Di Balik Tembang Nenek Rose

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 May 2017

Setelah kepergiannya, bagiku Jakarta tidak lebih dari kota sempit yang mencekik. Setiap sudut jalan memiliki cerita yang dapat menoreh luka. Bahkan kini, tempat tinggalku bagai neraka yang tak ada seorang pun ingin menetap. Satu-satunya cara agar aku tetap hidup, yaitu pergi dan melupakan dia yang tak akan pernah kembali.

Bandung yang merupakan tempat kelahiranku menjadi pilihan untuk menenangkan pikiran. Sejak lulus SMA aku hidup seorang diri di Jakarta. Selain melanjutkan pendidikan dan memiliki pekerjaan, alasan utama untuk menetap adalah karena dia, tunanganku yang meninggal satu bulan sebelum pernikahan kami. Oleh karena itu, kini aku seperti tidak memiliki alasan lagi untuk tetap hidup di sana.

Aku mengundurkan diri dari pekerjaan dan memutuskan hidup bersama ibu juga nenek. Kami tinggal di sebuah rumah bernuansa kayu minimalis yang terbilang cukup luas. Memiliki sembilan kamar tidur yang telah difasilitasi kamar mandi. Sebuah ruang keluarga dengan sofa berwarna coklat, dilengkapi empat buah kursi goyang, dan sebuah televisi. Terdapat pula dapur yang sekaligus menjadi ruang makan, dengan meja makan panjang dan 12 buah kursi. Halamannya ditumbuhi rerumputan, pepohonan, beraneka bunga dalam pot, dan sebuah papan yang bertuliskan Rumah Kembang.

Sebenarnya, tidak hanya aku, ibu, dan nenek saja yang tinggal. Kami ditemani oleh sembilan wanita tua, dan sepasang suami istri. Orang-orang mengatakan tempat tinggal kami adalah panti jompo. Namun, ibu dan nenek menganggapnya lebih dari itu, sebab dibangun dengan cinta dan harapan agar siapa saja yang hidup di dalamnya merasa aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.

Rumah Kembang telah berdiri sejak kepindahanku ke Jakarta. Hal ini merupakan cita-cita nenek yang diwujudkan oleh ibu. Wanita-wanita tua itu usianya tidak jauh dari nenek, yaitu antara 50-70 tahun. Setiap kamar ditempati dua wanita tua, tetapi ada satu kamar yang hanya diisi satu orang. Nenek, ibu, dan aku mendapat masing-masing kamar yang berbeda. Begitupun dengan sepasang suami istri yang membantu mengurusi keperluan dan menjaga rumah.

Ibu dan nenek memperkenalkanku kepada penguhuni Rumah Kembang. Wanita-wanita tua itu menyambutku dengan riang. Wajah mereka menyiratkan kebahagiaan. Begitupun dengan sepasang suami istri yang terlihat mesra. Kami saling bercerita, berbagi pengalaman, bahkan untuk pertama kali aku menceritakan kisah cintaku.

“Selamat pagi, sayang. Ayo kita sarapan, yang lain sudah menunggu,” kata ibu membangunkanku lalu berjalan ke arah dapur. Dengan badan yang terasa pegal, aku pun bangun dan mengikutinya.
“Selamat pagi, Dinda. Kadieu, duduk dekat nenek Kanti,” katanya, sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. Dia adalah salah satu wanita tua yang pandai menari.
“Iya, Nek”. Jawabku.

Pada meja makan yang panjang ini, terhidang makanan empat sehat lima sempurna. Sepertinya, ibu sangat memperhatikan kesehatan kami. Sarapan pun diawali dengan berdoa bersama. Perut yang kelaparan, membuatku fokus pada makanan dan tidak menyadari bahwa ada kursi yang kosong. Sarapan pun selesai. Aku membantu ibu dan sepasang suami istri merapikan meja makan. Setelah selesai, aku bergegas menemui nenek yang berada di dalam kamarnya.

“Sedang apa, Nek?” aku membuka pintu dengan perlahan.
“Kadieu, aya naon geulis?” katanya, menyuruhku masuk dan duduk di sebelahnya.
“Nek, aku penasaran. Katanya di sini ada sembilan orang wanita tua, tetapi dari kemarin sampai tadi sarapan aku hanya melihat delapan orang. Satu orang lagi ke mana? Pergi?”
“Nenek pikir kamu tidak menyadarinya, geulis. Iya, memang kamu belum bertemu satu orang lagi. Dia namanya nenek Rose. Teman nenek sejak dulu.”
“Nenek Rose? Nama yang bagus. Lalu dia ke mana, Nek?” Nenek tidak lantas menjawab pertanyaanku. Ia kemudian berjalan menuju sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah halaman tempat tumbuhnya beraneka bunga.
“Kamu lihat? dia Rose,” kata nenek menunjuk seorang wanita tua yang sedang menyiram bunga sambil menembangkan pupuh sunda.
“Cantik ya, Nek? Suaranya juga bagus. Itu pupuh apa ya?”
“Tentu saja, geulis. Dia itu keturan Jerman. Tapi asli orang Sunda, jiga urang. Kamu masa lupa, kan nenek teh dulu sering ajarin kamu pupuh Maskumambang.”
“Itu sudah lama, Nek. Oh, ya dia tidur sama siapa?”
“Dia tidur sendiri, geulis. Teu tiasa diganggu”.

Walaupun penasaran, aku menahan diri untuk tidak terus bertanya pada nenek. Ia memiliki kebiasaan tidur setelah makan, dan sekarang wajahnya mulai terlihat mengantuk. Aku berjalan menuju ruang keluarga. Namun, langkahku terhenti ketika melihat sebuah pintu kamar yang berada di paling ujung dekat dapur. Ini pasti kamar nenek Rose, gumamku.
Beberapa wanita tua terlihat menonton televisi, dan yang lainnya berbincang-bincang. Aku yang tidak ingin mengganggu mereka, akhirnya menemui ibu yang sedang mencuci piring.

“Ibu, aku ingin bertanya,” kataku dengan nada cukup serius.
“Tentang apa, Dinda?” jawabnya.
“Nenek Rose”. Kataku.
Ibu pun bergegas mengajakku masuk ke dalam kamarnya.
“Kenapa nenek Rose? Kamu penasaran tentang apa?” kata ibu membuka kembali percakapan.
“Semuanya, Bu. Aku mohon,” kataku memohon dan ibu pun memulai ceritanya.
“Ia adalah teman nenekmu. Mereka berteman sejak sekolah dan sama-sama menjadi pengajar Bahasa Indonesia dan Daerah, bahkan hingga sekarang. Sama seperti nenek, nenek Rose menikah pada usia 20 tahun, tetapi tidak memiliki anak. Kata nenekmu, setelah menikah, kehidupannya menjadi buruk. Pada awalnya nenek Rose sangat pendiam dan pemalu. Namun, dia menjadi berani dan selalu berkata kotor. Murid-muridnya diajari cara melalukan hubungan suami istri. Tidak hanya itu, nenek Rose juga sering menggambar posisi-posisi s*ks dan menyebarkan di sekolah. Ia menjadi ahli dalam p*rnografi. Sampai akhirnya, ia dipecat dari sekolah dan pergi ke luar kota. Beberapa tahun kemudian, ia pun kembali dan menemui nenekmu”.
“Sampai sekarang dia masih seperti itu, Bu?”
“Tidak tahu. Ia jarang berbicara. Setiap pagi, kegiatannya menyiram bunga dan menembangkan pupuh Maskumambang. Makan pun tidak pernah bersama-sama. Oh ya, setiap hari Minggu pukul 10 malam, di kamarnya, ia melakukan ritual dengan menembangkan pupuh dan memakan bunga melati”.
“Kalau begitu, malam ini ia akan melakukan ritual itu, Bu?”
“Mungkin. Awas, kamu jangan melalukan hal yang tidak-tidak, ya! Kamu hanya cukup tahu saja, jangan mengganggu nenek Rose”. Percakapan kami pun berakhir.

Walaupun ibu telah mengingatkan untuk tidak berhubungan dengan nenek Rose, ada kegelisahan tersendiri yang aku rasakan. Seperti ada hal yang tidak benar dan harus diketahui. Akhirnya, dengan memberanikan diri, aku menghampiri nenek Rose yang masih sibuk menyirami bunga-bunga dan menembangkan pupuh maskumambang.
“Selamat pagi, Nek.” Kataku menyapa. Sesuai dugaan, nenek Rose tidak lantas menjawab. Ia hanya melihatku dengan tatapan kosong, kemudian melanjutkan kegiatannya.
“Maaf jika mengganggu. Kenalkan aku Dinda, cucu Nenek Mira. Nenek pasti sangat menyukai pupuh Maskumambang, ya? Sejak tadi aku mendengar tembangan itu,” kataku lagi.
“Ada apa? Kamu mau tau apa tentang saya? Bukannya ibumu sudah menjelaskan”.
Suaranya yang dingin membuatku sedikit merinding. Selain itu, bagaimana dia dapat mengetahui jika ibu telah menceritakannya padaku? Tidak, aku tidak boleh takut. Aku harus tetap pada pendirian, gumamku dalam hati.
“Memang. Namun, aku tetap penasaran. Apa sekarang Nenek sudah tidak lagi bercerita tentang hal yang berbau s*ks?”
“Memangnya kamu ingin mendengarkan? kamu lakukan dan rasakan saja sendiri dengan kekasihmu”.
“Aku tidak memiliki kekasih. Dia sudah mati. Jadi, aku ingin tau bagaimana caranya melakukan hubungan suami istri dari cerita nenek. Dan juga, aku ingin tahu kenapa nenek selalu menembangkan pupuh itu”
“Malam ini pukul 10 datang ke kamarku”. Kata nenek Rose, meninggalkanku yang merasa tidak sadarkan diri atas apa yang telah diucapkannya.

Akhirnya, malam pun tiba dan menunjukkan pukul 22.00 WIB. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar nenek Rose. Namun, saat hendak mengetuk, terdengar kembali tembangan pupuh Maskumambang seperti tadi pagi.

Hey manusa mana kaniyaya teuing
Teu aya rasrasan
Kawula make disumpit
Naha naon dosa kula
Naha abong-abong teuing
Nasib abdi jadi hewan
Digawekeun beurang peuting
Dirangket taya rasrasan

Jantungku semakin berdegup, ketika pintu terbuka dan tercium aroma melati. Aku pun masuk dan menutup kembali pintu. Dalam remang-remang, nenek Rose menyambut kedatanganku dengan hanya menggunakan kain sinjang. Ia kemudian mempersilahkanku duduk di atas ranjangnya.
“Kamu, benar-benar datang, Dinda,” katanya sambil mengeluarkan beberapa gambar hasil karyanya dari sebuah kotak.
Aku terkejut melihat gambar-gambar s*ks tersebut. Tanpa sehelai kain, laki-laki dan perempuan beradu tubuh. Pada setiap gambarnya, nenek Rose selalu menuliskan hari dan tanggal. Mungkin, itu adalah waktu dia menggambarnya, pikirku dalam hati. Namun, aku melihat sesuatu yang menarik. Dari semua gambarnya, ia selalu menuliskan hari Minggu dengan tanggal yang berbeda.

“Hanya hari Minggu?” kataku memberanikan diri bertanya.
Nenek Rose tersenyum tanpa menjawab pertanyaan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah foto pernikahannya.
“Lihat, menurutmu siapa laki-laki yang berada di sebelahku?”
Pada mulanya, aku hanya terfokus pada foto dan pikiran laki-laki tersebut terasa tak asing. Namun, setelah beberapa menit berlalu, aku kembali tersadar pada gambar-gambar nenek Rose. Dan ternyata benar, lelaki yang terdapat dalam foto maupun gambar adalah orang yang sama.
“Dia adalah suami yang selalu memandangku jijik. Lelaki yang tak pernah menyentuhku. Kamu dan semua orang pasti mengira bahwa aku adalah maniak s*ks. Namun, percayalah, bahkan aku tidak pernah melalukan itu. Aku hanya tahu, karena melihat suamiku melakukan itu dengan wanita lain pada hari Minggu. Kau tahu mengapa aku selalu menembangkan pupuh Maskumambang?”
“Karena merasakan kesedihan? Sakit hati? Nelangsa?” jawabku gemetar.
Nenek Rose tersenyum, menggangguk, kemudian menangis sejadi-jadinya. Dia menenggelamkan wajahnya pada sebuah bantal. Aku mencoba menahan tangis dan mengelus-elus punggung nenek Rose yang sudah berkeriput.

Walaupun mata masih terpejam, suara orang-orang tertawa telah membangunkanku dari tidur. Ternyata aku hanya bermimpi, kataku dalam hati. Sedikit demi sedikit aku mencoba membuka mata. Dan begitu terkejut saat berada di dalam kamar nenek Rose. Ternyata itu bukanlah mimpi. Tanpa berpikir panjang, aku pun bergegas keluar.

“Lagi Rose, lagi, ayok,” pinta salah satu wanita tua, sambil tertawa.

Dayeuh Bandung kiwari teuing ku rame-araheng
Gedong-gedong pajangkung-jangkung wangunna-alagreng
Tutumpakan-tutumpakan balawiri lalar liwat-garandeng

Di ruang keluarga, kini penghuni Rumah Kembang berkumpul untuk menyaksikan nenek Rose menembangkan pupuh Balakbak. Mereka tertawa dan menembang pupuh yang menggambarkan kesenangan tersebut bersama-sama. Seperti dugaan, aku dan nenek Rose memiliki kemiripan, yaitu tidak dapat hidup sendiri. Atau mungkin, sebenarnya tidak hanya kami, tetapi semua orang membutuhkan tempat untuk sekadar bercerita tentang hidup.

Cerpen Karangan: Fitri Nur Fadilah
Blog: fadilahfitri.blogspot.com

Cerpen Di Balik Tembang Nenek Rose merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tiga Pohon di Padang Rumput

Oleh:
Orang-orang desa suka mencari rumput gajah untuk makan ternak di padang rumput sebelah sana, di pinggir perkampungan. Padang rumput yang luas, luas sekali… mereka tidak berani ambil rumput jauh-jauh

Pejabat Mulia

Oleh:
Hukum di negara kita memang adil. Adil untuk para orang bergelimang harta. Hukum di negara kita memang tajam. Tajam ke bawah pada rakyat kecil seperti saya. Tapi begitu tumpul

Pandhebhe

Oleh:
Di antara dedaunan yang satu per satu mulai gugur menghiasi sajadah panjang kehidupan, biarlah semua nestapa dan duka runtuh bersama daun terakhir yang jatuh kala penghujung musim gugur tiba,

Metamorfosa Malaikat Tanpa Sayap

Oleh:
Langit biru dan awan putih ketika pagi adalah alasan kuat mengapa aku masih bertahan hidup di bumi, aku berjalan di atas terjalnya dunia, dan berbicara di antara ribuan orang

Hamba Berita

Oleh:
Pagi? Berita. Siang? Berita. Sore? Berita. Malamnya? Berita. Begitu seterusnya pemandangan di ruang keluarga itu. Dunia berita menjadi dunianya juga. Mendarah daging. Wajar saja, pemahamannya soal dunia luar memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *