Even If We Forgot, The Feelings Still Remain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 8 July 2019

“Vel, kamu jaga Lia. Ayah dan ibu ingin menemani kakek dulu, oke?” Wanita keibuan tersebut membelai rambut kedua anak gadisnya, anak yang lebih tua dengan senyum kecil mengiyakan titah sang ibu, “Vel bakal jadi kakak yang baik dan nemenin Lia sampai ayah dan ibu selesai.”

Nyonya Forster tersenyum bangga melihat putri-putrinya, terutama Velinne yang baru saja menginjak usia duabelas tahun ternyata sudah bisa bertanggungjawab.

“Kalau begitu ibu pergi, ya. Lia, kamu jangan nakal,” pesannya sebelum melangkah pergi, meninggalkan kedua anak itu di koridor rumah sakit.

“Vel, Lia mau keluar, Lia nggak suka di sini,” anak berusia lima tahun tersebut mencubit pakaian kakaknya dengan wajah cemberut, “… Ya sudah kita keluar aja,” ajak Velinne, adiknya lalu mengangguk dan mengikuti kakaknya berjalan.

Beruntung ada taman kecil di belakang rumah sakit, biasanya digunakan untuk anak-anak kecil bermain selagi menunggu orangtua mereka. Kali ini taman itu cukup sepi, keberadaan anak-anak di sana bisa dihitung dengan jari.

“Lia mau main apa?” Tanya Velinne sambil melihat-lihat sekitar, kemudian telunjuk mungil Litany terarah pada dua ayunan yang sedang dimainkan oleh anak-anak lain, “Jangan, Lia, itu lagi ada yang main, tunggu dia selesai, ya?”

Litany memanyunkan bibir, lalu berlari-lari kecil ke arah perosotan. Velinne hanya mengamati Litany bermain dari kejauhan, ia sadar kalau ia sudah beranjak remaja -ini bukan lagi tempatnya main-.

“Permisi, kak,” Velinne menoleh, panggil salah seorang anak berpakaian piyama yang barusan bermain ayunan, “Sebelahku sekarang kosong, adiknya kakak tadi mau main, kan?”
“Iya, benar. Terima kasih, err–”
“Panggil aja Willy, kak,” balasnya dengan senyuman manis.
“Terima kasih, Willy,” Velinne balas tersenyum.

Belum sempat dipanggil, Litany ternyata langsung melaju ke arah ayunan tepat setelah menuruni perosotan.
“Vel, dorong ayunan,” pintanya dengan wajah menggemaskan. Velinne dan Willy tertawa melihatnya.

“Oh, jadi kalian sedang menunggu orangtua,” Willy masih terus berayun pelan, melirik Velinne yang sedang mendorong ayunan Litany, “Yah, begitulah, kalau kamu sendiri?”
“Aku pasien di sini,” dia menjawab dengan mantap, “Lho, jadi kamu kabur ke sini?” Tanya Velinne heran.
“Iya, untuk bermain, di kamar rasanya membosankan. Biasanya anak-anak seusiaku bisa main sepuasnya di luar.”
“Kalau begitu kenapa Willy nggak cepet sembuh biar bisa bebas main?” Pertanyaan polos melesat dari Litany. Willy menggeleng pelan, “Kata dokter aku nggak bisa sembuh dengan cepat, Lia,” sambil mengusap-usap rambut hitam Litany yang duduk di sampingnya.
“Lia nggak mau liat Willy sakit,” Litany tidak menghindar saat sang anak lelaki itu membelai kepalanya, justru ia kelihatan menikmatinya.

Velinne terdiam sejenak, lalu mendapat ide, “A-Aku akan jadi dokter suatu saat nanti, dan aku berjanji akan menyembuhkanmu, Willy.”
Giliran Willy yang tertegun atas pernyataan Velinne.

“Vel, Lia, ayo pulang! Ayah sudah menunggu di mobil,” panggil sang ibu kepada kedua anaknya.
“Lia, ibu sudah memanggil, ayo pulang. Willy, kami duluan, ya,” Velinne menggenggam tangan Litany dan membantunya turun dari ayunan, lalu berjalan ke arah Nyonya Forster yang tengah menunggu di depan taman.
“Ya, sampai ketemu lagi.”

Besoknya mereka berdua datang lagi ke taman, namun tidak menemukan Willy di sana. Mereka terus mengunjungi taman, tapi tetap saja sosok laki-laki itu tidak ada.
Ini terus berlanjut sampai Velinne dan Litany meninggalkan Amerika dan pulang ke Inggris.
Jeda waktu sebelas tahun membuat mereka melupakan satu sama lain.

“Senior Williams, tolong singkirkan tanganmu dari kepalaku.”
“Tidak, kepalamu rasanya enak dibelai.”

Jujur, meski berkata demikian, Litany Forster menikmatinya dan senyuman lembut Emil Williams mengingatkannya kepada seseorang yang dikenalnya dahulu.

Walau kenyataannya ia sudah lupa memori sebelas tahun lalu, tapi masih ada rasa yang membekas di hatinya.

Cerpen Karangan: Litanisa

Cerpen Even If We Forgot, The Feelings Still Remain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mereka Juga Manusia

Oleh:
“Orang gila… Orang gila..” Panggilan-panggilan sejenis itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Kak Omas, orang gila kampung kami. Bahkan, ia sudah tak marah lagi bila anak-anak kampung

Penjaga Keris

Oleh:
Aku hanya menunduk tak sanggup menatap dua orang didepanku. Ribuan kata bernada nasehat, rayuan, bahkan bernada ancaman keluar dari mulut mereka. Aku tatap bibir hitam mereka yang menari-nari. “Kau

Nyanyian Pagi di Victoria

Oleh:
Dengan setengah berjongkok kuarahkan kamera “olympus” ku ke satu-satunya objek yang sudah lama kuincar selama tiga tahun terakhir. Tak cukup sekali, bahkan berkali-kali kupotret sosok seniman bela diri yang

Meja Istriku

Oleh:
“Kami nikahkan anak kami Rida Hidayati binti Hidayat dengan Muhammad Erwin Burhannudin bin Muhammad Subekti dengan maskawin sebuah meja bundar ukiran Jepara tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Rida

Indonesia Baru (Part 2)

Oleh:
“Dan juara pertama kita adalah… Aldi Saputro.” tepuk tangan begitu meriah, tapi aku hanya terbengong. Namaku? “Saudara Aldi dipersilahkan naik ke podium.” ucap juri sekali lagi. Aku menatap Pak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *