Dialog Dengan Lampu Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 31 March 2017

Pukul sebelas malam, kota yang biasa ramai kini sudah bisa dibilang sangat sepi. Hanya ada beberapa warung atau kios yang masih buka. Itu pun sudah tidak ada pelanggannya. Katanya, dunia malam perkotaan sangat ramai. Banyak lampu berkelip dan musik yang terus menurus diputar, menggema. Tapi mana? Aku tidak meliatnya. Apa itu hanya omong kosong?

Aku berjalan, terus berjalan. Hingga akhirnya tiba di perempatan jalan. Sudah pukul setengah dua belas, jam tanganku terlihat menyala samar karena baterainya hampir habis. Kupandangi lampu merah yang ada di sana. Menghitung detik menunggu warnanya berganti. Hijau, kuning, merah. Merah, kuning, hijau. Terus seperti itu dengan waktu yang relatif tetap.

Pikiranku mulai berawang, berkhayal jika lampu merah itu bisa aku ajak bicara-mengobrol. Karena sudah lama aku tidak punya teman mengobrol, selain hatiku sendiri. Tapi itu tidak asik.

“Lampu merah, kenapa kamu disebut lampu merah? Kamu kan punya tiga warna. Lagipula, yang aku lihat. Semua orang lebih akan merasa senang jika melihat lampu hijau yang menyala dari peda warna merah. Tapi kenapa, kenapa kamu dipanggilnya lampu merah?” aku mulai berbicara, tentunya hanya di dalam hatiku. Aku takut, jika aku dianggap orang gila dan dipaksa masuk ke rumah sakit jiwa.

“Ini juga sudah malam, hampir tengah malam pula. Kendaraan juga tidak ada yang melintas. Hanya satu dua, itu pun dengan tenggang waktu yang cukup lama. Tapi kenapa kamu masih terus bekerja? Menggantikan warnamu setiap waktu. Dan percaya, deh. Walaupun kamu bekerja seperti itu, aku yakin kendaraan yang lewat tidak akan mempedulikannya.”

Sekarang aku duduk di pinggir perempatan itu. Mulai membuka bungkus nasi kuning kecil yang sempat tadi aku beli, harganya dua ribu. Dan teh tawar hangat, penjualnya memberikan itu secara percuma. Aku hanya cukup bermodal gelas plastik bekas untuk bisa mendapatkannya.

Satu sepeda motor melaju kencang di depanku, menghiraukan lampu yang sedang berwarna merah. Suaranya bising, ingin sekali aku berteriak memaki-maki.
“Tuhkan, aku bilang juga apa. Kendaraan yang lewat gak akan peduli lagi denganmu. Percuma kamu terus-terusan seperti itu, tunggu aja sampai besok pagi. Sampai jalanan mulai rame lagi, dan semua orang membutuhkannya.” Nasi kuning yang kumakan sudah hampir habis. Sedikit sekali memang, hanya dua ribuan.

Tepat setelah aku mencuci tangan dengan kertas bekas nasi kuning itu, ada suara yang sepertinya sedang bicara padaku. Tapi, di sini tidak ada siapa-siapa!
“Hey, anak manis. Aku senang kamu peduli, terima kasih.” Kaget, kukira ada petugas polisi yang masih berkeliaran. Dan kebetulan bisa membaca suara hati orang lain. Tapi ternyata dia salah satu lampu merah itu, dan sekarang dia benar-benar berada tepat di depanku -berpindah dari tempat sebelumnya.

Lampu merah itu seperti menciut (mengecil), sekarang ukurannya seperti lelaki dewasa. Ada dua tangan, dua kaki, dengan kepala masih berupa ketiga warna itu. Hanya saja, aku heran. Dia tidak mempuyai mulut. Lantas, bagaimana dia bisa bicara?

“Tadi kamu sempat bertanya, tentang mengapa aku terus bekerja bahkan tidak ada orang yang menggunakanku. Benar begitu?” Dia bertanya lembut. Jika saja dia punya mulut dan bibir, pasti sekarang ia sedang tersenyum.

Aku hanya mengangguk, tidak menjawab. Tapi jujur, aku sama sekali tidak merasa ketakutan dengan situasi seperti ini-serius. Aku merasa tenang, nyaman. Rasanya ada kehangatan yang keluar dari dirinya (lampu merah itu), dan menyelimutiku dengan sangat lembut.

“Kalau kamu ingin tahu jawabannya, maka ‘karena itulah kewajibanku’. Aku dibuat atau diciptakan, tidak lebih dan tidak kurang hanya untuk melakukan hal ini. Aku takut, jika aku tidak melakukannya. Tuhan-ku akan marah karena lalai dengan tugas dan kewajibanku. Aku juga takut, kelak aku tidak sanggup jika harus mempertanggung jawabkan apa yang aku lakukan.” Senyumannya terasa di hatiku. Padahal itu jenis ucapan yang seharusnya terkesan sedih.

Aku ingin bertanya sesuatu, tapi mulutku rasanya tidak bisa dibuka. Tapi entahlah, apa ini memang kehendakku untuk tidak ingin berbicara atau memang mulutku sedang dikunci untuk sementara.

“Kemudian, mengenai nyala lampu yang berganti setiap waktu dan terus menerus tanpa pamrih. Jika kamu sedikit lagi saja berpikir, sepertinya kamu akan tahu maknanya. Karena lihatlah, pertanyaan-pertanyaan kamu sebelumnya sangat luar biasa bagi anak seusiamu. Kalau saja aku orangtuamu, pasti aku akan merasa senang sekali bisa mempunyai anak sepertimu.” Itu kalimat pujian, aku tahu betul. Tapi kata-katanya barusan membuatku sedikit terpukul, bahkan bukan sedikit lagi -sangat terpukul.
“Sebenarnya itu menunjukan tentang kedisiplinan, kesetiaan, dan ketekunan. Apa perlu aku jelaskan juga?” aku mengangguk sebagai jawaban.

“Hijau, lalu kuning sebentar, dan merah. Kemudian setelah merah, kuning lagi sebentar, kembali hijau. Tidak pernah berubah, atau teracak. Itu menunjukan kedisiplinan. Kamu belum pernah melihat kan? Ada lampu merah yang nyala warna kuningnya lama sekali, kemudian hijaunya cuman sepintas. Wah, pasti jalanan akan kacau.” Sepertinya dia sedang mencoba bergurau. Aku mengangguk untuk pertanyaannya, dan tersenyum untuk gurauannya.
“Seperti pertanyaanmu tadi, tentang kenapa aku terus bekerja dan melakukan hal yang sama. Jadi seperti ini, anak manis. Itu menggambarkan kesetiaan dan ketekunan. Aku tekun dan setia dengan apa yang aku lakukan. Pada dasarnya semua orang tahu, bahwa kesetiaan itu adalah sesuatu yang sangat amat teramat baik sekali (lengkap kan?). tapi kenapa ada orang yang mengotori sesuatu dengan itu, seolah menyepelekan kesetiaan? Padahal sebenarnya dia tahu, bahwa setia itu adalah hal yang baik. Jika aku boleh berpendapat, maka jawabannya adalah, ‘karena dia sedang membohongi dirinya sendiri.’ Itu, itu jawabanku.”
“Tiga prinsip itu, jika kamu lakukan pasti kamu akan menjadi orang yang sangat hebat. Aku juga inginnya demikian dengan diriku, melakukan ini dan tumbuh luar biasa. Sayangnya aku hanya sebuah lampu merah, bukan manusia, atau anak-anak sepertimu yang masih punya jalan yang panjang. Percayalah dengan ucapanku ini, seperti aku mempercayaimu tentang ‘tidak akan ada yang peduli dengan menyalanya lampu merah jika tengah malam seperti ini.’ Bagaimana?” kurasakan, senyumnya lebih besar dari sebelumnya.

Untuk beberapa saat kami benar-benar saling diam. Tapi kemudian aku membuka mulut, dan mulai bertanya. Walalupun sudah jauh keluar dari topik.
“Mmm… Kamu sepertinya sudah dewasa, tapi kenapa menyebut dirimu dengan sebutan ‘aku’, bukan ‘saya’ yang dilakukan oleh orang dewasa lainnya ketika berbicara dengan temannya.” Itu hanya pertanyaan konyol anak kecil, tapi cukup untuk membuatnya tertawa.
“Tadinya, aku berusaha untuk menyesuaikan denganmu anak manis. Tapi sepertinya, aku kurang berhasil ya?” dia tertawa, mentertawai perkataannya sendiri. Sedangkan aku hanya bingung melihatnya.
“Sudahlah, itu tidak penting. Yang penting sekarang, kenapa kamu malam-malam berada di sini? Apa keluargamu tidak mengkhawatirkanmu? Dan di mana rumahmu? Kalau kamu kesasar, mari biar aku antar.” Pertanyaannya banyak sekali, mana bisa aku menjawabnya sekaligus.
“Ini rumahku, dari sana ke ujung sana. Dan dari sana ke ujung sana juga. Yang jelas, kota ini adalah rumahku. Aku bisa tidur di mana saja, sesukaku. Bagaimana? Aku cukup kaya bukan?” Aku nyengir, gigi ompongku sepertinya terlihat menggemaskan. Lihatlah, lampu merah itu seperti tersenyum.
“Ya sudah kalau begitu. Aku kembali bekerja dulu ya? Awas, hati-hati. Walaupun ini rumahmu, tapi di sini tidak begitu aman. Jadi pintar-pintarlah kamu menjaga diri. Ok?” dia berjalan menuju tempatnya sebelumnya. Tapi baru beberapa langkah, dia kembali menolehku.
“Oh iya. Jika kamu lapar dan memerlukan uang. Datanglah kesini, atau ke tempat diriku yang lainnya. Nanti jika aku menyalakan lampu merah, itu tandanya kamu harus bergegas mengumpulkan uangnya. Dan jika sudah terlihat kuning, segeralah ke tepi jalan. Jangan sampai tertabrak kendaraan. Oke, anak manis?” aku mengangguk dengan kuat.

Dia meneruskan langkahnya, sekarang sudah benar-benar kembali ke tempat asalnya. Ukurannya kembali menjadi besar dan bentuknya juga sudah seperti sebelumnya. Tapi tangannya masih ada, tidak hilang. Tangan itu sepertinya melupakan sesuatu. Benar, melambai. Setelah aku melambai, tangnnya juga ikut melambai. Tapi itu bukan lambaian perpisahan, namun pertemuan. Aku dipertemukan dengan makhluk yang mau mengurusku. Yahh walaupun memang bukan mengurusku menurut arti yang sebenarnya, tapi dia memberiku kesempatan untuk mencari nafkah, penghasilan, untuk kehidupanku yang entah bagaimana.

Jam di tanganku sudah benar-benar mati. Lagi pula, ini jam tangan yang aku dapatkan dari hadiah makanan ringan yang sempat kubeli beberapa minggu yang lalu.
“Sepertinya ini sudah hampir jam dua pagi.” Aku bergegas lari, mencari tempat untuk aku bisa memejamkan mata -istirahat. Supaya esok, aku bisa mulai melakukan apa yang dikatakan lampu merah tadi. Mencari nafkah di tempat ia berada.

Cerpen Karangan: Bitubitu
Facebook: Riz

Cerpen Dialog Dengan Lampu Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Imprecnable (Part 2)

Oleh:
“Katakan apa yang kau ketahui tentangku?” tanya Asrah. “Sebaiknya kau yang menceritakan semuanya padaku,” “Kau tahu kalau aku bukan manusia?” tanya Asrah lagi. “Dua tahun yang lalu di malam

Memecahkan Misteri (Part 2)

Oleh:
Lanel, si murid baru nan misterius, mengalahkan kehebatan semua orang pandai di kelasku. Itu membuat kami curiga lalu kami mulai melakukan penyelidikan. Dan kami temukan antena, dua buah baterai

Trapped In A Fairy Tale

Oleh:
“Masuk… masuk, kanan pak. Kanan, stop udah pak, taruhnya disitu aja” Ucap nyonya rumah kepada tukang kebunnya, Deno namanya yang sedang mengangkat sebuah meja lampu kecil ke dalam kamar

The Power ff Liar (Sang Pembohong)

Oleh:
Di pintu masuk suatu kampung yang paling maju di daerah iwak toman, tampak ramai. Beberapa orang berseragam mengelilingi 3 orang anak muda yang membawa alat-alat musik. Ketika diperhatikan seragam

Dream World

Oleh:
“Key, aku sangat penasaran dengan markas pink di taman dekat rumahmu itu!” Seru Kalissa tiba-tiba. “Ya, aku juga. Anehnya, semua orang tidak melihat ada markas pink di taman itu”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Dialog Dengan Lampu Merah”

  1. Nanda Insadani says:

    Bagus ya cerpennya. Sederhana tapi pesannya “joss” banget. Berusaha mengingatkan manusia apa yang mereka lupakan.

  2. terkadang benda mati pun bisa jadi cerminan untuk manusia agar berbuat lebih baik, keren

  3. Jovin says:

    Luar biasa! Tokohnya cuma lampu merah dan anak kecil (?) Aja dan cerita yang sederhana tapi menyentuh bisa membuatku berpikir “ada gak sih orang lain didunia ini yg memikirkan plot yang WOW ini?”
    Kalau aja ada kelanjutannya, mungkin nasib anak itu mungkin?
    Pasti deh, cerita ini akan menjadi cerita terbaik dihidupku XD .

  4. Arfa Aqil M says:

    Bagus banget, saya acungi jempol

  5. Lala says:

    awalnya sih baca iseng doang. ternyata abis baca hati aku kayak diketuk gitu. mau lanjuti aja agak merasa bersalah. alhasil aku cuma baca setengah.
    maafkan aku author… aku nggak kuku
    🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *