Dunia Baru Adrian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 April 2022

Langit sore adalah langit yang paling menakjubkan dengan warnanya yang mempesona. Awan-awan yang tak beraturan membentuk lukisan yang akan menggoda siapapun untuk melihat keatas walaupun hanya sebentar. Itulah yang membuat seorang pemuda berlari menaiki tangga untuk mencapai rooftop gedung universitasnya. Napasnya terengah-engah dan kakinya terasa kram karena gerakan yang tiba-tiba. Semua sakit pada tubuhnya sudah tiada rasanya ketika berada ditempat yang ia tuju. Matanya menatap sendu garis cakrawala yang teramat indah. Ia duduk disalah satu kursi dan kemudian perlahan memjamkan matanya. Membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya. Pikirannya mulai kembali dimana ia masih mengira bahwa semua ini adalah hasil. Hasil yang berupa dunia baru yang indah. Tanpa ia tahu seberapa keras dunia baru yang akan dia hadapi.

2 tahun yang lalu, tepat pada kamis, 9 April 2018, pukul 4.45 dini hari. Merupakan hari paling menegangkan bagi para siswa tingkat akhir. Hari dimana mereka akan menghadapi ujian yang menjadi hasil akhir mereka menempuh lamanya pendidikan sekolah menengah. Sama seperti siswa lainnya, Adrian masih berkutat dengan puluhan soal yang sudah dan akan ia kerjakan. Tidak peduli berapa jam yang sudah ia habiskan untuk menyelesaikan semua soal itu karena ia sudah memilih satu bintang yang paling jauh menurutnya. Sebuah universitas ternama ditengah kota, menjadi impian banyak pemuda yang menginginkannya.

Azan shubuh berkumandang membuat Adrian tersadar dari fokusnya. Merenggankan otot dan langsung bangkit dari duduknya. Adrian percaya, sekuat apapun usahanya tidak akan terwujud jika Yang Kuasa tidak menghendakinya. Dia selalu memegang tegung prinsip yang sudah ditanamkan ayah pada dirinya. Agama yang sudah menjadi landasan mengapa ia hidup didunia ini. Agama yang sudah menjadi landasan semua perilaku yang telah ia perbuat selama ini. Dan agama yang sudah menjadi landasan semua bintang yang ia pilih. Semua itu membuat Adrian yakin, apapun hasil yang telah ia usahakan maka itu jalan terbaik yang telah ditentukan tuhannya. Karena Allah yang menciptakannya, maka Allah yang pasti mengetahui apa yang terbaik untuknya.

Selepas sholat shubuh, Adrian bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk menghadapi ujian yang telah ia persipakan dari 5 bulan yang lalu. Merapihkan mejanya, memasukkan semua alat yang dia butuhkan kedalam tasnya. Aroma masakan khas yang selalu sama setiap pagi sudah tercium dihidungnya. Dirasa semuanya siap, Adrian berjalan menuju dapur sederhana di rumahnya. Seorang wanita paruh baya sudah menyambut hangat dengan senyum bak bulan sabit diwajahnya.

“Nyarap dulu sini dek, biar jalan otaknya nanti pas ujian. Nih ada nasi goreng yaa” ajak wanita itu
“iyaa mbah, kan memang selalu nasi goreng setiap pagi. hehehe”
“habisnya nasi selalu nyisa kalau malem, dari pada dibuang mubadzir mending mbah bikin nasi goreng toh”
“nah betul itu mbah, betul”
“yowes, mbah ke pasar dulu yoo. Kamu langsung berangkat aja nanti. Jangan lupa, doa dulu kalau mau ngerjain. Assalamualaikum”
“iyaa dong, pasti mbah. Waalaikumsallam” jawabku sambil mencium tangannya.

Lima hari telah berlalu. Hasil yang dinantikan sudah didapatkan. Adrian mendapatkan nilai yang tergolong semupurna jika dibandingkan dengan nilai yang biasa didapatkan siswa lainnya. Hatinya tak sabar untuk mendaftarkan diriya sebagai mahasiswa dikampus yang ia impikan. Adrian berlari menuju rumah sederhana di tepian garis pantai kota probolinggo. Kebahagiaan yang ada membuat Adrian tak sanggup untuk melepaskan senyum dari wajahnya. Saat seorang wanita paruh baya yang tak asing hadir dalam penglihatannya, ia semakin berlari kencang untuk mengahampiri wanita tersebut.

“Assalamualaikum. Mbah, liat ini mbah” ucap Adrian dengan semangat penuh
“Alhamdulillah, gak sia-sia belajarmu dek. Wah, pasti keterima ini di kampus yang kamu mau”
“iyaa mbah, Alhamdulillah banget. Tapi, mbah gapapa aku tinggal sendirian disini? Aku gak apa apa kok, kuliah di sini”
“jangan, kuliah di Jakarta adalah impian kamu dari dulu. Kamu belajar mati-matian supaya bisa masuk kampus disana kan. Lagian itu juga pesan dari almarhum dan almarhumah ayah ibu kamu. Ndak apa apa mbah tinggal disini aja, tapi pesan dari mbah cuman satu”
“apa itu mbah?” Tanyaku
“jangan pernah kamu tinggalkan sholat dek dan selalu ingat, dimana pun kamu berada Allah pasti selalu bersamamu. Dan jangan sampai, kamu ikutin pergaulan yang buruk-buruk disana” pesan nenek Adrian.
“iyaa mbah, pasti akan selalu aku ingat pesan mbah” jawab Adrian dengan penuh keyakinan.

Adrian tidak pernah berpikir bahwa ia dapat ketinggalan sholat disana. Karena dengan Negara yang hampir 87% nya menganut islam, pasti akan mudah sekali ia untuk beribadah. Namun, Adrian tak pernah tau. Bahwa yang menjadi halangan bukan tempat ibadah. Tapi, lingkungan sosial yang tak akan pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tanggal 17 april 2018. Tepat pukul 15:00. Merupakan hari yang paling menegangkan dalam hidupnya. Setelah melewati tahap pendaftaran dengan berkas-berkas yang sulit, disinilah ia sekarang, duduk disebuah warung internet sederhana. Menatap layar komputer secara seksama. Menunggu sebuah hasil dari perjuangannya selama ini. Selang beberapa detik, layar komputer itu memunculkan sebuah pernyataan yang Adrian tunggu selama ini. Air matanya jatuh perlahan. Adrian bangkit dan langsung berlari kencang menuju rumahnya tanpa peduli teriakan penjaga warung yang kebingungan dengan tingkahnya. Adrian berlari sangat kencang dengan air mata yang semakin deras terjatuh tanpa ia sadari. Ia langsung menghampiri wanita paruh baya yang sedang terduduk di kursi kayu depan rumahnya. Wanita itu melihat Adrian dan langsung bangkit dari duduknya. Menatap heran seakan menunggu apa yang ingin disampaikan oleh anak itu.

“mbah, aku diterima mbah” teriak sambil berlari menghampiri wanita itu.
“aku diterima mbah!” teriak Adrian sekali lagi yang membuat wanita itu paham apa maksud dari cucunya.
Adrian langsung memeluk erat neneknya dengan air mata yang terus saja mengalir. Wanita paruh baya itu perlahan meneteskan air mata haru. Dia sudah yakin bahwa cucunya pasti akan diterima.

“sudah, mulai dari sekarang kamu persiapkan apa saja yang harus disiapkan yaa” ucap sang nenek seraya melepaskan pelukannya
“iyaa mbah. Terima kasih banyak ya mbah, sudah mendukung aku selama ini”
“iyaa dong pastii” jawab nenek sambil tertawa.

5 bulan sebelum masa perkuliahan. Adrian sibuk mencari uang untuk biaya hidupnya. Setidaknya untuk 1 semester. Adrian tidak ingin neneknya yang menanggung semua biaya hidupnya. Lebih baik dia bersusah payah dari pada harus menjadi beban.

Suara ngeong seekor kucing menyadarkan lamunan Adrian. Pikirannya kembali setelah beberapa saat mengingat seberapa bahagianya dia dahulu. Adrian memberi makan kucing itu dengan bekal makanan yang ia bawa. Kebetulan dia bawa ayam, kucing pasti suka. Adrian menoleh sekelilingnya, terasa hening dan sunyi. Langit senja masih mempertahankan keindahannya. Angin yang menerpa juga masih mempertahankan sejuk nya. Adrian menyandarkan punggunnya ke sandaran kursi yang ia duduki. Perlahan ia memejamkan kembali matanya. Ia teringat akan awal masa perkuliahannya, dimana ia begitu terkejut dengan lingkungan sekitarnya.

9 september 2018. Pukul 12:02. Jam makan siang untuk orang-orang kebanyakan. Ini adalah hari pertama Adrian untuk perkuliahan. Setelah penyambutan yang berlangsung kurang lebih 3 jam lamanya, tentunya ini adalah waktu istirahat sebelum melanjutkan kegiatan yang akan datang. Disinilah Adrian, duduk disalah satu kursi cafeteria kampus dengan 5 orang teman lainnya yang tentunya baru ia kenal. Membicarakan hal-hal ringan yang sedikit menohok, membuat Adrian cenderung pasif dalam pembicaraan. Azan dzuhur berkumandang. Adrian mengambil tasnya dan bangkit dari kursinya.

“udah azan nih, ayo semuanya kita sholat dulu” ajak Adrian
“iye lu duluan aja” jawab salah satu pria yang masih sibuk dengan handphone nya.
“yang lain ga sholat?” Tanya Adrian pada teman lainnya
“lu ajaa duluan” jawab pria berbaju hitam
“oh okee”

Adrian heran kenapa mereka lebih mementingkan dunia daripada seruan dari Allah. Adrian langsung bergegas ke masjid dan melaksanakan shalat dzuhur berjama`ah. Setelah selesai shalat, Adrian langsung kembali ke cafetaria tempat teman-temannya berkumpul.

“kalian udah sholat?” Tanya Adrian lagi
“kenapa sih? Lu nanya muluu “udah sholat belum-udah sholat belum” yaa itu terserah kita dong mau sholat apa engga, ga usah sok suci deh!” hardik pria berbaju hitam tadi dengan intonasi yang cukup tinggi.
Adrian cukup terkejut dengan tanggapan teman barunya itu
“yaa, aku cuman ngingetin. Lagian sholat itu kan wajib bagi setiap muslim” jawab Adrian yang berusaha untuk tidak terbawa emosi.
“wajib buat lu yang sok suci” pria berbaju hitam itu mengambil tasnya dan langsung pergi meninggalkan cafeteria.
“sabar ya Adrian, dia memang sifatnya kayak gitu. Kalau untuk sholat, yaa emang kita ga biasa sholat aja” ucap salah satu perempuan yang dari tadi diam.

Seperti disambar petir disiang hari yang panas, Adrian masih tak percaya dengan apa yang diucapkan perempuan itu. Bagaimana dia mengatakan hal seperti itu dengan ringannya?. Mungkin dialah yang harus beradaptasi dengan semua perbedaan di lingkungannya.

Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Adrian sudah memasuki semester 4 perkuliahan. Dia sempat mengikuti beberapa organisasi, tapi ia selalu disingkirkan. Alasannya sederhana, Adrian terlalu memikirkan sholatnya. Orang-orang disana bilang, kalau orang yang terlalu dekat sama agamanya itu ribet. Banyak peraturannya. Meski mereka tak pernah mengucapkan hal seperti itu didepannya langsung, tapi dia selalu mendengar ketika orang-orang membicarakannya dibelakang. Adrian selalu memutar otak untuk kejayaan organisasi yang ia ikuti. Dia selalu memberikan ide-ide brillian, tapi Adrian selalu dipandang sebelah mata ketika ia membahas tentang agama. Adrian masih sulit untuk percaya. Ada segelintir orang yang menjadikan agama hanya sebagai formalitas saja.

“Apakah sesulit ini mempertahankan ibadah?” Gumam Adrian pelan, namun masih terdengar oleh gadis berambut pirang disebelahnya
“coba disabarin aja ya, gak usah terlalu mikirin mereka. Gua salut sama prinsip yang lu pegang dengan teguh, dan gua harap jangan sampai lu melepas prinsip yang udah lu pegang mati-matian ya” sahut gadis itu dengan nada santai.

Entah karena dia yang terlalu lama berada di zona nyamannya atau memang karena dunia yang sekeras ini. Semua ini masih terlalu asing untuk Adrian. Otaknya masih mencoba untuk menerima, tapi hatinya tidak. Hatinya belum bisa merasa nyaman dengan dunia baru yang begitu keras ini. Tapi disisi lain Adrian sadar, jika dia selalu berada di zona nyamannya, lalu kapan dia bisa tumbuh?

Dering telpon dari handphonenya membuyarkan pikiran Adrian. Ia kembali tersadar dari lamunannya. Tertera nama “pak Wijaya” dilayar handphone nya. Adrian langsung bangkit dan menjawab telpon itu dengan suara yang sangat sopan. Sudah waktunya dia kembali ke rutinitasnya. Mengikuti kelas kemudian mengerjakan tugas dan mengikuti beberapa organisasi yang mau menerimanya. Sekeras apapun dunia yang ada disini, dia tetap akan berpegang pada prinsip yang sudah ditanamkan ayahnya. Siapapun itu tidak akan ada orang yang dapat menghalangi ibadahnya. Tidak ada yang bisa mengganggu hubungan ia dengan tuhannya. Dan itulah prinsip yang adrian akan bawa sampai akhir hayatnya.

Sekian

Cerpen Karangan: Rheea Adyatama
seorang siswi SMK yng salah jurusan dan sedang berjuang untuk masa depan

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 9 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Dunia Baru Adrian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


34 (1)

Oleh:
Aku melihat bapak dari kejauhan. Duduk di kursi kayu depan rumah kami yang lapuk. Beliau tertunduk. Memperlihatkan rambut yang telah tertutup uban. Entah apa yang dipikirkannya. Memikirkan apa yang

Pesan

Oleh:
Pras menghela nafasnya yang makin terasa pendek. Tangannya memegang sebatang rokok yang dari tadi cuma dia genggam. Matanya tertuju pada layar handphonenya. Dia sedang membaca satu pesan di grup

Maafkan Aku Ayah

Oleh:
Di suatu hari, di hari yang cerah ada satu orang ayah yang sudah tua, rambut rambutnya yang semula berwarna hitam telah berubah menjadi putih, kulitnya pun sudah berkerut, ia

Usap Air Matamu

Oleh:
Enam tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Juli 2010 aku meninggalkan kampung halamanku. Dari Bekasi menuju sebuah desa yang berada di Pandeglang. Bersama empat temanku, kami mantapkan niat jauh-jauh

Sang Nabi

Oleh:
Pagi-pagi betul ketika semburat cahaya matahari pagi menyapu ujung dedaunan pohon pisang dan pepucuk daun sukun aku sudah selesai sarapan, lalu berangkat mengajar. Perlahan namun pasti, jarum cahaya mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *