Di Balik Ramuan untuk Anandaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 April 2014

Aku menginginkan maafmu untuk setiap bait penghinaan yang terlantunkan. Bahkan selalu menanti walau tak sesempurna penantian Tuhan untuk umatNya berbicara syukur pada Nya. Bila aku bisa, aku akan berdiri dengan segenap getaran yang mengalir di setiap arteri ku. Cinta.. Aku akan berteriak meski di bawah tirani yang dianggap suci oleh penguasa. Namun aku tak bisa. Karena kaki ini tidak memungkinkanku untuk berdiri lalu bersimpuh di depanmu.

Sudah 2 minggu berturut-turut aku menjenguk Anandaku di rumahmu. Tapi kau selalu acuh tak acuh mengizinkan ku berbicara dengan matanya. Padahal aku hanya ingin melepaskan rindu yang kian berkarat di pucuk hati. Empat belas lembar surat yang ku layangkan dalam menanyakan kabarnya pun tak kau terbangkan balasannya. Sms? Aku tak tahu apa-apa tentang dunia mayamu. Setidaknya, adil itu masih tersisa untuk umurku yang mulai renta. Tapi tidak! Keadilan itu telah terlumatkan oleh sikap ego yang memenjara.

Hari ini, aku bertemu dengan dua bocah di perempatan jalan kota, melirik mereka sekilas, lalu ku temukan senyum di wajah mereka yang membuat pikiranku tertuang pada sang bocahku. Mereka memegangi dua bola karet dengan motif duri, lalu mendrible bola tersebut ke jalan raya hingga sinar lampu memancar dari bola itu. Mulai dari merah, kemudian kuning hingga lampu itu punya banyak warna. Sejenak terfikirkan, mungkin selama aku pergi ke rumahmu hanya membawakan senyumku untuk si bocah. Sebab itulah kau bersikap acuh tak acuh. Oh.. biarkan kini aku membawakan sedikit oleh-oleh, mungkin bola duri.

“nak, berapa harga bola itu?”
“sepuluh ribu wak kalau yang kecil. Kalau yang segini tiga puluh ribu”
“o.. dimana belinya?”
“di sana wak” dia menunjukkan arah utara dari perempatan jalan. Oh.. ya! Aku tahu.

Dompetku tak tebal hari ini. Tidak banyak penumpang yang menumpang di becakku. Hari ini sepi. Tapi tak apa, hari ini aku dapat rezeki lima puluh sembilan ribu, lumayan jika ku bagikan setengah untuk bocahku.

Aku memilih bola dengan warna kesukaan mama si bocah, warna hijau. Berharap juga dia kan memberiku lampu hijau untuk bertemu dengan si bocah setelah pertemuanku enam bulan silam. Matahari begitu terik, aku merasakan panasnya di punggungku hingga membuat urat kakiku semakin lemas untuk mendayung. Tapi kerinduanku ternyata mampu mengantarkanku untuk berada di pagar rumah mamanya. Ya! Ini dia. Nomornya pun sesuai dengan yang tertulis di kertas alamat rumahnya yang diberikan padaku beberapa bulan lalu.

Aku coba menghampiri samping kanan pagar untuk menekan bel. Tapi setelah tiga kali ku bunyikan, tak jua seorang pun keluar lalu menanyakan sesuatu pada ku. Aku masih menunggu dan bersabar, bukan hal mudah untuk bisa sampai ke sini. Berbagai lorong ku tempuh hingga banku kempes, padahal aku harus melewati dua lorong lagi untuk bisa sampai ke sini. Oh, aku harus bersabar. Barangkali dia sedang pergi bekerja ke kantornya atau menjemput si bocah dari sekolahnya. Tapi tidak! Dua hari lagi kan puasa, pasti si bocah sudah mulai libur. Ah.. aku masih harus berpikir positif untuk hal yang ku lalui. Mungkin saja mereka berlibur dengan keluarganya ataupun pergi membeli daging untuk megang esok? Mungkin saja…

Saat ini, aku melebelkan diriku pria penantian. Dimana tiap hari aku selalu menanti untuk bisa menyentuh tangan halus si bocahku. Menatap matanya, membelai rambut hitamnya serta mencium aroma kulit putihnya. Nyaris tak tersampaikan semua yang ku inginkan! Dan sampai sekarang pun, aku belum mencapainya. Aku mencoba berdiri dari peristirahatanku di depan pagarnya. Aku bangkit dari dudukku, merasa sudah sangat lama tidak ada respon apapun dari dalam. Aku kembali menekan bel tiga kali, lalu aku sedikit mengintip ke balik pagar besi nan tinggi itu. terlihat halaman rumah yang sangat luas dengan berbagai jenis bunga di bagian tamannya. Oh, pantas saja dia tak mau kembali menjengukku ke sana, di sini lebih pantas untuk betah. Semoga dia tak menularkan kebetahannya itu untuk anandaku.

cekrek! Pintu pagarnya terbuka. Aku bersiap untuk memberikan senyumku untuk si bocah. Ku lihat, ada tiga orang yang keluar dari pagar itu. mama si bocah, seorang pria tak ku kenal dan satu lagi si bocahku. Sejenak, rasaku memanas, aku ingin memukuli lelaki itu dengan jurus yang ku punya. Dia terlihat mesra dengan istriku, namun aku mengurungkan niat itu, karena dia “berpeci”.
“maaf pak, kami tidak menjual buntut”
Hup! Ok, aku menerima perkataan si pria itu dengan diamku. Pakaianku yang lusuh memang membuat dia beranggapan aku tukang buntut. Tapi aku segera menunjukkan becakku yang ku parkir di sebelah sana.
“oh, pak, maaf.” Katanya, lalu memalingkan wajah ke arah istriku
“ma, kita pakai becak saja dulu ya, kebetulan ada tukang becak. Biarkan saja nanti papa yang telpon Amar untuk antarkan mobil. Mobilnya sedang diperbaiki.” Lanjutnya.
Aku tetap menahan berbagai rasaku untuk terus bersabar meski sesekali aku melirik wajah sang istri yang mulai memerah, namun dia memang istri yang penurut. Tanpa berkata-kata dia mengangguk usulan si “papa”. Sepertinya pria itu suami barunya. Oh.. tak apa. aku masih punya sepuncak es untuk mendinginkan hatiku. Mereka bertiga menaiki becakku dan aku mendayungnya hingga sampai ke sebuah tempat wisata. Ketika mereka turun aku sempat mengeluarkan kalimatku setelah mereka membayar ongkosnya,
“mawarnya banyak yang mekar ya buk”
“o iya pak. Dan sebentar lagi mungkin layu karena sudah lama mekar” sahut suaminya.
Ya! Dalam hati aku mengiyakan semua perkataan si “papa”. Lalu, dia menggendong anaknya, anandaku! Tiba-tiba aku teringat dengan bola duri yang ku beli tadi. Aku memanggil anak itu dengan sebutan “Nak”, karena hingga sekarang istriku tak memberitahuku tentang nama si bocahku. Dia menoleh dari gendongan papanya, lalu aku menyodorkan bola duri itu setelah aku mendriblenya. Lampu-lampu itu membuat dia tertawa. Aku bahagia bisa menertawakannya, meski dengan bola duri.

Sementara wajah istriku, oops, mantan istri maksudnya, masih enggan menumpahkan sedikit senyum. Tidak mengapa, mungkin kau terlalu bahagia dengannya hingga kau tak bisa melihat senyum orang lain karena tertutupi senyumnya. Ramuanku untuk mu melalui bola duri untuk anandaku masih belum mampu menyembuhkan lukamu dulu karena ku. Hidupku yang sarat dengan masalah telah membuat ku pisah dengan mereka, stalagtit dan stalagmite indahku. Biarpun begitu, aku tetap tidak akan bersimpuh memohon maafmu, mantan istriku. Karena ini bukan mutlak salahku. Aku akan terus mekar untuk mengetahui nama anandaku, dan tak seperti mawar kalian. Karena sekarang belum tercapai semua inginku.

Cerpen Karangan: Radhia Humaira
Blog: debu teratai
Facebook: Radhia Humaira

Radhia Humaira lahir di Meunje Gandapura pada 06 Maret 1996, sekarang sedang menjalani kehidupan di asrama sekolah SMAN UNGGUL ACEH TIMUR. selama ini, Alhamdulillah dalam perjalanan hidup saya di sini, saya mendapatkan banyak pengalaman. pada April 2013 lalu, saya berhasil menjadi sutradara dalam sebuah perlombaan teater hingga berkat ridha Nya kami diizinkan untuk melaju ke provinsi, walaupun akhirnya hasilnya tidak seperti yang diinginkan. tapi Alhamdulillah juga dengan rahmat Allah SWT saya bisa mendapatkan juara 2 di bidang puisi. dengan mempost cerpen ini, saya berharap bisa mendapat pelajaran yang lebih dari kawan-kawan tentang cerpen melalui kritik dan saran kawan-kawan. terimakasih kawan buat waktunya… 🙂 salam…

Cerpen Di Balik Ramuan untuk Anandaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


12 Jam Yang Penuh Makna

Oleh:
Setelah salat duha, aku pergi ke meja makan untuk sarapan. Seperti biasa Papa dan Mama sudah lebih dulu berangkat ke kantor. Papaku seorang Dirut di salah satu perusahaan swasta

Bunga Terakhir Dari Surga IBTABU

Oleh:
Lihatlah ke arah pohon besar yang menancap di tanah itu, di sana terdapat bocah yang sedang memainkan seruling bambu dengan lambaian angin sepoi. Tanah yang disinggahi bocah berusia tidak

Malam Takbir

Oleh:
Senja telah tergantikan oleh kabut hitam di awan, penghias langit telah berganti menjadi malam yang gelap. Di setiap jalan sudut kota telah terhiaskan lentera lentera malam kemenangan menemani dan

Kembali Ke Pangkuan Mu

Oleh:
Terik matahari menyengat kulit, namun awan gelap mulai menutupi sebagian wilayah kota. Pohon-pohon di kanan kiri jalan tertiup hembusan angin kencang. Dingin seketika menyergap seluruh badan. Tiupan angin terkadang

Imbalan Termewah

Oleh:
Malam mengapa kau tidak kunjung berlalu, apa kau tidak merasa kasihan melihatku sendirian dan kesepian menyelimuti diriku ini. Rumahku hanyanya beralas bumi dan beratap langit, ya dari ujung ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *