Fragmen Kehidupan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 July 2016

Dinginnya Kota Bogor pada malam itu hingga menusuk sendi-sendi tulang. Berlahan curah hujan beransur reda, seiiring terdengarnya lantunan ayat-ayat Tuhan dari dinding kamar sebelah Motel, yang mengalun dan mendayu-dayu.

Ersa malam itu tak bisa tidur. Beberapa kali selimut tebal tercampak jatuh dari tempat tidurnya hotelnya, diambil lalu dikenakannya kembali. Ia tampak resah, gelisah tak tentu khayalnya.

“Andai saja ah… Sudahlah,” ucapnya berlahan.

Diambilnya jaket yang digantungya di balik almari, Ersa keluar menuju serambi Motel dengan menenteng satu majalah yang disampul depannya tertuliskan “Freedom My Love”.

Saat dibukanya halaman delapan majalah itu, dahi Ersa tampak berkerut melihat tulisan yang menceritakan, bagaimana seseorang yang bersikap dan bertindak dalam menghadapi persoalan hidup.
“Bergerak dengan mendapat dosa, lebih baik dari pada diam mendapat pahala,” sebut artikel di Majalah itu.

Tatapan Ersa tak bergeming, meskipun pikirannya menerawang jauh ke Kota Bengkulu. Tersentak lamunan buyar saat seekor nyamuk menggigit ujung jempolnya.

“Ih… Dasar binatang. Udah mau subuh masih ada aja,” gerutu Ersa langsung berdiri pergi kembali ke kamarnya. Ersa kembali berusaha masuk dalam selimut dan mencoba memejamkan matanya. Baru saja mencoba tidur, Ponselnya berdering.

Lama Ponselnya dibiarkannya, melihat nomor yang menelepon tak ada dalam daftarnya. Namun Ersa tetap saja ragu, takut kalau yang menelepon adalah Salim suaminya yang kini lagi di Belanda.

“Ah… Penelpon sial, menganggu orang mau tidur aja,” keluh Ersa sembari meletakan Ponselnya di bawah bantal. Deringan itu terus menggangu telinga Ersa.

“Siapa sih… Helloo… Hello, siap nih? Eh Bang Beben,” kata Ersa langsung berubah mengambil posisi duduk nyamannya.

“Kok lama diangkatnya sayang?” tegur Bang Beben.

“Maaf bang… Habisnya nomor yang terdaftar sih. abang sih pakai gonta-ganti nomor segala… Iih abang nih,” ujar Ersa tampak meringis manja.

“Namanya pengusaha say… Biasalah jangan sampai ketahuan sama yang itu. Say… Abang kangen buanget nih! Suamimu sekarang dimana?”

Rupanya Abang Beben yang nelepon itu merupakan selingkuhan Ersa yang sudah lama tidak ngontak, sejak pindah tugas dari Kota Bengkulu ke Jawa tengah. Lontaran manja sempat beberapa kali terdengar menggelitik hati, menggetarkan hasrat. Sementara lantunan ayat-ayat Tuhan kian senyap di keheningan malam.

Dari balik jendela, terlihat bayangan hitam sekelebat hilang, entah siapa itu. Sementara malam mengiringi tidur indah Ersa, yang akan bertemu Bang Beben sore ini.

“Ah Ayang beb, ja..Jangan ah,” teriak Ersa ngelindur.

Temu Kangen
Pagi-pagi buta, Ersa sudah rapih dan berdandan cantik, dan siap menuju Bandara Sukarno Hatta, Tangerang Provinsi Banten. Jantung berdebar namun hati berbunga-bunga, tak terelakan dari raut cantik Ersa, meskipun di balik kerudung putihnya.

“Untung berangkat pagi ya Pak! Macet begini memang sampai pukul berapa,” kata Ersa dengan sopir Taksi yang serius mengendarai mobilnya.

“Sampai pukul 4 sore Nyoya,” jawab Sopir tanpa menoleh.

Ersa berkali-kali mengaguk-angukkan kepalanya. “Untung… Untung,” pikirnya sembari tersunging senyuman centilnya.

Sekira empat jam waktu berlalu, akhirnya Taksi yang membawa Ersa tiba di pintu bandara. Hari baru pukul 11.03 WIB. Sementara janji Bang Beben tiba pukul 03.20 WIB. Tapi sisa lama waktu itu tak menyurutkan waktu Ersa untuk menunggu.

Hingga jadwal pesawat tiba, Ersa bergegas menuju ruang tunggu dengan perasan yang gimana gitu. Ada rasa senang, rindu hingga perasaan geli-geli pun menghibur perasaan dalam penantian itu.

Selang beberapa saat, seorang bertubuh tegap berkaca mata hitam tersenyum dengan melambaikan tangannya ke arah Ersa. Karena tak tahu, sikap cuek, ia melanjutkan menggigit kuaci yang dibelinya di swalayan tadi.

Ternyata orang berkacamata hitam itu adalah Ayang Beb yang dinantikannya. “Bang Beben,” teriak Ersa mengagetkan orang sekeliling ruang tunggu bandara. Pelukan rindu mereka berlangsung lama, bahkan Ersa sempat menitikan air mata riangnya.

“Ersa, makin cantik aja udah dua tahun nggak ketamu ya?”

“Abang bisa aja, jahat ih dah jarang telepon Ersa. Ersa kan kangen. Eh ingat nggak kejadian di ruangan itu he he he,” tanya Ersa manja.

“Ssst banyak orang”.

“Eh mana barang Abang,” tanya Ersa bergelendotan di tangan Ban Beben.

“Ada, lagi diambil teman, yang sekalian bareng kesini,” katanya.

Mereka tampak melepas rindu di bangku tunggu, kepala Ersa merebah di bahu kiri Beben.

Teman itu Suamiku
Setengah jam berlalu menunggu, akhirnya teman Beben datang, sementara Ersa masih tak peduli dan tetap menaruh kepalanya di bahu Beben, sembari meremas tangannya.

“Ben, nih barangnya, ayo cabut kita,” kata temannya.
“Eh bro… makasih ya, maaf lama, biasalah,” kata Beben mengedipkan matanya ke arah temannya. “Nih kenalkan,” katanya.

Bakdisambar Petir di siang bolong, mata Ersa dan temannya Beben bertatapan. Ternyata temannya itu adalah Salim, suaminya Ersa. Gugup Ersa, bingung beben melihat tingkah Ersa dan Salim yang mulai bicara gagap.

“Pa…pa papa,” kata Ersa suara serak.

Dilepaskan pelukannya dari beben, dan Ersa berlari kencang menuju ke luar Bandara Sukarno Hatta.

Salim tampak diam termanggu, dengan tubuh bergetar kaku. beben tampak binggung. Tak berapa lama, satu pukulan ke muka menghantam Beben hingga ngejomlang jatuh. Saat akan mendapat serangan berikutnya, tiga aparat keamanan menangkap gerakan Salim, dan mengamankan mereka dua sekawan itu.

Saat diamankan pengamanan bandara, barulah semuanya terungkap. Beben tampak pucat pasi dan sedikit meringis kesakitan, meskipun mereka didamaikan petugas, mereka akhirnya berpisah, putus perkawan.

Dengan alamat Motel yang diberikan Beben, Salim bergegas mencari Isterinya. Motel itu ketemu, namun isterinya sudah tidak ada lagi di kamarnya. Salim mencoba bertanya pada siapa saja yang ada di Motel, namun tidak satu pun yang tahu.

Hingga Akhirnya Salim memutuskan untuk pulang ke Kota Bengkulu esok harinya, dan menginap di kamar tempat Ersa menginap. malam itu Salim penuh rasah amarah sambil menanti pulang siang esok.

“Tok… tok… tok,” suara pintu diketuk. melompat dari tempat tidurnya, ternyata seorang perempuan seksi yang menawarkan diri menemaninya di kamar.

Dalam perasaan kesal campur aduk, tawaran itu diterimanya. Perempuan itu menemani Salim hingga adzan berkumandang, dan perempuan itu tersentak bangun, ingin pamit pulang. Beberapa uang warna merah keluar dari dompet Salim.

“Makasih ya dek nemenin malam ini,” kata Salim sumringah.

“Ya Kang. sami-sami. Kontak wae nya, kalau perlu,” kata itu perempuan memberikan nomor ponselnya.

Hari itu Matahari memang tidak bersinar di kota, namun mendung mulai menampakan gelagatnya. Seperti biasanya sembari ngopi, Salim biasa membaca berita melalui Ponsel androidnya. Kaget, saat ia melihat Ersa isterinya diberitakan tewas ditabrak mobil dan meningal dunia.

Dimatikannya Ponselnya, diambilnya tas dan memutuskan urung kembali ke Kota Bengkulu. Salim memilih kembali ke Jawa Tengah ke tempat isteri simpanannya.

memang, rencana awalnya mau bersenang-senang di Kota Bogor bersama temannya, Beben, malah terkuak semua fragmen kehidupan isterinya.

Kematian Ersa tak dihiraukan Salim. Meskipun melangkah gontai, namun Jawa Tengah kembali menjadi pilihannya dan hitamkan untuk pulang ke Kota Bengkulu.

Ersa kabarnya dijemput keluarganya pulang ke Kota Bengkulu, dengan informasi meninggal akibat kecelakaan dalam menjalankan tugas sebagai pejabat publik. Sementara Salim tak dapat di kontak, dan hilang begitu saja. Hingga 15 tahun berlalu, diperoleh kabar, Salim tewas akibat dibunuh oleh isterinya, akibat ketahuan berselingkuh.

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie
Facebook: Benny Hakim Benardie
Benny Hakim Benardie, penulis dan jurnalis senior tinggal di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu

Cerpen Fragmen Kehidupan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salah Paham

Oleh:
Awal masuk SMA merupakan sesuatu yang membuat perasaan sedikit canggung. Hati rasanya dag dig dug banget. Dan ragu untuk berkata “Aku anak SMA!”. Mungkin seperti itulah yang dirasakan Reva.

Antara Aku dan Kakek

Oleh:
Hari ini tidak seperti biasanya. Selepas shalat subuh berjamaah Ummi mengajakku pergi marathon. Maklum, Ummi sekarang sedang mengandung adekku, jadi ummi memintaku untuk menemaninya marthon. Kata orang-orang supaya mudah

Kapsul Cita-Cita

Oleh:
Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan

Tanpa Warna

Oleh:
Aku pernah dengar, katanya, warna kesukaan merupakan gambaran dari kepribadian seseorang. Setiap warna menggambarkan kepribadian yang berbeda. Misalnya orang-orang yang suka warna merah, mereka mempunyai kepribadian berani. Meskipun banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *