Di Rumah Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 9 February 2016

Rembulan tempias sebarkan sinarnya, mencoba menembus celah-celah pekat langit malam. Berharap kan terang benderang bak mentari mendera bumi dengan sinar cerahnya. Perlahan awan pun mulai berarak, wujudnya tak terlalu tampak. Tapi mereka ada. Aliran bening itu kembali menetes, mengalir pelan membasahi pipiku yang tirus dan kusam, sudah berapa lama aku tak membasuhnya? Mungkin sudah seminggu aku tak menyentuh air dan mengusapkannya ke pipi yang semakin tirus dan kusam ini.

Kau tahu aku siapa? Hanya sebatas anak curian dari rumah asliku, dibesarkan oleh preman yang telah mencuriku, aku pun juga tak tahu? Mengapa mereka begitu tega mencuri kami. Anak-anak dari orangtua kami, padahal kami sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orangtua. dan sekarang. Aku hanya sebatas pengamen jalanan, yang sering mendapat pukulan dari bosku itu, aku lelah. Ingin rasanya aku melarikan diri, mencoba mencari orangtuaku yang entah di mana keberadaannya. Berbagai ujian keras jalanan telah ku rasakan, dan mungkin berkat itu aku menjadi lelaki tangguh dan paling mandiri.

Menginjak umurku yang keempat belas tahun ini aku sendiri, padahal kau tahu? aku tak ingin merasakannya, terkadang aku iri melihat anak-anak SMP bersepeda beriringan menuju sekolah. Aku ingin kembali, aku ingin merasakan duniaku yang masih menyenangkan ini, bukan menjadi pengamen yang terlunta-lunta di pinggir jalan. Tapi, pada siapa aku berharap? Impian ini mungkin akan tewujud, jika orangtuaku menemukanku, atau Negara bertindak kepada kami para pengamen jalanan. Entahlah, hanya itu mungkin khayalanku aku tak terlalu berharap, Karena kau tahu mengapa? Jika itu tak terwujud, aku akan menyesal. Malah bisa jadi aku merutuki Tuhanku sendiri.

“Ahmad!” panggil seseorang kepadaku, aku menoleh. Melihat siapa itu, ternyata dia Ahsan. Lelaki seumuranku dengan badan tegap itu nampak tersenyum, mungkin senyumnya mengerikan karena giginya yang tidak terlalu rapi. Ku lambaikan tanganku kepadanya, perlahan dia berlari ke arahku.
“Mad, nanti kita punya tugas baru selain mengamen,”
“Apa? Mencopet? Cuih! Tak sudi aku,”
“Ehmm.. aku tak terlalu tahu Mad. Tapi kemungkinan bisa jadi mencopet,”
“Kau tahu San? Daripada aku melakukan hal hina itu, lebih baik aku mengamen. Ataupun mengemis,”
“Lalu bagaimana jika Bos marah?”
“Kita kabur saja darinya,”

“Tapi Mad, kau tahu kan kita selalu gagal dalam melarikan diri?”
“Ahsan! Tak ada alasan apa pun untuk lari dari hal-hal haram,” Ahsan terdiam, mungkin dia takut untuk melawanku. Karena aku yang bersikukuh melawan bos kami, tak ada toleransi ketika bos memerintah kami kepada keharaman. Aku tetap menolaknya, beberapa siksaan telah aku rasakan, karena beberapa waktu yang lalu aku menolak untuk mencopet. Bos menghajarku sampai babak belur. Tetapi, bos juga yang lelah karena aku tetap menolak keras.

“Mad,” panggil Ahsan.
“Hem..”
“Kemarin waktu aku megamen, aku melewati jalan komplek di dekat-dekat sini. Aku melihat ada sebuah surau di sana, tampak suram mengerikan, sepertinya warga setempat tidak mengurusnya,” Mendengar saja aku langsung bergetar, bulu-bulu halusku meremang.
“Lalu?”
“Ada sesuatu aneh di sana, semua bisa ku rasakan,”

“Heh, kau mengandalkan perasaan? Tak baik San! Pakai akalmu, berpikir rasionalah San,”
“Benar Mad! Percaya padaku, sepertinya surau itu berpenghuni,”
“Maksudmu makhluk-makhluk halus dan kawan-kawannya itu? Cuih, semua memang berpenghuni San. Bahkan mereka di sampingmu,”
“HUWAAA!” refleks Ahsan melompat mendekatiku, dia memelukku.
“San! Apa yang kau lakukan. Lepaskan pelukanmu!” Ahsan cepat-cepat sadar dan melepaskan pelukannya. “Apa-apaan kau ini? kau lelaki San tak perlu takut seperti itu. Justru kita ciptaan yang sempurna, mereka yang takut pada kita,” Ahsan hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu.
“Baiklah kita akan ke sana,”

Panas mentari menyusup ke udara siang ini, menyeruak di tengah hiruk pikuk kehidupan, menerpa tanpa ampun. Begitu pula dengan helaian angin, tak hadir terlalu lama, cepat-cepat pergi karena kuatnya hempasan polusi-polusi yang diciptakan tangan-tangan para b*debah. Tetapi kecamuk polusi siang ini tak menyurutkan semangat Ahmad dan Ahsan untuk mengamen. Ahmad tidak hanya mengamen hari ini, tetapi ia juga membawa beberapa lembar Koran yang ia peroleh dari juragan Koran, ia menjualnya hingga habis.

Apa saja yang dijualnya selalu habis. Entah dengan taktik apa dia menjual. Ahmad duduk di depan warung yang sudah tutup, ia mengibas-ibaskan topinya. Udara panas mempercepat keluarnya keringat, haus pun sudah mencabar di tenggorokannya. Tapi ia tahan dalam-dalam tak ada air yang bisa membasuh tenggorokannya yang kering, namun rezeki Allah pun datang, sayup-sayup Ahmad melihat seorang lelaki berlari ke arahnya, Ahsan. Ahsan berlari membawa sebotol air dingin, Hmm.. nampak segar.

“Ini!” suguhnya kepada Ahmad, buru-buru Ahmad merenggutnya dan menegak air itu hingga raib.
“Terima kasih San,”
“Ya sama-sama,” mereka masih terdiam, mengusap peluh yang bercucuran dan mengipaskan kardus ke tubuh mereka sendiri.
“San, bagaimana? Apakah kita jadi menuju tempat itu?”
“Tentu saja jadi,”
“Lalu apa yang kita tunggu?”
“Aku menunggumu,”
“Baiklah ayo kita pergi ke tempat itu,” mereka pun berjalan beriringan, menuju surau yang seram di tengah-tengah keramaian hiruk pikuk manusia. Sesuatu akan membuatnya terkejut di sana.

Terdengar sebuah suara bukan erangan bukan derapan, bukan pula tangisan. Tetapi ketiplak sandal. Suara itu berasal dari sandal milikku dan milik Ahsan. Kami berdua benar-benar mendatangi surau di tengah-tengah komplek milik orang-orang menengah atas. Benar-benar megah, sampai-sampai surau itu tak terlihat. “Mad, itu Suraunya,” telunjuk Ahsan mengarah ke sebuah bangunan suram. Langsung saja aku meremang, melihat penampakan yang ada. Lantai Surau itu kotor banyak daun-daun kering berserakan di sana, menghiasi lantai tekelnya yang sudah kusam.

Di temboknya pun telah dirambati dengan tumbuhan-tumbuhan sulur ataupun yang lainnya, lampu yang melekat di plafonnya juga temaram. Sayup-sayup kami berdua mendengar suara tawa, aku memandang Ahsan. Lalu mengangguk tanda kita akan memasukinya. Terlihat Ahsan menenggak ludahnya karena ia takut, tapi aku memaksanya. Kami pun masuk, berhati-hati melangkahkan kaki. Pintu Surau itu tertutup rapat dengan rantai besi yang bergembok. Tawa itu semakin terdengar jelas, aku pun memberanikan diri mengintip dari jendela yang sudah lapuk.

Nampak lima orang preman di sana, tentunya dengan dandanan yang khas, beberapa tindik dan tato bersemayam di tubuh mereka. Tampak mengerikan bukan seperti hantu, lebih parah lagi dari hantu. Mungkin seperti manusia pahatan yang tak terukir sempurna, bisa dibilang jelek dan mengerikan. Aku menoleh kepada Ahsan. “Ada dua orang,” bisikku pelan. Ahsan masih tampak ketakutan, namun ia menengok juga. Ku tengok sekali lagi, di meja yang ada di hadapan mereka. Banyak kacang serta kulitnya, beberapa arak pun berdiri di sana. Serta jarum suntik, serbuk dan pil-pil yang entah apa itu namanya. Ternyata kami melupakan dua orang, ada dua orang wanita di sana dengan dandanan yang terbuka. Aku pikir itu pel*cur. Di saat kami asyik menonton tiba-tiba..

“BRUAK!!”

Gawat, jendela yang kami pegangi ambruk karena lapuk, refleks saja salah satu dari mereka ada yang berteriak.
“SIAPA ITU?” dengan nada yang mengerikan, aku dan Ahsan cepat-cepat bangkit. Tetapi sebelum kami meninggalkan tempat itu, si preman dengan kepala botak itu telah mempergoki kami. Buru-buru aku menarik Ahsan untuk berlari.

Kami berlari berdua, dadaku bergemuruh kencang. Ketika melihat tiga preman mengejar kami berdua. Kami belok ke kanan jalan di pertigaan, degan sekuat tenaga kami berlari. Untung saja sore ini sepi sehingga tidak banyak orang yang membuat kami sulit berlari dengan leluasa. Oh tidak! Jalan buntu, aku berpikir keras, akhirnya ku putuskan untuk meloncati dinding yang lumayan tinggi itu. Keberuntungan itu pun berada di pihak kami. Karena di sekitar gang-gang itu ada boks-boks yang dapat membantu kami, dengan cepat kami susun dan meloncat dari tembok itu. Kami bersembunyi di semak belukar di balik dinding, napas kami memburu, peluh pun bercucuran hebat. Ku lihat muka Ahsan mulai memucat. Karena kau tahu Ahsan memang anak yang lemah.

“San, kau tak apa?” tanyaku dengan napas yang masih memburu.
“Aku tak apa hanya sedikit pening,” katanya dengan peluh yang membasahi dahinya.
“Baiklah ayo kita pulang,” aku dan Ahsan pun berdiri lalu berjalan santai. Siang ini benar-benar melelahkan, pertanyaan-pertanyaan masih menggelayuti otakku. Tentang apa-apa yang ku lihat, tetapi siapa yang bisa menjawabnya? aku menerawang ke angkasa, menatap senja dengan semburat warnanya. Senjakah yang dapat memberi aku jawaban? Tak mungkin ataukah pasukan burung yang kembali ke peraduannya? Entahlah hari yang menyimpan misteri.

Malam pun datang, kembali membawa kesunyian, senyap menguasai alam. Saat purnama tak tampak, tak ada cahaya temaram, karena hanya gugusan bintang yang menguasai saentero angkasa malam. Racauan burung malam pun merebak, terdengar jelas malam ini. Alih-alih mereka yang menguasai petang. Mataku menatap tajam langit-langit kamar, tampak usang dan tak layak pakai. Di atas tikar-tikar kardus aku dan teman-temanku terlelap dalam buaian angin malam. Dingin itu pasti, hanya selembar Koran yang menjadi selimut untuk kami, terkadang dingin masih sangat menusuk. Walaupun Koran telah menutupi tubuh kami. Sangat menyiksa, tapi apalah daya? Kepada siapa kami meminta, jika bukan ke Tuhan yang maha kuasa.

“Mad?” panggil Hasan lelaki dengan muka tampan dan perawakan tinggi tegap.
“Apa?” aku menoleh kepada Hasan.
“Kau tahu Surau itu Mad?”
“Surau.. di komplek sebelah sini?”
“Iya, begitu tragis kisahnya sampai-sampai Surau itu tak digunakan lagi,”
“Hanya karena itu saja, namun aku tak terlalu percaya, sekehendakmu sajalah,”
Suasana kembali senyap, tapi tak lama.

“Aku melihat Sesuatu tadi di sana, ada beberapa preman, dua pel*cur, dan tak lupa. Serbuk, jarum suntik, dan beberapa pil-pil yang entah apa itu namanya,”
“Benarkah? Itu nark*ba Mad!” seloroh Hasan dengan suara agak meninggi.
“Makanan apa itu?”
“Itu bukan makanan, lebih tepatnya obat-obatan terlarang! Negara dan agama pun telah melarang penggunaannya,”
“Apakah banyak yang memakainya?”
“Di luar sana banyak Mad,”

“Apa gejala yang timbul saat selesai penggunaannya?”
“Beberapa dari mereka mengalami pening, mual, tenang, melayang, dan gejala lainnya. Biasanya nark*ba adalah pelarian bagi orang-orang yang dirundung berbagai masalah yang tak ada solusinya. Bahkan, jika sudah sering mengonsumsinya akan menimbulkan kecanduan. Orang yang sudah ketergantungan pada nark*ba bisa berujung pada kematian,”
“Pantas saja, orang-orang banyak memakainya,”

Lagi-lagi harus senyap, mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“San, aku punya rencana,”
“Rencana? Untuk apa?”
“Bukannya kau tadi berseloroh? Negara dan agama telah melarangnya, berarti ada hukuman bagi penggunanya,”
“Tepat sekali!”
“Ayo kita rancang malam ini, bangunkan Ahsan!”
Malam pun semakin merangkak, di dalam kelamnya malam, di tengah buaian angin, telah tertulis rencana Tuhan. Digoreskannya dalam lembaran lauhul mahfudz.

Angkasa suram hari ini, entah mengapa? Mungkin ia tengah bersedih, dan sebentar lagi curahan air matanya akan segera mendera bumi dengan hebat, mencabar ke dalam tanah. Memberi kesegaran tiada tara kepada tanah yang sudah terlalu lama kering. Semua tak lepas dari tangan hebat Sang pemilik rahmat. Aku memulai rencanaku hari ini, bersama Ahsan dan Hasan aku memberanikan diri. Telah sampai di hadapan kami surau yang suram. “San, sedia di tempat,” Ahsan pun mengangguk dan berlari ke pertigaan di dekat surau. Aku masuk bersama Ahsan, napasku kembang-kempis karena surau itu begitu pengap, pandangan para preman pun langsung mengarah ke kami berdua.

“Woi bocah ingusan! Apa yang kalian lakukan di sini? kalian cari mati?” tanya seorang berkepala botak dengan tato di leher dan kepalanya.
“Kita adalah anak buah dari Bang Mat Codet yang diperintahkan ke mari,” aku menjawab agak ragu, tapi perintah Bos memang di tempat ini. Untung saja, Bos memang benar-benar memerintahkan kami. Ini bisa mengelabui para Preman tentang rencana kami, setidaknya kami tak terlalu mencurigakan.
“Baiklah, kalian dikirim ke sini untuk bekerja. Kalian tahu pekerjaan kalian apa?” Kami menggeleng pelan.

“Pekerjaan kalian adalah menjadi pengedar nark*ba,”
“Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang hebat, karena kalian harus mengirimkan ini tanpa diketahui seorang pun, tentunya pekerjaan ini membutuhkan strategi yang hebat, agar dapat sampai ke konsumen tepat waktu tanpa ada yang mengetahui,”
“Cuih! Apa yang mereka bilang? Hebat? Ya Tuhan, pekerjaan hina mereka bilang hebat? Apa kata mereka nanti saat menemui-Mu di hari kebangkitan?” kataku dalam hati.

“Selamat datang di club ini, aku harap kalian dapat bekerjasama. Tetapi ingat! Jika kalian berkhianat, tamatlah riwayat kalian! Huahahaha..” tawanya menggelegar, yang benar saja. Sangat mengerikan hingga buluku meremang. “Kalian bisa menegak ini,” preman itu menyodorkan cairan haram, oh Tuhan! Tak sudi aku meminumnya. Lebih baik aku mati saja daripada harus menenggak cairan haram itu.

“Tidak bang, maaf..” kataku dengan sedikit siratan senyum ketakutan.
“Oh, tak apa jika kalian tak mau,” ah.. leganya aku mendengar.
“Baiklah, langsung saja tugas kalian hari ini adalah mengantarkan ini ke bla.. bla.. bla.. bla..” dia menjelaskannya panjang lebar.
“Pesanku, kalian harus menghindari polisi, apa pun keadaannya, hindari polisi!” aku mengangguk saja.
“Baiklah, jika kalian sudah mengerti, aku tanya sekali lagi. Kepada siapa kalian harus menghantarkannya?” ya, episode ini akan segera dimulai.
“Kepada,” aku menoleh kepada Hasan.

“Polisi!” kami pun segera berlari meninggalkan tempat, preman itu gelagapan dan langsung mengejar kami.
“Woy! Bocah tengik! Berhenti kalian!” teriaknya mengerikan, tiga preman mengejar kami. Ketika kami sampai di pertigaan dekat surau, langsung saja aku berteriak.
“PUKUL AHSAN!” Ahsan mengayunkan tongkatnya keras-keras hingga mengenai kedua preman, dan pukulan itu tepat di mukanya. Langsung saja dua preman itu tak sadarkan diri dan tumbang, bagus! hanya tinggal satu. Tapi kami tak boleh meremehkannya.

“Hasan! Sudah kau bawa kotaknya?” tanyaku dengan volume suara meninggi. Hasan mengangguk saja, benar-benar picik cara mereka untuk mengelabui musuhnya, mereka melapisi kardus berisi nark*ba itu dengan sampul yang bertuliskan kotak amal. Aku menoleh kepada Ahsan.
“AHSAN! Apakah kau masih kuat?” tanyaku masih dengan suara meninggi, oh tidak! Mukanya mulai pucat, dan tak lama kemudian ia terjatuh. “AHSAN!” teriakku lantang, preman itu mendekati Ahsan dengan senyum piciknya. Aku mengedarkan pandanganku sejenak mencari Hasan, oh Tuhan! Hasan menghilang. Apa yang harus aku lakukan? Preman itu tepat di samping Hasan, dengan belatinya. Ia mengancamku dengan mendekatkan benda tajam itu ke leher Ahsan.

“Ahmad! Tolong aku..” pekiknya lemah.
“Hehehe.. jika kau tetap berlari dan maju. Mangkatlah kawanmu ini,” ucap Preman licik itu.
“JANGAN! JANGAN BUNUH DIA!” pekikku lantang. aku berpikir keras, mencoba menemukan jalan keluar, tapi laksa amarah berkelindan hebat di dadaku dan otakku, membuatku sulit berpikir jernih dan bernafsu menonjok mukanya keras-keras. “Jika kau ingin temanmu selamat, maka kau harus ikut kembali denganku,”

Apa? setelah aku berlari sejauh ini, aku harus menyerah pada mereka? Tak mungkin, hal yang gila! Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tiba-tiba, aku mendengar suara tembakan dan gemuruh suara mobil polisi, pertolongan itu pun datang. Ketika aku melihat raut wajah Preman itu tampak kebingungan dan takut, mobil polisi itu pun sampai di tempat, buru-buru Preman itu berlari tunggang langgang, tetapi sayang. Karena ia kurang gesit, polisi pun mengejarnya. Aku berlari mendekati Ahsan yang Rebah di atas tanah, mukanya terlihat pucat pasi.

“Ahsan kau tak apa?” tanyaku harap-harap cemas, Ku lihat belati dengan percikan darah di sampingnya. Oh tidak! Preman itu melukai Ahsan, darah segar mengucur pelan dari sayatan luka di perut Ahsan, sekarang ia tak sadarkan diri. “Ahsan! Bertahanlah,” dengan tenaga yang masih tersisa, ku gendong ia ke Rumah Sakit terdekat.
“Ahsan! Bertahanlah! kau harus kuat!” titahku dengan derai air mata.

Curahan hujan kembali mengguyur bumi, menciptakan suasana dingin dan menambah syahdu. Setiap tetesnya adalah nikmat, setiap helainya adalah kasih sayang. Halilintar pun ikut menyayat beberapa celah angkasa, menggelegar penuh kekuatan. Di depan Rumah Sakit, di sebuah kursi panjang, aku duduk. Begitu menyayat hati kenyataan hari ini, air mata pun mengalir tak terbendung. Mungkin agak tabu jika lelaki sepertiku menangis, tetapi menangis adalah obat yang paling mujarab saat kau dirundung masalah ataupun duka. Asalkan kau tahu? aku hanya ingin menghilangkan sedikit luka. Seseorang duduk di sampingku, aku tak menolehnya. Tetapi jemarinya pelan menyentuh bahuku.

“Ahmad..” Suara itu begitu lembut, aku mengusap air mataku. Mencoba mengingat-ingat suara itu, ku tolehkan pandanganku perlahan. Seorang wanita berkerudung lebar dangan warna merah marun nampak tersenyum lembut kepadaku.
“Ahmad.. namamu Ahmad Shallahuddin kan?”
“Iya, bagaimana anda mengetahui nama saya?”
“Aku Bunda Mad, Bunda yang telah lama kau cari,” ucap wanita itu dengan deraian air mata, entah bagaimana bisa? Kenangan bersamanya berkelindan hebat di otakku. Semua ingatanku kembali, dan menemukan sebuah memori. Ternyata wanita ini adalah Bunda, aku hafal dan ingat betul bagaimana senyumnya.

“Bunda..” aku meraih tangannya, mengecupnya pelan. Dan menghambur ke pelukannya, air mataku semakin menjadi. Tapi ku tahan kuat-kuat. Bagamana bisa? Saat ini Allah berikan aku ujian lewat Ahsan, tetapi Allah juga langsung memberiku kejutan membahagiakan lewat Bunda. Aah.. aku tak paham, skenario sang pemlik cinta lebih indah. Aku menghapus air mataku, melepas pelukan bunda, mencoba menjadi lelaki tegar. Seorang lelaki tersenyum manis padaku, itu Ayah. Dan di sampingnya lelaki tampan seumuranku, Hasan. Aku tahu, kepergiannya pasti yang membuahkan ini semua.

“Hasan, pasti kau yang memanggil polisi,”
“Tentu, maafkan aku Mad, aku meninggalkanmu barsama Ahsan,”
“Tak apa. Semua baik-baik saja,”

Hari itu pun menjadi sejarah, tergores indah di lembaran lauhul mahfudz, di sanalah skenario telah tertorehkan. Gelegat rasa haru, bahagia, amarah berkecamuk menjadi satu. Entahlah bagaimana caranya? Karena Dialah itu terjadi, Dialah yang Maha membolak-balikkan perasaan. Yang menciptakan berbagai rasa. Agar manusia dapat melaksakan berbagai laksa, untuk semakin mensyukuri. Bukan malah mengkufuri.

Seseorang pernah berpesan padaku, “Karena dia juga titipkan amanah, menciptakan manusia dengan sebuah alasan. Yaitu untuk bersujud menyembahnya dan terus beribadah kepadanya, tentunya dengan berbagai bekal yang berharga tiada tara. Salah satunya ialah tubuh yang sehat, maka dari itu Ahmad. Jangan membuat dia murka! Jangan pula membuat dirimu hina! Dengan hal yang terlarang. Ataupun sepele berupa nark*ba, Ahmad yang saleh, jangan pernah dekati benda itu ya. Dia titipkan amanahnya, padaku, padamu, dan seluruh generasi muslim di dunia. Hidup sehat dan bahagia tanpa nark*ba di bawah Negara islam dengan syariatnya,”

~SFAY.LcIAnotherAlghuroba~

Cerpen Karangan: Sindhi Fitria
Facebook: Bungkam Dilumat Bumi
Sindhi Fitria adalah salah seorang siswi Smp Bina Insan Mandiri, ingin menciptakan banyak novel inspiratif seperti Sayf Muhammad Isa Dan Darwis Tere Liye, suka menggambar manga, dan berharap masuk di Univ Al-Azhar Mesir. Penulis juga suka menonton anime loh.

Cerpen Di Rumah Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kawan Baru

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama sekolah, Adit bergegas pergi ke sekolah karena dia tidak mau terlambat. Adit adalah siswa baru SMP PERTIWI, pada hari itu tidak ada jam pelajaran

Karena Kamu

Oleh:
Kata orang sahabat itu seseorang yang sangat mengenal dirimu, dia yang selalu ada saat kamu butuhkan, yang tidak menuntut balasan apapun atas apa yang telah dia lakukan untukmu, dia

Sepucuk Surat Berbalut Rindu

Oleh:
Jangan kamu sebut ini sebagai surat cinta hanya karena aku menggoreskannya dalam secarik kertas putih tak bernyawa. Sebutlah ini sebagai curahan hati dan kamu menjadi tempat curhatku. (catatan kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *