Di Penghujung Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 September 2020

Dan Lucas masih duduk setelah seharian ini menendangi bola yang berdebu, dia dan kawan lainnya yang entahlah namanya beristirahat di tribun sederhana yang sudah berkarat dan merintih kadangkala mereka mendudukinya dengan tergesa, mereka semua, dua belas bocah dan sebagian yang sudah belia, mencoba menikmati matahari kembali kepada peraduannya sore itu, sesekali terdengar letupan yang menggelegar yang disinyalir bukanlah petasan melainkan sesuatu yang lebih besar dan berbahaya yang disitu, di kota kelahiran lucas semuanya adalah wajar.

Pagi ini sudah ada lima potongan yang terkatung di bawah jembatan Juarez dengan kondisi yang berbeda, ada yang tanpa kepala, ada yang kepalanya saja, ada yang lengan kirinya lenyap, ada yang sebaliknya, mungkin ini semacam puzzle, mungkin tubuh-tubuh bergelayut itu dapat disatukan sehingga dapat menjadi tubuh utuh yang baru.

“ah, sana pulanglah, Boy.” Cercah Munes memecah khayalan Lucas.

Lucas masih menyusuri sungai Arturo, sungai yang membelah kompleks penduduk kota Juarez yang dimana yang satu sisi adalah kota yang hanya dipenuhi warga yang sudah mati, dan juga imigran gelap yang kebanyakan meregang nyawa dalam keadaan mengenaskan. Juarez adalah kota yang berada di wilayah yang tak jauh dengan perbatasan kota Meksiko- El-paso, USA. Dan di wilayah ini sering terjadi perlintasan illegal yang sering dilakukan oleh warga meksiko yang ingin plesir ke sisi yang lebih gemerlap, Amerika. Namun justru mimpi mereka harus mereka tebus dengan jiwa mereka.

Lucas pulang dengan masih dalam keadaan berdebu, dia sendirian. Ibunya mungkin masih di jalanan Juarez, entah di sisi yang mana, semoga di sisi yang tidak ada peluru menembus kulit-kulit maupun potongan termutilasi dari jasad tak bernama, ibunya hanyalah pedagang rizzo, sejenis makanan dari telur yang digulung yang di dalamnya ada macam-macam sayuran, mungkin seperti sandwich atau burger di Italy, bedanya hanya ada beberapa sayur sekarang, karena sulit didapat sayuran lengkap di wilayah itu sekarang, system ekspor-impor yang jauh lebih ketat karena permasalahan para imigran. Sehingga hanya ada sawi, acar dan tomat, dan juga semacam daun-daunan yang sebangsa dengan mariyuana, yang menambah nikmat dan sebagai pengganti dari kol dan wortel, walau sebenarnya sayuran itu dilarang karena sejenis dengan bahan dasar kok*in, namun, ah, persetan. Biarlah orang-orang itu mabuk dan melupakan perih dan kejamnya kehidupan nyata di Juarez.

Ayah lucas sudah lama wafat, di jalanan Juarez, ketika ingin menghentikan baku hantam antara mafia dengan imigran yang kabur, anak-anak dan seorang ibu, mereka berhasil lolos, dan ayah, dia harus menanggung atas kebodohannya itu.
Lucas mengamati langit-langit, kusam semua temboknya dan sudah hancur di beberapa sisi,
“harusnya aku perbaiki sebelum roboh pada hujan bulan ini.”

Sebelum lucas benar-benar memejamkan matanya, ada suara ketukan di pintu.
Dia bergegas, dan yang dia dapati hanya tetangganya, Guillermo.
“Ibumu di rumah sakit, bro. dia tertembak Sisilika saat melawan polisi federal dan FBI amerika baru saja. Terkena di perut, namun tak parah, hanya saja pendarahan. Sebaiknya kau cepat, menyusul ibumu, bro.”

Lucas hanya memandangi mata lermo, begitu sapaannya, dia serius. Tanpa memilih pakaian yang akan ia kenakan, hanya dia tutup pintu, tanpa terkunci, dan berjalan beriringan dengan lermo, begitu panggilannya. Dan dari kejauhan suara meletup-letup itu, makin kecil, kecil, kecil.

Cerpen Karangan: Muhammad Nur Wachid Ibn Munjin
Blog / Facebook: MUhammad Nur Wachid
masih belajar, santri dari PP Mambaus Sholihin-2 Blitar, Lulusan IAIN Kediri Th. 2017

Cerpen Di Penghujung Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mutiara Kusam

Oleh:
Operasi pelastik, kata yang cukup tabu bagiku, tak pernah sekalipun terlintas di anganku untuk mencobanya meskipun semua teman sebayaku telah berbondong-bondong melakukannya untuk memoles diri mereka. Dimana mata memandang

Women, Gossip & Reality (Part 2)

Oleh:
Amel dan Ocha masih menatap tajam wajah Vira, sepertinya mereka berdua mengharapkan penjelasan mengenai perkataan yang keluar dari mulut Maike tadi. Vira tersenyum lalu ia menatap Lila, tidak lama

Reuni Angkatan ‘8

Oleh:
Sinar mentari menerobos masuk lewat dinding-dinding kaca di ketinggian 50 lantai. Di kantorku hampir seluruh bangunan terbuat dari kaca, dari sinilah aku bisa menikmati hangatnya sang mentari yang beranjak

Pelangi

Oleh:
Pagi yang cerah matahari terbit dari ufuk timur. Sinarnya menembus rimbunnya pepohonan di desa yang indah, desa tempat Nina dan keluarganya tinggal. Akhirnya desa itu mendapatkan hangatnya mentari pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *