Dua Tabir (Chapter 1) Capuccino

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 8 April 2013

Dua Tabir. Akan membuat kita semua sedikit berfikir. Apa itu cinta? Kenapa harus ada cinta? Salahkah jika dua orang saling jatuh cinta? Apakah cinta itu datang begitu saja? Apakah orang yang sedang jatuh cinta itu adalah takdir dan anugerah dari Tuhan? Cinta seperti apa yang di kehendaki Tuhan? Dan cinta yang bagaimana yang di larang Tuhan? Mini seri Dua Tabir akan menjawabnya. Selamat membaca.

Chapter1
~ C a p u c c i n o ~

Dua Tabir Chapter 1 Capuccino

Kadang ada sesuatu hal yang membuat seseorang jengah tanpa sebab yang jelas. Kadang ada sesuatu hal yang membuat seseorang emosi tanpa alasan.

Kadang ada sesuatu hal yang membuat seseorang naik pitam jika terus terbayang dengan kejadian yang membuatnya kesal. Semua datang begitu saja. Karena suasana hati yang tidak pada tempatnya, membuat hatiku dan hari ini menjadi kelabu. Kacau. Kecewa. Yang jelas, ini hari terburuk yang pernah aku dapati sebagai seorang manusia.

Hening. Kelas itu benar benar hening. Sebagian siswa telah pulang, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih sibuk berkutat didepan kertas ujian mereka. Seorang guru berkacamata duduk dikursinya bukan untuk mengamati murid-muridnya yang sedang memeras otak itu, melainkan asyik bermain game di laptopnya, sesekali mata liarnya mengitari sisa sisa muridnya yang masih tekun mengerjakan remedial. Dari jendela kaca, aku melirik karibku yang masih serius dengan kertas yang kurasa semakin menjemukan baginya. Peluh menetes dari dahinya yang mengkerut. Matanya merah bukan karena mengantuk, melainkan karena iritasi membaca soal yang selalu di ulang ulang. Pertanyaan pertanyaan di lembar itu bak teka teki neraka yang susah dipecahkan. Meski pernah dipelajari sebelumnya, sisa waktu yang sedikit hanya akan membuatnya semakin emosi dan tidak konsen. Sayang, aku bukan malaikat yang bisa memberi dia bantuan. Aku hanya berdoa agar dia lekas menyelesaikan tugas itu lalu kabur secepatnya.

“Jangan lupa nanti malam yah?” lirihku mengingatkan Rian dengan bahasa tubuh yang ia mengerti. Dia mengangguk. Beberapa teman lain melirikku. Melihat perhatian siswanya tertuju padaku. Pak Sarga juga demikian. Mata ularnya melototiku layaknya melihat seorang pengkhianat yang memberi kunci jawaban pada mereka. Perjaka tua itu lalu mengusirku dengan gaya yang tidak ada sopannya sedikitipun. Aku tersenyum kecut kemudian berlalu sesaat setelah satu pesan ku kirim kepada Rian. Bahwa aku menunggunya nanti malam di rumah.

***

Udara sore ini seakan menguras keringat. Panas dan keringat melebur membasahi tubuhku. Lengket. Gerah. Risih. Menguap membuatku tidak tahan. Setelah meletakkan sepeda motor di dalam garasi, segera aku masuk kedalam rumah dilanjutkan menerobos masuk ke dalam kamar. Kunyalan air conditioner dengan suhu terdingin dan perlahan angin sejuk terasa mengademkan seisi ruangan. Kubuka pakaian seragamku kecuali celana abu abu dan kaos putih. Agaknya musim kemarau sebentar lagi datang. Sambil mendengarkan Hits terbaru Kerispatih mataku merem melek menahan kantuk yang ku rasakan menggelayuti kelopak mataku sejak selesai mengerjakan remedial dari Pak Sarga tadi. Sangat bersyukur aku masih mengingat semua tugas-tugas itu dengan mudah. Tidak perlu banyak waktu aku rampung mengerjakan 25 soal memuakkan. Sehingga aku bisa keluar lebih cepat ketimbang teman-temanku lainnya. Mulutku menguap tiada hentinya. Kutambah lagi suhu minus pendingin ruangan itu. Serta merta udara sejuk mengelus wajah dan leherku. Fiuhhh. Badanku rasanya remuk semua. Letih. Lelah dan apalah namanya yang jelas aku capek. Pekerjaan sekolah ditambah lagi laporan dan makalah serta tugas-tugas lainnya yang bejubel banyaknya seperti menjadi bulan-bulananku. Kalau tidak ingat pesan ayah dan bunda, mungkin aku tidak perlu serepot ini dalam hal urusan belajar. Tidak perlu mengejar target dengan predikat kelulusan yang harus memuaskan. Tidak perlu berambisi menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Akan lebih nyaman mungkin jika bisa menjadi yang biasa biasa saja tanpa satu beban berat dipundaknya. Mendapat rangking ya syukur. Nggak mendapat rangking nggak masalah. Yang penting lulus. Titik. Yah, mungkin inilah nasibku yang memang harus mengejar prestasi seperti harapan kedua orangtuaku. Tapi selagi aku mampu, apapun akan aku usahakan buat mereka. Mungkin sebagai pelajar, inilah tanggung jawabku terhadap mereka. Membahagiakan dan membuat harum nama keluarga dengan segenap prestasi disekolah. Dan syukurnya, sampai detik ini ayah dan bunda belum pernah mereka kecewa terhadapku. Justru sebaliknya, mereka terkesan begitu bangga memiliki putra sepertiku. Ya semoga saja kelak aku tidak akan mengecewakan mereka nantinya.

***

Setelah selesai mengerjakan tugas komputer bersama Rian. Aku duduk di depan meja belajar untuk sekedar membuka twitter sebentar. Ada beberapa mention dan direct mesage (DM) yang belum aku balas. Beberapa dari teman dekat di kelas. Beberapa lagi dari teman di dumay. Dan terakhir, ada mention dari Danu. Remaja yang tinggal satu kost denganku. Yang intinya dia meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Aku segera menutup internet setelah tahu remaja itu juga sedang onlien.

Ku ambil gitar akustikku lalu aku duduk menyandar di tempat tidur. Sesekali aku mengambil intro. Perlahan ku petik dawai gitar penyejuk hati itu. Ku nyanyikan lagu kesayanganku dengan mengunggah aransemenku sendiri. Melekat di jiwa. Dari kerispatih.

Baru setengah lagu ku nyanyikan suara ketukan pelan terdengar di pintu kamarku. ku lirihkan suaraku. Suara ketukan itu terdengar jelas. Aku beranjak setelah meletakkan gitar di atas kasur. Ku buka pintu perlahan. Suara derit terdengar tidak enak di telinga. Sepertinya pintu kamarku perlu di perbaiki. Ada engsel yang mau lepas. Mataku lalu tertuju pada sosok remaja yang berdiri di depanku. Kulitnya putih. Rambutnya agak pirang. Matanya sipit. Bibirnya merah tipis dan badannya agak kurus. Dia tinggi. Melihat pakaian yang di pakai, sepertinya dia habis dari luar. Anak cina. Dia menatapku dalam.

“Ada apa…?” tanyaku tanpa basa basi.

“Ini. Danu ada kopi kesukaan, kakak…” aku melihat remaja etnis itu menjulurkan nampan berisi capucino.

“Untuk apa, ya?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Sebenarnya aku tahu, Danu ingin meminta maaf atas beberapa kesalahannya tadi pagi, dengan memberiku secangkir capucino mungkin dia berharap aku mau memaafkannya. Ada dua cangkir sebenarnya. Satu untukku. Dan satu untuknya. Mungkin dia ingin mengobrol denganku. Tapi aku lagi bad mood melihatnya. Dia masih diam menatapku. Tatapanya itu sulit aku artikan.

“Dalam rangka apa?” tanyaku lagi.

“Hmmm, tadi Danu kebetulan kepingin kopi, terus keluar. Mau pesen satu tiba-tiba teringat kakak. Ya sudah, Danu beli sekalian. Danu taruh di mana kopinya, kak…?”

“Nggak usah repot-repot. Aku juga nggak terlalu suka kopi. Apalagi capucino.” Ketusku datar.

“K-kenapa, kak? Bukanya kak Alfi suka capucino?”

“Untuk sekarang aku lagi nggak suka…”

“Jadi, satu cangkir capucino ini untuk siapa?” tanya Danu kecewa.

“Kasih yang lain aja…”

“Tapi, di rumah ini nggak ada yang lain kak…”

“Maaf, Danu! Kakak lagi sibuk. Masih banyak tugas sekolah. Sorry yah, kopinya buat yang lain aja…” aku menutup pintu dan menguncinya. Lalu kembali ke atas ranjang dan menggamit gitarku. Rasa kesalku karena ulahnya masih aku rasakan sampai malam ini. Gara-gara dia tadi pagi aku di maki habis-habisan sama tetangga sebelah. Haji Marlan. Masalahnya sepele. Pak Haji mengingatkanku untuk membayar kontrakan tahun ini. Uangnya sudah aku siapkan. Kemarin, ketika aku sibuk dengan kegiatan osis, aku tidur di rumah Rian. Aku menitipkan uang itu sama Danu. Tidak banyak, cuma satu juta tiga ratus ribu rupiah. Tapi, pagi harinya setelah aku kembali. Pak Haji teriak-teriak di depan pagar dan membuatku tidak nyaman. Mana jadi tontonan tetangga lagi. Aku tanya baik-baik masalahnya apa. Katanya aku terlambat membayar kontrakan. Sontak aku terkejut. Saat aku tanya Danu tentang titipanku, dia bilang sudah di titipkan sama anaknya Pak Haji. Rama. Teman sekelas Danu yang ternyata pergi ke rumah temannya di Muaro Jambi dan sampai sekarang belum pulang. Kabur? Ya, Rama kabur membawa uang itu untuk ongkos katanya. Memang kesalahan mutlak bukan pada Danu. Melainkan Rama. Tapi, Danu juga salah. Dia tidak mengabariku. Atau minimal kenapa dia tidak memberitahukan Pak Haji? Danu sudah minta maaf. Tapi tahu sendiri Pak Haji itu orangnya seperti apa? Kalau tengsin dia tidak peduli siapapun. Semua di pukul rata. SALAH! Setelah acara marah-marah tadi pagi. Yang membuatku tidak nyaman adalah gunjingan tetangga dan anak kost lainnya. Mereka tidak pernah melihat aku di maki-maki karena telat membayar uang kontrakan. Bersyukur aku hanya tinggal satu ruangan dengan Danu. Di rumah ini, hanya aku dan dia yang menempati. Dua kamar lagi kosong. Jadi aku tidak terlalu malu dan tidak perlu malu sebenarnya dengan kejadian tadi pagi. Tapi jujur, aku belum pernah di maki-maki seperti tadi pagi. Aku orangnya mudah tersinggung. Bahkan ayah dan bundaku saja belum pernah memaki aku dengan umpatan dan kata kasar seperti yang keluar dari mulut seorang Haji itu. Tapi kejadian ini aku jadikan perlajaran. Agar hati-hati dalam menintipkan sesuatu. Amanah itu susah di jaga. Janji itu sukar di tepati. Dan kata itu mudah di dustai. Jadi, aku ambil hikmahnya saja. Jadilah orang yang bertanggung jawab dan amanah.

***

Jenuh bermain gitar aku berfikir ingin mencari hiburan di dunia maya. Kembali aku membuka laptop dan langsung lihat status terbaru teman-teman di facebook. Jujur, sebenarnya aku tidak ingin membuat Danu kecewa dengan menolak pemberian yang jelas-jelas aku menyukainya. Capucinonya itu. Tapi aku terlanjur tinggi hati. Dan jika sedang marah, aku tidak ingin di ganggu oleh orang yang membuatku marah. Tanpa meminta maaf aku sudah memaafkannya. Tapi, aku hanya tidak terima karena kecerobohannya itu, aku jadi kena imbasnya. Orang yang makan nangka, aku yang kena getahnya. Belum lagi tadi di sekolah. Katanya Danu mau ikut pulang bareng. Aku tunggu di parkiran satu jam lebih. Eh, ternyata dia udah pulang dan di jemput kakaknya. Bukanya sms atau kasih kabar, ini main pergi aja. Kesalku pada Danu sebenarnya sudah aku tahan-tahankan. Dan beberapa lagi kesalahan Danu yang membuatku naik darah.

***

Ku lihat Dix Vixion mengupdate status “Kangen Bunda” langsung aku like dan koment. Sama. Aku juga kangen bunda. Dix tidak membalas. Dia keburu off. Ternyata dia sudah online tiga jam lebih. Aku merefresh beranda. Lalu mataku terbelalak ketika melihat Danu Kurniawan mengupload foto dua cangkir capucino dan menambahi keterangan.

“Sedih. Bahkan, capucino kesukaanya yang sengaja aku buat, di tolak. Sepertinya dia masih marah padaku…” tidak berselang lama empat tanda likers nongol di statusnya. Dua koment langsung muncul.

“Kenapa, bro? Kok kayak sedih?” Allan Cakep Kuadrat koment.

“Danu, ada apa sayang?” Chika Si Gadis Villatury menyusul. Sepertinya melalui kedua orang itu, aku akan tahu bagaimana Danu sebenarnya. Jujur, kami belum lama saling mengenal. Kurang lebih dua minggu ini kami baru tinggal serumah. Dia anak baru di sekolah. Kemarin aku sempat mengemosnya saat acara penerimaan siswa baru. Selang beberapa detik jawaban Danu muncul.

“@Allan, ya bro, aku sedih. Aku udah buat kesalahan. Tapi aku nggak bisa dapat kata maaf. @Chika, Danu lagi sad kakak. Danu lagi sedih…”

“Wah ada yang galau ini. Sini, sama aku aja. Nanti tak kasih permen…” Revan Satria Yoga menimpali ruang komentar.

“Memangnya kamu salah apa, Danu?” Chika langsung aktif.

“Ceritanya panjang, kak. Tapi Danu lagi mikir bagaimana biar orang itu mau maafin aku. Aku nggak mau punya rival dalam satu atap…”

“Inbox kakak aja. Siapa tahu bisa bantu…”

“Ya, kak. Nanti aku inbox. Cuma sekarang aku bisa tenang kalau aja dia mau terima capucinoku untuknya.”

“Emang orang itu siapa? Pacar? Kalau dia nggak mau. Aku mau kok, Dan!” Allan masih mengomentari.

“Bukan, Allan. Dia kakak kelasku. Wakil ketua osis di sekolah…”

“Oh, kak Alfi yang ganteng itu kan Dan?” serobot Revan yang aku rasa masih satu kelas dengan Danu.

“Dan. Kamu udah ngomong baik-baik sama dia belum?” Chika komentar.

“Sudah kak, bahkan capucino yang ku bawa sebagai permintaan maafku untuknya, nggak di terima. Aku tahu, sebenarnya dia suka sekali capucino.”

“Kok, gitu. Memangnya kamu salah apa sih? Kok segitunya dia…” lanjut Chika. Danu menjelaskan singkat tentang kesalahannya. Aku mengikuti komentar-komentar itu hingga puluhan banyaknya. 30 liker. 87 komentar. Kasihan Danu. Setega itukah aku menyimpan kesal padanya? Tapi, kalau melihat tingkahnya yang masih anak baru saja dan sudah banyak membuat, kecerobohan dan kekonyolan lalu imbasnya tertumpu padaku. Aku memang kesal padanya. Dia ini benar-benar ceroboh. Manja. Selalu membuat masalah. Trouble makker. Karena merasa terlalu lelah hati dan pikiran. Aku memutuskan untuk tidur. Nanti malam aku harus terjaga.

***

Saat aku mau berwudhu untuk shalat malam. Aku sempat ke pantri mengambil segelas air putih di dalam lemari es. Tanpa sengaja, aku melihat secangkir capucino di taruh di atas warming plate di atas meja makan. Warming plate sama dengan lepek listrik seukuran dasar gelas yang di pakai untuk menjaga suhu panas air di dalam gelas atau porselen agar tetap hangat. Ada note di sebelah lepek itu.

“Aku sadar, aku menyebalkan. Tapi jangan marah sama capucino itu. Dia tidak salah…” Hatiku terenyuh membaca note singkat itu. Sepertinya dia serius menyadari kesalahannya. Dia itu anak yang tulus. Benar kata Danu. Aku memang marah padanya. Tapi capucino itu tidak salah apa-apa meski yang membuatnya orang yang membuatku marah. Tidak adil namanya menganggap semua miliknya sama dengan yang memiliki. Demi menjaga perasaan anak baru itu. Aku membawa capucino tersebut ke dalam kamar setelah berwudhu. Setelah empat rakaat shalat tahajud. Aku mencicipi capucino Danu. Hmmm. Enak. Yah, walau dia memesan. Tapi racikan itu kan tetap dia yang membuat.

“Danu. Kamu sudah tidur?” ku kirim satu pesan untuknya. Aku berbaring di atas kasur. Terlentang. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Pertanyaan konyol yang aku kirimkan pada remaja itu. Jam segini, dia seharusnya memang sudah pulas. Tidak ada balasan? Wajar.

“Aku minta maaf. Seharusnya tidak perlu marah padamu. Kau tidak salah. Aku yang terlalu menganggap masalah kecil menjadi besar. Mimpi indah. Semoga besok sekolah kau kembali segar…” aku pun langsung tidur sesaat setelah mengirim SMS terakhir. Entah hanya perasaan atau halusinasi aku mendengar selulerku derderit. Tapi pikiranku saat itu terbayang dengan kejadian di rumah sore tadi. Kejadian yang membuat emosiku memuncak.

Aku pulang dengan luapan emosi ketika melihat Danu malah asyik mengobrol dengan temannya di ruang tamu. Sedangkan rintik hujan tanpa dosa mengguyur semua pakaian yang di jemur di belakang. Setelah temannya Danu pulang aku mendekati remaja itu.

“Kau lupa hari ini kalau kamu yang piket?” tanyaku pada Danu yang menyapu lantai. Dia menatapku kaget.

“Astaga! So-sory kak, Danu lupa angkat jemuran…” ia benar-benar shock.

“Kamu ini gimana sih Dan? Tadi pagi aku kena marah gara-gara kamu lupa kasih uang kontrakanku sama Pak Haji. Terus saat pulang sekolah kamu sms ingin pulang serempak, aku tungguin di parkiran kamu malah pulang sama kakakmu. Terus, jemuranku lupa kamu angkat? Kamu ada dendam sama aku, hah?!”

“Ng-nggak. Kak. Sorry, Danu benar-benar lupa. Masalah uang itu, Danu juga sebenarnya nggak niat kasih ke Rama. Terus waktu Danu mau ikut pulang serempak kakak, Danu keburu di jemput koko Vindra, dia ngajak aku ke JAMTOS. Saat Danu mau sms kak Alfi, hape Danu ngedrop. Kebetulan koko nggak bawa hape jadi aku nggak bisa kabari. Lagian, kak Alfi masih remedial dan seharusnya kak Alfi nggak perlu lagi nungguin Danu. Masalah jemuran, Danu benar-benar lupa. Kak sorry…”

“Ah, kamu ini…” kataku beranjak menuju kamar.

“Kak…!” teriak Danu saat aku membuka pintu. Aku membalikkan badan dan menolehnya.

“Apa?!” kataku lirih.

“Danu, minta maaf…” katanya dengan mata agak berkaca-kaca.

“Lain kali, harus bisa lebih tanggung jawab. Kamu sudah SMA. Sudah besar. Kalau hal begitu saja suka teledor. Bagaimana kedepannya…” kataku lalu masuk ke dalam.

Air mataku meleleh saat masuk ke dalam kamar. Aku duduk bersandar di balik pintu. Entah kenapa aku nyesek melihat anak itu matanya berkaca-kaca tadi. Dan malam ini ketika kejadian sore tadi hilang dari lamunanku. Perlahan ku pejamkan mata sambil berzikir menyebut nama Tuhan. Semoga aku bisa segera menata hati. Agar tenang jiwa dan ragaku. Tanpa sengaja aku melihat logo pesan ada di atas selulerku. Aku membukanya.

“Danu nggak bisa tidur. Tapi setelah kakak sms barusan. Danu jadi ngantuk…” ckh. Aku tertawa kecil. Dasar anak manja. Selang beberap detik. Satu pesan kembali masuk. Masih dari Danu.

“Kakak, lagi apa?” aku balas.

“Lagi menyesal…”

“Kenapa?”

Aku berfikir sejenak.

“Menyesal karena sudah membiarkan emosi menguasai hatiku…”

Selang beberapa detik.

“Sekali lagi Danu minta maaf kak, nggak bermaksud.”

“It’s okey. Have a nice dream…”

“Thanks. Ur welcome.”

***

To Be Continue…

Waiting For The Next Chapter

~

Cerpen karangan: Jibril
Twitter: @jibril1990
Facebook: Jibril Almuchliesh
Di adaptasi dari cebung asli saya. Kado Terakhir Untuk Danu.

Cerpen Dua Tabir (Chapter 1) Capuccino merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Sorry

Oleh:
Dia hanyalah seorang insan biasa yang berusaha mengejar cintanya. Namun salahkah bila dia mencintai seorang gadis sepertiku? Aku tak tahu jika dia sangat mencintaiku dengan penuh kasih sayang dan

Penyesalan Memang Datang Terlambat

Oleh:
“Ibuuuuu!! Mana uang jajannya?” Teriak Cintya. Seorang pelajar SMP yang baru akan berangkat ke sekolah saat jam sudah menunjukan waktu untuknya harus berangkat saat itu juga. “Kemarin kan sudah

Kemah Akbar

Oleh:
“Jadi, kapan kemah akbar dilaksanakan?” Aku bertanya saat dia pulang dari rapat. “Jumat, tanggal 7-9 November 2014,” jawabnya seraya tersenyum aneh. Firasatku buruk. Deg! Sepertinya senyum itu isyarat bahwa

Sebuah Buku Pengantar Masa Depan

Oleh:
Aku ingat saat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahku. Mobil itu merupakan pemilik dari salah satu warga perumahan yang dianggap sebagai orang yang memiliki perusahaan terbesar di Indonesia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dua Tabir (Chapter 1) Capuccino”

  1. Rinzani Putri says:

    Bagus bagus ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *