Dancing In The Sky

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 19 November 2021

Awan kelabu menyelimuti kota yang jalanannya seolah tidak pernah sepi, bahkan dibawah naungan langit kelabu suara riuh dari deru kendaran justru kian penuh. Diantara banyaknya orang yang berjalan tergesa, terlihat seorang gadis dengan payung merah berjalan santai menyusuri trotoar. Langkahnga ringan dan tidak terburu-buru, sweater berwarna ungu pastel membalut tubuh kecilnya.

Perlahan tapi pasti butiran air hujan mulai turun membasahi jalanan, kian lama kian deras dan membuat beberapa genangan air di trotoar. Seolah tak terpengaruh, gadis itu melangkah dengan sepatu putihnya yang mulai basah dan kotor. Wajahnya tertutup payung merah digenggamannya. Air hujan yang mengenai payungnya membuat tirai air indah dihadapannya.

Cukup lama gadis itu berjalan sampai akhirnya dia berhenti di sebuah gedung mewah penuh kerlap kerlip lampu dan papan iklan. Gadis itu melangkah masuk setelah menutup payung merahnya dan suara riuh orang-orang didalam segera menyapa telinganya. Entah yang menawarkan barang, menanyakan harga, ataupun suara riang tawa dari beberapa pasangan disana. Seolah tak peduli, gadis dengan rambut hitam sebahu itu berjalan menaiki lift dan sampai di lantai paling atas. Begitu keluar dia bersenandung pelan, sangat pelan hingga hanya dia yang bisa mendengarnya. Menaiki satu persatu anak tangga menuju atap, pintu berwarna merah menyapanya. Tangan putih dan kurus miliknya menggenggam gagang pintu lalu mendorongnya terbuka.

Hujan masih menyelimuti kota dan gadis itu mulai membuka payung merahnya kembali. Berjalan diatas genangan air hujan, sepatunya kini tak lagi seputih tadi. Saat sampai di dinding pembatas pendek, gadis itu berjongkok dengan payung dipundaknya, melepas simpul tali pada sepatunya. Dengan perlahan melepas kedua sepatunya, menatanya sejajar sebelum dia melangkah dengan kaki telanjang dan duduk di tembok pembatas yang tidak terlalu tinggi.

Kakinya berayun dengan latar kota yang kini terlihat kecil di matanya. Payung merahnya masih menaungi tubuh kecil itu dari air hujan. Gadis itu menutup matanya menikmati semilir angin dari ketinggiannya. Dia mengernyit saat teringat bagaimana dunia memperlakukannya, bagaimana dia selalu disudutkan. Bagaimana tidak adilnya orang-orang memperlakukannya, menganggapnya seolah seonggok sampah tak berharga. Menginjak-injak harapannya dan merobek impiannya. Dadanya bergemuruh bersamaan dengan gemuruh guntur yang mulai terdengar.

“Dasar anak tidak tau diri!”
“Sampah! Menjijikan! Mati saja sana!”
“Tidak ada yang berharga selain tubuhmu!”
“Menjijikan!”
“Mati saja sana!”

Memangnya apa salahnya? Kenapa harus dia yang selalu diinjak? Harus dia yang selalu di ‘bunuh’? Bahkan saat tidak ada lagi yang tersisa darinya selain tubuhnya, mereka juga menghancurkannya. Tubuh gadis itu gemetar, dia menyingkirkan payung merahnya dan payung itu terjatuh rapi disamping sepatu miliknya. Gadis itu mendongak dan air mata ikut leleh bersama dengan air hujan yang membasuh wajahnya.

Lebam keunguan terlihat jelas di wajahnya, goresan memar dikakinya juga terlihat jelas. Ada ruam kemerahan di sekeliling lehernya yang membentuk sebuah tangan. Semakin deras hujannya, semakin kencang pula rintihan pilunya.

“Hai.”
Entah datang dari mana, suara seseorang menyapanya ditengah derasnya suara hujan. Gadis itu menoleh kesamping dan melihat seorang perempuan dengan kacamata besar bertengger di hidungnya. Bibir tipis pucat itu tersenyum lembut padanya. Tubuhnya tampak kering meskipun diguyur hujan, rambutnya terkepang dikedua sisi.

“Kau ingin menari? Aku tau kau suka menari.”
Gadis berkaca mata itu berucap dengan senyum manis dan matanya yang juga ikut tersenyum. Gadis berambut pendek yang tadi terisak kini terdiam lalu akhirnya mengangguk.

Perempuan misterius itu tersenyum lebar lalu berdiri dihadapannya seolah angin adalah pijakannya dan mengulurkan tangannya. Gadis berambut pendek itu ikut tersenyum dan tanpa ragu meraih tangan itu dan menari bersama dibawah guyuran hujan yang kini tak lagi mampu membasahi tubuhnya.

-Dancing in The Sky Selesai.-

Cerpen Karangan: GummyGum

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 19 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Dancing In The Sky merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Mentari

Oleh:
Hai sahabat, aku kembali. Tahukah kau apa yang akan aku ceritakan kali ini? Hari ini aku memperhatikan bunga matahari. Bunganya cantik ya. Dengan warna yang menarik dan seakan hendak

Hari Rabu

Oleh:
Pagi ini aku awali rabuku dengan membuka pintu gerbang kos-kosan ku, karena adzan shubuh sudah memanggil aku untuk segera sholat di rumah allah yang sangat anggun bak istana itu.

Bara Cinta Rindu

Oleh:
12 Desember 2000 “Dasar wanita gak tahu diri!”teriakan Papa menyambutku di balik pintu. Wajahnya merah padam.Napasnya memburu penuh amarah.Dengan tangan kanan terangkat ke atas.Siap menerjang Mama yang kini bersandar

Terlambat

Oleh:
“Terlambat…” bisiknya lirih. Sorot matanya tajam menatapku tanpa secuil pun kata keluar dari bibirnya. Aku hanya terdiam mematung. Butiran air mata dengan cepat membasahi kedua pipinya. Mata yang sebelumnya

Sepeda Kenangan Dari Ayah

Oleh:
KKKRRRRIIIINNGGG! KKRRRRRIIINGGGGG! Suara sepeda yang baru saja dibelikan ayahnya untuk Bima. Ya setelah sekian lama ayahnya menabung untuk kado ulang tahun anak tersayangnya itu. Dibanding dengan kakaknya ayah lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dancing In The Sky”

  1. anon says:

    TwT ah. sedih ya…,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *