Di Balik Awan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 1 January 2018

Kehidupan memang tidak ada yang tahu apa akhirnya. Terkadang kita berada di atas kadang juga di bawah. Namun kehidupan benar-benar mengajarkan kita tentang segala hal, agar kita tahu dan akhirnya kita mengerti.
Hanya satu kejadian, atau satu pikiran, atau bahkan hanya satu ucapan saja bisa mengubah segalanya. Semua orang tahu itu, tapi tidak banyak orang yang mengerti tentang hal itu.

Rayhan, seorang bocah kecil yang selalu mencoba mencari tahu tentang apa arti suatu peristiwa dalam kehidupannya. Mungkin saja suatu hari nanti ia bisa mengubah status keluarganya sebagai keluarga yang miskin menjadi keluarga yang kaya.
Namun itu semua tidak mudah bagi Rayhan. Tidak semua orang yang ia tanyai tentang suatu masalah mau menjelaskannya pada Rayhan. Tapi, Rayhan adalah seorang bocah yang pantang menyerah. Jadi, ia tak pernah marah pada siapa pun itu, termasuk ayahnya yang tidak pernah mau memberi pengertian tentang suatu masalah kepada anaknya itu.

“Nak, tolong nanti siang kamu bawakan bekal Bapak ke Ladang, ya! Bapak sudah kesiangan, Ibumu juga belum selesai masak. Nanti kamu juga bantu Bapak membersihkan ladang!” Perintah Ayah Rayhan.
“Baik, Pak. Semoga nanti di sekolah tidak ada PR!” Jawab Rayhan.

Pagi mulai menjelang siang. Rayhan yang baru pulang sekolah segera makan siang dengan lauk seadanya. Keluarganya hanya bisa makan sayur setiap hari, seakan seperti vegetarian saja yang tidak pernah makan daging. Sudah bisa dipastikan, itu karena keluarga Rayhan adalah keluarga yang tidak mampu. Makan ikan sungai saja sangat jarang karena harus bekerja.

Dengan cepat Rayhan mencuci piringnya lalu membuka tas usang miliknya. Diulurkan tangannya itu ke dalam tas usang miliknya lalu segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku yang juga usang, robek di bagian pinggir-pinggirnya, dan beberapa halaman sudah tidak menempel lagi dengan buku itu.

Rayhan mencoba menyelesaikan PR-nya secepat mungkin. Hari sudah semakin siang, sebentar lagi ia harus mengantarkan bekal kepada sang Ayah. Namun ia juga harus menyelesaikan PR-nya saat itu juga. Karena hanya siang harilah ada waktu luang baginya.

“Ray, ini bekal Ayahmu. Cepat kamu antar! Nanti Ayahmu kelaparan.” Perintah Ibu Rayhan.
“Sebentar Bu, PR Rayhan belum selesai, kurang sedikit!” Jawab Rayhan.
“Cepat, Nak! Sekarang sudah Dhuhur, Ayahmu akan istirahat sebentar lagi!”
“Nanti Rayhan akan berlari saat mengantar bekal kok, Bu. PR-nya juga sudah hampir selesai, tidak akan terlambat.” Ujar Rayhan.
“Janji ya, awas nanti kalau sampai Bapakmu mengeluh!” Ancam Ibu Rayhan dengan lembut.
Tak lama kemudian, Rayhan telah menyelesaikan seluruh PR-nya. Disambarnya kotak makanan Bapaknya, lalu segera berlari menuju ladang yang tak jauh dari gubuk tempatnya tinggal itu.

“Kamu dari mana saja? Bapak sudah menunggu dari tadi. Tapi kamu baru mengantar sekarang?” Kata Bapak Rayhan dengan nada sedikit tinggi.
“Maaf Pak, tadi ada PR banyak sekali!” Jawab Rayhan.
“PR? Kan sudah Bapak bilang, kamu tidak perlu sekolah lagi, kamu kan sudah 9 tahun! Lebih baik kamu membantu Bapak bekerja di ladang, dapat uang! Toh nanti ujung-ujungnya kita bisa hidup kaya. Tidak perlu susah bekerjanya.” Desah Bapak Rayhan.
“Tapi Pak, kalau Rayhan tidak sekolah nanti Rayhan tidak akan bisa apa-apa!”
“Sekolah? sekolah itu memerlukan biaya, tapi kita tidak diberi apa-apa! Malah dibebani dengan ini, dengan itu! Lebih baik cari uang, ditabung, hidup tidak lagi susah!”
“Bukannya kalau kita tidak sekolah maka kita akan miskin, tidak bisa apa-apa, dan kita akan terkucilkan? Begitu yang dikatakan para Guru di sekolah, Pak.”
“Memangnya hanya dengan sekolah kita bisa tiba-tiba kaya? Tidak kan? Itu percuma saja! Sekolah hanya bisa membuat kita miskin! Sudahlah, Bapak sudah lapar, kamu itu ada-ada saja!” Kata Bapak Rayhan yang kemudian langsung memakan bekal yang telah dibungkus untuknya.

Rayhan memandang ke sekitarnya. Banyak sekali sejenis tanaman yang terhampar luas di lading tersebut. Tanaman apa itu? Itulah pertanyaan yang ada di benak Rayhan. Memang aneh, sebuah ladang yang benar-benar luas hanya menanam satu jenis tanaman saja. Tapi, tanaman itu terlihat indah.

“Ada apa?” Tanya Bapak Rayhan disela-sela makannya.
“Pak, ini semua itu tanaman apa? Kok ladang seluas ini hanya ditanami jenis tanaman itu saja?”
“Bapak juga tidak tahu. Sejak beberapa tahun yang lalu, Bapak hanya disuruh menanam tanaman ini sama Juragan. Yang penting Bapak dapat uang, dapat penghasilan. Gaji menanam tanaman ini memang dua kali lipat lebih besar daripada tanaman lainnya.”
“Apa Bapak tidak pernah menanyakan apa jenis tanaman ini dengan Juragan? Sudah beberapa tahun menanam tanaman ini kok tidak tahu apa namanya!”
“Kebetulan kata Juragan nanti ia akan memberi Bapak satu jenis bibit tanaman lagi, yang akan Bapak tanam di sebelah sana. Nanti akan Bapak tanyakan. Sekarang, ayo bantu Bapak membersihkan ladang!”

Mereka pun membersihkan ladang bersama. Sebenarnya tidak seluruh ladang, tapi hanya sepetak ladang yang biasa digunakan Bapak Rayhan untuk beristirahat setelah mengurus tanaman-tanaman itu di ladang.

Hari sudah semakin sore. Sudah waktunya bagi mereka untuk segera kembali ke rumah. Mereka berjalan bersama dengan peluh di wajah. Rasa pegal benar-benar menyelimuti kala itu. Karena saat mereka pulang, mereka tidak sempat untuk duduk meski hanya beberapa saat saja.

Keesokan harinya adalah hari libur. Jadi Rayhan tidak berangkat sekolah. Tetapi hari ini adalah hari bekerjanya. Setiap sebulan sekali, Bapak Rayhan akan memberi Rayhan suatu bungkusan yang agak besar untuk diberikan kepada Juragan.
Tapi kali ini, bungkusan itu siap sudah agak siang. Rayhan jadi terlambat untuk mengantar. Namun ia tidak mau tergesa-gesa. Karena itu mungkin akan merugikan dirinya sendiri. Bisa juga bungkusan itu jatuh, rusak, atau hilang.

“Nak, cepat berikan ini kepada Juragan! Bilang pada Juragan, maaf karena terlambat mengantar barangnya!” Kata Bapak Rayhan.
“Iya, Pak…”
“Ingat juga ya, kalau ada di jembatan merah…”
“Ingat Bu, Rayhan sampai hapal Ibu mau berbicara apa!” Sahut Rayhan.

Rayhan langsung berlari setelah mengatakan itu. Namun, di tengah perjalanan Rayhan langsung menghentikan laju larinya dan mulai berjalan biasa saja. Bukan karena rasa lelah yang mulai menghantui dirinya, namun karena bungkusan itu hampir saja jatuh tadi.

Dari jauh, tampak jembatan gantung merah berdiri kokoh di antara bibir sungai. Namun di atasnya ada sekumpulan awan yang tampak tegas ingin melaksanakan niatnya. Sebuah awan hitam yang benar-benar hitam pekat, yang tak lama kemudian ada petir yang menyambar mulai menyusul.

Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya yang tak memberi kesempatan bagi Rayhan untuk berteduh. Bungkusan barang itu mulai basah. Sontak Rayhan langsung berlari mendekati sebuah gubuk kecil yang tak jauh dari jembatan gantung merah.
Hujan benar-benar terlihat tidak mau mereda. Sudah beberapa jam tapi hujan tidak mau berhenti. Rayhan mulai bosan, akankah dia bisa kembali pulang sebelum matahari terbenam.

Di dekat gubuk ada seorang lelaki bertubuh kekar yang kehujanan terlihat mendekati gubuk yang juga ingin berteduh. Mereka duduk berdampingan. Lelaki itu langsung memulai percakapan saat ia duduk.
“Mau diberikan kepada Juragan, ya?” Kata lelaki itu.
“Memangnya ada apa? Apa aku mengenalmu?” Tanya Rayhan.
“Tidak perlu mengenalku. Aku adalah orang suruhan Juragan. Karena kau terlambat mengantar, maka dia menyuruhku untuk mengambil barang ini darimu agar lebih cepat sampai. Jadi, berikan saja padaku dan akan kuberikan pada Juragan. Bilang pada orangtuamu kalau barangnya sudah dikirim!”
“Baik, tapi apa kau benar-benar orang suruhan Juragan?”
“Menurutmu bagaimana?”
“Ya, baiklah, terima kasih!”

Setelah Rayhan berterima kasih, orang itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi. Rayhan yang sudah terlanjur basah kuyup langsung saja pulang, karena meskipun masih badai dengan angin yang bertiup cukup kencang, tapi sudah tidak ada lagi barang yang akan diantar.

Beberapa bulan kemudian, tugas Bapak Rayhan benar-benar banyak. Sehingga harus menyuruh putranya untuk mengantar barang lagi. Hujan rintik-rintik yang dihiasi dengan sebuah pelangi kembar yang benar-benar indah menemani Rayhan untuk mengantar barang itu.
Barang itu sudah dibungkus dengan beberapa lapis plastik. Sehingga Rayhan tidak perlu berlarian untuk mengantarnya. Ia malah terlihat asyik dan menikmati hujan yang kian membasahi wajahnya.

Namun, sebuah hal tak terduga terjadi. Jembatan gantung merah putus, yang membuat siapa pun yang ingin menyeberang harus menyeberangi aliran sungai yang beraliran deras. Rayhan terkejut. Ia hanya menunggu saja, apabila ada orang juga yang mau menyeberang.

“Mengantar barang lagi ya? Untung saja aku di sini, jadi kamu tidak perlu susah payah untuk mengantar barang ke rumah Juragan. Biar aku saja yang bawa, seperti beberapa bulan yang lalu!” Kata orang yang dulu mengaku sebagai orang suruhan Juragan.
“Tapi…”
“Tidak apa-apa. Kebetulan aku juga mau ke rumah Juragan. Nanti akan kusampaikan mengapa kamu tidak bisa datang sendiri.”
“Terima kasih, tapi jangan sampai barangnya rusak ya!”
“Tentu saja…”

Setelah melihat orang itu menyeberangi sungai, Rayhan bergegas pulang. Ia sangat lega karena tidak harus menyeberangi sungai mengerikan itu. Karena apabila seseorang yang tidak bisa berenang menyeberangi sungai itu tanpa perahu, biasanya orang itu akan hanyut dan akhirnya meninggal.

“Bagaimana nak, sudah kamu antar? Kok lebih cepat dari biasanya?” Tanya Ibu Rayhan.
“Sudah Bu. Tapi tadi, jembatan gantung merah runtuh. Apa yang menyebabkan jembatan itu runtuh ya, Bu?”
“Tidak tahu, mungkin karena kemarin habis hujan lebat, atau mungkin juga sudah tua.”
“Begitu ya Bu? Lalu, sudah dua kali ini ada orang yang membantuku mengirim barang ke rumah Juragan Bu, mengapa orang itu mau membantuku?”
“Apa kau dulu pernah membantunya?”
“Tidak! Aku saja tidak mengenalnya…”
“Mungkin karena dia baik dan, Bapak sudah pulang?” Tanya Ibu Rayhan saat melihat suaminya baru pulang dari ladang.
“Buatkan Bapak teh, Bu!” Kata Bapak Rayhan.

Tak lama kemudian, Juragan datang ke rumah keluarga Rayhan. Mereka benar-benar terkejut. Tidak biasanya Juragan berkunjung ke rumah mereka. Biasanya dia menyuruh orang bila ingin member tahu sesuatu.
“Parjo, aku sudah tidak peduli lagi dengan ladangku saat ini. Tolong kau jaga saja ladang itu, mungkin suatu hari aku akan kembali!” Kata Juragan.
“Maksud dari Juragan itu apa?” Jawab Bapak Rayhan.
“Begini, aku akan pergi ke luar kota. Dan kau tidak perlu mengirim barang lagi sekarang. Lebih baik kau kirim sendiri barang yang akan kau kirim, tidak usah menyuruh anakmu bila aku sudah kembali! Tapi jangan katakan pada siapa pun kalau aku pergi! Paham?”
“Paham Juragan”
Juragan langsung pergi dari rumah keluarga Rayhan menggunakan mobil pribadinya yang mewah.

Tak lebih dari semenit, ada beberapa orang yang juga menggunakan mobil datang ke rumah keluarga Rayhan.
“Bapak Parjo?” Kata seseorang dari mereka.
“Ada apa, ya? Kalian Polisi kan?”
“Apa ladang yang ada di dekat rumah ini adalah milikmu?”
Karena Juragan telah menitipkan ladang itu, maka Bapak Rayhan mengatakan,
“Betul, Pak. Ada apa ya?”
“Bapak kami tangkap, karena telah menanam dan membudidayakan g*nja dan k*kain. Sekarang, Bapak harus ikut kami ke kantor polisi!”
Para Polisi langsung memborgol tangan Bapak Rayhan. Ibu Rayhan dan Rayhan sendiri juga benar-benar terkejut dibuatnya. Mereka semua tidak mengerti kalau tanaman yan ada di ladang itu adalah g*nja dan k*kain.
“Tapi Pak, kami tidak mengerti kalau itu semua adalah g*nja dan k*kain!” Sanggah Bapak Rayhan.
“Jelaskan semuanya di kantor polisi. Kalian juga telah menjerumuskan seorang kaya raya untuk mengkonsumsi g*nja dan k*kain, yaitu Juragan.”

Akhirnya mereka mengerti kalau Juragan telah menipu mereka semua. Namun, nasi telah menjadi bubur. Juragan telah melarikan diri. Semua hukuman hanya diberatkan kepada Bapak Rayhan. Karena semua bukti mengarah padanya.
Namun pada saat itu juga ada salah satu anak buah Juragan lainnya. Dia mengatakan kalau ini semua adalah perbuatan Juragan, dari yang memperkerjakan beberapa orang untuk mengolah ladang, serta tanaman-tanaman terlarang tersebut.
Tapi bukankah Juragan telah melarikan diri dengan tidak meninggalkan jejak sedikit pun? Jadi, siapakah yang bersalah sekarang? Para Polisi tersebut telah siap untuk menahan Bapak Rayhan. Karena semua bukti telah mengarah padanya. Jadi, siapa yang harus bertanggung jawab?

Cerpen Karangan: Dikta Sumar Hidayah

Cerpen Di Balik Awan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku

Oleh:
Aku adalah orang bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika Aku itu tidak pernah menyiram bekas buang airnya sendiri. Aku adalah orang yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, Aku bahkan selalu tertawa

Bapak

Oleh:
Angin mendesis dan menyusup melalui daun jendela cokelat yang semakin usang. Malam beranjak tua. Bulan setengah bulat perlahan naik tepat di atas pohon kelapa yang menjulang tinggi. Pohon kelapa

Poor Families

Oleh:
Sekarang ini aku jadi malas membaca novel, bagaimana tidak? di dalam novel hanya berkisah tentang kehidupan orang-orang kaya raya dengan rumah mewah bak istana atau sebuah mansion dengan fasilitas

Siapa Malingnya

Oleh:
“Mas, boleh minta tolong ndak?” Seorang laki-laki berbadan tinggi besar menghampiriku di pos ronda. “Minta tolong apa ya?,” Aku meminta penjelasan. “Itu, bantuin saya ngangkat kayu ke mobil.” Kata

Kebahagiaan

Oleh:
Kucing-kucing hitam yang lucu bercerita padaku. “Sebenarnya aku dulu manusia, namun aku lelah menjadi manusia, aku memilih menjadi seekor kucing, aku seperti ini adalah kehendakku…” katanya. Lalu aku tanyakan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *