Firman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 3 June 2013

“Firman Tuhan halus mengundang, mengundang jawabanku..”
Lagu tema religi nasrani itu di mengerti oleh Abdul Firman, seorang pemuda muslim, 25 tahun yang memang berkepribadian baik dan teman dari Steven Sutopo, orang yang beragama Kristen. Jelas persahabatan dua orang berbeda agama di Jakarta, atau di Indonesia ini memang patut diakui sebagai yang unik. Karena di Indonesia ini masih rentan dengan hal menyangkut agama pasti di anggap tabu, walau seorang Firman yang memang rumahnya tidak jauh dengan Sutopo sahabatnya itu, suka melihat pertemuan doa di rumah Sutopo. Firman juga kesal pada ulah beberapa remaja yang fanatik sambil meminta dukungan dari rekan-rekannya yang berjubah, sudah ustad pula, berombongan mendemo kegiatan agama Kristen yang berlangsung di rumah, walau berdoa untuk orang yang meninggal, di anggap tidak boleh, dan harus minta izin pada polisi/ketua RW, bukan Ketua RT..

Tetapi Firman bukan juga untuk murtad karena suka pada lagu agama nasrani dan hampir hafal menyanyikannya. Firman sekedar menghargai kalau lagu berbahasa Indonesia itu jelas bisa dimengerti dengan maksud menjadikan orang itu selalu mengundang Tuhan dalam hatinya dan menjadikan hidupnya nyaman, tidak penuh rasa iri hati dan ingin tidak bernafsu menghancurkan sesama walaupun berbeda agama, cara pandang dan cara beribadahnya. Firman diakui Sutopo sebagai orang yang berhati bijak dan betul-betul orang Indonesia yang mempunyai semangat toleransi dan pantas dinamai Firman oleh kedua orang tuanya, karena hidupnya itu adalah Firman yang ingin disampaikan ke semua orang agar menjadi baik dan suka menolong tanpa pamrih.

Firman lulus SMA bekerja jadi kenek di pabrik, untuk antar kota. Pabrik makanan atau consumer gods itu menerima Firman bekerja dari clenaing service, buruh angkat atau packing hingga asisten sopir, pekerjaan kasar yang dilakoninya yang membuatnya badannya berotot dan kekar kelihatannya. Dia akui dia tidak pintar dan lulus SMA pun nilainya pas-pasan, itupun karena kebaikan guru-gurunya hingga walau nilai UN-nya jeblok, dia bisa lulus terima ijasah. Pun Sutopo teman SMAnya juga mengenal Firman anak yang suka numpang otak, alias tukang nyontek kalau ulangan pelajaran. Nilainya pun tidak pernah di atas enam, sering kertas ulangan dijadikan mainan pesawat untuk dilemparkan. Tapi kadang juga dia membanggakan diri menempel kertas ulanganya itu di media dinding walau tertulis nilai dua, tanda dia terima kelemahannya.
Makanya dia tidak punya pacar tetapi sering menjodoh-jodohkan Sutopo kepada teman-teman gadisnya. Kadang Firman lucu hingga membuat Sutopo ingat akan masa SMAnya dulu.
“Biarpun dia topo, tapi dia tidak kotor, dia awet, nggak pernah di pakai..” ucap Firman. “Mau dong Lida, sama Topo!” lanjut Firman.
Topo maksudnya adalah lap, kain penyeka debu di dapur. Jelas berbeda dengan Sutop yang masih muda dan pinter. Dia masuk SMA negeri yang jelas mayoritas pelajarnya beragama Islam. Sutopo sadar diri dengan imannya, dia tidak boleh menaksir gadis-gadis muslim, walau di SMA kadang ada aturan tak tertulis, harus mengalami jatuh cinta dan pacaran.. Sutopo juga akui banyak anak gadis teman di kelas ataupun adik kelas yang manis-manis wajahnya. Tetapi dia harus menutup pintu hatinya meski Halida gadis yang ditawarkan Firman itu mau dengannya. Meski kenangan indah juga pernah dilakoni Sutopo ketika Halida mau mengerti pernyataan Sutopo kalau dia tidak pernah ingin menyakti hati wanita dan tak pernah boleh menggoda wanita yang muslim demi mengorbankan keluarganya yang tentu setia pada agamanya.

Nah, Firman mengagumi Sutopo dan keluarga, yang tinggal di kampung, keluarga kristen yang bisa membaur dengan mereka yang muslim. Keluarga yang bisa open house jika ada tetangga datang, meminta tolong. Pokoknya Firman salut dan tidak pernah ambil pusing, sentilan omongan orang-orang soal keakrabannya dengan keluarga Sutopo.

Ingat sewaktu Firman dan Sutopo berdebat soal temannya yang jadi pegawai Satpol PP. Firman menyentil, “Ngapain jadi satpol pp, jadi orang yang tidak membela rakyat. Hanya demi perintah atasan dan upahnya tidak besar, kita harus berantem sama rakyat.”

Memang kadang ada benarnya juga ucapan Firman. Soal penggusuran, satpol PP harus terjun menyerang dan harus siap mementung orang-orang yang punya lapak atau bahkan rumahnya. Lalu rumahnya di buldoser dan dibiarkan rata dengan tanah, seperti perbuatan itu tidak berdosa, tidak punya karma. Sutopo juga merenungkan pernyataan Firman soal kerakusan para investor swasta yang dibiarkan merajalela oleh Presiden, Mentri dan Gubernur, untuk mengakali surat hak milik tanah dan akhirnya rakyat di usir secara terhina, seolah, para investor itu boleh memiliki hektaran tanah tanpa ada nilai ganti rugi terhadap rumah-rumah rakyat yang di bangun dengan perjuangan mencari rupiah demi rupiah. Perbuatan terkutuk juga yang di lakukan aparat agraria, para preman, polisi hingga tentara yang tidak melihat kalau sesamanya pribumi, di gusur demi menyenangkan investor yang mau membangun mall, aparmten atau kompleks elit yang ujung-ujungnya bukan untuk mereka, tapi kalangan ekspatriat dan emigran dari Singapura, Malaysia, dan timur tengah yang mau tinggal di Jakarta.
Pendapat Firman itulah dipuji Sutopo. Banyak kali pernyataan Firman yang diakui Sutopo penuh kedewasaan Firman terhadap masalah yang harusnya dipikirkan remaja sebayanya.
“Soal kenapa remaja masjid jadi teroris, itu karena hasutan dan niat untuk membuat pemerintah kita melihat perkembangan mental remaja sekarang. Mereka mengakui bunuh diri dengan bom itu tidak baik, tapi kan nasib mereka tidak pernah direalisasikan sebagai pemuda yang boleh berkarya pada negara. Banyak anak muda kita terhalusinasi narkoba, eh polisinya juga ada yang senang memeras mereka. Pokoknya kita di suruh jadi penonton saja, soal BBM yang naik terus, kendaraan pribadi yang banyak bikin macet, juga harga-harga kebutuhan hidup yang makin mahal.. Dan kita mungkin akan terjebak perseteruan pendapat yang ujungnya nanti bisa bertikai. Itulah maunya setan, Steven!”
“Iya tapi Steven ini bukan setan lho!”
Iya.. jangan marah ya,” ucap Firman yang sudah memanggil Sutopo sesual nama baptisnya. Tapi Firman tidak mau di panggil Abdul, karena lebih bangga di panggil Firman karena diakui oleh orang-orang yang berbeda agama dengan arti sabda Tuhan pada hari pertemuan mereka itu.

Namun, kali itu Sutopo baru mengerti karena kasus Firman sahabatnya. Lama setelah tujuh tahun lulus SMA, dan Sutopo yang kuliah serta akhirnya bisa bekerja, tidak tahu kalau Firman pun juga sudah mulai punya perasaan pada wanita. Sutopo tidak tahu kalau saja tidak dengar dari omongan tetangga dan sedihnya kok ya di kantor polisi masalahnya..
Memang desas-desus soal perselingkuhan yang dijadikan motif Firman di gelandang bersama seorang perempuan yang lebih tua darinya, Mbak Yani Resti, nama ibu muda itu. Firman dikatakan menginap di rumah Mbak Yani dan mungkin sudah melakukan hubungan suami istri dengan Mbak Yani. Suami Mbak Yani belum menceraikan Mbak Yani tetapi memang sudah menikahi perempuan lain hingga Mbak Yani dan anaknya tinggal di rumah tanpa suami atau ayah mereka.. Kesimpulannya Firman di anggap menyerobot istri orang dan tidak pernah berkomunikasi dengan para tetangga dan aparat RT di rumah Mbak Yani atau Pak Mufid tinggal.
Begitulah pasalnya yang di dengar Sutopo. Sehingga Firman di anggap perlu dipermalukan dengan dibawa ke kantor polisi, bahkan telanjang badan. Meski Sutopo juga mendengar kalau Firman sudah bilang dia tidak melakukan hubungan intim dan malah hendak pulang sebelum jam sepuluh malam. Tetapi sudah di gerebek oleh suami Mbak Yani dan beberapa laki-laki temannya.

Sadarlah Sutopo itu masalah berat bagi Firman dan jelas butuh bantuan aparat hukum dan kebaikan polisi mau mendengar pernyataan Firman maupun Mbak Yani. Firman mengakui kalau dia jatuh hati pada Mbak Yani dan mau menikahinya. Tetapi tunggu waktu tiga atau empat bulan lagi. Tetapi justru suami Mbak Yani yang sewot, Mbak Yani tidak akan diijinkan menikah lagi.

Sutopo yang jadi penonton juga mendengar ucapan ibu-ibu para tetangga, kalau memang lebih baik Firman segera menikah saja dengan Mbak Yani. Karena pasalnya memang lebih baik Firman membawa pergi Mbak Yani dari suaminya yang brengsek dan sudah tidak bisa menjadi bapak bagi anaknya. Namun mengapa Pak Mufis seperti tidak rela istrinya meninggalkannya? Ini sangat membingungkan bagi Sutopo.

Ingatlah Sutopo karena kasus orang di potong-potong atau mutilasi. Ingat karena kasusnya adalah cemburu dan korbannya adalah si wanita. Tetapi ada juga yang di mutilasi laki-laki, tetapi yang membunuhnya adalah wanita yang sudah kadung kecewa pada suaminya yang memang tidak baik wataknya itu. Kacau jadinya kalau pikiran Sutopo berpendar pada malam yang sudah merangkak ke waktu yang sudah larut itu. Beruntung malam minggu, itu saja alasannya hingga Sutopo mau memperhatikan temannya yang sedang di dakwa sebagai perusak rumah tangga orang.
Yah, sangat menyedihkan dan akhirnya keputusan datang dari orang tua Mbak Yani. “Mufid, tinggalkan anakku. Kamu jangan sok-sok an yah!”
Pernyataan bapak Mbak Yani yang sudah 60 tahun itu juga di bantu oleh orang-orang yang datang ke kantor polisi itu, membuat Mufid malu juga. Mufid memang punya niat kembali pada istrinya tapi Mbak Yani tidak suka padanya. Nah, ini juga ada kisahnya pada berita di koran, kalau ada laki-laki yang memohon kembali pada mantan istrinya rujuk, namun di tolak, dan istrinya itu, dilempari alkohol hingga bekas lukanya itu sudah merusak bagian tubuh mantan istrinya itu.
Mengerikan bagi Sutopo. Tetapi apa benar Firman akan mengalahkan perasaannnya demi nasihat Sutopo agar segera meninggalkan perempuan yang dicintainya itu. Wah, Firman, kenapa kau ambil langkah nekad itu?!

Jelas Firman harus menginap di kantor polisi. Besoknya dia mulai memikirkan langkah buat hidupnya dan cintanya. Karena kasusnya jelas membuatnya malu juga berhadapan dengan tetangga rumah orang tuanya. Namun dia juga bisa dimaklumi karena dia memang tidak melakukan hubungan suami istri dengan Mbak Yani. Jelas dia masih baik dan belum berpikiran agresif, dalam hal ****. Hebatnya dia, masih mengatakan, “Saya ini bukan seperti artis yang playboy, sudah menggoda Melinda Dee hingga korupsi di City Bank.”
Tambah Firman lagi, “Saya ini tidak salah kan, karena Tuhan bisa mengerti niat baik umatnya demi menolong sesamanya..”
Sutopo pulang bersama para tetangga sambil mendengar desas-desus yang mengharukan tentang sahabatnya. Semoga Firman bisa selamat dari ancaman mantan suami Mbak Yani itu. Tuhan, semoga Engkau membahagiakan sahabatku yang selama ini belum pernah bersanding dengan wanita. Biarlah dia menolong orang seperti Mbak Yani..,” doa Sutopo hingga tiba di rumahnya.

**** Selesai ****

Cerpen Karangan: Jovian Andreas

Cerpen Firman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lapangan Kehidupan

Oleh:
Semua telah berubah. Tempat ini kini telah berubah menjadi tempat yang begitu tenang. Memang tak sepi, namun tak banyak orang yang datang. Karena hanya pada waktu tertentulah tempat ini

Sideng

Oleh:
Lagi-lagi aku heran menyikapi sifat rekan yang satu ini. Hidupnya seperti sok suci, padahal kelakuannya durjana. Bekerja di salah satu instansi pemerintah, senangnya mendholimi orang lain. Kayaknya tidak ada

Ibuku Matre?

Oleh:
“sudah dapat pekerjaan belum?”. Itulah pertanyaan yang setiap hari Rani dengar dari sang Ibu. Memang semenjak lulus kuliah tahun lalu, Rani belum juga mendapat pekerjaan. Gadis lulusan fakultas ekonomi

Aku, Kamu dan Kenangan

Oleh:
Indonesia… negeri kaya dengan dua musim. Musim hujan dan musim kemarau. tak ada musim yang paling ku sukai. Musim kemarau aku benci debunya. Musim hujan aku benci petirnya. Tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *