Derita Andi Si Pengamen Cilik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

“Bintang kecil di langit yang biru…” nyanyian Andi yang serak karena kerongkongannya belum dilewati air sejak pagi. Dari jendela-jendela mobil, Andi mengais rezeki hanya untuk membeli sebungkus nasi. Dengan ditemani sebuah kaleng bekas dan botol plastik yang ia isi dengan beras. Hari demi hari ia lalui sebagai manusia sebatang kara. Andi menyesal karena ia kabur dari rumahnya. Ibu dan bapaknya selalu bertengkar masalah ekonomi. Sekarang ia hidup sendiri di tengah hiruk pikuk kota Jakarta ini.

Andi melihat sebuah mobil putih dengan plat nomor 91 JK8 MKC. Andi menghampiri mobil itu. “Permisi Pak… bintang kecil di langit yang biru… am.” Andi bernyanyi. “Berisik… pergi sana! dasar gembel.” seorang lelaki berpakaian pegawai kantoran menghinanya.
Dengan hati yang teriris Andi meninggalkan mobil itu.

Matahari mulai menggelincir ke barat. Sejak tadi perut Andi keroncongan, usus-usus di dalamnya melilit kencang. Andi gemetar tak tahan akan rasa perih di lambungnya. Sementara itu, kalengnya hanya terisi lima ratus rupiah. “Aduhhh…” rintihan Andi menahan perih. Ia berbaring di depan rumah kosong tak berpenghuni. Semakin menjadi-jadi rasa perih itu. Andi berusaha tidur agar rasa itu hilang.

Duarrr… bunyi petir membangunkan Andi. Andi melihat sekelilingnya, ternyata hari sudah malam. Hujan juga mulai turun dengan derasnya. Angin berlari melewati sela sela dedaunan. Lalu lalang di jalan raya mulai sepi. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam Andi lalui malam yang mencekam itu. Duduk di teras rumah kosong beralaskan kardus bekas. “Diiingiiin.” Andi menggigil sambil mengepalkan jari jemarinya. Bibirnya mulai membiru dan mukanya pucat pasi. Sementara itu, rasa lapar datang lagi. Keringat dingin mulai tampak di keningnya. “Ibuuuu… bapa…” kata Andi terbata-bata. Mukanya sudah tampak seperti mayat. Tiba-tiba tubuhnya jatuh di atas lantai yang tak beralaskan apa-apa. Matanya sudah tak terbuka.

Paginya, Pak Bambang, ketua RT setempat menemukan Andi yang sudah tak berdaya. Diperiksa denyut nadinya sudah tak bergetar, napasnya pun sudah tak berhembus. Lalu Pak Bambang membawa Andi ke rumahnya. Beliau berdiskusi dengan warga. “Mau dikubur atau kita cari keluarganya?” kata Pak Bambang. “Kita urus saja mayatnya, Pak RT. Lalu kita kubur.” Usul seorang warga.
Semua warga setuju karena warga tahu bahwa Andi tidak punya sanak saudara.

“Mas… Mas… Mas Rasid.” teriak Bu Intan sambil membawa koran. “Ada apa Bu?” tanya Pak Rasid. “Ini… ini… anakku Mas… Andi.” kata Bu Intan dengan terbata-bata. Pak Rasid membaca koran itu, ternyata anak tirinya yang ia cari selama ini telah tiada untuk selamanya. Mereka langsung berangkat menuju alamat yang tertera di koran. Selama di perjalanan, Bu Intan tak henti-henti menangis.

Dari kejauhan, Pak Bambang melihat sebuah mobil putih berplat nomor 91 JK8 MKC menghampirinya. Keluarlah dua orang tua yang mukanya tampak bersedih. “Pak.. di mana Andi Pak..? di mana anak saya?” tanya Bu Intan sambil menangis. “Bapak dan ibu ini orangtua Andi?” tanya Pak Bambang. “Iya pak. Kami orangtuanya.” kata Pak Rasid. “Kalau begitu, mari ikut saya.” kata Pak Bambang sambil menunjukan jalan menuju kuburan Andi. Sesampainya di sana, Bu Intan langsung tersungkur. Tangannya mencekram kuat batu nisan Andi. Bu Intan menjerit, menangis penuh penyesalan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Saiful Bachri
Facebook: Saiful Bachri
Nama asli: Saiful Bachri
Nama pena: Ip Unk
Tmpt, tgl lahir: Jakarta, 19 Juni 2001
Sekolah: SMPN 53 Jakarta

Cerpen Derita Andi Si Pengamen Cilik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seberkas Cahaya Dalam Gelap

Oleh:
Hari ini ulang tahunku yang ke sebelas. Tak seperti ulang tahunku yang telah lalu, kali ini aku merasa senang sekali karena pagi ini dibangunkan Ibu. Sehabis mandi, lekas kupakai

Aku Mau Beli Waktunya

Oleh:
Hari gua selalu sedih karena bokap sama nyokap gua kerja mulu. Gua sampai bosan nunggu mereka pulang sampai ke rumah. Pas gua ambil rapot, gua cuman ambil sendiri. Kadang

The Dina’s Oreo

Oleh:
Matahari perlahan-perlahan turun dari peradabannya, menandakan hari telah senja. Dina pun ikut terbangun dari tidur sore… eh, siangnya. Sembari mengucek-ngucek matanya, Dina melihat kalender yang tergantung di kamarnya. “Mmm…

Kembali Keniat Awal

Oleh:
Mentari masih enggan menampakkan sinarnya. Namun pagi ini harus ku paksakan melangkahkan kaki untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Udara dingin menyelimuti tubuhku yang mulai menggigil. Ku intip wajah

Saudara Tiriku

Oleh:
“Apa? Saudara baru? Enggak. Ya masa aku harus punya saudara tiri. Aku lebih suka jadi anak tunggal. Pokoknya Papah sama Mamah harus milih antara tetep ngangkat anak gembel yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *