Dia Hanya Ingin Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 November 2016

Pagi hari itu, seperti biasa, aku berangkat menuju SMA. Bukan untuk mengikuti pelajaran, karena memang sudah selesai UNAS, si penentu kelulusan pada waktu itu. Sekolah 3 tahun dan hanya ditentukan dalam 6 hari, lucu rasanya. Tak terasa 3 tahun masa SMA terlewati. Sungguh, tak terasa, begitu cepat seperti baru bulan lalu mendaftar di salah satu SMA favorit di kota Kediri, dan sekarang sudah selesai masa sekolah itu. Masa-masa paling indah, begitu kata orang-orang. Dan memang betul, masa ini sangatlah berkesan! Susah senangnya seperti bumbu masakan yang meskipun pedas tapi tetaplah enak dinikmati. Kekonyolan-kekonyolan seperti tidur di kelas, izin ke kamar mandi namun pergi ke kantin, dan, yah, candaan-candaan yang membuat perut sakit yang sudah tak terhitung jumlahnya kulakukan hampir setiap harinya. Kali ini di setiap langkah menyusuri sekolahku, sudah tak ada pelajaran yang menyambut. Hanya teman-teman yang datang untuk menunggu pengumuman dikeluarkannya ijazah. Ya, dan kami mulai lagi candaan-candaan seperti setiap harinya.

Diantara temanku itu, salah satunya adalah Endi. Kami sangat akrab, meskipun tak sekelas. Aku dan endi berada dalam satu kepengurusan organisasi baris berbaris. Dia suka bercanda, membuat lawakan-lawakan yang kadang garing namun tetap saja ada yang tertawa. Pernah suatu saat dia bercerita ingin menjadi seorang stand up commedian atau komika suatu saat, mencoba untuk menyajikan lawakannya itu. Namun entah kenapa sampai saat ini dia belum pernah maju ke atas panggung untuk melawak, meskipun panggung kecil setingkat kelurahan. Endi yang memang punya banyak sekali angan-angan. Dia sering menceritakannya dengan semangat berapi-api. Mulai dari ingin menjadi penemu yang menemukan hal-hal baru yang bermanfaat, menjadi gamer dan mengikuti kompetisi tingkat internasional, dan banyak lagi. Namun yang paling membuatku larut dalam ceritanya adalah keinginannya membuat suatu program upacara bendera di sekolah pelosok setiap 17 agustus. Dia ingin memulainya saat dia kuliah nanti. Ya, dia bercerita dengan khidmatnya, menjelaskan setiap detail, saat pasukan yang dilatihnya mengibarkan sang merah putih, memakai pakaian putih-putih khas paskibra, dan disaksikan para orangtua mereka, yang mungkin hal itu adalah pengibaran sekali seumur hidup anaknya. Dan aku masih ingat sekali keinginannya itu.

Selama 3 tahun Endi mengurus organisasinya itu bersamaku. Mulai dari dilatih para senior yang kadang kejam kadang ramah, dengan beratur-ratus push up, hingga melatih adik kelas kami. Aku masih ingat saat dia menentang sistem kepelatihan adopsi dari kakak kelas kami. Dia lantang mengungkapkan bahwa sistem lama itu sudah tidak bisa diteruskan. Dia ingin teman-teman seangkatanku yang satu organisai untuk bisa melatih sesuai kepribadian mereka. Tak perlu diberikan topeng, sehingga menjadi kakak yang suka marah-marah dan kakak yang sangat ramah. “kita pakai topeng, adik kami hasilnya pasti juga bertopeng mas”, katanya saat itu. Dia juga ingin membuat hubungan antara adik kelas dengan pelatih jadi lebih harmonis, tidak seperti yang dia rasakan dulu. Atasan selalu benar, dan berhak marah sesukanya meskipun alasannya sepele. Jelas, gagasan itu pasti ditolak kakak kelas. Namun memang dasar endi yang kukenal suka menentang, akhirnya dia tetap menjalankan gagasan itu, tentunya bersamaku, dan juga teman-teman lainnya, dan kami memliki pemikiran yang sama. Ya karena kami ngeyel, akhirnya kami seperti didiamkan oleh senior. “Cuek saja, mereka tidak terima ya sudah. Kita kasih saja hasilnya. Yang penting kita tetap bareng temen-temen”, kata Endi. Meskipun begitu, endi tetaplah seorang yang menghormati orang yang lebih tua darinya. Masih sering menyapa kakak-kakaknya itu, meskipun tak jarang diacuhkan.

Kenangan itu masih terus teringat. Masa-masa memberontakku saat itu bersama endi, dan juga teman-teman lainnya. Begitu semangatnya, berapi-api dan berani. Seperti menjadi manusia paling berani yang pernah ada saat itu, tak peduli meskipun tak sejalan dengan kakak kelas, yang kami tahu hanyalah mengikuti kata hati. Saat itu kami berpikiran, apa yang tidak baik bagi kami, cukuplah untuk kami saja, tak perlu diberikan pada orang lain. Dan hal-hal seperti itulah yang membuatku tak bisa melupakan masa SMA ku. Sekarang aku kuliah di salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Kebetulan aku dan Endi satu universitas, namun beda jurusan. Aku berada di fakultas mipa, dan endi berada di fakultas teknik. Saat itu Endi lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, atau bisa disebut SNMPTN. Dan aku lolos seleksi setelahnya, yaitu tes tulis atau SBMPTN. Ya aku cukup bersyukur diterima di jurusan pilihan pertama.

Di masa awal kuliah itu memang masih biasa saja, tak ada yang menarik. Kecuali acara penyambutan mahasiswa baru atau yang lebih kental dengan sebutan MABA yang diadakan di tingkat universitas. Saat itu ditampilkan atraksi-atraksi dari unit kegiatan mahasiswa atau disebut juga UKM yang ada disana. Ya, begitu terkesannya saat itu. Kami disambut layaknya seorang yang mampu bersaing dengan banyak pendaftar lainnya untuk bisa masuk di sini. Sangat terharu, namun bukan karena kata sambutan itu, namun karena aku teringat orangtuaku harus membayar uang kuliah yang cukup mahal. Menurut kabar yang beredar akan ada beberapa tingkat dalam penyambutan maba ini. Mulai dari universitas, fakultas, dan jurusan. Dan saat itu namanya adalah PKKMB, atau Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru. Dan benar saja, hari kedua diadakan acara serupa tingkat fakultas, dan selanjutnya jurusan. Memang “sedikit” berbeda dari yang universitas laksanakan. Ada bentakan, ada suatu hal yang mungkin lebih senang kuanggap pamer ke-tua-an dari para senior yang sudah jauh lebih lama disana. Memang benar, sangat jauh lebih lama. Entah kenapa mereka lebih suka melakukan hal itu daripada memikirkan bagaimana mereka bisa segera menyelesaikan studinya. Mungkin aku coba berbaik sangka, mungkin mereka ingin menikmati masa kuliahnya. Dan acara-acara itu pun selesai, entah berapa lama aku tak begitu mengingatnya. Yang jelas lebih lama dari yang sudah dianjurkan rektor yaitu maksimmal 3 hari.

Sore itu hpku bergetar, ada pesan masuk. “Ntar malam di kos gak? Aku Dolan ke sana”. Dari Endi ternyata, sudah lama tak terdengar kabarnya, kira-kira hampir 4 bulan dari awal masuk kuliah. Entah kenapa dia tak ada kabar selama itu. Cuma kadang aku coba sms endi, dan baru dibalasnya 1 atau 2 hari kemudian. Maklum, kami berbeda fakultas, dengan kesibukan yang berbeda juga. “Iya kesini aja, santai.” Begitu jawabku. Endi pun datang ke kosku setelah maghrib. Dengan membawa tas yang berisi laptop, entah apa yang mau ia kerjakan. Dia datang dengan wajah yang begitu murung, tertekuk, antara sedih, marah, seperti banyak sekali cerita yang ingin ia sampaikan.

Tanpa kutanya dia mulai bercerita. Seperti biasa, dengan semangatnya, dengan marahnya, berapi-api. Namun satu hal yang berbeda saat itu. Ya, ia begitu sedih waktu itu. Aku tahu itu, jelas dari cara dia bercerita, cara dia marah. Dia cerita banyak tentang kehidupannya di kampus, kegiatan, dan kuliahnya. Dia merasa senang bisa kuliah di salah satu jurusan yang kata banyak orang sangat bagus prospeknya. Sayangnya dia merasa salah jurusan. Endi pernah bercerita sewaktu SMA bahwa dirinya tak ingin bertemu lagi dengan hitung menghitung, fisika dan semacamnya. Namun malah hal itu yang ia temui sehari-hari. Tapi sepertinya, yang membuat ia begitu sedih adalah orang-orang disana. Dia menyebutnya konco nyar.

Endi bercerita tentang bagaimana pengenalan kampus disana, yang ia menolak menyebutnya PKKMB, tapi lebih suka menyebut dengan Ospek. Ya meskipun namanya diganti, namun pelaksaan yang sama saja seperti mengurung mati pikiran seseorang, untuk menerima doktrin-doktrin kolot, katanya. Dia begitu geram dengan acara itu. Sangat marah sampai-sampai matanya merah saat menceritakannya. Wajahnya menyeringai, tampak urat-urat di kepalanya muncul membesar. Bagi dia, Ospek telah banyak mengubah orang-orang disana, termasuk mengubah teman seangkatannya. Semua begitu sempit dipandang, hanya berdasarkan ikut dan tak ikut, semua orang bisa ditentukan di sisi mana ia berada, baik atau tidak. Itulah Ospek yang diterima Endi. Aku yakin Endi yang ku kenal, dengan hal seperti itu pasti menyulut api berontaknya yang dulu sering ku tahu. Namun sepertinya kali ini berbeda.

“Tidak ada yang sepemikiran disana, seperti terasingkan.” Ucapnya pelan. Dia sangat sedih, mengingat semua jiwa semangatnya sewaktu SMA bisa terus menyala-nyala karena adanya teman yang selalu berada di sampingnya. Namun kali ini, sepertinya dia tak memiliki hal serupa. Dia hanya memiliki apinya saja. Seperti korek api yang hanya satu buah. Bisa menyala, namun akan habis bila tak ada korek lain yang terbakar. Ya begitulah dia. Sendiri, di kampus yang bahkan dirinya merasa salah berada di sana, dan sendiri dengan segala pertentangan yang dialaminya. Aku hanya bisa mendengarkan ceritanya, tak tau harus memberi saran apa. Yang jelas, dia tetaplah Endi sahabatku dengan jiwa berontaknya yang besar, yang sekarang tertunduk sedih menghadapi semua ketidak pantasan yang diberikan lingkungan kampusnya, sendirian.

Dia terdiam, seperti banyak pikiran yang menghantui kepalanya. Dia menolak, tapi pasti akan ditolak. Dan dia akan sendiri. Mungkin seperti yang ada di dalam pikirannya. Kemudian dia berdiri, dan melihat ke belakang pintu kamar kosku. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Dia memandangi foto teman-teman semasa SMA kami, teman-teman pelatih, yang dulu selalu bersama menjadi seorang teman, meskipun banyak sekali perbedaan. Endi serasa masuk ke dalam foto itu. Dia terdiam lama, memandangi selembar foto yang kutempel disana. Ya endi, aku tahu apa yang kau pikirkan, masa itu memang sangat indah. Namun waktu tak bisa berjalan mundur, memakan semua momen indah menjadi kenangan yang rapi tersimpan dalam sebuah foto.

Cerpen Karangan: Benefitto
Facebook: Benefitto Firstendi Hartoyo
seorang pemula yang ingin belajar menulis cerpen.

Cerpen Dia Hanya Ingin Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahman

Oleh:
Rahman, namanya singkat dan tak ada kepanjangannya. Setiap kali dia disuruh untuk menulis nama panjangnya, dia diam saja untuk beberapa saat, lalu kemudian berkata, “Aku tak tahu nama panjangku.”

Tak Ku Sangka

Oleh:
Ini kisah hidupku. Yang akan ku ceritakan pada dunia. Ini kisah cintaku yang ku tuliskan buat dia. Dia sahabatku. Semua dimulai semenjak masuk kelas 3 SMA. Saat aku dan

Kok Aku Sih Yang Kena

Oleh:
Ku awali hariku dengan bersekolah di pagi hari. Aku berangkat agak sedikit sebel dan cemberut, memang beberapa hari yang lalu aku sedang dicuekin dan cuek dengan para sahabatku. Saat

Pasir di Pucuk Ilalang

Oleh:
Gelap malam yang begitu menyelimuti bumi kecil dengan warna hitamnya yang menggugah kalbu, untuk terus menyebut asma-NYA seiring deras hujan bak air terjun dari pegunungan dan kilatan petir yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *