Domba yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 1 March 2016

“Ajiku, kau di mana?” kataku bertanya kepada alam sekitar mencari dombaku yang ku gembalakan di sebuah padang rumput yang hampir gundul. Aku sudah menoleh ke utara, ke selatan, ke timur, ke barat, dan ke seluruh mata angin sampai berputar-putar 360 derajat. Tetapi, yang ku lihat sejauh mata memandang hanyalah gedung-gedung tinggi penghalang sinar matahari bagi beberapa orang yang lalu lalang di trotoar jalan raya: sebuah sungai yang alirannya sudah tersumbat oleh sampah pabrik dan airnya pun hitam legam -barangkali sudah mati semua ikan di sungai itu– karena tercemar bahan kimia: dan di satu sisi yang berseberangan dengan gedung-gedung tinggi itu, ada perumahan kumuh dekat dengan sungai yang hancur itu yang tumbuh bagai jamur. Sungguh mengerikan.

“Di mana kau, Ajiku?” tanyaku lagi.

Matahari seperti membelah diri bagai amoeba. Panasnya berlipat-lipat. Padahal aku yakin, ini sudah sore hari -mungkin pukul 4 sore- tetapi kenapa panasnya tiada tara? Aku pun merasakan dahaga pada kerongkonganku ini. Kulitku penuh dengan keringat yang hampir berdarah. Tubuhku hampir tersisa tulang-tulang kering saja tanpa otot yang kekar. Aku adalah anak gembala, tiap hari hanya bisa memegang tongkat dan tertawa di atas derita bersama domba-dombaku di kota yang tak keruan konfilknya. Mana mungkin aku bisa menjadi orang-orang dalam golongan kaya raya apalagi merdeka, toh kalau makan ya makan apa saja -seringnya makanan kurang layak konsumsi- yang diberikan oleh Tuhan. Aku yakin Tuhan pasti mengerti.

Aku duduk di bawah pohon beringin yang sudah sangat tua dan hanya satu-satunya tumbuh di kota tempat tinggalku ini. Mungkin beberapa masyarakat sekitar percaya betul bahwa pohon ini keramat, karena sudah sejak zaman dahulu mitos itu muncul dan melekat di masyarakat awam sehingga mereka tak ingin menebangnya. Mungkin juga karena pohon ini berada di antara perumahan kumuh, sungai yang tercemar, dan gedung-gedung tinggi sehingga jika ditebang, takutnya mengenai perumahan kumuh, sungai yang tercemar, atau gedung-gedung tinggi. Ya, siapa yang tahu? Yang jelas pohon beringin ini berada di antara masyarakat dan juga sebagai saksi bisu atas segala pergantian tiga orde sejak zaman penjajahan dulu. Itu berarti umurnya lebih tua dibandingkan umur nama “Indonesia” digunakan sebagai nama negara yang tak pernah berkembang ini. “Lebih tua dari Kakekku juga mungkin,” kataku sendiri sambil cekikikan membayangkan gigi kakekku yang sudah ompong.

Mataku tiba-tiba berkunang-kunang. Mungkin karena terlalu lama berada di bawah sinar matahari yang panasnya minta ampun. “Ajiku, kau di mana?” kataku yang masih mencari-cari Aji -domba kesayanganku- karena aku tak melihatnya sejak tadi. Kepalaku berdenyut kencang. Mataku semakin berkunang-kunang. Kesadaranku tiba-tiba hilang.

“Auuuuuu!!!” lolongan serigala yang lahir dan hidup di antara masyarakat-masyarakat kota. Mencari mangsa di malam hari dan tertidur di siang hari. Mana ada satu orang yang sadar, serigala itu berbulu domba. Makanan kesukaannya adalah domba betina tanpa busana. “Ya, akulah serigala berbulu domba. Hampir semua orang suka padaku. Aku berikan mereka semua daging-daging segar hasil buruanku dari supermarket tidak berlabel: dari pasar ilegal: dan dari hutan yang gundul. Mereka itu bisanya hanya makan dan berak saja. Hahaha,” kata serigala itu tertawa terkekeh-kekeh melihat kebodohan masyarakat kota.

Serigala itu tampak gagah dan berotot. Tubuhnya kekar dan berisi atau bisa dibilang six pack. Matanya tajam dan cepat bertingkah jika melihat mangsa yang lewat. Mulutnya penuh gigi taring yang tajam. Hampir semua panca indranya berfungsi secara maksimal kecuali perasaannya atau lebih tepatnya hati nuraninya. Mana bisa serigala yang haus akan dunia ini memikirkan dunia yang lain, tetapi serigala ini baik terhadap masyarakat kota. Atau hanya pura-pura? Siapa yang tahu?

“Akulah serigala berbulu domba. Banyak kerjanya. Sedikit makannya. Suka berbagi apa saja punyaku kepada babu-babu yang mau turut kepada perintahku. Aku serigala baik, tetapi banyak mata-mata mendelik. Ya, hanya mendelik dan tak mau mengulik. Hahaha.” kata serigala itu lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh terhadap mata-mata yang bodoh kerjanya. “Auuuuuu!!!” lolong lagi serigala itu ketika hari sudah ditutup oleh malam dengan ditandai tenggelamnya matahari dan langit mulai gelap. Masyarakat kota penuh senyum dalam ketakutan untuk orang-orang malam. Dalam beberapa botol bir dan beberapa bungkus rok*k yang dihabiskan dalam semalam penuh foya-foya. Orang-orang malam yang merdeka dan melarat dalam waktu yang bersamaan. Di sebuah bar yang berisi penuh dengan b*rbar.

Mataku terbuka. Aku tersontak bangun dan kepala berdenyut lagi. Ku lihat hari sudah malam dan gelap tanpa adanya penerangan dari lampu-lampu jalanan yang menempel di trotoar dan hanya sebagai pajangan. Aku menepuk keningku sendiri. “Aduh, Aji belum pulang. Apa harus aku mencari di antara gedung-gedung tinggi itu dan jamur-jamur yang tumbuh di sekelilingnya. Tempat itu hanya berisi b*rbar saja,” gumamku yang kebingungan mencari Aji. Aku menggelengkan kepalaku dan berdiri. Berjalan meninggalkan pohon beringin itu dan menuju ke tempat mengerikan itu. “Yah, mau bagaimana lagi? Aku harus ke sana.”

Aku pun melalui jembatan yang menjadi perantara antara gedung-gedung tinggi dengan pemukiman kumuh. Jembatan itu sudah tampak lapuk dan mungkin sebentar lagi akan roboh. Langkah pertamaku setelah melalui jembatan itu disambut dengan suara klakson mobil yang melintas kencang di hadapanku. Padahal aku berjalan di trotoar. Dan disambut dengan orang-orang mewah yang menutup hidung dan matanya setelah mereka melaluiku.

“Awas! Nanti tertabrak,” gumamku dalam hati sambil mendelik ke arah mereka.

Aku pun terus melangkahkan kakiku pada sebuah trotoar yang juga dilalui oleh sepeda motor butut dengan suara knalpotnya yang cempreng dan banyak mengeluarkan polusi. Hingga aku tepat berada di depan gedung yang paling banyak lantainya. Sebuah hotel berbintang 5. Sebagai sebuah tempat singgah orang-orang berduit yang harga sewanya per malam hampir sama seperti hidupku. Label harga yang tidak bisa ku bayangkan banyaknya. Padahal, pelayanannya hampir sama sebagai sebuah babu. Tak lebih dari itu. Dan ada seorang wanita yang aku kira seumuran denganku, berpakaian setengah, menatap ke arahku, kemudian mengajakku masuk ke dalam gedung itu dengan sedikit memaksa.

“Ayo, silahkan masuk!”
“Untuk apa?”
“Kamu adalah tamu undangan dari negeri seberang.” Dan aku hanya melongo mendengar perkataan itu: “tamu undangan”, “negeri”. Undangan apa? Negeri apa? Mungkin dia salah orang.
“Oh, saya ke sekitar sini untuk mencari domba saya. Mungkin Anda salah orang.”

“Saya tidak akan salah orang,” katanya lalu menyebut nama lengkapku secara fasih. Ya, aku semakin melongo. Tanpa pikir panjang, aku pun masuk dan menikmati suasana gedung tinggi itu. Dingin, rapi, dan bersih karena diurus. Tak seperti gubuk tempat tinggalku yang kumuh dan tak layak disebut “rumah”.
“Silahkan menuju ke tempat tuan kami, Tuan,” kata seorang resepsionis wanita yang tersenyum ke arahku. Mungkin dengan senyuman palsu. Lalu aku berjalan dengan dituntun oleh seorang bodyguard. Dan dalam hatiku masih bertanya-tanya tentang keadaan yang sangat membingungkan ini.

“Akulah serigala dengan julukan serigala berbulu domba. Padahal, aku juga manusia. Ya, tetapi tidak apa-apa dengan julukan ‘serigala’. Aku menyukainya.”

Aku hidup di antara masyarakat kota yang bisanya hanya makan dan berak saja. Tidak suka berpikir apalagi bekerja. Maunya ingin dimanja. Dan jika tidak dituruti permintaannya, mereka bisa saja gila. Ya, tetapi itu setimpal dengan sikap mereka yang ku lakukan layaknya seperti babu. Mereka hanyalah spesies-spesies yang kerjanya seperti “pesuruh”, tetapi dengan istilah yang lebih halus: “pekerja”. Padahal aku yakin, dalam hati nurani mereka, mereka tidak suka dengan pekerjaannya. Bisa disimpulkan mereka bekerja karena terpaksa, bukan karena sukarela. Bekerja hanya untuk hidup. Jika hidupnya sudah dijamin, mungkin mereka tidak akan mau untuk bekerja. Maunya hanya bermalas-malasan saja seperti kucing rumahan yang sangat manja. Berbeda dengan kucing kampung yang harus mengais-ngais dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain untuk mencari makanan, mencari kehidupan.

Musuh utamaku ialah pengusaha. Ya, bisa dianalogikan sebagai seorang pengembala. Dia yang menjaga domba-dombanya dengan amat apik sehingga aku tidak bisa mencurinya. Bayangkan saja jika seluruh domba di dunia telah digembalakan. Lah, nanti aku makan apa? Bangkai domba? Ya, itu memang bisa dimakan, tetapi rasanya tidak seenak domba-domba yang masih hidup. Bau pula aromanya. Menjijikkan. Maka dari itu, aku menyuruh babuku untuk mengundang seorang anak gembala dari negeri seberang. Negeri yang tanpa adanya kebudayaan yang bagus. Berbeda dengan negeri di sini, masyarakatnya bersih, ya hanya saja lingkungannya yang masih kekurangan. Dan itu akan diperbaiki sesegera mungkin. Mungkin.

Aku melihat malam ini bulan bulat. Terang dalam gelap atau gelap dalam terang di malam ini. Hampir semua orang mengabaikan keindahan bulan bulat itu. Tidak ada bedanya dengan malam-malam yang lain. Dan tiap-tiap orang melakukan aktivitasnya seperti biasa. Aku pun duduk selonjoran di kantorku yang berada di lantai paling atas sebuah hotel berbintang 5 yang paling mewah di negeri ini atau mungkin di seluruh dunia. Dengan menghisap tembakau dan memandangi malam. Santai.

Aku menaiki sebuah benda bernama lift. Canggih betul tempat ini. Dan si bodyguard itu berkata, “Itulah ruangan tuan kami, Tuan,” sambil menunjuk lurus ke depan. Ke satu-satunya pintu yang tertempel di ujung lorong di lantai 40 ini. Jumlahnya sama dengan usia ayahku, 40. Lalu si bodyguard itu kembali ke tempatnya semula, di lobi. Aku mengambil langkah pertama. Perlahan. Suasananya sepi. Lorong ini dihiasi begitu banyak lampu di sisi-sisinya dan di lantainya, terukir gambar serigala yang bertubuh manusia atau manusia yang bertubuh serigala. Ya, begitulah kiranya. Dan juga terdapat huruf-huruf yang tidak bisa aku baca. “Itu huruf Mandarin, mungkin,” gumamku. Lalu ku teruskan langkahku dengan pandangan lurus ke pintu yang tertempel di ujung lorong ini.

Aku sudah sampai di muka pintu dan hendak mengetuknya. Tetapi, aku sedikit bimbang. “Aku kan ke wilayah ini untuk mencari Aji, tetapi kenapa malah ke sini dengan label ‘tamu undangan’. Kenapa?” kataku bertanya-tanya keadaan sekarang. Yah, ini semakin membingungkan. “Ya sudah telanjur,” gumamku lalu mengetuk pintu yang berada tepat di hadapanku. “Tok-tok-tok!” suara pintu diketuk. “Silahkan masuk!” sahut suara seseorang dari dalam ruangan.

Aku pun membuka pintu. Dan ku lihat seseorang yang tampak besar tubuhnya sedang membelakangiku. Melihat ke bulan yang amat bulat dengan jendela dan gorden yang terbuka. Ku lihat juga ada kepulan asap yang berterbangan di sekitarnya, merasuki hidungku dengan aroma yang ampeg. Aku sedikit batuk. Lalu dia berbalik, kacamata hitamnya dilepas, melihat ke arahku. Kita saling bertatap muka. Dan matanya itu, ku lihat saksama, terang dalam gelap. Bola matanya berwarna sedikit cokelat, agak mendelik ke arahku. Aku memulai pembicaraan.

“Ada apa Anda memanggilku?” tanyaku.
“Jangan kaku begitu! Santailah! Kita mengobrol saja,” katanya lalu mempersilahkan aku duduk di kursi yang disediakan. Aku pun duduk. Duduk di atas kursi yang sangat nyaman.
“Mau kopi? Teh? Atau apa?”
“Tidak usah.”
“Ya sudah. Aku sediakan wine saja,” lalu dia menuangkan minuman yang bernama ‘wine’ ke dalam gelas yang ada di hadapanku. Gelas yang tinggi kakinya, padahal isinya tak seberapa. Hanya muat beberapa puluh mililiter saja mungkin.

“Apa ini? Wine?” tanyaku kebingungan dengan sebutan ‘wine’ yang amat asing di telingaku. Dia tertawa. Tersedak juga. Mungkin karena kaget dengan pertanyaanku ketika dia masih mengisap tembakaunya yang masih menyala.
“Itu adalah sebutan untuk minuman dari sari anggur yang difermentasi,” katanya sambil batuk-batuk. Lalu dia mematikan tembakaunya pada sebuah asbak yang tersaji di atas meja. Aku hanya mengangguk. Lalu meneguk minuman itu dengan sekali teguk. Rasanya agak aneh, tetapi kukecap lidahku berulang kali dan menikmati rasa dari wine itu.

“Lumayan.” Dia tertawa terkekeh-kekeh. Lalu aku merasakan sedikit pusing. Dia menuangkan lagi minuman bernama ‘wine’ itu ke dalam gelasku. Aku langsung meminumnya. Mungkin karena rasa dahagaku yang menggodaku. “Tambah lagi,” kataku tidak segan-segan. Dia menuangkannya lagi dengan sukarela. Aku meminumnya lagi. Dan kepalaku makin pusing. Tenggorokanku mulai sakit. “Kau hebat sekali!” katanya memujiku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan agak kosong.
“Oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku adalah Rick,” katanya sambil menjulurkan tangannya, hendak berjabat denganku. Aku menjabat tangannya dan memperkenalkan diriku.

“Kalau boleh tahu, apa pekerjaanmu?” tanya Rick.
“Pengembala domba.”
“Berapa usiamu?”
“17 tahun.” Lalu Rick amat terkejut mendengar jawabanku.
“17 tahun? Serius?” tanya dia berusaha meyakinkan. Aku mengangguk.
“Ya. Memang tampangku seperti sudah tua, tetapi umurku masih muda. 17 tahun,” jawabku seperti orang yang mabuk. Kemudian kepalaku berdenyut. Pusing rasanya.
“Ini, habiskan saja winenya,” kata dia sambil menuangkan tetes-tetes terakhir di gelasku. Aku meminumnya sebagai rasa sopan santun. Dan kesadaranku hilang lagi.

Inilah si gembala sudah masuk perangkap. Dia sudah teler. Lalu aku bisa lebih mudah menangkap domba-dombanya. Ya, dia memang cukup merepotkan. Menghabiskan sebotol wineku yang sangat mahal. Akan tetapi, tak apa jika aku bisa mendapatkan semua domba-domba si gembala itu. Aku puas tertawa yang sebelumnya ku tahan-tahan dengan cekikikan.

“Pertunjukan dimulai.”

Ya, aku sudah merencanakan untuk membumihanguskan negeri seberang dengan sekali ledakan. Yang nantinya adalah kawasan komersial berupa pabrik-pabrik industri. Dan si gembala ini, adalah satu-satunya orang yang produktif di negeri seberang dan akan aku pekerjakan seperti babu. Ku perlakukan lebih keji dari babu-babuku yang lain sebagai sebuah pelampiasan atas segala nafsu kebinatanganku. Aku akan merayunya.

Aku terbangun. Ku lihat Rick berdiri di depan jendela yang terbuka dengan alunan udara malam yang benar-benar dingin merasuk ke jiwa. Aku setengah sadar. Kondisiku nanar terus melihat dia yang tampak tertawa keras sekali. Aku berdiri dan berusaha menghampiri Rick. Tetapi, jalanku lunglai dan tidak seimbang. Dan aku memecahkan kaca yang di kotak-kotak itu, di samping Rick. Terjatuh dari lantai 40. Aku melihat tepat ke arah Rick. Matanya melotot tajam dan benar-benar bercahaya seperti seekor Felis. Dan tangannya seperti hendak menggapaiku, tetapi aku sudah telanjur jatuh.

“Sial!” kataku marah-marah setelah aku melihat calon babuku jatuh dari lantai 40 gedung ini. Mengapa bisa dia terjatuh seperti itu? Aku marah-marah seperti orang yang kesetanan dan berlaku seperti kanak-kanak. Sama seperti babu-babuku yang lain yang bisanya merengek-rengek. Aku menggeleng dan menatap lagi ke kaca yang pecah sebagai lubang kematian calon babuku. Padahal aku yakin, dia bisa sangat menguntungkan bagi bisnisku. Ya, tetapi mau bagaimana lagi toh dia pasti sudah mati.

Aku baru tersadar ternyata Aji sudah aku kurbankan. Aku merasa lega karena Ajiku tidak hilang. Dan aku merasakan senang atas jamuan Rick, orang asing yang baru aku kenal. Ya, ini memang mungkin sudah waktunya. “Aku tidak akan pernah menyesal. Aku akan mati. Entah nanti aku temui surga atau neraka aku tak peduli. Selamat tinggal dunia perantau, dunia yang fana!” kataku yang beberapa saat lagi menemui ajal. Lalu tercecerlah darah ke semua penjuru kota.

SELESAI

Cerpen Karangan: M. Syarifudin Hidayatullah
Facebook: Syarifudin Emseh
Amatiran yang selalu belajar menulis demi kebahagiaan orang lain. Kini sedang kuliah di Universitas Jenderal Soedirman jurusan Sastra Indonesia.

Cerpen Domba yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gerbong

Oleh:
Langkahku terburu memasuki stasiun kota Jakarta, stasiun kereta yang di bangun tahun 1870 hasil dari otak seorang arsitek Belanda kelahiran tulungagung bernama Frans Johan Lowrens Gijsels dan kawan-kawannya itu

The Real Monster (Part 2)

Oleh:
Setelah hampir dua jam menunggu di teras rumah Fajri, Flor akhirnya melihat bocah itu datang dari kejauhan. Langkah kakinya yang bertambah cepat menandakan kalau Fajri sudah melihatnya. Flor segera

Tiada Motor Jalan Pun Jadi

Oleh:
Melamar sebagai sales mobil dari pabrikan mobil ternama di kota Balikpapan, hanya dengan bermodalkan tekad yang kuat dan niat memperbaiki kehidupannya. Setelah melewati beberapa tes akhirnya Radian diterima di

Mutiara Hitam

Oleh:
“tidak nduk. Bapak tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi ke kota”, ujar lelaki setengah tua itu sambil menegguk kopinya. Pak Mardi namanya. “tapi Pak, Sekar ingin sekali memperbaiki perekonomian

Setetes Air Surga (Part 2)

Oleh:
Andrew menatap dalam-dalam. Matanya kelam. “SP yang kedua, seorang pelanggan komplain. Suatu hari saya tidak masuk karena tiba-tiba bayi saya sakit. Sehari sebelumnya saya sudah menitipkan tiket beliau di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *