Curhat Perabot

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 15 August 2020

Duniaku seakan mengecil. Batu tajam sialan itu hampir saja membuat pensiun tugasku. Mengantuk dan menggores tubuhkku yang tak muda lagi. Sekalipun kecil nan ringan luka itu, tetap saja akan membuat remuk sekujur tubuhku. Aku bahkan tak percaya genap setengah windu sudah aku menghabiskan masa dan rasa di sisimu, Lut. Sungguh tega sekali kau menduakanku. Menyunting dia yang lebih muda dan kokoh.

Aku tahu jalan berbatu itu kerap kali menyiksa batinmu. Memberi perih di telapak kakimu yang tiap pagi dan petang selalu saja telanjang. Belum lagi jika bebatuan itu basah dan licin. Kaki dan tanganmu pasti akan bekerja ekstra untuk menopang keselamatanku dan dia.

Entah kapan jalanan dusunmu ini bisa beralih seperti jalan-jalan di kota yang mulus. Tahukah kau, Lut. Aku merindukan naik mobil pick up putih bersama teman-temanku. Aku ingin sekali berkeliling menjelajah kota, memutari komplek perumahan, menyusuri gang-gang sempit yang muat untuk dilewati di sudut kota dari pagi hingga petang. Aku sangat menyukai deru mesin si putih yang meraung-raung saat mendapati jalanan macet dan kelebihan muatan. Aku merindukan suara khas bos yang rupanya telah direkam. Melalui rekaman itu, bosku tinggal menyetel ulang saja. Praktis tak perlu menghabiskan suara untuk meneriakkan kalimat yang sama. Tak tahan aku dan teman-temanku sering tutup telinga karena bosan mendengar suara cempreng nan datarnya. Sungguh tak ada merdu-merdunya sama sekali. Namun anehnya suara khas tersebut mampu menyugesti dan membubarkan kerumunan ibu-ibu yang tengah asyik bergosip ria sembari mencari kutu di kepala. Tersebab di bagian belakang mobil berjejalan penuh perabot perlengkapan rumah tangga yang sangat mereka butuhkan. Lalu tawar menawar sengit. Hingga ujung-ujungnya tak jadi membeli. Huh, itu sudah biasa. Bosku sudah terlatih dan bermental baja. Tak hanya itu anak-anak pun turut menirukan kalimat yang direkam dan di setel berulang-ulang itu sambil berlarian mengejar mobil kami. Maka seketika mata bosku yang besar membeliak dan melotot tajam. Mulutnya tak akan berhenti mengomeli mereka.

Tapi sudahlah itu semua adalah waktu lampauku. Pada kenyataannya sekarang aku tersesat di sini. Sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk duniawi. Dukuh terpencil yang bisa dihitung dengan jari kepala keluarganya. Daerah yang atmosfer kehidupannya sangat kontras dengan kota asalku. Rumah-rumah dibangun tanpa fasilitas MCK. Bahkan untuk mendapatkan air bersih harus bersusah payah mengambilnya dari sungai. Tak ada satu pun keluarga yang memliki sumur. Tak ada pompa air manual apalagi pompa air listrik jet pump dan semacamnya. Padahal listrik sudah masuk desa.

Orang-orang di desamu sendiri lah Lut, yang membuat mereka mengalami kemunduran dan kegetiran dalam hidup. Hasil ladang yang tak menentu, pendidikan anak tak jadi prioritas dan perekonomian yang semakin menghimpit. Laki-laki dewasa maupun remaja menghabiskan hari-harinya hanya di ladang. Sebagian wanita membantu di ladang dan sebagian lagi mengurus anak dan rumah. Kanak-kanak tidak diizinkan untuk sekolah melainkan bermain menjelajah alam. Sungguh sayang sekali Lut.

Semenjak berdekatan di sisimu Lut, iftitah hidupku bermula. Tak ada hambatan yang berarti. Semua berjalan dan baik-baik saja sampai sebuah batu tajam menamparku.

Sungguh aku tak sanggup bila terpisah darimu Lut. Aku tak sanggup bila genggaman tangan mungilmu melepaskanku. Seperti saat kau terjatuh dan menjatuhkan diriku secara tak sengaja hingga sebagian dari tubuhku tergores.

Hujan merintik pagi itu saat perjalanan pulang ke rumah. Mungkin karena sisa-sisa hujan yang menderas semalaman, jalan bebatuan basah dan menjadi sangat licin. Kau terpeleset dan jatuh. Tubuhmu terhuyung setelah sebelumnya kakimu tersandung batu. Bajumu kuyup. Bukan karena terguyur hujan yang kian menipis. Tapi karena terkena cairan tawar yang ada di dalam tubuhku dan tubuh Jingga. Tubuhmu menggigil.

Begitu miris melihat kondisimu kala itu Lut. Tak ada seorang pun yang datang menolongmu. Tubuh kurusmu rupanya tak mampu menahan tubuhku yang telah tergelincir lebih dulu. Dan sialnya tubuhku terantuk batu lalu kerikil tajam menggores dan mengoyak sebagiannya. Tidak seperti diriku dan kau yang terluka, Jingga selamat meski cairan di dalam tubuhnya telah habis.

Jalanan di dekat sungai sangat lengang. Sejauh mata memandang deretan pohon pinus menjulang tinggi. Udara sejuk memenuhi semesta. Tak ada aktivitas pun di ladang-ladang. Hanya ada cericit murai dan kawan-kawan. Suaranya saling meningkahi di sela-sela pepohonan hutan pinus yang masih terhubung dengan sungai. Di mana-mana jalanan terlihat licin dan basah. Agaknya cuaca yang muram membuat ladang-ladang kosong tak bertuan. Hanya dedaunan basah di sekeliling kami. Bahkan kicau prenjak terdengar seakan menertawai kemalangan kami.
Tak penting untuk menyelamatkan diriku. Kau harus jadi prioritas. Aku merutuki diri. Bahkan sekedar berdiri saja aku tak mampu. Apalagi menolongmu yang terlihat kesakitan sekali. Ada cairan merah segar keluar dari lutut dan telapak kakimu yang sering telanjang. Kau meringis tapi tak menangis. Bahkan kau berusaha bangkit sendiri dan pulang dengan kaki agak pincang. Ah, rasanya ingin sekali kumaki hujan. Tapi, betapa egoisnya diriku.

Kenapa aku sama sekali tak memikirkan hal itu. Bisa saja kau terjatuh akibat menahan berat tubuhku dan Jingga. Tubuhku lebih ringan saat beranjak dari rumah. Dan sebaliknya tiap kali bertolak dari sungai tubuhku dan tubuh jingga akan menjadi sangat berisi. Tersebab itulah lengan kurusmu tak kuat mengangkat kami lalu kau kehilangan keseimbangan. Terantuk batu pula. Dan akhirnya terjatuh.

“Sudahlah Abu. Kau tak bisa memberi manfaat lagi. Biarkan aku bekerja tanpamu. Lihat saja Lut jadi sedih karenamu. Nggak ada gunanya lagi. Kau hanya akan menyusahkan anak itu. Ingat baik-baik sekarang hanya aku yang akan menjadi satu-satunya kesayangan anak itu.” Desis Jingga membuatku geram.
“Tidaaaaak… Lihat saja Lut akan membuat tubuhku kembali membaik seperti sebelumnya. Ingat kata-kataku ini!” Protesku kesal.
“Heiiii, jangan sombong dulu. Lihat dirimu itu. Menyedihkan sekali. Sudah tua, jelek, kusam, rapuh, jadul lagi. Pasti sebentar lagi anak itu akan melempar dan membuangmu. Hahahaha…” Ejek Jingga jumawa.
“Arghghghghghghghghghhhhhhhhh.”

Tapi apa benar Lut, kau akan melupakanku. Aku sudah menemanimu selama ini. Jauh sebelum Jingga membersamaimu di sini. Apa kau akan melupakan kebersamaan denganku begitu saja. Tapi jika dipikir ada benarnya juga Jingga. Mana mungkin Lut mau membawaku. Sekarang aku cacat. Tak sempurna lagi. Satu kekurangan ini sungguh membuatku berada di titik nadir. Karena aku memang lemah dan tak berdaya. Aku tidak seperti Jingga yang kinclong, cantik, kuat dan masih muda. Benarkah kau lebih memilih Jingga daripada aku, Lut Bagaimana ini. Aku tak akan berguna lagi sekarang. Apakah nasibku akan sampai di rumah lelaki tua yang suka berkeliling kampung dengan sepeda butut dan keranjang yang teronggok di boncengannya itu. Bergumul dengan benda-benda usang yang sengaja dibuang para pemiliknya karena tak berguna lagi.

“Rongsooooook…”

Sebentar, aku mendengar teriakan lelaki itu. Panjang umur rupanya orang tua itu. Aku hafal betul suaranya. Bagaimana tidak hafal. Hampir tiap hari ia lewat lengkap dengan lengkingan khasnya. Suaranya seperti memerikan duka yang mendalam. Terdengar memilukan dan menyayat hati. Melukiskan kisah hidupnya yang sarat dengan beban dan kepayahan.

“Rongsokaaaaaaaaaaaan…”

Suaranya serak dan nyaris habis.
Aku harus berpikir keras. Bagaimana caranya agar aku tidak dibawa laki-laki tua itu sebelum kau menghampiriku.

Bagaimana aku bilang padamu, Lut. Bagaimana caranya agar kau mau mendengarkanku. Aku tak mau dibuang. Aku ingin sekali kau bermurah hati menerima kekuranganku. Tetap membersamaiku bagaimanapun keadaan tubuhku. Tetap membawaku pergi bersamamu ke sungai setiap hari. Sama seperti biasanya saat matahari hampir muncul dan saat matahari hampir tenggelam. Tapi apa dayaku.

“Kau dengar suara itu, kan. Pak tua itu sebentar lagi membawamu pergi. Siapkan dirimu. Oh tidak, sekarang kita akan terpisah. Kita tak akan bertemu lagi setelah ini. Kau akan hancur. Tamatlah riwayatmu Abu.” Jingga mulai nyinyir. “Dan aku akan menjadi satu-satunya kesayangan anak itu.” Desisnya lagi penuh kemenangan.

“Abu, lihatlah. Anak itu menuju ke sini. Dia akan menukarmu dengan beberapa bungkus permen atau krupuk pada lelaki tua itu.” Seru Jingga setengah berbisik.

Jingga benar. Kau berjalan dengan kaki yang sedikit pincang ke arahku. Mengangkatku untuk dibawa kepada laki-laki tua yang kini berada di halaman rumahmu. Jingga bersorak. Dan aku pasrah.

“Kek, tunggu. Apa ini masih bisa diperbaiki. Kemaren saya kepeleset dan sepertinya sedikit tergores. Tolong saya ya, Kek. Saya sangat membutuhkannya.” Ujarmu membuatku terharu.
“Coba sini lihat.” Ujar kakek itu.
“Wah ini harus ditambal biar nggak bocor. Sebentar, kakek lihat di keranjang kakek dulu apa ada sesuatu yang bisa menolongmu.”

Aku berbinar. Aku tak peduli dengan Jingga yang menertawaiku dan mencoba menguping dari jauh sana. Masalahku sebentar lagi akan teratasi.

“Hanya ini yang kutemukan untuk membantumu.” Tukasnya sambil mengacungkan kawat kecil dan plastik bekas.
“Ayo kita coba mudah-mudahan bisa.” Lelaki tua itu sangat antusias.

Mendengar itu, kau terlihat berbinar. Laki-laki tua itu lalu menyuruhmu untuk menyalakan tungku. Ia sendiri tengah mengamati goresan di tubuhku dengan teliti. Saat api benar-benar sudah menyala ia pun mulai memanaskan kawat kecil. Setelah kawat itu panas ia mulai membuat lubang-lubang kecil di kiri dan kanan bagian tubuhku yang terbentur dengan menggunakan kawat yang telah ia panaskan. Kemudian mengikat kuat beberapa lubang tadi dengan kawat agar rapat kembali. Sesudah itu ia mengambil lembaran plastik bekas lalu membakar dan meneteskannya pada bagian luar serta bagian dalam tubuhku yang retak.

Tubuhku yang semula tergores kini telah tertutupi. Katanya setelah mengering aku bisa dipakai lagi. Oh bahagianya. Terima kasih pak tua engkau telah menyelamatkan diriku yang tak berdaya ini. Diriku yang hampir saja terbuang. Aku yang begitu menyedihkan. Maafkan aku yang telah berprasangka buruk kepadamu.

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah sebuah perabot. Abu, si ember plastik yang kusam berwarna abu-abu. Rentan pecah bila dibanting. Gampang tergores dan retak bila terbentur. Aku sangat bahagia jika bisa bermanfaat untuk orang lain. Walaupun akan dibuang jika tak berguna lagi.

Aku bisa bertahan berkat lelaki tua dengan sepeda dan keranjang diboncengannya. Hari ceriaku kembali lagi setelah pak tua itu memperbaikiku. Seperti biasa bolak-balik ke sungai untuk menampung air yang akan digunakan oleh keluargamu Lut. Jingga juga turut serta. Kini, kau tahu Lut ia tak berani lagi mengejek dan menertawaiku.

Hingga suatu hari, tanpa kusadari air di dalam tubuhku perlahan selalu berkurang setengah bahkan sama sekali habis saat berakhir di rumahmu. Padahal aku yakin kau selalu mengisi penuh saat di sungai. Tak hanya hari itu saja. Bahkan hari-hari berikutnya aku tidak bisa lagi menuntaskan tugasku, bekerja dengan sempurna seperti Jingga. Puncaknya kau harus rela dimarahi emakmu karena air untuk masak, mencuci dan mandi tak terpenuhi. Kau harus bekerja kian keras dan berat. Bolak balik ke sungai untuk mengambil air lagi. Tapi seberapa kuat dirimu, tetap saja airnya tak bisa mencukupi. Tak terhitung lagi kau hilir mudik. Sungai rumah. Rumah sungai. Melewati jalanan desa yang tak terhitung lagi kau susuri. Tetap saja. Kau terlihat kesal dan sedih. Marah bercampur lelah. Nyaris putus asa dan hampir melempar diriku ke entah. Kalau saja kakek tua tukang rongsokan itu tak melihat kami dan menghentikannya. Jangan tanya aku juga frustasi. Aku muak mendengar hinaan yang tak henti dari Jingga. Aku lelah sekali. Lihatlah aku sungguh tak berguna lagi.

“Kenapa Nak?” tanya lelaki tua padamu. Kali ini keranjang di belakang sepedanya kosong.
“Saya capek, embernya bocor lagi Kek. Saya tidak bisa memperbaikinya. Sudah berbilang bulan saya tetap memakainya. Karena kalau hanya dengan bawa satu ember saja akan lebih capek lagi. Walaupun bocor terpaksa saya membawanya.”

Aku ingin menangis mendengar semua itu. Kakek itu hanya tersenyum sekilas tanpa kata-kata. Dengan matanya yang masih tajam diusianya, ia meneliti tubuhku dan melihat ada goresan kecil yang menjadi sebab bocornya air.

“Saya harus gimana Kek, emak pasti marahin saya lagi.” Sungutmu.
“Dengar Nak, sekarang naiklah dalam keranjangku. Bawa juga dua embermu itu. Satukan lalu letakkan di keranjang sebelahnya.” Kau terlihat heran tapi menurut saja pada perintah kakek itu. Aku pun merasa aneh. Apakah duniaku kini akan berpindah ke rumah lelaki tua itu setelah masuk keranjang perangkapnya?

“Kita mau ke mana Kek? Aku nggak mau diantar pulang Kek, aku takut dimarahi emak.” Tanyamu risau saat si kakek mulai menggoes sepeda tuanya.
“Sudah diam, nanti kau akan tahu sendiri.” Jawab kakek misterius.

Ternyata kakek itu membawa kami pergi ke jalanan desa. Menyusuri jalan yang sudah begitu kuhafal di luar kepala. Kanan dan kiri hanya terlihat ladang-ladang, kebun-kebun milik warga desa. Hijau terhampar luas.

“Kamu lihat itu?” Ujar kakek menghentikan laju sepedanya.
“Kamu lihat itu? Air yang kamu tumpahkan selama ini sudah menumbuhkan rumput dan bunga-bunga di setiap tepi jalanan desa kita.” Tutur sang kakek.
“Iya. Rumput-rumput itu terlihat sangat subur. Bunga-bunga itu tumbuh karena tersirami air yang tumpah dari embermu itu selama berbulan-bulan. Dengar Nak, walaupun kita punya kelemahan, kita tak harus bersedih dan merasa tak berharga sepanjang waktu. Karena kita bisa saja memberikan pertolongan dengan kekurangan yang kita miliki. Lihatlah bunga-bunga yang indah itu. Menakjubkan sekali bukan.”

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah sebuah perabot. Abu, si ember plastik yang kusam berwarna abu-abu. Rentan pecah bila dibanting. Gampang tergores dan retak bila terbentur. Aku sangat bahagia jika bisa bermanfaat untuk orang lain. Walaupun akan dibuang jika tak berguna lagi.

Namun kini, aku ingin selalu tersenyum dan bahagia seperti bunga-bunga itu. Aku senang sekali bisa memberikan sesuatu meski itu dengan kekuranganku sekalipun yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku.

Cukup dengarkan saja curahan hatiku ini, Lut. Sebelum kau benar-benar mengalihkan duniaku bersama lelaki tua itu.

Bogor, Penghujung April 2017

Cerpen Karangan: Rif’atul Muna
Blog / Facebook: katamunaa.blogspot.com / Rif’atul Muna
Nama : Rif’atul Muna
TTL : Pati, 08 Sepetember 1987
Alamat : Gg Masjid Arridwan RT 03/02 Bojongkulur Gunung Putri Bogor 16969
Hobi : Membaca, menulis dan berkebun
Motto : Your life is your story, write well!

Cerpen Curhat Perabot merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ujian Nasional, Dilema Sang Guru

Oleh:
Di luar terdengar lagu dangdut murahan dibunyikan keras-keras. Sedangkan aku.. aku menjejalkan lagu korea ke telingaku. Bukan tidak mencintai karya negeri sendiri. Tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan akan

Harapan Kecil Untuk Rafi

Oleh:
“BRAK!!!” Suara gebrakan pintu itu mengagetkanku. “Ayo bangun, mau sampai kapan lo tidur terus?! Dasar anak tidak tahu malu. Udah numpang, males-malesan lagi!! Lama-lama gue usir juga lo!!!” bentak

Woody dan Rara

Oleh:
Aku kembali melewati pabrik es krim Woody di jalan raya Bogor Jakarta pada sore hari. Sebuah merk es krim klasik, dari masa tempo dulu. Bergambar Woody Woodpecker, si burung

Keris

Oleh:
Keris itu telah menjadi obyek sengketa dan pemicu perselisihan dalam keluarga kami, tiga bersaudara ahli waris Joyo Wijoyo. Menurut Mas Bardi, keris itu adalah pusaka turun temurun, karena itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *