Enaknya Jadi Jimmy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 November 2013

Pagi-pagi sekali Aku bersiap-siap berangkat sekolah di SD tercinta ku. kini aku sedang sibuk menali sepatu. “Assalamualaikum bu!” salam ku sambil mencium tangan Ibu.
“Waalaikum salam”

Seperti biasanya, aku menghampiri temanku, Jimmy. walau agak malas, tetapi aku tidak pernah terlambat sekolah jika berangkat bareng denganya. karena Ia diantarkan naik mobil. dengan sabar aku menunggu Jimmy sarapan. Aku lebih memilih duduk di teras rumah daripada masuk rumahnya yang begitu luas di banding rumahku. Jimmy juga tidak akan cepat makan jika ada aku di dalam.

Kemudian aku mengintip jam yang menunjukkan pukul 06.47. tak lama, Jimmy keluar sambil menenteng sepatu dan mengenakanya. “Maaf ya San, aku lama. hehehe” canda nya. “Iya Jim, gak papa kok” jawabku meringis. Akhirnya, kami berangkat naik mobil Jimmy. kami duduk di kursi tengah. di depan ada pak Sul, sopirnya Jim.

Ketika sampai di sekolah, tak lama bel berbunyi. semua murid masuk ke kelas dan menempati bangkunya masing-masing. Kini pelajaran MTK yang akan di ajar oleh pak Galih. “Jimmy” kata pak Galih tegas ke arah Jimmy yang sedang bercanda gurau oleh teman yang duduk di belakangnya. serentak Jimmy menoleh ke depan. “Tolong kerjakan soal nomor 1”. Jimmy berjalan dengan langkah pelan dan bingung karena belum paham sama sekali. Iya, Jimmy tidak terlalu pandai matematika. bahkan hampir semua Ia tidak bisa. serentak teman-teman tertawa melihat jawaban Jimmy yang tidak nyangkut sama sekali dengan soal. “Kamu ini bagaimana, makanya dengarkan kalau bapak menjelaskan” kata pak Galih kesal. Jimmy hanya menunduk malu.

Di jam istirahat pun tidak seperti hari-hari kemarin. Jimmy sering mentraktirku makan dengan kawan-kawan. Ia cukup mengerti keadaan ekonomi ku. terkadang, aku menolaknya. tapi sering juga menerimanya. jadi uang saku ku selalu tersisa, bahkan masih utuh. teman-teman ku banyak yang menyukainya, karena kebaikanya. tapi ada juga sisi mengesalkanya di saat-saat ulangan. ya, biasalah. nananina.

Waktu terus berjalan sehingga bel pulang berbunyi. kita biasa menunggu jemputan di taman kota. kita juga biasa bermain di sana. bahkan sering masuk keluar toilet bawah tanah patung komodo yang di buat toilet di dalamnya. Pada saat kami akan memasuki taman, ada beberapa pengemis yang duduk di trotoar. “Uang kamu masih sisa kan?” tanya Jimmy kepadaku. aku mengangguk sambil melihat Jimmy memberi uang kepada pengemis. pengemis itu tampak senang dan berlari kegirangan menuju kakaknya yang juga sedang mendekati orang-orang untuk dimintai uang. Aku perlahan menghindar agak jauh dari pengemis itu sehingga Jimmy sempat mencari ku. “Hey! kenapa kamu tidak memberikan uang kepada pengemis itu sih?” tanya Jimmy ngos-ngos an.
“Aku malu”
“Lho, kenapa malu?”
“Ya malu. Kamu ngasih berapa?”
“10 ribu”
“Aku tidak berani memberikanya. uang ini juga bukan untuk nya, karena aku takut jika yang akan dibelikanya bukanlah barang yang berguna. aku juga masih belum bisa mencari uang sendiri. Andai saja aku sudah bisa mencari uang sendiri, aku pasti akan memberikannya uang lebih dari 10 ribu rupiah”
Spontan Jimmy merangkul ku bangga. “Aku bangga punya teman sepertimu. bersiaplah untuk menjadi seorang Sandi yang dewasa dan kelak menjadi pemimpin” gombal Jimmy. aku hanya tertawa sambil mengatakan “aamin”

20 tahun kemudian, ternyata benar apa yang dikatakan Jimmy kepadaku. aku menjadi pemimpin perusahaan terkenal di Ibu Kota. dan Jimmy menjadi polisi dan sudah mempunyai anak satu. kita masih berteman sangat akrab sampai sekarang. keluarga ku pun hidup bahagia juga meski kini Ayah sudah meninggal.

Cerpen Karangan: Ranggita Karimah
Facebook: Ranggitta.k
Nama penulis/karya: Ranggita Karimah
SMPN1 Sekampung Udik

Cerpen Enaknya Jadi Jimmy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuhan, Aku Akan Bahagia

Oleh:
“Nah, cepet bangun dong. Udah pagi loh!” begitulah teriakan Ibunya di pagi hari. Tak seperti remaja lain yang dibangunkan oleh sebuah alarm sebuah handphone, alarm jam weker atau apa

Aku Bahagia Tauu!

Oleh:
Aku memeriksa WA dari mereka, ‘met ultah buat besok…’ kata Pratam, ‘oh yak… met ultah aku lagi di bioskop pegen nonton IT’ kata Radit, ‘aku lagi di luar nih…’

Sahabatku SG

Oleh:
Mentari telah terbit dari ufuk timur menandakan satu hari baru telah datang, sungguh indah ciptaan Tuhan menghiasi pagi ini, bagi setiap insan pastinya ingin memulai hari baru ini dengan

Kado Untuk Jessica

Oleh:
Bel tanda masuk telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Jessica berlari sekencang-kencangnya menuju kelas. Bunyi derap sepatunya seolah membahana di koridor sekolah yang sepi. Saat tiba di depan kelas,

Doa dan Usaha

Oleh:
Setetes rintik air yang jatuh di atas kelopak mawar merona, mengawali seribu tetes air hujan yang akan hadir menemaniku di keheningan ini. Merasakan kesenduan hati, dengan dinginnya cucuran manik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *