Destiny

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 3 April 2018

Kehidupan yang kita jalani takkan selamanya tetap. Bisa berubah menjadi lebih baik ataupun sebaliknya. Kata kehidupan identik dengan sebuah takdir yang tertulis sebagai sebuah tangan nasib.

Takdir seseorang itu pasti akan selalu berbeda. Itu sudah menjadi ketentuan tuhan, tak semua orang memiliki takdir seperti yang mereka harapkan, hidup di dunia yang dipenuhi realita. Harus menerima apapun yang terjadi.

Pernahkah kalian mendengar suatu kisah tentang perjuangan hidup ibu untuk anaknya? Aku akan menceritakan sebuah kisah dengan versiku sendiri.
Pagi ini matahari telah tampak memunculkan sinarnya, melakukan tugasnya menyinari bumi ini. Terlihat seorang wanita setengah baya dengan pakaian lusuh, sedang menggendong putrinya yang kira kira baru berusia 1 tahun.

mereka baru saja keluar dari sebuah toilet umum dipinggir jalan, terlihat wanita itu menjinjing sebuah tas hitam lusuhnya, wajahnya nampak tak menunjukan setitik semangat pun pagi ini, wajahnya nampak sedikit pucat, dan terlihat lemas.
Ia berjalan sambil mengais putrinya di pinggangnya. Ia menyusuri trotoar yang berada di sepanjang jalan raya. Ia berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Perutnya terasa lapar, ia yakin jika putrinya juga pasti merasa lapar.

Hari ini ia putuskan untuk mencari sepeser uang untuk menghilangkan rasa laparnya. Seperti hari hari sebelumnya ia harus menghidupi dirinya dan putrinya,
Ia masuk ke sebuah Perumahan elite dengan banyak rumah mewah, ia menghampiri setiap rumah yang ada di sana berharap ada yang memasukan sepeser rupiah ke gelas yang ia bawa. Rela memeras hati, merejam iba, ia mengharap belas kasihan tuk anaknya yang sedari kemarin belum dapat makan.

Di sebuah perumahan elite seperti ini kebanyakan orang yang tinggal adalah mereka para pejabat, konglomerat, atau yang mempunyai penghasilan yang besar. Namun, semua seperti tak seharusnya.
Ia menghampiri sebuah rumah berpagar hitam, terlihat seorang wanita yang mungkin hanya beberapa tahun lebih muda darinya sedang menyirami tanaman di depan rumahnya.

“Permisi bu, saya dan anak saya belum makan dari kemarin. Kasihani kami bu” Kata sang ibu pengemis itu.

“Pergi, pergi. Kalo mau duit ya usaha. Bukanya minta minta seenaknya” kata wanita sang pemilik rumah itu. Namun sang ibu pengemis belum beranjak, masih menunggu wanita itu mengasihinya. Karena kesal wanita itu menyemprotkan air dari selang yang ia pegang, bermaksud untuk mengusir.

Akhirnya sang pengemis yang membawa anaknya itu pergi. Ia meratapi betapa malang nasib putrinya, ia merasa jika sudah menjadi ibu yang buruk untuk anaknya. Tak bisa mencukupi segala kebutuhan anaknya bahkan untuk kebutuhan pokok, yaitu makanan.

Matahari sudah mulai terik sekarang, hari menjelang siang. Namun, ia belum juga mendapat sepeser uang untuk makan ia dan putrinya hari ini.
Putrinya mulai menangis, mungkin merasa kelaparan. Pengemis itu mulai kebingungan, harus berbuat apa ia sekarang. Ia tetap berusaha mengais rezeki dari sebuah rasa belas kasihan.

Sudah kurang lebih dua jam ia berjalan, ia hanya mendapat uang empat ribu rupiah. Ia memutuskan untuk membeli sepotong roti dan sebotol air yang ia harap akan cukup untuk menghilangkan rasa lapar dan haus yang ia dan putrinya rasakan.

Ia memutuskan beristirahat di sebuah taman kota, kakinya pegal, badannya lemas, wajahnya pucat.
Ia menyuapi putrinya roti yang tadi ia beli, hanya setengah bagian yang tersisa. Jika ia makan, ia takut tak bisa mendapat uang untuk membelinya lagi jika putrinya merasa lapar.

Ia memutuskan menyimpan sisa roti dan sedikit air yang tersisa dalam botol.
Ia harus berjuang demi kehidupannya dan putrinya. Ia memutuskan untuk kembali mengais rejeki dengan mengharap belas kasihan. Kali ini ia masuk ke sebuah perkampungan, mentari sedang terik, membuat rasa letih yang tadi telah hilang sejenak kini kembali lagi.

Ia berjalan dengan tetap menggendong putrinya di pinggangnya.

Cerpen Karangan: Frisca Balqis’tya
Facebook: Frisca Balqistya

Cerpen Destiny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suddenly

Oleh:
Menyusuri jalanan panjang yang hanya bisa dilalui oleh satu jalur kendaraan roda empat, Via melangkahkan kakinya menuju tempat di mana ia mencari nafkah. Tak ada armada yang ia miliki,

Bidadari Tanpa Mata

Oleh:
Dalam malam selalu ada kelam, mungkin itulah setiap malamku selalu penuh ketakutan. Namaku Riri, setiap hariku adalah malam. Ini bukan karena drama, ini nyata. Selama tujuh belas tahun aku

Nasi dan Ayam

Oleh:
Nasi dan ayam, makanan favoritku. Tidak ada yang bisa mengalahkan betapa enaknya ayam goreng yang berkulit gurih dengan nasi hangat yang tersedia setengah bundar di atas piring putih bermotif

Pahlawan Hidupku

Oleh:
Hai! Namaku Nisa. aku bersekolah di sekolah negeri Kota Jakarta. Aku mempunyai dua orang kakak, namanya Kak Nia dan kak Vani. Keluargaku semuanya sangat jago masak, dari ibu, ayah,

Pak Tua

Oleh:
Pagi begitu cerah. Langit biru udara sejuk menemani perjalanan pagiku menuju tempat kerja. Aku menengok jam tanganku. Waktu baru menunjukkan pukul 06.33 menit. Selama kurang lebih satu jam selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *