Damar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 December 2017

Disuatu siang yang terik, matahari dengan semangat menyinari setiap sudut kota jakarta. Terlihat seorang lelaki berteduh di tepi jalan raya dengan tas ransel di pundaknya, Damar namanya. Tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang gersang seolah-olah berkata bahwa ia sedang berjuang di ibu kota ini. Ya, lebih tepatnya aku sedang merantau.

“Panas sekali hari ini” ucapku pelan sambil menoleh ke langit. Lalu aku pun melanjutkan perjalananku, dengan hati yang penuh harap Tuhan akan memberikan keajaibannya hari ini. Aku terus berjalan dengan langkah yang sedikit ragu. Namun, di tengah perjalanan langkahku terhenti, mataku tertuju pada salah satu rumah makan. “Duh… Aku lapar sekali, sejak kemarin perut ini belum terisi nasi” ucapku sambil mengelus perut yang kosong ini. Aku pun mendekati rumah makan itu, hanya sekedar melihat-lihat, memandangi orang-orang makan. Kemudian aku melanjutkan perjalananku lagi. Dengan perut yang keroncongan dan kaki yang mulai gemetar aku terus berjalan mengikuti arah hatiku.

Hingga tiba aku di sebuah pohon, pohon yang rindang nan teduh. Aku menjatuhkan tubuhku di sana. “Ini tempat yang asik untuk santai, lebih baik aku istirahat di sini, sekedar menenangkan cacing dalam perutku” ucapku. Aku pun terbawa suasana, teduhnya pohon membuatku manja dengannya. Sambil menatap langit, aku merenungkan dosaku waktu itu, dosa yang memisahkan aku dengan kebahagiaanku, ketika aku mencuri sekarung beras milik juragan yang serakah di desaku. Aku mencuri bukan untuk kejahatan, aku mencuri untuk makan keluargaku yang miskin. Namun memang caraku yang salah.

Kejadian waktu itu pada tengah malam. Aku menyelinap ke gudang penyimpanan beras milik juragan, banyak sekali beras di sana, beras hasil rampasan dari para petani di desaku. Aku mengambil sekarung beras dan langsung menggendongnya keluar. Namun saat aku hendak keluar tiba-tiba dua anak buah juragan memergokiku, serontak aku kaget dan langsung berlari, mereka meneriakiku. “Hey kau jangan lari!!!” Teriak mereka sambil berusaha mengejarku. Aku pun berlari dengan cepat. Aku tidak boleh tertangkap agar keluargaku bisa makan. Pikirku.

Namun sepertinya mereka berhenti mengejarku, entah karena lelah atau ada alasan lain aku tidak peduli yang terpenting sekarang aku bisa pulang dan memberi beras ini kepada orangtuaku. Aku berjalan menuju rumahku, sesampainya di sana, dengan wajah yang gembira aku mengetuk pintu rumahku. “Bapak, ibu aku pulang” ucapku sambil membuka pintu yang rapuh itu. Aku melihat ibu dan adikku menangis sambil memeluk bapak, dan di belakang mereka ada juragan dan dua anak buahnya yang tadi mengejarku. “Bapak, ada apa ini? Mengapa ibu dan adik menangis? Dan mengapa si bajingan ini ada di sini?” Tanyaku cemas. “Apa benar kau mencuri?” Tanya bapak. Aku hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa. “Jawab! Apa benar kau mencuri?” Tanya bapak lagi dengan nada tinggi. “I… iya pak, a… aku telah mencuri” jawabku dengan terbata-bata. “Mengapa kau melakukannya!!!”, “dengar dulu pak, aku melakukannya untuk…” belum selesai aku menjelaskan bapak sudah mendaratkan tangannya di pipiku. “Prakkk”. Tangis ibu dan adik semakin menjadi saat melihat bapak menamparku.

“Mengapa kau melakukannya nak, sekalipun itu demi kebaikan tetap saja mencuri itu perbuatan jahat. Kita memang miskin tapi kita punya harga diri, kita sekeluarga tidak keberatan jika harus terus makan ubi setiap harinya, bahkan bila harus mati karena menahan lapar, setidaknya itu lebih baik daripada mencuri. Sekarang, kau angkat kaki dari sini, aku tak ingin melihat wajahmu lagi di desa ini. Kemsi pakaianmu, lalu pergi dari sini. “Ucap bapak dibarengi tangis ibu dan adikku. Aku pun menangis, aku kira ini cara yang terbaik agar keluargaku senang dan terhindar dari kelaparan. Namun ternyata aku salah. Masih ada cara yang lebih baik daripada mencuri.

Tanpa berpikir panjang aku mengemasi pakaianku dan aku pamit kepada mereka. “Bapak… Ibu… Maafkan aku, jagalah kesehatan, semoga kalian selalu bahagia. Dan kau adikku, jagalah bapak dan ibu, jangan kau jadi sepertiku. Aku pamit” ucapku. Dan aku pun berjalan keluar diiringi isak tangis mereka. Aku sedih. Karena kesalahanku, aku harus meninggalkan mereka dan desaku. Sekarang yang harus aku lakukan adalah berusaha, mungkin jika aku terus berusaha kebahagiaan akan datang kepadaku. Dan aku akan kembali kepada mereka dengan membawa perubahan. Ya, aku harus berusaha.

Cerpen Karangan: Azzam Prasetyo
Nama: Azzam Bimo Adhi Prasetyo
Facebook: Azzam Bimo Adhi Prasetyo
IG: @azzambut
Blog: kacangkulitazzam.blogspot.com / remajamodern1.blogspot.com
Hobi: menulis, bermain musik

Cerpen Damar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luka Di Hati Ibuku

Oleh:
Pagi yang indah kurasakan seperti biasanya, karena aku paling bersemangat jika melihat matahari terbit. disana aku bisa merasakan kedamaian hatiku dalam kehidupan yang kujalani ini. Sudah sebulan lebih aku

I Just Want To Say Sorry

Oleh:
Kuamati lekat-lekat wajah itu. Mungkin hanya beberapa detik yang tersisa untukku berada disampingnya. Sorot matanya mulai meredup. Sepertinya aku harus mengatakannya sekarang. Kata-kata yang telah lama kupendam dan membuatku

Senja di Imajinasiku

Oleh:
Hari sudah mulai malam. “Aku pasti bakal telat karena ekskul ini” gumamku. Tapi aku hanya berjalan santai ke stasiun sambil melihat keadaan kota ini. Jam sudah menunjukkan pukul 5.30

Takdir

Oleh:
Aninditha citra, gadis yang biasa dipanggil citra, seorang gadis cantik, pintar dan manis ini bersekolah di sma cendrawasih. Citra memiliki kakak perempuan yang bernama cindy. Orang tua citra adalah

Memandang Lebih Dalam

Oleh:
Rintikan hujan terus berjatuhan menerpa atap serta aspal jalanan. Ditambah dengan kencangnya angin yang bertiup, membuatku hanya bisa diam dan duduk manis dalam lindungan halte kecil depan sekolah. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *