Di Ujung Jembatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 February 2013

Hujan kembali membasahi bumi, menemani langkah kaki gadis kecil itu. Sedari tadi tak bisa diam. Lari kesana kemari, tak peduli air hujan yang telah membasahi tubuh kecilnya. Tapi selalu berhiaskan senyum dibibirnya. Hujan baginya adalah anugerah Tuhan yang terindah. Setiap tetes hujan yang turun, memberikan hadiah terindah baginya.

Jalanan mulai sepi, tapi gadis kecil itu tak beranjak dari sana. Ia masih terdiam dipinggir jalan dengan payung ditangannya. Berharap masih ada orang yang membutuhkan jasanya. Tak peduli dengan tubuh kecilnya yang mulai menggigil dan malam semakin larut.

Seorang ibu melambaikan tangan padanya, dibelakangnya seorang anak yang sedang tertawa bahagia. Gadis kecil itu segera berlari kearah mereka. Memberikan payung dan berjalan dibelakangnya. Setelah diberi uang, ia segera kembali ketempatnya. Tatapan matanya masih tertuju pada ibu dan gadis tadi. Dalam hati gadis kecil itu, amat bahagianya mereka. Andai saja aku jadi gadis itu, hidupku takkan seperti ini.
“Lea… ayo pulang. Hujan sudah reda.” Perintah seorang lelaki.

Lea, nama gadis kecil itu, mengikuti langkah kaki lelaki itu beranjak dari jalanan. Berjalan melewati jalanan yang mulai sepi, tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka. Lelaki itu berjalan cepat menatap jauh kedepan, sedangkan Lea mengikutinya dengan kepala menunduk. Sampai disebuah jembatan, gadis kecil itu berhenti.
“ Ayah…” panggil Lea.
“ Ayo Lea, kita harus segera pulang.” Ujar lelaki yang dipanggilnya ayah itu. Seperti mengerti apa yang dipikirkan Lea.
Ayah, ada apa dengan jembatan ini? Apakah ini sangat berarti untuk Lea? Mengapa tiap kali Lea melewati jembatan ini, jantung Lea berdetak lebih cepat? Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu Lea? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berkecambuk dalam diri Lea.
Terkadang samar-samar sesosok bayangan muncul dalam benak Lea. Sepertinya seseorang yang Lea sayang. Seseorang yang Lea tunggu kedatangannya. Tapi Lea tak tahu siapa itu. Lea tak mengerti arti semua itu. Semakin lama Lea memikirkannya. Semakin terasa sakit kepala dan hatinya.

Disebuah jembatan, seorang gadis kecil berdiri sambil memeluk boneka bersama sang Bunda dan seorang lelaki yang tak ia kenal.
“Lea… kamu ikut Ayah ya, besok Bunda akan menjemput kamu.” kata sang Bunda. Dengan ragu-ragu Lea bertanya, “Ayah?”.
“Mulai sekarang paman ini adalah Ayah Lea.” Ujar Bunda sambil menunjuk lelaki di sebelahnya. “Tapi besok bunda jemput Lea kan?” Tanya Lea. “Iya sayang, Bunda janji. Kamu jangan nakal ya kalau bunda tidak ada. Kamu harus nurut sama Ayah Lea.” pesan sang Bunda.
Lea hanya mengangguk pelan. Tatapan matanya tak henti tertuju pada sang Bunda, yang perlahan menghilang dari pandangannya. Tak terasa air mata jatuh dipipinya. Ia tak rela dengan kepergian sang Bunda. Diiringi dengan turunnya air dari langit.

“Ayo Lea kita pulang, hujan mulai turun.” Kata sang Ayah. “Lea mau nungu Bunda.” Kata yang terucap dari hati gadis kecil itu.
Sang ayah membiarkan Lea menunggu di jembatan itu. Lama kelamaan gadis kecil itu pun mengantuk dan tertidur. Ayah membawanya ke sebuah gubuk tak jauh dari jembatan itu. Dipandanginya Lea, gadis kecil tak berdosa yang akan tinggal bersamanya.

Keesokan harinya, Lea meminta sang ayah mengantarnya jembatan itu. Awalnya sang Ayah enggan untuk mengantarnya, tetapi Lea malah menangis dan semakin lama tangisannya semakin keras. Akhirnya sang Ayah luluh dengan tangisan gadis kecil itu.
Satu jam…
Dua jam…
Tiga jam…
Sang Bunda tak jua muncul di jembatan itu. Lea mulai gelisah, ia mulai modar mandir disekitar jembatan. Sang Ayah hanya melihatnya, seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Bunda Lea tak akan kembali sayang.
“Ayah… kapan bunda akan menjemput Lea? Mengapa belum datang juga Ayah? Bunda tak akan meninggalkan Lea bersama Ayah kan? Lea sudah kangen dengan Bunda…”
Lea terus saja berbicara sendiri, hingga tak terasa air mata jatuh disudut matanya. Tetes demi tetes air dari langit mulai turun, seolah mengerti takut yang dirasakan Lea. Dalam hujan, sesosok wanita berdiri di ujung jembatan.
“Itu Bunda, Ayah” teriak Lea sambil berlari di seberang jembatan. “Lea tunggu…”
Belum selesai sang Ayah berkata, sebuah mobil menabrak tubuh kecil Lea. Lea terkapar dengan darah yang keluar dari kepalanya, sedangkan mobil itu terus saja melaju tanpa mempedulikan gadis kecil itu.
Sejak peristiwa itu, Lea kehilangan ingatannya. Ia hanya tahu, lelaki yang hidup bersamanya adalah Ayahnya. Walaupun sang Ayah tak banyak bicara tapi Lea tahu sang Ayah sangat menyayanginya. Ketika ia bertanya tentang sang Ibu, Ayah hanya berkata “Ibu telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya”, tanpa tahu apa penyebabnya.

Suatu malam yang dingin, diiringan nyanyian malam. Lea duduk bersimpuh diatas sajadah. Hujan jatuh disudut matanya.
“Tuhan… siapa aku sebenarnya? Beri petunjuk pada hambamu ini Tuhan. Jangan siksa aku dengan masa laluku. Jika Kau mengizinkan, biarkan aku ini tahu siapa hamba Mu ini. Agar aku tak tersiksa dengan bayang-bayang yang selama ini muncul dibenak hamba Tuhan. Atau biarkanlah hamba menemuimu di surga Mu.”
Ditempat yang sama, ada sesosok bayangan yang terus mengamati Lea. Lea yang sadar akan keberadaan bayangan itu, segera menyudahi doanya dan mengikuti bayangan itu. Dengan hati-hati Lea melangkah.
“Tak usah bersembunyi sayang… ikutlah denganku… kau akan bahagia bila bersamaku…” Sebuah bisikan dari bayangan itu.
Langkah kaki Lea terhenti ketika mereka berada dijembatan. Bayangan itu mulai terlihat samar-samar. Lea berlari untuk mengejarnya. Hingga bayangan itu hilang diujung jembatan, yang diikuti hilangnya sosok Lea.

Cerpen Karangan: Tyas HC
Facebook: https://www.facebook.com/hc.tyas

Cerpen Di Ujung Jembatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah, Maafkanlah Aku

Oleh:
Hari itu merupakan hari yang sangat penting bagiku, sekian tahun lamanya jerih payahku akan terbayar. Bersama teman-teman seangkatanku, itu adalah hari yang paling kami nantikan. Kami akan segera menyandang

Diari Rury

Oleh:
Aku menemukan sebuah diary ketika aku mengambil pakaian di lemari Rury, sahabatku. Setelah kubuka, ternyata buku itu memang miliknya. Aku tak mengira sahabatku yang cukup pendiam ini suka juga

Benarkah Kak?

Oleh:
Di tepi hati nan lara, terusik kata tajam yang menusuk, layaknya angin mencekam yang menembus pori-pori jiwa. Walau usia semuda pucuk daun teh, angin yang merajam tetap dirasa, bahkan

Say Bye Bye

Oleh:
Pagi itu, aku duduk di atas ayunan. memandangi indahnya alam ini. “Terima kasih maha besar, terima kasih kau telah berikan aku hidup, masih bisa bernafas, dan mempunyai seorang bunda

Ranah Itu Bertuan, Malam Diperuntukkan

Oleh:
Yang kutahu dirinya adalah anak dari keluarga terpandang. Entah itu benar ataupun salah, aku pun kurang yakin. Terlebih kulihat beberapa warga selalu menundukkan kepala acapkali orangtua Janni lewat. Hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *