Dunia Sekarang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Aku tak paham dengan jalan pikiran orang di luar sana. Mereka saling mencaci maki, mereka saling bertarung, dan yang paling mengerikan. Membunuh. Entah apa yang mereka pikirkan. Kadang, aku suka berada di dunia tulis-menulis. Apapun bisa kau tuliskan di sana. Tapi kau tak akan mendapat cacian karena itu hanyalah sebuah tulisan.

Autis, terbelakang, cacat, dan hal-hal lainnya. Aku mengerti mereka. Mungkin bisa dikatakan aku mengerti apa yang mereka katakan. Tak banyak orang yang tahu, apa yang sebenarnya dimaksud oleh orang-orang seperti mereka. Terkadang aku tak mengerti jalan pikiran mereka. Mereka memasung orang-orang yang memiliki mental abnormal -terbelakang. Mereka menganggap bahwa orang-orang itu adalah sumber penghancur -mereka mengamuk. Padahal, mereka bukan mengamuk karena keinginan mereka, tapi karena mereka ingin dimengerti. Namun orang-orang malah berpikiran lain dan memilih intuk memasung mereka. Kejam, kan?

Kehidupan jaman sekarang tak lebih dari zaman Jahilliyah. Namun sekarang lebih modern. Mereka mulai saling mengejek lewat media sosial. Bahkan tak jarang mereka saling tawuran hanya karena ejekan tersebut. Kadang aku berpikir, apakah zaman penjajahan dulu seperti ini? Jika ya, sudah pasti perjuangan para pahlawan sia-sia. Terkadang dunia ini memiliki hal gila. Lihatlah ke luar jendela, dan kau akan melihat jalanan yang penuh lubang, tak jauh beda saat jaman penjajahan. Lihatlah ke atas langit, polusi-polusi udara memenuhi atmosfer bumi, tak jauh beda dengan jaman penjajahan yang selalu mendung karena asap mesiu. Lihatlah pada anak-anak yang saling menenteng gadget masing-masing, tak ada interaksi sosial yang terjadi, tak jauh beda dari jaman penjajahan ketika terlihat jelasnya perbedaan kaum bangsawan dan kaum melarat.

Andaikan aku seorang politikus, akan kuteriakkan ini pada dunia. “DUNIA MEMANG GILAAA! PERJUANGAN PARA PAHLAWAN SIA-SIA JIKA MANUSIA TERUS BEGINI!!!”
Namun sayangnya aku bukanlah seorang politikus, ataupun seseorang yang mengerti apa itu politik. Aku hanya penulis yang pandai merangkai kata dan prihatin pada kondisi dunia.

Cerpen Karangan: Zhavira Aprilia Jaya
Zhavira Aprilia Jaya. Kini usianya 12 tahun. Sebentar lagi 13. Cewek penggemar One Piece ini sudah mengenal dunia tulis-menulis saat kelas 3. Juga tertarik pada kebudayaan Jepang. Sangat mengidolakan Marcela Azuela sejak membaca buku Fantasteen yang diterbitkannya.

Cerpen Dunia Sekarang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


RyA

Oleh:
Mungkin kalian sudah sering mendengar kisah ini. Namun tak sekali pun kisah ini terealisasikan dalam kehidupan nyata. Ku ingatkan, kisah ini bukan kisah fiksi. Kisah ini didasarkan pada sejarah.

Pungguk Membiarkan Bulan Pergi

Oleh:
Masih dia berfikir keras menyikapi masalah ini, dahinya tampak membiru karena terlalu banyak bersujud meminta bantuan jawaban kepada tuhannya, matanya tampak hitam karena terlalu dalam melihat dalam lubuk hatinya

Perjalanan Menata Hati

Oleh:
Apakah anda merok*k? Ya, Tidak, Kadang-kadang Berapa jam anda bekerja dalam sehari? 8 jam, 10 jam, 24 jam Aku bingung untuk mengisi questionser ini pertanyaan yang menurutku sangat tidak

People Change

Oleh:
Aku Maulida Anjani, panggil saja aku Lida. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung. Lahir 19 tahun lalu di Semarang dan berada di tengah-tengah keluarga yang

Bubur Untuk Kakek

Oleh:
“Kek, Aisyah lapar..” Rintih gadis kecil berbaju hello kitty yang sudah mulai pudar warnanya. “Sabar ya Aisyah, dagangan kakek belum ada yang laku” ucap kakek sambil sekali-kali mengusap kepala

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *