Egoisnya Negeri Ini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 May 2016

Aku kembali menatap langit, gelap dan pekat. Aku tidak menghitung seberapa lama aku telah berada di sini, rasanya waktu tak beranjak. Hanya saja luka ini terlalu sakit untuk disimpan sendiri. Angin berhembus pelan. Terasa menusuk. Aroma debu bekas bangunan ambruk yang dibawa angin ini menghujam jantungku. Air mata ini kembali mengucur. Aku yang sedari tadi bersandar pada salah satu bangunan yang hampir roboh. Maksudku, ini dulunya rumah Dodi. Teman yang sering bersamaku di jalanan. Sayang dia telah pergi. Aku tak dapat membendung lagi. Aku ingin teriak, aku ingin mati saja, semua sudah tidak berguna lagi bagiku.

Bintang. Ya, aku melihat bintang. Aku teringat pada senyum ibuku saat kami bersama-sama duduk di teras rumah kami yang sudah reot dimakan waktu. Rumah reot di antara gedung-gedung pencakar langit. Rumah reot di antara beton-beton yang angkuh selalu berusaha memperbesar diri tanpa melihat ada siapa di bawah sini. Rumah reot milik ibu, Senyumnya yang seindah bulan. Ibu yang mencintaiku, ibu yang melindungiku dari kerasnya ibukota, ibu yang masih tegar walau suaminya telah berkhianat dan pergi bersama istri baru dan anak-anak barunya. Tanpa peduli padaku yang masih berumur 7 tahun. Aku yang sekarang tidak bersekolah, menghabiskan waktu di jalanan dengan kemoceng dan makan dengan nasi aking atau bahkan tidak makan sama sekali.

“Bu, kenapa bintang terlihat kecil tapi bersinar?” tanyaku manja. Ibu tersenyum mendengar pertanyaanku yang terdengar lugu.
“Lihatlah Nak, menurutmu bintang itu kecil?” tanya ibuku sambil menunjuk kearah bintang yang paling terang. Aku menatap bintang itu, aku mengangguk.
“Sebenarnya bintang jauh lebih besar berkali-kali lipat dari bumi Nak.” Ucap ibu lagi sambil mengusap kepalaku. Mataku berbinar, terlihat seperti orang yang tidak percaya.
“Benarkah itu Bu?” tanyaku antusias. Ibu mengangguk.
“Oleh karena itu jangan pernah melihat seseorang dari luar Nak, karena penampilan tidak pernah menggambarkan seberapa besar dirinya.” Pungkas ibu. Tangannya merangkul bahuku.

“Lihat bintang itu bersinar. Menurutmu karena apa Nak?” tanya ibu lagi. Aku sejenak terdiam, berpikir, lalu dengan percaya diri aku menjawab.
“Mungkin bintang terbuat dari lampu Bu!” ibu tertawa memperihatkan guratan-guratan keriput di wajahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ardi, bintang itu bersinar karena adanya kegelapan. Uhuk, uhuk!” Jawab ibu terbatuk-batuk.
“Suatu saat nanti akan ada banyak orang yang menentang, tidak mengerti, bahkan ingin menjatuhkanmu. Tapi, kamu adalah bintangnya. Dan mereka adalah kegelapan. Bercahaya dan bersinarlah untuk mereka.” Sahut ibu lagi sambil memelukku. Aku tersenyum puas pada jawabannya. Ibu lalu mengajakku masuk ke dalam rumah karena beliau telah melihatku menguap hampir beberapa kali.

Aku menangis, menangis, dan menangis. Ibu. Dimana engkau. Lihatlah anakmu yang malang ini. Anakmu ini merintih, anakmu ini kelaparan, anakmu ini berbau busuk, anakmu ini jadi seonggok sampah di tengah ganasnya kota metropolitan. Aku menutup mataku perlahan. Aku tidak peduli tentang mataku yang sembab, badanku yang bau dan gemetar, perutku yang lapar, kakiku yang terluka atau bahkan menghitung telah berapa hari aku di sini bersandar pada bangunan ini. Di sudut gang, di seberang lampu jalan. Tidak ada lagi lalu lalang atau suara anak-anak yang bercengkerama. Semua sudah pergi dan tertinggalah anakmu yang malang ini sendiri tanpa punya tujuan walau hanya untuk bernaung dari panas atau berselimut dari dinginnya malam. Tidak ada yang peduli. Mereka terlalu sibuk, terlalu angkuh dan sombong untuk menengok atau bahkan menatap anak jalanan sepertiku. Di zaman yang semodern ini adakah orang yang tidak egois? Adakah orang yang tidak hanya mempedulikan diri sendiri? Ini pertanyaan konyol! Tentu saja tidak ada.

Aku lelah Bu, selalu bertanya-tanya takdir tentang kedamaian atau ketenangan. Tidak ada yang nyata. Semuanya hanya bualan, Bu. Hanya omong kosong. Untuk kita yang hidup dipandang sebelah mata. Untuk kita yang hanya hidup untuk mencari makan tanpa memikirkan masa depan. Untuk tiap hari pun kita sering kehabisan akal untuk berpikir apa yang akan kita makan. Walau kita hanya berdua. Di tengah negara yang kaya. Nyatanya Bu, kita masih ditindih miskin, dihimpit kemelaratan. Kita mengerti opini-opini pejabat yang berkoar-koar tentang berantas kemiskinan, nyatanya nihil, Bu! Nol besar! kita hanya jadi korban di setiap ancang-ancangnya. Yang bahkan rumah reot kita pun tak tersentuh oleh janjinya. Bu, kita hanya jadi kelinci percobaan.

Bu, aku sulit untuk bernapas. Tanganku bergetar hebat. Sepertinya asmaku kambuh lagi. Dadaku rasanya dihimpit beban yang berat. Memang bu, beban hidup ini rasanya anakmu tak mampu menopangnya di bahu. Bu, biarkan aku bersamamu. Aku ingin menyusulmu. Biarkan aku ada dalam belaian tanganmu. Bu, aku tidak kuat berada di dunia sekejam ini. maafkan aku yang tidak bisa menjadi bintangmu yang bersinar, biarkan aku bersinar hanya untukmu Bu. Biarkan saja mereka dengan pola pikir dan perilaku angkuh, sifat egois mereka. Toh mereka tidak pernah peduli dengan apa yang ada di hadapan mereka. Walau kita mati pun. Mereka tidak mau buang-buang waktu untuk memikirkan hal itu. Kita tidak sepenting waktu yang mereka gunakan untuk menumpuk uang, walau sedetik. Mereka, orang-orang yang tidak punya hati! Bu, aku tidak kuat lagi.

Aroma roti bakar yang dibalut mentega telah tersebar ke segala penjuru ruang salah satu apartemen elit di Jakarta. Seorang pria dengan jas hitam rapi ke luar dari kamar menuju ruang makan. Umur pria itu kira-kira 30-an. Ia melihat anak semata wayangnya yang baru berusia 7 tahun duduk di meja makan. Mulutnya tak henti-hentinya mengunyah. Matanya tertuju pada layar datar televisi keluaran terbaru yang baru saja dibeli seminggu yang lalu. Sedangkan istrinya sedang sibuk mengaduk-aduk teh. Pria itu duduk tepat di sebelah anaknya.

“Kevin lagi nonton apa?” tanya pria itu sambil merangkul anaknya.
“Itu, kasihan sekali. Ada anak yang seumuran Kevin ditemukan meninggal di sudut gang. Semua bangunan kumuh di situ udah seminggu digusur. Katanya dia duduk di situ sejak ibunya meninggal karena TBC 5 hari yang lalu. Dan dia meninggal karena asma akut. Kasihan ya, Pah.” Sahut anaknya polos. Pria itu kemudian menunjukkan raut wajah masam. Ia lalu mengambil remote tv dan kemudian mengganti channel tv.

Cerpen Karangan: Rhema Yuniar
Facebook: Rhema Yuniar
Twitter: @rhema_yuniar, Instagram: rhemayuniar_ Line id: rhemayuniar_
Tulisan saya ini jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran saya terima dengan tangan terbuka. Terima kasih sudah membaca. 🙂

Cerpen Egoisnya Negeri Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rajutan Asa Mak Yus

Oleh:
Pagi ini suara ayam bersahutan, dengan diringi suara adzan yang damai. Yang selalu memberi semangat di tengah hawa dingin yang menusuk balung (tulang), karena memang hawa hari ini lebih

Sepanjang Jalan

Oleh:
Masih terekam jelas percakapanku dengan Maggie sore tadi. Kami mempermasalahkan kondisi keuangan kami. Terakhir kali aku dipecat dari perusahaan pengalengan ikan dan harus rela menyandang status sebagai pengangguran hingga

Past, Present, Future

Oleh:
“Siapa kamu?” Hanya seorang manusia dari masa depan yang datang ke masa lalu untuk melihat kejadian kejadian yang merubah dunia ini. Yang membuat dunia ini seperti yang sekarang dan

Ia Adalah Sahabat Ku

Oleh:
Tetangga! Sekaligus teman dekat yang begitu akrab, begitulah yang sempat bisa ku tuturkan saat orang lain bertanya “Siapakah gerangan orang itu? Orang yang sering kau beri makan di sudut

Tikus Kantor

Oleh:
Hiruk pikuk manusia berkumpul dalam suatu lapangan nan luas sedang berjuang menegakkan keadilan dan hak-hak mereka. Suara takbir “Allahu akbar!!” lantang terdengar di langit. Semuanya saling menyuarakan aspirasinya kepada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *