Dibalik Kabut

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 September 2018

Sudah tiga hari Ari tinggal di kampung halamannya sejak kepergiannya ke kota tempat ia menekuni ilmu.
Baru kali ini Ari pernah pulang ke tempat kelahirannya setelah setahun ia berada di rantauan di kota Semarang, kota sesak tapi diraimakan oleh setiap insan yang cinta ilmu dan cita-cita.
Maksud Ari pulang, karena terpendam kerinduan wajah nenek sudah keriput dan sakit-sakitan.

Lain dulu lain pula sekarang. Bertambahnya hari berarti bertambahnya sukma yang gila kemajuan.
Kini kampungnya Bangli telah banyak perubahannya. Pohon–pohon yang dulu kuning dan kering, kini telah segar. Barang kali akibat penduduk yang kini telah banyak mau mengatur dengan pola pembangunan desanya. Sedang rumah Ari sendiri tetap seperti dulu. Cuma itu saja. Apalagi kini rumah Ari hanya dihuni oleh seorang nenek bersama Sri adik sepupunya.

Di desanya kini sepi segala polusi. Yang ada cuma petani-petani penggarap sawah perladangan dan anak gembala yang membunyikan serulingnya di tengah padang rumput hijau lepas.
Burung di pagi hari, jangkrik di malam purnama saling melagu mengeluarkan ciri khasnya. Yang cukup terhibur dengan panorama desanya yang aman yang penuh keasrian.

Namun di hati Ari lain, ia pulang karena surat dari Sri yang memberitakan neneknya sakit keras. Memang benar. Malahan nenek tidak mampu bangun dari tidurnya. Berbaring terus. Terus menerus, sedangkan Ari di perkuliahanya sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir. Sungguh lara hati Ari menerima kenyataan ini.

Di rumahnya ia tidak dapat belajar, dia hanya menunggu dengan setia ketenangan neneknya, padahal ujian akhir dimulai pada minggu awal setelah kepulangannya.

“Kak, apa yang bisa perbuat untuk menyembuhkan nenek”, ucap Sri.
Ari diam, tak menjawab pertanyaan adiknya. Desah di hatinya sejak bergejolak perasaan perih berbaur, bercampur dengan pikiran kacau.
Kenapa jadi begini. Dosakah aku?, bisik hati Ari.

“Bagaimana, kak? Kita tak punya uang. Beras pun telah menipis”.
Hati Ari tambah pedih mendengar penjelasan adik sepupunya. “tak punya uang, beras telah menipis”, tak kalah nyerinya dengan goresan silet pada kulit dirasakan oleh hati Ari.
“Tenanglah, dik” Cuma itu yang keluar dari mulut Ari. Dan ucapan itu dikeluarkan dengan paksa akibat dada dan batin terasa sakit menusuk.

“Nenek perlu pengobatan segera, kak”.
“Tapi apa yang kita perbuat, dik”.
“Menjual ini…” Sri menunjuk jari manisnya.
Ari ingat, cincin itu adalah pemberian ibunya sebelum ia merajut tali pernikahan yang kutitipkan kepada Sri sebelum kepergiannya menimba ilmu.
“Simpan saja cincin itu, dik”, pinta Ari dengan nada berat.
“Lantas, bagaimana kita membantu nenek”.
“Kakak mau berusaha mencari uang, dan membelikan obat untuk nenek”.
“Di mana kakak mencari uang, dan membelikan obat untuk nenek?”.
“Kakak akan berburuh”
“Yang benar, kak”
“Tentu, dik”.

Satu setengah hari Ari meninggalkan rumah. Terkatung-katung mencari kerja. Ia hanya menperoleh uang dua puluh ribu rupiah, dari membantu memindahkan jeruk untuk dibawa ke Kota.
Uang itu digunakan untuk membeli obat neneknya dan sisanya untuk membeli beras. Atas usahanya neneknya semakin membaik.

Memang, waktu berjalan sangat cepat. Masa ujian Ari tinggal dua hari lagi. Hal ini sangat mengganggu ketenangan pikiran Ari. Apakah dia akan meninggalkan neneknya yang semakin dekat dengan maut? Atau tinggal di rumah menunggu kesehatan neneknya agar pulih kembali? Dua masalah jadi pertentangan dalam batin yang tak dapat terselesaikan.

“Kak, ujiannya kapan?”
Benar-benar pertanyaan menambah perih hati Ari. Tak terasa beberapa butir air bening telah menetes di pipinya dan kadang-kadang langsung jatuh terkena lengan neneknya.

“Kenapa menangis, Kak?”
Ari diam, dengan kepala tertunduk, lesu.
“Maafkan Sri kak, mungkin pertanyaan Sri menyakiti hati kakak”
Semua kemelut yang diselimuti kabut tebal pada diri Ari dan Sri dirasakan pasti oleh neneknya walau dengan mata terpejam.
Sri menatap neneknya. Menatap dan terus menatap. Ari tetap tertunduk. Sri melihat mulut neneknya bergerak

“Sri…”. panggilannya lemah, tapi jelas memanggil namanya.
“Rr…iii”, panggilannya tersendat-sendat.
“Ya… nek…”.
“Berangkatlah besok saja…”.
“Tapi bagaimana dengan kesehatan nenek”.
“Berdoalah dari sana agar nenek cepat sembuh”.
“Sri sendirian, nek…”.
“Tak perlulah kau bersedih. Dengan tangismu tak mungkin pula akan menyambung hidup nenek. Tangismu hanya sekedar menyampaian dukamu, sedang hidup dan mati semuanya bergantung pada Tuhan. Pergilah demi untuk dirimu dan untuk Sri kelak”.
“Tapi… nenek jangan sakit lagi..”, pinta Ari memohon, dengan penuh harap kepada Tuhan.
“Ya… cucuku, tak usah kau pikirkan lagi tentang nenek”.

Keesokkan harinya hati Ari sedikit cerah, karena ada sedikit bayangan untuk kembali ke Kota. Tapi disamping cerah atas keberangkatannya, terselip juga kesulitan persiapan keberangkatannya.

“Sri… Sri…”. Panggil Ari.
“Ya… kak, apa lagi?
“Kakak tidak punya bekal lagi”.
“Lantas, ke mana kakak akan mencari uang?”
“Sri… berani kau menyuruh Pak Ketut untuk membantu menggadaikan pakaian yang satu ini”,
“Jangan, kak, nanti apa yang kakak pakai, kakak hanya memiliki sedikit pakaian”.
“Di sana kakak barangkali bisa meminjam dengan teman. Cepatlah … cari Pak Ketut dan nanti setelah kakak berangkat sampaikanlah kepada nenek”.
“Lebih baik kakak temui nenek dulu”.
“Jangan, nanti akan menambah kekangenan, akibatnya selalu menjadi pikiran”.
“Ya… kak”.

Akhirnya menjelang sore hari barulah ia berangkat dengan bekal yang cukup. Dalam perjalanan Ari selalu merenung, merasakan angin mendung di langit biru seakan-akan membawa beban atau firasat nyata keadaan keluarganya.

Enam bulan lamanya Ari pulang ke kampung halamannya, dengan membawa kabar yang menggembirakan keluarganya. Membawa pengakuan. Telah menyandang gelar sebagai sarjana. Tugas dan tanggung jawab lebih berat sekarang ada di pundaknya jua.

Sedang neneknya masih saja berbaring lesu. Di luar masih saja langit berselimut kabut tebal. Seperti keadaan keluarga Ari sekarang. Tapi, dibalik parahnya sakit neneknya masih ada senyum bernaung di hati mereka sebagai penghalau keresahan.

Cerpen Karangan: I Komang Ary Sukma Putra
Blog: www.aribrainer.id
Nama saya I Komang Ary Sukma Putra, biasa dipanggil Ary, saya berasal dari Bangli Bali dan sekarang saya kuliah di Universitas Diponegoro Semarang

Cerpen Dibalik Kabut merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Firman

Oleh:
“Firman Tuhan halus mengundang, mengundang jawabanku..” Lagu tema religi nasrani itu di mengerti oleh Abdul Firman, seorang pemuda muslim, 25 tahun yang memang berkepribadian baik dan teman dari Steven

Semangkuk Bakso Diskusi

Oleh:
Di siang hari yang terik memang mantab menyantap yang segar-sagar, bakso. Bakso tidak pernah kehabisan untuk dijelajahi dan bakso selalu hadir dengan pesonanya yang pedas dan seksi. Siang yang

Tuhan Izinkan Dia Hidup

Oleh:
Masa muda masa yang penuh warna, derita, bahagia, dan juga penyesalan bercampur jadi satu. Begitu juga dengan masa mudaku, aku selalu berpikir seandainya saja aku tidak memilih jalan itu

Sebuah Perjalanan Hidup

Oleh:
‘Jakarta adalah ibukota indonesia’. Lilly adalah seorang gadis cantik serta periang. Sekarang sudah berumur 17 tahun, kegemarannya adalah bernyanyi, Lilly membentuk suatu grup band sejak 2010. Yang mereka beri

Penyesalan Riana

Oleh:
“Allaahuakbar.. Allahuakbar,” suara adzan subuh berkumandang, sang ibu membangunkan anaknya yang masih tertidur pulas. “Nak… Riana bangun! Salat Nak…” dari bilik kamar terdengar suara menyahut. “Aduh apaan sih Bu!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *