Empat Sudut Taman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 October 2017

Taman Sari adalah adalah tempat yang terindah di kota Srikaton. Setidaknya, itulah menurutku. Terletak di daerah pinggiran kota, tempat ini bisa dibilang jauh dari hiruk pikuk aktifitas kerja warga. Hanya ada para pencari kedamaian dan kesenangan di sini. Keluarga yang sedang mencari hiburan, para pelajar yang mungkin sedang membolos hingga senja menjelang, pemuda dan pemudi yang sedang pacaran, beberapa orang yang sedang mencari insipirasi, dan masih banyak lagi. Mereka semua berada di sini.

Ada empat sudut yang menjadi favorit para pengunjung di sini. Masing-masing sudut memiliki kursi kayu, meja kayu, dan peneduh yang membuat penggunanya merasa nyaman berada di situ.
Jaka. Ia berada di sudut pertama. Sudut yang paling dekat dengan jalan. Ia menyukai tempat itu karena ia bisa melihat kendaraan berlalu lalang di depanya. Tempatnya cukup rimbun dan sejuk dengan sebuah pohon beringin besar yang tumbuh.
Wajahnya selalu tersenyum kala memandang jalan. Bukan seperti senyuman orang gila. Tapi sebuah senyum simpul yang penuh pengharapan pada sesuatu yang dilihatnya.

Tapi, apakah hanya sekedar jalanan yang dilihatnya?
Bukan jalanan. Tapi seorang gadis SPG produk kecantikan yang mangkal di trotoar. Jaka belum tahu namanya. Tapi ia sudah mengamati gadis itu sejak empat hari lalu. Jaka menyukainya, dan ia berharap bisa mendapatkanya. Bukan sekedar melamunkanya.
Tapi apa daya, mental Jaka tak sekuat keinginanya. Tiap hari ia cuma bisa menghitung kata di dalam kepalanya sebagai berikut…
“Kenalan. Tidak. Kenalan. Tidak. Kenalan. Tidak…” Yang pasti akan berujung pada kata tidak.

Sudut kedua terletak di dekat sebuah pohon cemara gunung. Kira-kira sekitar dua puluh meter sebelah kiri sudut pertama, dan masih dekat dengan jalan. Sudut kedua ditempati oleh seorang laki-laki dua puluh sembilan tahun bernama Mulya. Ia adalah seorang pengangguran korban pemecatan perusahaanya. Kira-kira sudah dua bulan lamanya ia tak bekerja. Ia bingung. Mau melamar kerja, tapi kemarin ia sudah mengirim lamaran kesebelasnya dalam bulan ini. Dan, belum ada satu panggilan pun. Mau buka usaha, tapi tak punya modal. Istrinya di rumah tak mungkin terus mengandalkan sisa pesangonya! Dan, anaknya yang baru berusia tiga tahun mau dikasih harapan apa jika kondisinya terus seperti ini?!
Mulya merenungi nasibnya. Ia berbisik lirih, “Ya, Tuhan. Aku mesti gimana?”

Sudut ketiga terletak di pojok belakang taman. Paling belakang, dan terjauh dari jalan raya. Terletak di arah barat daya, dan berbatasan dengan sebuah sungai yang lumayan lebar dan dalam. Nama sungai itu adalah: Kali Brantas.
Sudut tersebut ditempati oleh seorang gadis bernama Olivia. Ia adalah seorang anak SMP bau kencur, yang baru mengenal cinta, dan baru saja merasa tersakiti oleh cinta. Ia menangis setelah merasa dikhianati oleh pacarnya yang juga bau kencur: Josef.

Olivia yang masih labil ingin menenggelamkan dirinya ke dalam kali Brantas. Ia masih gelap mata, dan tak melihat bahwa perjalanan hidupnya masih panjang. Dan, ia juga tak melihat bahwa kebahagiaan itu juga tak melulu soal pacaran dengan Josef.
Arus sungai di depanya tampak cukup deras untuk membunuhnya.

Jaka, Mulya, dan Olivia, yang sedang tenggelam dalam gelapnya kisah masing-masing, dikejutkan oleh seorang gila bernama Bejo. Bejo, yang hanya memakai pakaian compang-camping, dengan muka dekil penuh kudis, berlarian mengelilingi taman. Tingkah Bejo membuat sebagian pengunjung merasa takut dan jijik. Sebagian dari pengunjung pun memilih pergi dari taman.
Bejo, dengan tingkahnya yang mungkin tanpa didasari akal sehat, juga berteriak-teriak dalam bahasa Jawa, “Urip kok digawe angel. Aku wae ra tau mumet. Awakmu sing jik waras kok malah mumet!” (Hidup kok dibuat susah. Saya saja yang tak sempurna tak pernah memusingkanya. Kalian yang masih waras/sempurna malah memusingkanya!)

Teriakkan Bejo cukup keras untuk didengar seisi taman. Jaka, Mulya, dan Olivia tertegun dengan perkataan Bejo. Entah bagaimana cara mereka memahaminya. Yang pasti, tak lama kemudian, ketiganya meninggalkan taman dengan pemikiran yang baru di kepala mereka.

Bejo, tak lama kemudian menghampiri sudut keempat yang terletak di sebelah tenggara taman. Sudut yang juga terletak di tepi sungai. Bejo menghampiri seseorang yang sedang duduk di situ. Bejo berkata, “Bro, aku minta rok*knya!”
“Nih,” jawab orang itu, sambil memberikan sebatang rok*k dan korek api.
“Thanks, Bro!” ucap Bejo, setelah menyalakan rok*knya, dan mengembalikan korek api milik orang itu.

Lalu, pengguna sudut keempat itu dengan iseng bertanya pada Bejo. “Bro, nanti malam nomor tog*l yang keluar berapa?”
Bejo tersenyum. Ia menjawab, “87, brow!”
“Oke!” balas si pengguna sudut keempat.
Tanpa berucap apapun, Bejo lalu meninggalkan si pengguna sudut keempat.

Ditinggal Bejo, perhatian si pengguna sudut keempat lalu beralih kembali pada laptopnya di meja taman. Si pengguna sudut keempat sebenarnya adalah “Aku” yang sedang menulis cerpen ini.

Cerpen Karangan: Danang Teguh Sasmita
Saya hanyalah pembaca yang sesekali menulis.

Cerpen Empat Sudut Taman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1966

Oleh:
IBU: Ibu masih bayi saat itu, paling cuma bisa menangis. Kata kakekmu, saat itu, ibu dibawa oleh kakek dan nenekmu mengungsi ke kebun kami yang ada di timur desa.

Miss Taksi

Oleh:
Sebuah taksi berhenti di depan rumah megah di tengah kota. Sebuah rumah dengan tembok yang tinggi, dihiasi lampu taman di atasnya. Sudah pasti itu milik seorang pejabat atau pengusaha

Aku Malam Yang Bahagia

Oleh:
“Kapan?” “Nanti malam, di kafe pojok taman kota.” “Oke… Sampai jumpa,” akhir katanya sebelum menutup telepon. Matahari menyuruk ke ufuk. Langit ungu mulai memerah pada cakrawala. Lampu-lampu sekitar mulai

Aku, Kamu dan Kenangan

Oleh:
Indonesia… negeri kaya dengan dua musim. Musim hujan dan musim kemarau. tak ada musim yang paling ku sukai. Musim kemarau aku benci debunya. Musim hujan aku benci petirnya. Tapi

Bukan Orang Gila

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *