Dijaga, Kalau Bicara!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 29 June 2021

KALAU sudah bicara kasar atau bicara seenaknya tanpa pakai otak. Terimalah hasilnya tanpa pakai otak juga. Sesuatu yang diawali tanpa pikir harus diterima dengan tanpa pikir juga.
Tak usah terlalu sibuk tentang hasil yang membanggakan, bila itu dilakukan dengan hanya beralasan “mengisi waktu kosong”

Ada lagi Bapak Brom namanya, hobinya bercocok tanam, walaupun sedikit tidak peduli dari hasil benih-benihnya yang telah banyak bertunas. Baginya selagi tetap bisa tumbuh dan bertunas, maka bukan masalah kalau menebar benih lagi dan lagi, selagi tanah masih subur dan benih tetap tumbuh. Meski tanah sudah tak terlalu subur seperti dulu, motto tak mau berubah “aku akan terus menaruh benih”

Bapak Brom keren abis! Dia pernah punya impian, ingin punya tanah yang bisa menggemburkan dirinya sendiri tanpa siraman air dan pupuk darinya. Impian itu terus menancap di benak batok kepalanya. Pernah suatu hari Bapak Brom sedang kumat proteksi super dirinya, sehingga dia malas menyiram dan memupuk benih-benihnya yang sedang bertunas deras. Sambil berujar “sudahlah enggak usah pusing, nanti juga hujan akan turun lalu menyirami benih-benihku yang mulai bertunas.” Dia pikir hujan akan turun dalam 360 hari tanpa henti.

Orang-orang pun tak sedikit yang menganggapnya Pak tua komprehensif, bicara apa aja masuk! Serba tau! Mungkin yang belum ditau kapan mati! Pernah kali itu ada pemuda yang menyempatkan diri ingin minta saran, kesan, dan pesan pada dirinya. “Pak saya alumni Kampus ST*****, saya sekarang bekerja di sebuah sekolah dengan gaji sekian, saya ingin gaji yang lebih lagi dan lagi, CV juga sudah saya layangkan ke berbagai tempat tapi tak satu pun peduli! Kesan, pesan, dan saran Bapak untuk saya apa?” Tanya pemuda itu dengan harap problem hidupnya dapat jalan keluar yang pintas tentunya.

Dengan cepat Pak Brom berpikir, meski dia sendiri belum begitu mengerti secara utuh duduk masalah yang pemuda jelaskan tersebut.

“Hei! Kamu harus cepat itu! Kamu bilang aja ke tempat bekerjamu yang sekarang ini, ‘saya ingin keluar dalam waktu dekat!’ Kalau mereka bilang, ‘kamu engga apa-apa keluar, tapi dipastikan bertepatan ketika kamu keluar, penggantimu sudah ada!’ nah bila yang mereka inginkan seperti itu, ‘tak usah kau pedulikan, cukup kau iyakan, dan tak usah kau carikan!’ begitu nak muda.” Saran yang cukup hebat dari Pak Brom yang kren.
“Tapi Pak… Aku tak tega bila bersikap seperti itu. Tak biasa diriku berbuat kejam seperti itu!” Anak muda mengaduh lagi, merasa saran Pak Brom terlalu kasar.
“Hei nak… Kau tak kasihan dengan dirimu! Meski CV mu sudah kesana-kemari tanpa pasti dan arti. Kau harus lakukan ‘gertakan daun’, ini seperti bagi mereka yang membudakkan dirimu dengan embel-embel ‘kebaikan’ sebenarnya mereka hanya sedang menghinamu tapi bukan dengan bahasa yang kasar! Kamu saja yang terlalu naif! Dan minim malang-melintang, mainmu masih kurang jauh nak muda!”
Pak Brom dengan segenap doktrinisasi-nya.

“Pak, maaf Pak, Bapak sendiri sekarang kerja atau mengurus sebuah usaha, atau semacam bisnis gitu, enggak?” Pertanyaan kecil anak muda yang akan terus menggeliat di benak batok kepala Pak Brom.
Pertanyaan “sederhana” anak muda itu terus mengusik ke pondasi-pondasi akalnya, hingga dia terdiam begitu lama dengan gimik wajah seperti orang yang sedang kesal. Ia merasa ini sangat mengusik “petuah keren-nya” yang sudah terlanjur dilontarkan dengan keyakinan 999% tidak akan bisa dipatahkan.

Pak Brom merasa sangat amat tersinggung, karena ia sekarang ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terpaksa menjadi kuli serabutan, apa saja yang halal dan ada duitnya, tak hal banyak sedikit.

“Hei! Nak! Dijaga ya kalau bicara! Aku nih sudah terlalu banyak pengalaman kerja! Sudah kenyang nak! Kamu jangan sombong dulu ya! Baru lulus strata 1 aja udah sok-sokan mau menguliti pribadi orang lain. Sudah sana pergi! Muak aku dengan anak muda yang tak tau tata Krama! Sana Pergi!” Umpat Pak Brom dengan napas tersengal-sengal, dia sudah tak lagi mampu mengeluarkan energi berlebih seperti di masa mudanya dulu.

Anak muda itu terheran-heran sambil melototkan kedua mata dan mulut menganga, terkejut sekaligus tak menyangka pertanyaan kecilnya bisa mengobrak-abrik batas privasinya yang tak sudi diketahui orang lain.

“Maaf, maaf, maaf Pak bila mulut ini belum bisa menjaga dirinya ketika bicara. Aku sangatlah menyesal. Mohon maafkan kekurangajaran saya.” Sambil menundukkan kepala dan tidak menatap ke arah Pak Brom. Sebelum anak muda itu beranjak pamit dari hadapan Pak Brom, dalam keadaan masih menundukkan kepalanya, ia mengeluarkan ‘amplop’ yang sudah disiapkannya sebagai upah ke setiap orang yang telah diwawancarainya, biasanya ia menyiapkan isi amplop itu 1 juta rupiah.

Pak Brom yang melihat gelagat anak muda yang hendak mengeluarkan amplop itu, langsung mengubah dirinya ke mode ‘drama kroya’, ia bersikap seakan hendak memutar badannya 360 derajat dari anak muda itu, padahal hatinya sudah sangat berharap sekali akan ‘amplop’ itu.

Dengan berhati-hati sekali anak muda itu, ia ngeri jikalau tindakannya akan memancing ‘marah’ yang lebih besar, tetap sambil menundukkan kepalanya, ia berjalan selangkah ke depan Pak Brom dan memberikan ‘amplop’ itu.
“Pak… Pak Brom… Aku mohon maaf banget ya, aku sangat tidak menyangka kata-kataku terlontar begitu saja. Ini saya ada titipan untuk Pak Brom, semoga saya dimaafkan, terima kasih atas waktu, saran, kesan dan pesannya.” Anak muda itu mencoba menghapus kesalahan yang tak sengaja dia lakukan.

Pak Brom sangat senang sekali, tapi ia tetap pro dalam mode ‘darama kroya-nya’. Ia tetap pasang muka kesal, sangat kesal, padahal hatinya sangat berbunga-bunga dapat amplop. Dia pun dengan mode-nya itu langsung cergas ide brilian muncul untuk menutupi kesan sentimen-nya.

“Apa ini nak! Kalau bicara dijaga ya, lain waktu kamu boleh, tetap boleh kok datang ke sini lagi.” Dramanya sedang on banget.
“Tapi Pak, emang ga ganggu waktu Bapak?” Pura-pura polos, aslinya dia dalam hati pun bergumam, “eh… Dikasih duit aja, langsung jadi baik.”
“Engga apa-apa nak, kemarilah lain waktu, hari ini aku sedang tidak dalam kondisi suasana hati yang baik.” Pak Brom menjelaskan.

“Pak Brom… Makasih banyak ya, mungkin dilain waktu saya ingin tanya-tanya tentang ‘cara mendidik anak’, saya pamit dulu ya, maaf dan makasih banyak.”
Sambil memicingkan alis mata kanannya, dan bergumam dalam hati, “cara mendidik anak! Hah! Anak ini makin menjadi-jadi saja!” Ia yang sedari tadi berdiam dan belum membalas perkataan anak muda itu, langsung berujar, “iya nak muda, boleh, tapi datangnya jangan dadakan ya, harus atur perjanjian dulu.”
“Baik Pak Brom, terima kasih.”

Pemuda jebolan kampus ST****** itu pulang dengan segudang ketidakpuasan, sudah ngasih pelicin, tapi dapatnya tidak sesuai. Tapi dia sudah merencanakan hal lain untuk pertemuan berikutnya.

Yang menjadi catatan penting pemuda itu, terkadang uang bisa melembutkan hati yang keras, bahkan bisa membalikan benci menjadi cinta. Tapi, ya itu hanya berlaku bagi mereka yang berlevel seperti Pak Brom.

Cileungsi, 17 Juni 2021
hlb©

Cerpen Karangan: Halub
Blog: Huzuryakindir.blogspot.com
halub dari Cileungsi, tinggal di Masjid Darurrozaq sebagai pembantu masjid.
Tangsel-Pamulang, terima kasih sudah bersama hingga lulus SD.
“Pencipta Terima kasih atas segalanya”

Cerpen Dijaga, Kalau Bicara! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bolehkah Aku Meminjamnya

Oleh:
Namaku Fahri. Ini adalah cerita sewaktu aku berumur 15 tahun. Sore ini seperti biasanya, Ayah mengajakku untuk sekadar jalan-jalan di taman kota yang letaknya tak jauh dari rumahku. Udara

Harapan Baru

Oleh:
“satu.. dua… tiga..” aku menghitung detik jam dinding kamarku sambil terbaring lemah di tempat tidurku. Semenjak aku mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu, aku mengalami penderitaan yang amat berat.

Kami Terpinggir, Kami Tersingkir

Oleh:
“Memang zaman sudah edan, siang begini terasa panas nanti sore malah hujan.” “Lalu ini salah siapa? sudah takdir Tuhan toh.” “Bukan takdir ini nasib, mungkin teguran dari Pencipta karena

I’m Sure, I Can Do It!

Oleh:
(Awalnya, gue Elfina Astin Cuman sekedar bertanya sesuatu sama seorang guru di sekolah tempat gue sekolah, tapi entah kenapa kisah nyata ini seolah mendobrak inspirasi gue buat gue tuangin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *