanya menitikkan airmata. Ratih yang terlanjur kecewa dan Jono yang amarahnya tak terbendung. Atmosfer mendadak hening, waktu terjeda sejenak, matahari akhirnya tenggelam.

“Aku pergi, Mas. Adikku sudah menunggu di tepi jalan”
Jono masih membatu, melihat punggung anak dan istrinya menjauh dari pandangannya. Suara tangis Sardi perlahan menghilang dan akhirnya mereka benar-benar pergi.

Langit kini disinari bulan yang pucat, Takbir-takbir mengalun di setiap masjid begitu juga klakson klakson mobil pemudik yang menginginkan pulang.
Jono duduk di atas pipa menatap bulan, merenungi apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu. Ia sadar bahwa apa yang terjadi pada keluarga kecilnya itu memang salah Jono. Namun, bukan berarti dia tidak berusaha keras untuk mencoba agar kehidupan mereka berubah. Bukan pula Jono tidak ingin pulang kampung hanya karena celotehan tentangga. Hanya saja, ia ingin membawa hasil yang signifikan untuk dibawa pulang ke kampung.

Senggolan gabus basah menyadarkan Jono dari lamunan. Ternyata itu Karman partner mulungnya selama tinggal dibawah pipa. Karman kelihatan membawa segelas kopi, tangan yang satunya lagi membawa gabus basah yang selalu ia bawa ketika memungut barang bekas.

“Ngopi dulu Jon, nih! Biar seger, mana Sardi? Udah tidur? Gua udah bawa roti nih buat dia” Karman menengok ke kanan dan ke kiri
“Dia dibawa istriku minggat, Man.”
Hampir saja kopi hangat tumpah tersandung karena Karman yang kaget
“M-Minggat?”

Akhirnya Jono menjelaskan semua yang terjadi beberapa jam yang lalu pada Karman. Karman mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menyeruput kopi dan menghisap rokok kreteknya.
“Ya gak salah juga sih. Si Ratih pengen anak Lu jadi Insinyur kali! Hahaha…” lelucon Karman sepertinya tak efektif malam ini
“Belum sempat aku minta maaf sama istriku, Man. Apalagi ngasih wejangan ke anakku layaknya seorang ayah”
“Gini Jon, sudah jadi ketentuan hidup. Ada pertemuan ada perpisahan. Pikirin aja si Ratih sama Anak Lu pergi karena kebaikan. Kenapa gua bilang kebaikan? Karena anak lu bakal sekolah, bini lu bakalan kerja dan lu masih bisa perjuangin apa yang masih berarti buat lu. Apa? hidup lu.”

Karman memang lebih tua dari Jono. Jadi ia begitu leluasa menasihati dan memberikan pengertian pada Jono. Sudah berkali-kali Karman memberikan pandangan-pandangan bahwa jaman sekarang hidup dibawah pipa PDAM adalah hal yang paling masuk akal untuk dilakukan.

Dari kejauhan terlihat ada seorang laki-laki berjalan sempoyongan menghampiri Karman. Itu adalah Benny seorang supir angkutan umum yang baru saja selesai narik. Mungkin sudah waktunya bagi Benny untuk pulang tapi karena melihat Karman dan Jono ia pikir hal menarik sedang dibicarakan.

“Heiiii, ada apa nih? Lengket sekali kalian kutengok. Sedang apa? Saling mengadu nasib? Hahahaha”
Lagi, Jono menjelaskan hal yang tadi ia bicarakan dengan Karman. Benny mengambil sebatang rokok punya Karman dan menyulutnya.
“Cih, Kau masih beruntung Jon, kau masih sempat mengawini Ratih Istrimu dan punya anak. Kalau aku kau tengok. Belum sempat aku pulang untuk mengawini pacarku si bertha di kampungnya sana. Aku pun sudah tak tahu bagaimana kabarnya dia semenjak aku datang kesini. Tapi, sebagai laki-laki tulen aku betekad kuat buat mengawininya. Sebagai laki-laki tugasku hanya berjuang sampai matipun aku ingin mati dalam keadaan berjuang hahaha.”
“Iya aku tahu, tapi aku juga gak begitu yakin. Apakah kehidupan istriku nanti bakal jadi lebih baik atau sama aja.”
“Sebab itu Jon, kita sebagai laki-laki cuma bisa melakukan satu hal: Usaha!” Karman menimpal dengan spontan
Mereka semua tertawa pada nasib mereka masing-masing.

Lantunan takbir kian riuh, mereka bertiga menatap bulan yang sama. Samar-samar terdengar suara benturan barang. Ternyata di bawah, ada yang sedang bersiap-siap untuk pindah rumah. Heru dan Istrinya sibuk berbenah dengan sigap Jono, Karman dan Benny membantu mereka.

“Ada yang pindah nih ye!” Sapa Karman sambil mengangkat kompor kecil
“Ah bang, Terima kasih! Setelah bertahun-tahun kerja di pabrik sepatu akhirnya saya dan istri bisa sewa kontrakan di seberang” jawab Heru yang agak terperanjat karena kedatangan Karman
“Ya, meskipun kami gak pulang kampung. Setidaknya keluarga kami bisa datang berkunjung pas lebaran nanti. Dan kami bisa menjamu mereka dengan layak.” Timpal istri Heru
“Wah, Selamat ya dan semoga sukses buat kalian berdua!. Nih Jon lu bawa ini, Ben lu bawa baju baju yang dibungkus noh!”
Semuanya sibuk membawa barang-barang dan menempatkannya di tepi jalan.

“Nanti mobilnya bakal datang jemput disini. Terima kasih banyak ya, Bang Karman, Mas Jono dan benny. Kalian bisa kunjungi saya kapan-kapan kok. Pintu calon rumah saya bakal terbuka lebar buat kalian” ucap Heru tanpa menghilangkan senyuman di bibirnya.

Akhirnya Jono dan kawan-kawan kembali ke pipa setelah berpamitan dengan Heru.
“Kapan ya kita bisa macam si Heru?” Celetuk Benny
Jono hanya menatap kosong kedepan. Itulah yang Jono Inginkan, Pekerjaan tetap dan tempat tinggal layak. Dua hal itu selalu menjadi mimpinya setiap malam.
Karman mengerti pandangan Jono dan berkata “Yaa bakal Ben, cuman ga tau kapan gilirannya. Ya kita lihat aja nasib bawa kita kemana. Enak jalanin, gak enak ya rasain! Hahahaha”

Gema takbir masih riuh memenuhi langit yang mereka pandang. Sebuah tanda telah mencapai kemenangan dan keinginan pulang. Mereka bertiga masih saja disana menikmati angin dan meresapi gema takbir. Pikiran mereka entah berada dimana tapi yang pasti adalah mereka akan bermuara pada kata “Pulang”

Di sudut Jembatan terlihat, laki-laki dan perempuan sepertinya pasangan muda. Si laki-laki membawa ransel dan si perempuan membawa kardus kecil mungkin berisi pakaian. Mereka seperti mencari sesuatu. Entah tempat tidur atau tempat tinggal. Dengan sigap Karman menatap mereka disusul dengan tatapan Benny tapi Jono sepertinya tidak tertarik.

“Pendatang baru, Man. Kita kasih sambut” Kata Benny
“Rasanya seperti beberapa tahun lalu, pas pertama kali gua lihat lu datang kesini, Jon” Karman menepuk pundak Jono dan pergi menghampiri dua orang asing itu.

Kini tatapan Jono turun ke bawah. Sungai yang mengalir, hidup yang mengalur. Kedatangan dan kepergian terjadi hampir setiap tahun di bawah pipa. Jono menatap aliran sungai yang lebih bening dari nasibnya. Sungai itu memantulkan bayangan wajah Jono. Ia seakan terpikirkan sesuatu dan menatap lamat-lamat sungai itu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ikbal Nuryana
Facebook: Ikbal Nuryana
Nama Saya Iqbal Nuryana. Lahir di Bandung, 24 Maret 2000. Saya sekarang berdomisili di Cianjur.
IG: NuryanaMC

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 April 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Cuaca Dibawah Pipa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepucuk Surat Buat Ayah

Oleh:
Rabu 26 Juli 2017, kutuliskan sepucuk kisah yang begitu bermakna. Merupakan sandiwara dalam akhir sayonara kehidupan Terhadap kasih sayang yang tidak akan pudar sepanjang masa. Ayah di balik tirai

Senandung Untuk Ibuku

Oleh:
Masih ingatkah kau dongeng tentang Malin Kundang, sang anak durhaka itu? Tentu kau masih ingat bukan, tak mungkin kau tak tahu karena cerita, itu rutin dijadikan dongeng pengantar tidur

Kisah Kelam Terakhir

Oleh:
Ini adalah aku. Ini kisahku dalam sejarahku. Aku yang selalu diremehkannya. Yang selalu dibandingkannya dengan anak orang lain. Dengan mereka yang lebih mampu dibanding aku. Aku yang dikatanya sibuk

Lapangan Kehidupan

Oleh:
Semua telah berubah. Tempat ini kini telah berubah menjadi tempat yang begitu tenang. Memang tak sepi, namun tak banyak orang yang datang. Karena hanya pada waktu tertentulah tempat ini

Secercah Harapanku

Oleh:
“kamu ingat, 13 tahun yang lalu tepat nya saat kamu berusia 4 tahun, waktu itu kamu menangis dan terus menangis karena sakit, dan dokter bilang di otak kamu ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *