Dia Tak Bersayap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 February 2018

Pagi itu mataku leluasa memandang apa yang berada di depan, Lalu lintas sudah sangat sepi. Sudah hampir 1 jam saya berdiri di sini dan sesekali memandang jam doraemonku. Namun keresahan mendadak singgah di benakku ketika mendapatkan pesan dari Surya kakak saya bahwa dia nggak jadi jemput saya karena ada pertemuan mendadak di kampus. Saya tentu memilih naik mikrolet, namun yang kali ini mikrolet pun tak ada yang lewat.

Kepalaku terangkat ke atas dan memandang awan hitam yang sudah saling mengumpul dan siap menjatuhkan bebannya. Benar tak cukup 5 menit hujan pun mengguyur daerahku ini.

Dari sisi jauh ku melihat seorang anak kecil menggenggam payung bermotif bunga-bunga. Dia berjalan mendekatiku sambil memasang wajah yang tersenyum seakan dia benar-benar mengenalku.
Ketika dia berdiri pas di depanku ia menawarkan jasanya yang ternyata dia adalah seorang ojek payung. Dengan wajah cantik yang ia miliki seharusnya lebih cocok menjadi seorang artis cilik.
Saya menerima tawarannya, karena memang saya tidak ingin baju putih abu-abu yang kini kukenakan basah dikarenakan hujan.

Gadis kecil itu mengantarku ke bawah pohon besar yang rindang. Di bawah pohon itu ia memberhentikanku. Dan tampa menunggu waktu lama saya memberikan uang pecahan 50 ribu.

“Kakak nggak punya uang kecil? Karena ongkosnya cuma 2 ribu kak,” Tawar anak itu.
“Tak usah dek, ambil saja sisanya” Jawabku singkat
Tampak nyata senyum manis terpahat di wajahnya. “Terimakasih kak” Kata gadis itu padaku sebelum berjalan meninggalkanku.
Kaki mungilnya itu melangkah di bawah derasnya hujan yang menerpa kota ini saat itu. Namun dengan sigap saya menahan lengannya. “Adek istirahat aja dulu” tawaranku padanya.

Gadis itu memandang uang yang tadi saya beri yang kini ia genggam lalu beralih memandangku dengan mata besarnya yang hitam pekat.
Ia berdiri di depanku.

“Nama kamu siapa?” tanyaku padanya.
“Nama saya Sila kak, kalau kakak namanya siapa?” Ucap Sila.
“Nama saya Nurul.” jawabku atas pertanyaannya.
“Kak, Nurul itu kan cahaya. Dan benar kakak itu cahaya yang sempat mampir di hidupku sekarang ini.”

Saya hanya tersenyum mendengar perkataannya. Dan selang beberapa menit saya kembali melontarkan pertanyaan padanya.
“Dek, kok kamu bekerja jadi ojek payung gini. Memangnya orangtua kamu tidak melarang” tanyaku kembali.
Ia tak langsung menjawab, ia menunduk selama beberapa menit sebelum akhirnya angkat bicara. “Kak, mama sakit dan ayah tidak tau Ke mana. Kalau bukan saya yang menghidupi mama siapa lagi” katanya dengan bibir yang memucat dikarenakan kedinginan.

Kulihat dengan jelas matanya berkaca-kaca. Hujan semakin deras dan gadis itu pun melanjutkan pembicaraannya. “Dulu ada kakak yang menghidupi kami. Namun Tuhan lebih sayang kakak sehingga menjemputnya lebih awal. Tuhan menjemputnya dan mendahului kami. Matanya yang sedari tadi menahan air matanya telah berjatuhan. Hujan berhasil menerobos daun lebat dan menerpa pipi Sila lalu bercampur dengan air matanya sebelum air mata itu menyatu dengan tanah.
Saya merasa tersentuh dan membawanya ke pelukanku.

Setelah berhasil menenangkannya gadis itu mengajakku ke kediamannya dengan menggunakan payungnya. Kami melewati jalan-jalan berlubang yang sudah tergenangi air hujan. Namun tiba-tiba bus besar lewat dan menginjak lubang yang tentu air lubang itu membasahi bajuku. Diriku mengumpat kesal. “Argh!!! Ini semua gara-gara hujan.” Kataku kesal.
Gadis itu memandangku dengan tatapan serius. “Kak, jangan bilang begitu. Hujan inilah yang berhasil menghidupiku selama ini”
Sila gadis kecil itu berhasil membuatku bungkam dengan perkataannya barusan.

Ketika sampai di rumahnya, saya kembali memberinya uang pecahan 100 ribu hampir 25 lembar. Uang yang rencana ingin aku belanjakan di Mall untuk acara ulang tahunku yang sekitar satu minggu lagi. Gadis kecil nan lugu itu kembali meneteskan air matanya sebelum akhirnya memelukku.

“Kamu itu malaikat. Malaikat yang tak bersayap. Malaikat yang menyadarkanku akan kerasnya kehidupan. Malaikat yang mengajarkanku sebuah usaha dan kasih sayang” Bisikku di telinga kanannya sebelum diriku beranjak meninggalkannya.

Cerpen Karangan: Nurul Asrah
Facebook: Nurul Asrah Wahyu J Buraena

Cerpen Dia Tak Bersayap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1000 Langkah Maju

Oleh:
Ayah bingung aku mencari resep cream soup. Ayah bingung saat aku bertanya soal bumbu. Ayah bingung aku mau pergi ke pasar seperti ibu-ibu. Ayah bingung saat aku bertanya hal-hal

Warisan Fatimah

Oleh:
Kehidupan di SMA-ku normal-normal saja, Aku dan teman-teman sekelasku selalu belajar agar mendapatkan hasil yang terbaik saat ulangan. Di SMA-ku, ketika sebelum pelajaran pertama dimulai, Aku dan teman-temanku membahas

Pemahaman Sederhana

Oleh:
Kini malam begitu cepat berganti siang, semenjak dunia benar berputar malamku terasa sangat singkat tak cukup puas kunikmati tidur untuk beberapa saat saja. Saat kami masih tinggal di komplek

Kenangan Hidup

Oleh:
Tangan yang biasa menggenggam erat tanganku serasa masih hinggap dan siap untuk memelukku , kata kata lembutmu masih terdengar oleh telingaku , bahkan wajah amarahmu katakata itu yang membuat

Mengikuti Arus Kehidupan Di Desaku

Oleh:
Aku hidup di sebuah desa, dimana rakyatnya bekerja keras demi hasil panen yang maksimal, namun aku hanya duduk manis di atas kursi berlapis perak berukir bunga mawar dan terletak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dia Tak Bersayap”

  1. Dinbel says:

    Kerensss, jadi terharu bacanya. Di tunggu karangan selanjutnya yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *