Dua Anak Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 22 January 2018

Kopi ini membuat otakku merangkai semua kejadian yang aku saksikan tadi sore, di pinggir jalan depan masuk gang. Ibu tukang sampah membawa dua anaknya untuk ikut bekerja bersama. Dua anak itu ikut memunguti sampah. Sesekali mereka berhenti dan duduk duduk atau bahkan tiduran di pinggir jalan. Aku menghela nafasku. Hatiku teriris melihat pemandangan itu.

Banyak hal yang ada di benakku. Aku masih menjadi satu dari sekian milyar orang yang beruntung bisa menikmati tidur di kasur yang empuk dan nyaman.
Aku tak ingin seperti itu jika tua nanti. Aku harus bekerja keras sekarang untuk membanggakan anak anakku, kelak. Aku tak bisa menahan tangisku saat melihat mereka memakan nasi dari bungkus yang mereka temui di tempat sampah.
Sungguh. Aku terisak. Aku seringkali membuang sisa nasi, walaupun itu masih layak dimakan. Aku sering mengeluh karena lauk yang tidak sesuai selera.

Bagaimana dengan dua anak itu? Mereka masih bisa makan makanan sisa dengan senang, lahap, tak ada rasa jijik. Tuhan, aku menjadi satu dari milyaran manusia serakah itu. Satu dari mereka yang tak bersyukur. Aku kembali menarik nafas dan menghempaskannya dengan beribu kegundahan hatiku. Hingga akhirnya ada niatan baik itu muncul.

Kakiku melangkah menuju toko dan membeli beberapa jajan. Lalu, aku berjalan ke arah ibu dan dua anaknya. Aku tersenyum.

“Selamat sore, Ibu”.
Ibu itu membalas senyumku. “Sore, mbak”
“Ini anak Ibu?” Aku menunjuk kearah dua anak itu dan tersenyum ramah pada mereka.
“Iya mbak”

“Hai, kalian siapa namanya?”. Aku menunduk, menyamakan tinggiku dengan mereka.
“Aku sani, dan ini Ridho adikku”
“Hai, Sani. Hallo, Ridho. Kalian umur berapa?”
“Aku empat tahun”, kali ini si Ridho yang menjawab sembari mengangkat lima jarinya. Aku terkekeh. Bahkan mereka belum mengerti hitungan.

“Oh, iya. Mba punya jajan buat kalian. Ada cokelat, permen, dan roti. Kalian suka?”
Aku memberikan plastik yang ada di tanganku pada mereka. Aku melihat senyuman mengembang di bibir mereka berdua.
“Suka, mbak. Ini buat kita?”
“Iya, itu untuk kalian. Dimakan ya.”

Aku terkejut ketika tiba-tiba tubuhku ditarik dan tanganku disalami oleh Ibu itu. Dia menunduk-nunduk. “Terimakasih. Terimakasih”
Aku menarik tanganku lalu mendekap ibu itu. “Iya, Bu. Aku senang melihat anak anak ibu bahagia. Mereka kelihatan suka dengan jajanan yang saya belikan”
“Sekali lagi terimakasih”
Aku tersenyum

Harusnya aku yang berterimakasih. Ibu dan dua anak ibu itu mengajarkan banyak hal padaku. Tentang rasa syukur, kepedulian, kemanusiaan. Juga membenarkan perkataan guruku. “Ilmu tidak hanya kau dapat di sekolah, kau bisa mendapatkan ilmu di manapun dan kapanpun”

Cerpen Karangan: Desi Indriyani
Facebook: Desi Indriyani

Cerpen Dua Anak Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Robot Berikutnya

Oleh:
Hari lebih sunyi dari biasanya. Namun lebih terang-benderang. Aku jadi sedikit memuji rumah sakit ini. Karena penerangan dan tata cahayanya. Yang begitu putih dari ratusan neon yang bahkan tak

Kecuali Aku!

Oleh:
Sepertinya tak ada perempuan yang rela hati sejak kecil belajar menjadi pel*cur. Kecuali aku! Sepertinya tak ada perempuan yang saat tumbuh remaja tak ingin menikmati muda. Kecuali aku! Sepertinya

Genteng Bocor

Oleh:
Menjelang senja pertama di awal tahun ini, rona mendung terlihat di atas langit Jakarta. Rintik hujan mulai turun membasahi ranah ibukota. Di dalam rumah mungilnya, Pak Samad yang sudah

Koruptor

Oleh:
“Mungkin itu yang dikatakan ibu. Orang-orang telah memberinya uang dan kemudian melarikannya melalui jalan yang dipilihnya. Apa boleh buat, semua telah terlambat”. Melihat penjelasanku, Ali menjawab “Hmm, sepertinya itu

Derita Andi Si Pengamen Cilik

Oleh:
“Bintang kecil di langit yang biru…” nyanyian Andi yang serak karena kerongkongannya belum dilewati air sejak pagi. Dari jendela-jendela mobil, Andi mengais rezeki hanya untuk membeli sebungkus nasi. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *