Cucu yang Menyesal (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 March 2016

“Loh Jal kok kamu jam segini sudah bangun?”
“I.. Iya Kek, tadi Jali kebangun sendiri, terus Jali gak bisa tidur lagi,”
“Oalah. Salat Tahajud aja yuk,” ajak kakek.
“Apa itu salat Tahajud Kek?”
“Salat Tahajud itu salat yang dilaksanakan di tengah malam Jali,”
“Itu buat apa Kek? Kan kita udah salat 5 waktu,”
“Iya, ini salat sunah Jal. Tapi kalau kamu salat Tahajud lalu berdoa Insya Allah doamu akan didengar Allah dengan cepat,”
“Wah enak sekali. Ya sudah aku ambil air wudu dulu ya Kek!” ujarku dengan semangat.
“Iya sana, hati-hati ya,”

Saat salat Tahajud, aku sangat khusyu menjalaninya. Dan aku banyak sekali memanjatkan doa setelah salat Tahajud. Aku berharap bahwa Allah akan segera mendengar doaku dan mengabulkannya. Aku melihat kakek, beliau juga sangat khusyu saat menunaikan ibadah salat Tahajud. Bahkan aku tidak sengaja melihat kakek meneteskan air mata saat selesai salat Tahajud. Langsung aku peluk kakek dari belakang. Kakek membalas pelukanku dengan hangat.

“Kakek kenapa menangis?” tanya dengan nada lirih.
“Tidak apa-apa Jal, Kakek hanya terharu saja,”
“Kakek kalau aku banyak berdoa, apakah Allah akan bosan dengan doaku?”
“Tidak Jal. Allah akan melihat hambanya yang rajin berdoa maka itulah yang akan dikabulkan oleh Allah,” ujar kakek dengan tersenyum kepadaku.
“Benerkah Kek?”
“Iya benar Jali. Masa Kakek berbohong,”
“Hehe iya iya Kek. Jali percaya sama Kakek. Kek aku mau tidur lagi ya, aku masih ngantuk,” pamitku kepada kakek.
“Iya Jal, nanti Kakek bangunan kalau sudah subuh,”

Aku tidak menghiraukan ucapan kakek. Karena aku sudah sangat mengantuk. Walaupun hanya tidur sebentar, tetapi setidaknya aku tidak terlalu mengantuk saat di sekolah nanti. Waktu sudah menunjukkan 04.10 WIB. Adzan subuh juga sudah berkumandang. Aku segera bangun dan mengambil air wudu untuk menunaikan ibadah salat subuh. Setelah salat subuh aku langsung mandi dan menata perlengkapan sekolah. Sementara aku sedang mandi, aku melihat kakek sedang sibuk menyiapkan bekal untuk makan siang. Seperti hari-hari sebelumnya, aku sarapan dengan telur goreng dan nasi putih. Tidak ada yang mewah di rumah kami. Tetapi aku sangat merasakan kasih sayang yang amat besar di rumah yang kecil ini. Saat kami sedang menikmati sarapan pagi, aku berkata bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku kepada kakek.

“Kek hari ini aku ulang tahun, Kakek gak ngasih aku sesuatu?”
“Kamu memang ingin apa dari Kakek?”
“Aku ingin Kakek selalu bersamaku,”
“Kakek pasti selalu bersamamu Jali. Apa pernah selama ini Kakek pernah ninggalin Jali sendirian? Gak kan?” ujar kakek sambil mengelus kepalaku.
“Hehe iya Kek, Kakek gak pernah ninggalin Jali,”
“Ya sudah sekarang habisin sarapanmu lalu kita berangkat sekolah,”
“Iya sebentar lagi Kek,”
“Kakek duluan ya makannya, Kakek mau ngeluarin sepeda di halaman samping dulu,”
“Iya Kek hati-hati,”

Setelah kami selesai dengan urusan masing-masing, kami langsung bergegas berangkat ke sekolah. Kakek sangat berhati-hati saat memboncengku dengan sepeda tuanya. Penuh dengan kasih sayang. Ya, aku bisa merasakan bahwa kakek menyayangiku seperti ia menyayangi ayahku dahulu. Kasih sayang orangtua memang tidak ada batasnya. Aku mempunyai impian bahwa aku harus membalas budi jasa kakek yang selama ini beliau korbankan untuk kebutuhan hidupku.

5 Tahun Kemudian
Sekarang aku berusia 16 tahun. Aku bukanlah anak kecil lagi yang selalu dimanja oleh kakek. Aku sudah bisa melakukan apa pun tanpa bantuan kakek. Dan kakek pun sekarang sudah tidak sekuat dulu lagi. Sekarang giliranku mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari aku dan kakek. Aku biasa bekerja saat pulang sekolah. Aku bekerja sebagai buruh bangunan. Upahnya lumayan, sehari bekerja aku akan mendapatkan upah sebesar Rp. 50.000. Lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Suatu hari aku menyukai seorang perempuan di sekolahku. Ia sangat cantik, pintar, dan kaya. Aku berusaha mendekati dia. Tetapi dia malah menjauh dariku. Aku berusaha mengoreksi diriku sendiri. Apakah yang salah dari diriku. Aku berusaha mengobrol dengan dia. Dan reaksinya dia hanya menjawab sepatah dua patah kata saja.

“Hai, boleh kenalan?” sapa ku kepada perempuan itu.
“Gak,” jawab perempuan itu dengan jutek dan ketus.
“Kenapa?” tanyaku kepadanya.
“Aku gak mau kenal sama orang miskin kayak kamu!” jawab perempuan itu.
Menunduk. “Oh ya sudah. Maaf mengganggu,” jawabku dengan sakit hati. Semula aku suka kepada dirinya, sekarang berubah menjadi dendam yang tak terkira kepadanya. Seketika itu aku langsung pulang menuju rumah. Di depan rumah ada kakek yang sedang duduk santai, tiba-tiba aku langsung memarahi kakek dan membentak kakek.

“Kek, kenapa kita selalu hidup susah dan miskin? Kapan kita menjadi orang kaya?” tanyaku kepada kakek dengan perasaan emosi.
“Buat apa jadi orang kaya?”
“Biar kita bisa beli apa aja yang kita mau Kek,”
“Kek, aku boleh minta sesuatu gak?”
“Minta apa?”
“Belikan aku motor, Kek. Aku malu berjalan kaki ke sekolah. Teman-temanku semua ke sekolah memakai motor dan mobil. Sedangkan aku berjalan kaki. Aku malu, Kek,” pintaku dengan nada tinggi.

“Kakek gak punya uang,”
“Bohong. Pasti Kakek punya banyak tabungan kan?”
“Dibilangin Kakek gak punya uang kok gak percaya,”
“Ah Kakek gak mau lihat cucunya bahagia. Masa cucunya minta motor aja gak dibeliin. Aku pergi ajalah dari rumah. Aku gak mau lagi tinggal sama Kakek. Aku benci sama Kakek!” ucapku kepada kakek sambil berlari meninggalkan rumah. “Kamu mau ke mana Jal? Kakek minta maaf. Jali!!!”

Panggilan kakek tak ku hiraukan lagi. Aku sudah tidak bisa sabar lagi kepada kakek. Aku hanya ingin dibelikan motor untuk kendaraan sehari-hari. Tetapi kakek tidak mengabulkan permintaanku. Aku pergi tak tahu arah. Aku pergi sesuai keinginanku. Aku pergi meninggalkan kakek sendirian di rumah. Tak ku hiraukan lagi keadaan kakek sekarang. Aku sangat kecewa kepada kakek. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan anak kecil yang sedang mengamen di pinggir jalan. Aku merasa kasihan kepada anak itu, segera ku panggil dia dan ku ajak berbincang-bincang.

“Halo Adek, Adek kok di lampu merah gini?” tanyaku kepada anak itu.
“Iya Kak, aku lagi nyari uang buat makan. Aku juga nyari uang buat biaya berobat Kakek aku yang lagi sakit,” jawab anak itu dengan polos. “Oh, kalau boleh tahu Kakek kamu sakit apa?”
“Kakek sakit asma Kak. Kakek gak kuat kalau kena udara dingin. Jadi uang hasil ngamen aku, sedikit aku tabung untuk membelikan Kakek selimut yang baru. Karena selimut Kakek yang lama sudah pada bolong dan rusak dimakan tikus,” jawab anak itu dengan ikhlas. Aku termenung mendengarkan penjelasan pengamen itu. Mulia sekali hati anak kecil ini. Aku yang umurnya lebih “tua,” daripada dia, aku tidak bisa berpikir seperti dia. Aku jadi ingat kakek di rumah sekarang. Bagaimana keadaan kakek sekarang pun aku tidak tahu. Aku tersadar saat ia bertanya kepada ku.

“Kakak kenapa di sini?” tanya anak itu.
“Emm gak apa-apa kok Dek, Kakak cuman mau jalan-jalan aja,”
“Kakak aku lapar,” sambil memegang perut
“Adek mau makan apa? Kakak punya sedikit uang. Gimana kalau kita makan di warung itu? Adek mau?” tanyaku sambil tersenyum kepada anak itu.
“Mau banget Kak. Ayo Kak kita makan!”
“Ayo!”

Kita menuju warung yang ada di seberang sana. Setelah sampai di warung, kita langsung memesan makanan. Kebetulan itu warung masakan padang, jadi tidak lama kemudian pesanan kamu datang. Aku melihat anak kecil itu bahagia sekaligus terharu. Ia makan sangat lahap sekali. Mungkin ia belum makan dari pagi. Aku jadi ingat kakek di rumah. Sedang apa ya kakek di rumah? Selesai makan kita kembali ke “pangkalan,” anak itu lagi. Aku berpamitan untuk pulang kepada anak itu. Hatiku tersentuh saat berbincang sedikit dengan anak itu. Anak yang jujur dan ikhlas berkorban demi mencari uang untuk kakeknya yang sedang sakit. Ia tak pernah mengeluh atau minta sesuatu kepada kakeknya. Mungkin ia bersyukur masih mempunyai kakek yang menjaga dia.

Aku jadi ingat masa kecilku bersama kakek yang sangat indah dan bahagia. Otakku beradu pikiran. Aku tak tega meninggalkan kakek sendirian di rumah. Sementara itu aku juga berpikir lain, aku kecewa terhadap kakek karena kakek tidak memberiku motor. Aku berjalan sambil berpikir. Keputusan mana yang akan aku ambil. Aku teringat tentang pengamen cilik tadi, ia sangat tabah menjalani hidup. Saat itu juga aku mengambil keputusan untuk pulang ke rumah kakek. Rasanya berat sekali kaki ini akan melangkah ke rumah kakek. Perasaan malu dan bersalah meliputi diriku. Tapi aku memberanikan diri untuk pulang ke rumah kakek. Saat sampai di belokan gang, aku sempat berhenti berjalan. Entah kenapa aku berhenti. Tubuhku tidak kuat lagi menopang badanku. Pelan-pelan aku berjalan menuju rumah kakek. Saat aku hampir sampai di rumah kakek, pintu tertutup rapat. Aku berjalan pelan lalu mengetuk pintu.

“Tok.. Tok.. Tok..”
“Assalamualaikum,” seruku.
“Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh, siapa ya?” tanya kakek di balik pintu.
“Ini Jali, Kek,” jawab ku lirih.

Membuka pintu. “Ya Allah Jali akhirnya kamu pulang juga Nak, kakek khawatir sama kamu,” jawab kakek sambil menahan air mata dan memelukku.
“Maafin Jali, Kek. Jali salah. Jali membantah kakek. Jali gak dengerin apa kata Kakek. Jali gak bisa ngontrol emosi. Jali egois. Jali gak berterima kasih sama Kakek. Maafin Jali Kek, jangan tinggalin Jali ya, Kek. Jali janji, Jali gak ulangi lagi,” ucapku sambil berlutut kepada kakek.
“Sudah Kakek maafin sebelum Jali minta maaf. Mungkin emang Kakek gak bisa Menuhin permintaan Jali, tapi Kakek akan rawat Jali sampai Kakek dipanggil Allah. Kakek akan selalu sayang sama Jali walaupun Jali menyakiti Kakek,” jawab kakek sambil menangis.

“Terimakasih banyak Kek. Jali akan balas semua kebaikan Kakek. Tunggu Jali sukses ya, Kek! doain Jali biar Jali bisa jadi orang sukses dan kita hidup mapan bahagia, Kek,” ucapku sambil memeluk kakek. Setelah kejadian itu, aku menjadi anak yang sangat rajin dan giat belajar. Aku sangat menyesal telah melakukan hal bodoh ini. Aku juga giat bekerja untuk menghidupi aku dan kakek. Aku juga berjanji kepada diriku sendiri untuk menuruti apa perkataan kakek dan tidak membantah perkataan kakek. Jika aku melanggar perjanjian itu, maka aku sudah persiapkan hukuman untuk diriku sendiri.

7 tahun kemudian.
Perjuanganku tak sia-sia. Dahulu yang tinggal di rumah kecil, kumuh, dan tak layak pakai. Sekarang aku sudah tinggal di rumah yang mewah dan megah, tentu bersama kakek tercinta. Aku juga seorang direktur perusahaan terkenal di Kota Jakarta. Semua orang menghormatiku. Padahal dahulu semasa sekolah, aku selalu direndahkan dan dikucilkan. Memang skenario Allah itu indah. Kita hanya bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Janganlah berputus asa jika ada cobaan, karena di setiap cobaan itu terdapat hikmah yang tersembunyi.

Cerpen Karangan: Abie Tiara
Facebook: Abie Tiara

Cerpen Cucu yang Menyesal (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf.. Aku Bukan Penculik!!!

Oleh:
Sudah dari kemarin, sepanjang jalan aku keliling mencari gelas plastik, botol plastik atau apa saja asalkan plastik. Atau mungkin kalau lagi beruntung saya dapat besi-besi bekas. Tentu tidak gratis,

Bocah Lak Laki dan Ibunya

Oleh:
Comment ça va? bukan hanya ucapan basa-basi. Ia telah sedikit mengisi harapan seorang bocah laki-laki. Itu adalah kalimat bahasa Perancis pertama yang diingatnya. Hampir setiap jam diucapkannya. Ia ucapkan

The Beautiful Name

Oleh:
Pagi menyapa dengan senyuman mentari yang menghangatkan meskipun pagi ini masih sedikit basah oleh embun dari sisa hujan semalam. Udara pagi ini begitu sejuk membuatku tak henti-hentinya memenuhi setiap

Penantian

Oleh:
Aku memperhatikan pohon natal itu beberapa kali. hiasan dan ornamen pada setiap helainya menambah keindahannya. Dari balik kaca ini. aku bisa melihat pohon natal indah ini. pohon yang wajib

Allah Give More

Oleh:
Aisyah Nurunnisa adalah anak yang memiliki kekurangan pada fisiknya walaupun dia memiliki kekurangan namun dia mampu menghadapi berbagai lika-liku hidup dengan yakin kepada Allah bahwa Allah sangat menyayanginya. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *