Duda Beranak Tiga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 31 December 2015

Bukannya aku tidak setuju, kalau Ahmad menyukai Maryam. Anak baru gede kemarin sudah mau dipacarinya. Padahal, Ahmad sudah memiliki dua cucu dari anak tirinya yang pertama dan anak kandungnya. Aku khawatir, Ahmad tidak serius menjalani hubungan dekat dengan gadis di Kampung Sukamanah bernama Maryam itu. Sangat ku ketahui, Maryam adalah gadis tetangga kampung yang baik dan polos.

Aku kasihan. Kalau Maryam anak Hindun itu menjadi permainan lelaki duda beranak tiga. Ahmad yang ku tahu suka gonta-ganti perempuan, bisa jadi Maryam hanya menjadi kekosongan hatinya. Sebab sudah dua tahun, istrinya Ahmad yang bernama Ela kabur dari rumah, hingga sekarang dikabarkan sudah dinikahi selingkuhannya oleh salah seorang aparat. Waktu itu, Ahmad tidak pernah menaruh curiga kalau istrinya buka warung dekat “Hotel Bahagia” sering disinggahi tamu lelaki yang mampir ke warungnya. Rupanya dari sekian banyak tamu lelaki, ada saja lelaki cunihil (nakal) menghampiri dan menggodanya.

Ini juga tanpa sepengetahuan Ahmad. Karena Ahmad, setiap harinya menjadi tukang ojek di pangkalan pertigaan pendopo, sekira 200 meter dari warung istrinya. Lelaki si penggoda itulah yang terus dan terus melakukan pendekatan terhadap Ela. Lantaran setiap hari bertemu, tampaknya Ela juga senang digoda. Ini bayangan masa lalu Ahmad. Istrinya kabur dari rumah membuat Ahmad terus bertanya-tanya. Apa penyebabnya, dia bisa pergi? Saat itu, Ahmad benar-benar lagi galau. “Apa yang harus aku lakukan?”

Ahmad merana. Suara batinnya meradang. Tak karuan. Batinnya tak sanggup lagi dipermainkan. Wajahnya bermuram durja seperti akan menelan waktu siang dan malam. Sebab tiada hari tanpa mengeluh dan mengaduh. Mungkin saja jika malam dia akan mengaduh pada rembulan dan jika siang dia akan bertanya pada ranting yang meranggas. Begitu kuatnya perasaan cinta yang dialami ayah tiga anak ini. Di pojok yang hampa. Aku sering melihat Ahmad bagaikan pohon yang meranggas. Seakan batinnya memanggil kehidupan ini untuk diakhiri saja. Batinnya terus bernyanyi sendu untuk menghilangkan duka lara.

Di saat dia terpuruk, aku hadir di hadapannya. Tentu saja, sebagai teman yang mengenali Ahmad jiwanya mudah terpuruk. Seperti hembusan angin di daun randu yang menerbangkan kapas. Mungkin saja lantaran orangnya pendiam. Bisa saja dia malu bercerita kepadaku. Masalahnya selalu ditelan sendiri. Memang, perasaannya sulit ditebak. Ahmad tidak akan mengeluarkan isi hatinya kalau tidak dia kenal sebelumnya.

Tapi, aku hanya bisa melihat dari rona wajahnya memerlukan belas kasihan. Pasti dia sedang menderita, pikirku. Maka, tak banyak pikir panjang ku bawa dia ke pondok pesantren Darul Jannah tak jauh dari tempatnya mangkal. Ahmad ku rawat dan diajarkan salat serta berdoa oleh Sang Kyai. Selama sebulan, waktu yang teramat singkat, ada perubahan di wajahnya, sikap dan tingkah laku, ya sudah mulai terlihat ada perubahan. Ku harap dia bangkit lagi dari keterpurukan. Tak lama dia kembali ngojek lagi di pangkalan.

Dalam hitungan hari dan bulan, Ahmad menghilang dari hadapanku. Sebagai teman aku kangen sama dia. Kangen dengan kebaikannya, suka menolong dan tidak ngotot sama penumpang. Dia adalah tukang ojek yang sering aku pergunakan jasanya untuk setiap kali bekerja. Tidak seperti tukang ojek lainnya, suka minta nambah kalau kurang pembayarannya. Ahmad tidak. Cukup bilang terima kasih dan dibalas dengan senyuman.

“Lagi sibuk nih Ka Aji,”

Ahmad sering memanggilku dengan sebutan Ka Aji. Itu jawaban Ahmad bila ku telepon untuk membawaku keliling mengajar. Dulu, setiap hari Ahmad ku ajak menemani mengajar anak-anak usia dini di tiap kampung dengan berkendaraan ojek miliknya. Ke tiap kampung yang belum tersentuh pendidikan usia dini. Ahmad sangat berjasa dalam hal ini dia tidak pernah meminta bayaran untuk jasanya mengantarkan aku mengajar anak raudhatul athfal di tiap kampung. Aku pun begitu dengan sikapnya yang tulus membuat hatiku mudah iba jika keikhlasannya adalah ibadah maka aku pun memberi imbalan jasanya tak tanggung-tanggung jika aku mempunyai rezeki menurutku berlimpah. Walaupun sedikit kita tetap bersyukur.

“Beneran aku sibuk sekarang ngantar Ayu ke rumah sakit,” begitu alasannya. Karena harus mengantarkan Ayu ke rumah sakit Berkah.
“Kasihan dia janda Ka Aji.” Jawaban Ahmad selalu membuatku mengerti, bahwa Ahmad suka menolong orang yang membutuhkan tenaganya. Tetapi? Aku heran, apa urusannya dia sebut janda? Batinku bertanya-tanya. “Lalu, Ayu itu siapa? ” Ahmad tidak pernah menyampaikan kabar tentang kondisi hubungan apapun dengan si janda itu. Kenapa tiba-tiba, dia begitu khawatir. Ah, peduli amat tentang dia.

Sebulan tak bertemu lagi. Ada rasa ingin bersilaturahmi dengan Ahmad. Biasa aku kunjungi di pangkalan ojek pendopo kabupaten. Ada beberapa temannya sedang nongkrong sambil nonton televisi di pos penjagaan pintu gerbang pendopo. Tapi, aku tidak melihat Ahmad di sana.
“Abah, lihat Ahmad nggak?” Seorang lelaki bertubuh besar dan rambut beruban. Ku taksir usianya 65 tahun. Si Abah yang ku tanya juga terheran, tidak mengetahui kehadiran Ahmad.
“Dia sudah lama tidak pernah nongkrong di sini.”

Hari tu, ku dengar kabar bahwa Ahmad sering datang ke desaku. Tapi tidak mampir ke rumah. Diam-diam langsung ke rumah Maryam. Cerita ini dari tetangga. Kenapa aku begitu berat melepaskan keikhlasan kepada Maryam. Dan tidak rela kalau Maryam dipacarinya. “Ahmad itu duda. Aku khawatir, Maryam akan menjadi pelampiasan hasratnya saja. Dan dia pernah gagal membina rumah tangga. Karena, tidak konsisten dalam menafkahi keluarga. Bahkan, istri pun menggugat minta cerai. Dan berlari dari rumah.” Batinku memprovokasinya.

Begini pengaduan Ela kepadaku. “Dipertahankan juga percuma, selalu ribut dengan suami.” Ela, saja istrinya kabur dari rumah. “Menurut hukum agama apabila istri sudah tidak dinafkahi lahir batin tiga bulan lamanya berturut turut, istri berhak mengadukannya ke pengadilan.”

Ela lebih berhak memilih dengan melarikan diri bersama lelaki lain. Ahmad beranggapan, cara Ela seperti itu sudah menjadi keputusannya untuk berpisah. Aku memikirkan nasibnya dengan Maryam nanti. Dia seorang anak baru gede yang dipacarinya. Khawatir akan dipermainkan begitu saja. Aku berdalih. Ahmad sudah berusaha ingin kembali kepada mantan istrinya lantaran sudah mempunyai anak. Mantan istrinya sudah tidak sudi lagi untuk bersatu membina bahtera rumah tangga dengan Ahmad. Anak pertamanya sudah kuliah. Pasti membutuhkan uang banyak. Maryam akan terabaikan. Sedangkan anak yang bungsu bersama ibunya di Garut. Anaknya yang kuliah masih sering dibantu anak tirinya yang sekarang berumah tangga di Rangkasbitung. Hidupnya sudah lumayan mapan. Dia sudah PNS.

Kenapa aku keberatan kalau Maryam jadi pacarnya tukang ojek itu. Mantan istri Ahmad, pernah bercerita kepadaku, mengaku tak tahan hidup bersama Ahmad. “Setiap harinya memperoleh penghasilan dari ojek tidak menentu. Kadang ngasih uang hanya cukup buat jajan anak, yang satu sepuluh ribu rupiah, dan anaknya yang kecil si bungsu dua ribu rupiah.” Ahmad memang selalu kedodoran dalam menafkahi keluarga. Apalagi kondisi zaman sekarang bagi tukang ojek di kampung menganggap uang sebesar itu tidak cukup untuk mengendalikan ekonomi dalam rumah tangga.

“Sebetulnya saya sudah tidak sanggup lagi bersama Ahmad.” Mantan istrinya Ahmad sering bercerita lagi kepadaku.
Dulu, aku tak sengaja mampir di warungnya Ela, tak jauh dari Hotel “Bahagia.” Aku haus untuk meminum segelas es. Sekedar membasahi tenggorokan. Rasanya penat pun hilang, Mampir di warung bersama anak-anakku, sehabis mengikuti acara pelatihan manasik haji tingkat Raudhatul Athfal di alun-alun Pandeglang.

Seperti bergumam. “Dia pelit Bang,” Ela mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Ahmad yang pelit itu. Aku terdiam menghayati kata-katanya barusan, barangkali bisa untukku lebih introfeksi lagi. Jika memang hampir sama peristiwanya denganku, aku harus mengubah cara pandang dan cara perlakuan terhadap anak dan istriku. Agar mereka tetap betah bersamaku. Suami, mestinya mampu melindungi keluarga dalam memimpin rumah tangga. Ahmad ini tidak memberikan nafkahnya tiap hari, alasan tidak ada pemasukan. “Berapa sih hasil ngojek? Minim. hanya cukup untuk ngisi bensin dan bayar angsuran motor tiga tahun.” Makanya dia harus rela menjaga warung dekat hotel “Bahagia”

Waktu terus saja dilewati Ahmad dengan perasaan senang dan bahagia. Apalagi saat ini Ahmad sedang dekat dengan janda di Kampung Kupluk.
“Kalau yang ini, dudanya sudah setengah umur Ji,” Aku hanya bisa meladeni dengan senyuman, agar ia bangga dengan jati dirinya. Aku tak ingin dia kecewa karena sikapku yang seakan tidak pernah mempedulikannya. Tapi aku penasaran ingin tahu jawaban apa lagi kalau aku sampaikan begini.

“Lalu, perempuan yang di Kadumerak itu siapa. Belum lagi si Yani di Mengger.”
Dua nama perempuan yang pernah dia sebutkan kepadaku tempo hari, jadi aku berharap dia mengakui dan apa alasannya.
“Ah, sudah putus. Soalnya, kalau ketemu uang melulu. Bosan.”
“Kok bisa begitu?” Aku masih memberondong satu pertanyaan lagi. Dan Ahmad menjawabnya cukup berjiwa besar. Tak ingin terulang kembali perbuatan bodoh masa lalunya.

Sebentar lagi Acara jalan jalan ke Jakarta, rupanya menjadi target untuk Ahmad mengajak Maryam. “Sudah kamu mah bikin nasi timbel aja. Nanti saya yang kasih itu uangnya,”ujar Ahmad setengah memaksakan kehendaknya agar Maryam memahami apa maunya.

Cukup banyak alasanku untuk melarang Maryam berpacaran dengan Ahmad. Dia masih gadis, Ahmad seorang Duda yang ditinggal kabur istrinya. Pacarnya juga banyak. Cukuplah dikatakan dia tidak konsisten orangnya. Bukannya aku menghambat hubungan Ahmad dengan Maryam. Kalau aku tidak kenal dekat siapa ibunya Maryam, mungkin aku membiarkan Maryam dipacarinya. Hindun, ibunya Maryam bekas pacarku.

Pandeglang, Desember 2015

Cerpen Karangan: Tb Apin Suryadi
Facebook: Apin Suryadi
Nama: H. Tb Apin Suryadhi
Tempat/Tgl/Lahir: Pandeglang, 8 April 1967
Alamat: Kp Cigintung Rt 02/02 No.7 Desa Sukamanah Kec.Kaduhejo Kab Pandeglang-Banten. Kode Pos 42253
Berminat pada sastra sejak SLTA. Sekarang bergiat menulis puisi, cerpen, dan Novel. Mendirikan Komunitas Sastra Gunung Karang Pandeglang.

Cerpen Duda Beranak Tiga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Kehadiranmu Di Hidupku

Oleh:
Namaku Deasy. Sebelum memulai kisahku, aku ingin mengajakmu kembali ke tahun 2003, saat aku masih berusia 27 tahun. Kehidupanku berjalan normal dan menyenangkan. Ketika itu, aku bekerja sebagai sekretaris

Siapa Malingnya

Oleh:
“Mas, boleh minta tolong ndak?” Seorang laki-laki berbadan tinggi besar menghampiriku di pos ronda. “Minta tolong apa ya?,” Aku meminta penjelasan. “Itu, bantuin saya ngangkat kayu ke mobil.” Kata

Pirouette Kue Ulang Tahun

Oleh:
Sara keluar dari stasiun dengan langkah ringan, merasa senang bisa lepas dari sesak kerumunan penumpang Jumat sore. Tumit sepatunya berkeletak-keletak tiap kali menapaki trotoar yang masih basah setelah hampir

Khotbah Wak Usman

Oleh:
Wak usman begitulah kami memanggilnya sehari-hari terbangunkan oleh kokokan ayam, di kampung ini hanya ayam jantan yang berkokok. Seirama dengan sang sinar fajar yang menjulang di antara belarak pohon

Rumah Kenanga

Oleh:
Terik matahari di Jakarta pagi ini tidak sedikit pun menghapus semangat gadis berusia 19 tahun ini. Ia sibuk sekali dengan perabotan yang sedang ia masukan ke dalam sebuah kardus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *