Dimana Tuhanku?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 July 2017

“Selamat pagi tuan putri”. Sapaku pada Anna dengan senyum mengembang.
“Kak Zaki? Kakak kok di sini? Aduh, sepertinya aku lagi mimpi nih”. Kata Anna sembari mengucek matanya. Anna tampak lucu, segera kuketuk jidatnya, “Kamu gak mimpi, kakak di sini”. Kataku meyakinkan, spontan saja ia bangun dan memelukku erat. Sepertinya ia benar-benar merindukanku, seperti kata bunda di telepon waktu itu.
“Bauu, mandi dulu gih, kakak mau ajak tuan putri jalan-jalan. Buruan..” tergambar jelas raut bahagia dari wajahnya. Segera ia berlari ke kamar mandi, mandi secepat kilat. Dasar, sudah kelas dua SMA tingkahnya masih seperti anak SD saja. Manjanya itu loh, ngangenin.

Setelah bersiap-siap, aku mengajaknya berjalan-jalan menyusuri jalanan kota. Sudah lama tak jalan berdua seperti ini. Kesibukan kuliah membuatku jarang pulang ke rumah. Jika ada libur panjang, baru bisa berkunjung ke kota kelahiran ini.

Aku membawanya ke banyak tempat, salah satunya pantai panjang yang sering kami datangi saat kecil dulu, saat Ayah masih hidup. Ayah sering membawa kami ke sini tiap akhir pekan. Menyenangkan. Namun semuanya berubah saat Ayah pergi. Kami sudah jarang datang ke tempat ini lagi.

Menjelang petang, Anna masih mengajakku berkeliling lagi. Namun, di waktu yang bersamaan teleponku berdering. Telepon dari Aini, kekasihku. Ia mengajakku ke rumahnya. Katanya, ibunya ingin bertemu. Tapi bagaimana dengan Anna? Dengan wajah berseri Anna berkata, “gak apa-apa kak, pergi aja. Anna tunggu di sini, kecanduan sama sunsetnya. Lagian Anna uzur juga kak. Nanti datangnya sama kak Aini ya kak. Udah lama juga gak ketemu”.
“Oke deh tuan putri. Hati-hati yaa..” kataku sambil melangkah dengan berat hati. Hatiku tak tenang, namun kucoba untuk menenangkannya. Anna akan baik-baik saja, batinku.

Aku singgah sebentar di surau terdekat untuk menunaikan kewajiban. Setelah itu, melaju ke rumah Aini. Tiba di sana aku dijamu dengan berbagai makanan. Ibu Aini memang sangat baik, ia memperlakukanku seperti anak sendiri. Awalnya ia tak merestui hubungan kami, namun akhirnya aku mampu meyakinkannya bahwa aku serius terhadap Aini. Sebentar lagi wisuda, aku akan melamar Aini menjadi istriku.

Teng.. Adzan Isya berkumandang. Aku teringat Anna. Oh Tuhan, apa yang kulakukan? Anna sendirian di sana. Aku mulai panik dan mencoba menghubungi Anna, namun tak ada jawaban. Aku dan Aini segera ke pantai panjang. Dan betapa terkejutnya aku saat tidak mendapati Anna di sana. Kucoba menghubunginya lagi, namun juga tak ada jawaban. Aku pun memutuskan bertanya pada Bunda, namun kata Bunda Anna belum pulang sejak keluar bersamaku pagi tadi. Aku semakin gelisah.

Tiba-tiba teleponku berdering, Anna memanggil. Ada yang berbeda dari nada bicaranya. Ia terisak.
“Apa yang terjadi tuan putri? Tuan putri di mana sekarang?” Tanyaku antusias. Namun yang kuterima hanya isak tangisnya. Semakin aku bertanya, ia semakin terisak.
“Anna ada apa? Jawab kakak Anna, kamu di mana?” Teriakku di gagang telepon.
“Penginapan nomor 3.” Jawabnya sembari memutus telepon.

Aku segera berlari ke penginapan itu. Kuketuk dengan keras pintu kamarnya, namun tak ada yang membukakannya. Tanpa pikir panjang segera kudobrak pintu itu. Dan betapa terkejutnya aku saat mendapati Anna terisak di atas ranjang tanpa sehelai pakaian pun. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku segera mendekatinya, berusaha menenangkannya.

“Anna kotor kak, Anna tidak suci lagi. Ana diperk*sa kak..” tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku segera memeluknya erat. Aku mulai naik pitam. Amarahku sudah bergejolak.
“Siapa yang melakukan ini Anna? Bilang sama kakak.”
Dia menggeleng, “Anna gak tau, mata ana ditutup kak..”
Manusia bejat, batinku. Awas saja aku temukan, akan kubunuh. Tak peduli siapa orangnya.

Sejak kejadian itu, Anna tak lagi sama dengan Anna-ku yang dulu. Ia lebih banyak diam. Lebih sering menyendiri. Tuhan, mengapa harus adikku yang Kau uji dengan cobaan berat ini? Setelah kejadian ini, bolehkah sekarang aku meragukanmu? Untuk saat ini, aku hanya ingin mencari Tuhan yang bisa menjaga orang-orang yang kusayangi. Tuhan, di mana engkau saat itu?

Cerpen Karangan: Dian Antuala
Facebook: Dian Diana Antuala

Cerpen Dimana Tuhanku? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Terlahir Perempuan

Oleh:
Aku memiliki tiga saudara aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber’v*gina’ semua. Padahal sedari dulu ayah dan ibu mengharapkan bisa punya anak laki-laki. Setelah lahir anak

Adikku Sayang

Oleh:
“Ah..” ucapku geram melihat buku ceritaku dirobek-robek oleh adikku, Erita. “Ada apa sayang?” bunda menghampiriku dan Erita. “Ini Bun, buku Kakak dirobek-robek sama Erita,” aku segera berlari ke kamar

Marisa

Oleh:
Ini tidak biasa, mama menjemputku lebih awal dari biasanya. Bahkan aku tidak menyelesaikan pelajaran terakhirku. “Terimakasih, ya, bu Yun.” Mama menatapku haru. Wajahnya sayu dan tergambar raut ketakutan. Ia

Best Friend Forever

Oleh:
“Sahabat adalah teman yang selalu ada apapun, kapanpun, dan dimana pun.” Kalimat itu selalu terngiang ditelingaku. Itu adalah kalimat yang selalu diucapkan oleh sahabatku. Kami jarang bertemu karena sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *