Dari Rahim Yang Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 29 August 2018

Seharian penuh mentari menyinari bumi pertiwi. Kini ia telah kembali ke peraduannya, bercumbu dengan belahan bumi lainnya. Pendarnya yang memancar dari sela-sela awan sore di petala langit senja, kini telah hilang ditelan oleh gelapnya selimut malam yang kelam. Disambut mega merah yang hilang dari pandangan, bersama teriakan jangkrik yang bersahut-sahutan. Memecah kasunyian malam.

Malam ini Zidan sengaja pulang lebih awal dari tempat ia bekerja. Ia membawa sebuah bungkusan yang berisi dua kotak nasi dan beberapa potong bolu kesukaan adiknya yang ia belikan saat di perjalanan pulang. Entah apa yang membuat pria tempramen ini mulai membuka hati, setelah sekian lama ia bersikap kasar dan tak pernah peduli terhadap kehidupan adiknya, Nawafila.

Sesampainya Zidan di flat berukuran 6×6 yang terdapat di lantai 5 di pinggir kota Surabaya itu, Zidan mondar-mandir tak tenang. Pria itu tampak sedang kebingungan, setelah ia tau bahwa adiknya sedang tidak ada di rumah.

Pria itu khawatir bukan kepalang. Tak biasanya ia sepanik ini. Pikiranya berseliweran tak tentu arah. Prasangka buruk berkecamuk menghantui dirinya. Mungkin ini bias dari sikap acuhnya selama ini kepada Nawafila.

Sudah dua jam Zidan mondar-mandir di depan area parkir lantai dasar menanti kepulangan Nawa. Matanya terus menatap ujung jalan berharap adiknya segera datang. Ke mana saja kau Nawa. Batinnya menggerutu.

Setelah sekian lama Zidan menuggu. Di ujung jalan yang masih ramai, tampak seorang gadis berwajah ranum dibalut jilbab biru muda yang diterpa angin malam. Gadis itu mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga hingga ngos-ngosan. Wajah pucatnya sekilas tampak oleh kelebat sinar lampu jalanan.

“Kenapa baru pulang?” Tanya Zidan dengan suara keras tanpa mempedulikan malam yang telah larut dan beberapa orang yang memperhatikannya.
“Tadi di jalan hujan, kak, aku terpaksa…” Belum selesai Nawa mengutarakan alasannya, tiba-tiba…
Plakkk. Zidan mengayunkan tangannya dengan keras dan mendarat di pipi kiri gadis itu.

“Berikan aku kesempatan bicara, kak” pinta Nawa memelas.
“Kamu tau dari jam berapa saya menuggu kamu? kamu benar-benar bikin saya khawatir. Kamu mau kehilangan kehormatan seperti Fatmala, gadis tetangga yang diculik karena keluyuran malam dan baru ditemukan satu minggu setalahnya dalam keadaan tewas termutilasi di dalam tong sampah?” cecar Zidan.
“Masuk… masuk ke kamar…” Bentak Zidan membuat Nawa terpaksa menurutinya.

Lagi-lagi Nawa meratapi takdir yang terasa membelenggu hidupannya. Malam itu menjadi malam yang membuat Nawa seolah terjerembab dalam kubangan kesedihan, tanpa ada seorangpun yang menemani dan menghiburnya.

Mentari telah menggantung di ufuk timur dengan gagahnya. Suasana di flat-flat itu kembali sunyi. Ada yang sudah berangkat kerja, sekolah, belanja, dan lain sebagainya. Zidan pun telah berangkat ke tempat kerjanya 30 menit yang lalu dangan terburu-buru sambil ngobrol lewat ponsel yang ia jepit dengan bahu kanan ke telinganya, sementara tangan kanannya memegang sepatu dan tangan kirinya memegang tas. Ia berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu meskipun sudah disiapakan oleh Nawa di atas meja makan. Tampaknya ia masih kesal dengan kejadian tadi malam.

Tak lama setelah itu. Pintu yang semula tertutup rapat, kini terbuka lagi dengan suara yang begitu keras. Bruakk. Ternyata Zidan kembali. Tampaknya ia ketinggalan sesuatu. Nawa yang baru selesai mencuci pakaian, hanya memperhatikan kakaknya dari jarak jauh tanpa berani bicara dan bertanya apapun. Zidan sibuk memeriksa isi laci dan lemari.

“Hei…” Ia memanggil Nawa, sementara tangannya menunjuk ke sebuah kotak kecil berisi jam tangan pria.
“Ke mana dompet yang kutaruh di atas meja itu? Ke mana..? apa kau gunakan untuk membeli jam tangan itu dan akan kau berikan kepada pacarmu yang kau sambangi tadi malam… jawab… jawab, Nawa…?” Zidan mulai meradang. Dalam hatinya hanya ada kemarahan.

Ia tampak sangat emosi melihat gelagat adiknya yang hanya menagis tertunduk dan menggelengkan kepala itu. Zidan sudah tidak sabar lagi dan akhirnya.
Plakkk… plakkk… plakkk… untuk kesekian kalinya pria itu menampar adiknya.

Dan…
Debbb, kaki kanan pria itu menendang dada Nawa hingga ia terpelanting, jatuh tersungkur dan pelipisnya terbentur ke meja. Gadis itu merintih kesakitan. Pelipisnya berdarah. Perlahan Nawa bangkit dengan tubuh gemetar menahan sakit.

“Terus, kak, pukul aku, aku tidak akan mengelak jika itu bisa membuat kakak puas dan akan melupakan kesalahanku di masa lalu. Aku rela meski harus mati di tangan kakakku sendiri. Layaknya Habil yang tak menghindar dari tikaman Qabil. Dan harus mati di tangan saudaranya sendiri. Apa salahku, kak? Coba katakan. Apa yang aku lakukan selalu salah di mata kakak. Sementara kakak tidak mau mengatakan di mana letak kesalahanku apalagi untuk mendengarkan alasanku.”

Belum selesai Nawa bicara, lelaki itu berlari keluar meninggalkan adiknya yang sedang bicara.

Dulu, tepatnya 5 tahun yang lalu, saat orangtua mereka masih ada. Mereka hidup rukun, namun setelah orangtua mereka tewas dalam tragedi tenggelamnya kapal Binayah, suasana mulai berubah. Kehidupan mereka mulai melarat. Pendidikan mereka pun terkatung-katung. Karena itu, sejak Nawafila tamat SMA, atas permintaan Zidan, Nawa tidak melanjutkan sekolahnya lagi, Nawa pun menyetujuinya, lagi pula, menurut Nawa dalam keadaan seperti ini memang harus ada salah satu di antara mereka yang harus berkorban. Mengorbankan cita-citanya. Mengubur mimpi yang selama ini ia angan-anagankan. Sejak saat itu pula Nawa mulai bekerja sebagai tukang cuci pakaian dari satu rumah ke rumah lainnya. Dan dengan penghasilan itu, Zidan bisa meneruskan sekolahnya hingga ia sarjana.

Lazuardi kembali gelap. Suasana tak ada yang berbeda bagi Zidan, meskipun saat itu Nawa sudah tak ada di flat kecil itu bersamanya. Selama ini keberadaan Nawa seperti tidak ada bagi Zidan, meskipun sebenarnya kehidupan lelaki itu banyak bergantung kepada Nawafila. Pria itu duduk di kursi yang ada di depan jendela. Ia melemparkan pandangannya ke luar jendela, melihat keindahan suasana kota Surabaya saat matahari tenggelam di sore hari. Seketika matanya terbelalak melihat selembar surat bertengger di atas meja yang ditindih oleh secangkir kopi yang telah dingin.

Untuk kakakku tercinta.
Zidan Ahmad.

Maaf, kak, aku pergi tanpa pemisi. Kepergianku dari rumah, bukan karena aku dendam atau marah sama kakak, bukan pula karena aku tidak sayang lagi sama kakak, tapi sepertinya rasa sayang tidak harus selalu ditunjukkan dengan kebersamaan. Dan maaf, karena aku pernah merasa bahwa kita tidak pernah lahir dari rahim yang sama. Aku sempat merasa bahwa kita tidak memiliki ikatan darah. Maaf jika yang aku rasakan terlampau jauh dari kenyataan.

Jam tangan yang kakak temukan di lemariku, itu bukan untuk pacarku, tapi untuk kamu, kak. Pakaian itu adalah kado ulang tahun yang sebenarnya ingin aku berikan untuk kakak hari ini, Happy birthday, kak. Semoga kakak panjang umur dan sehat selalu.

Dan lagi, aku tidak pernah mengambil uang kakak. Jam tangan itu aku beli dengan uang gajiku yang kukumpulkan selama dua bulan. Aku melakukannya karena aku ingin memberikan sesuatu yang spesial di hari ulang tahun kakak. Dompet kakak yang katanya hilang, sebelum aku pergi, aku melihatnya ada di tumpukan pakaian kotor.

Untuk malam itu, aku terpaksa harus pulang telat dari toko tempatku membeli jam tangan itu. Aku terjebak hujan di perempatan jalan. Di sana banyak orang berteduh. Aku pun ikut berteduh, aku merasa lebih aman jika berteduh dulu dari pada pulang diguyur hujan dan harus melewati jalanan yang sepi dan rawan tindak kriminal.

Walaupun aku pergi, tapi kakak tak pernah jauh dariku. Kakak akan selalu ada dalam setiap lafaz do’aku. Kasih sayangku bagai matahari yang menjaga jarak dari bumi, agar penduduk bumi tak merasa kapanasan karena teriknya sinar matahari yang membakar. Kupikir, lebih baik kita saling menjauh, kak, daripada hidup bersama tapi selalu berselisih paham dan tak pernah damai.

Do’akan aku, kak. Selama ini aku mengidap kanker, dan kini sudah stadium empat. Selama ini aku merahasiakan ini dari kakak karena takut kakak khawatir. Kakak tak perlu mencariku karena aku tak meniggalkan alamat, dunia terlalu luas untuk mencari manusia kecil tak berguna dan tak penting sepertiku. Dan aku rasa waktu kakak terlalu berharga untuk sekadar dihabiskan mencariku yang akan pergi entah ke mana. Yang jelas aku harus sembuh. Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin melihat kakak lagi. Terima kasih karena pernah menjadi kakakku.

Wassalam.
Nawafila Ahmad.

Pria itu terhenyak. Surat yang ada di tangannya basah oleh cucuran air mata. Pandangannya nanar. Tampak ada penyesalan yang membuncah tak tertahan. Tapi apa hendak dikata. Nasi telah menjadi bubur.

Surabaya, April 2016.

Cerpen Karangan: Fuad Muba
Blog / Facebook: Fuad Mubarok
*Fuad Muba adalah cerpenis asal Mempawah Kalbar, cerpennya pernah termuat di Majalah Panji Balai, Balai Bahasa Surabaya, Majalah IJTIHAD, Buletin Nasyith. Saat ini masih nyantri di Pondok Pesantren Sidogiri.

Cerpen Dari Rahim Yang Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aspal Untuk Kakek

Oleh:
Sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk kota nampaknya masih teramat susah untuk mendapatkan infrastuktur yang memadai. Terutama jalanannya. Sudah berpuluh tahun sejak kakekku masih remaja, beliau sudah

Tempe Goreng

Oleh:
Hah? Di mana aku? Kukerdipkan mataku beberapa kali, berusaha memulihkan kesadaranku. Oh, aku baru ingat, aku sedang berada di asrama. Mimpi barusan benar benar terasa nyata, membuatku sempat lupa

Jangan Tangisi Aku (Part 2)

Oleh:
Satu tahun kemudian. Teriknya matahari membuat peluh membasahi sekujur tubuhku, tapi hal itu tidak membuat semangatku berkurang aku tetap bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan yang selama setahun ini aku lakoni.

Saat Terakhir

Oleh:
Entah apa yang ada di pikiranku dulu. Aku benar-benar sangat acuh aku tak peduli dengan kondisi ibuku yang sedang sakit bahkan aku juga tak peduli saat ibuku masuk ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dari Rahim Yang Sama”

  1. Mayla Salma says:

    Mengharukan.. Tega banget Zidan menyiksa adiknya..
    Good buat penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *