Gadis Gula (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 June 2019

Bulan hampir penuh. Sayup-sayup terdengar sebuah suara. Tidak, bukan, sekarang sudah tidak sayup-sayup. Gemericik hujan terjun bebas dari langit ke atap sebuah rumah bercat hijau toska dengan atap dari genting merah bata yang kini menjadi “bandara” bagi riak-riak langit itu. Ada juga yang sampai membentuk sebuah mahakarya pertanda bahwa saat itu langit benar-benar menumpahkan segalanya. Langit terlalu lelah hingga meninggalkan goresan yang besar entah kenapa bisa sebesar itu. Hati langit itu seperti padang pasir tandus kering gersang, mustahil setetes air menampakkan batang hidungnya pun ada sebatas fatamorgana belaka. Doanya, semoga langit mujur, segera dapat antibiotik.

Segerombolan katak kini sedang meriahnya konser di atas panggung hijau lengkap dengan gitar, drum, piano, orjen, plus penari latar dengan lampu disko mejikuhibiniu berkerlap-kerlip antagonis dengan si langit. Pantas lah, banyak orang bilang katak itu instrumen sekaligus komposer nomor satu di jagat raya ini. Ratingnya dijamin unggul dari Beethoven, apalagi kalau sedang hujan tahu gitu sewa saja lah untuk orchestra modal jaring atau tangan saja cukup untuk audisi, tidak perlu sedia golden ticket. Murah, hemat, efisien, plus tak usah lapor manajer.

Seolah-olah tiada dosa, katak-katak itu bereuforia di tengah hati langit yang gundah dan lara. Fakta, kalau langit dan katak itu tak bisa sama-sama. Macam air dan minyak, yang satu di atas yang satu di bawah. Mau ke atas takut ketinggian bisa jadi tak bisa turun lagi. Ke bawah takut jantung copot. Namanya saja takdir, apa boleh buat?

Gadis bermata zamrud duduk bersandar dengan kaki diluruskan dan ditumpangkan di atas bantal biru lusuh dengan tambalan di sana sini. Tangannya melingkar 3600 di cangkir melamin putih berisi coklat panas yang mengepul abstrak. Mulutnya perlahan maju. Satu centi, dua centi, sepuluh centi menuju benda putih itu. Slurrpppp. Mulutnya megap-megap seperti ikan gabus kelamaan di darat. Matanya melebar seratus kali dari biasanya.

Kira-kira lima sekon setelah itu, lelaki berambut cepak dengan segaris kumis tidak agak terlalu tipis berdiri tegak vertikal dengan jendela sembari memandang rintik-rintik hujan yang lama kelamaan makin deras lengkap iringan akustik air hujan dan seng yang menghasilkan bunyi nyaring harmonis nan ritmis. Angin malam ikut-ikutan tidak mau kalah memancarkan pesona putih pucat yang menyuntik kulit ari, menggigit pembuluh darah lalu dengan brutal menusuk si malang tulang.

“Apa yang kau rindukan kala hujan dan dingin datang bergandengan tangan seperti sekarang?” tanya lelaki berambut cepak yang sekarang duduk pahit di sofa imut minimalis.
“Entah. Ara… Ara… tak rindu apapun” timpal gadis yang ternyata asmanya Ara datar. Tangan kirinya menarik narik hidung agak mancungnya sampai merah.
“Begitu ya. Padahal pikirku kau akan jawab serentetan peristiwa yang kau rindu kala hujan tiba.” kata lelaki itu lagi yang kini suaranya perlahan ia buat lebih ringan dari biasanya.
“Lantas, apa yang patut aku rindukan kala seperti ini? Lagian hujan juga jatuh ribuan kali seumur hidup, amnesia aku sudah.” tukas Ara, nyinyir.
“Kali kau ingat sesuatu… apalah gitu.” Tangan kanan lelaki itu masuk ke dalam saku jeans biru lalu menarik seuntai liontin putih mengerling terkena cahaya bohlam lampu. Kini, liontin itu diusap-usapnya lembut sembari dipandanginya lekat lekat. Liontin itu semakin berpendar dan berkelip-kelip manja. Indah sekali. Liontin itu seakan tersenyum ke arah Ara, manis sangat, lebih manis ribuan kali dari madu. “Ini… lion..”
“Liontin Ibu..” sambar Tiara lirih. Kepalanya menunduk 900 dengan kedua tangan yang meremas kuat paha. Sayu. Pandangannya sudah layu kini tambah sayu. “Itu… Aku merindukannya..” sambung Tiara makin lirih setelah jeda agak panjang.
“Katamu tak ada yang dirindu. Munafik kamu.” cecar lelaki itu berat. “Matamu sudah seperti panda Cina, dayung perahu ke pulau mimpi saja sana, biar tidak jadi ratu siang besok fajar.” Lelaki itu mendekat melapisi Ara dengan selimut oranye lalu mengecup kening Ara perlahan. “Jangan terjaga. Sudah itu saja.” Tercabut sudah nyawa bohlam lampu yang sepertinya masih ingin melanjutkan hidupnya. Di lain sisi, Ara tak yakin apakah dia bisa sampai ke pulau mimpi malam itu.

“Tante Rawles? Alamak… Ayaahh sudah tak cinta lagi sama Ibu dan Ara. Jadi gitu sekarang sudah ada suku cadang. Ihhhh… Sini maju. Belum tau jutsu bombardir Ara Chen.” sambar Tiara pedas. Kornea matanya merah. Pipinya persis bakso kebanyakan saus tomat. Digigitnya pipi bagian dalam agar tidak tersenyum.
“Dengerin Ayah dulu dong. Main nrobos palang kereta. Rawl…” belum sempat Ayah teruskan seorang wanita kisaran 30 an muncul otomatis di samping kiri Ayah. Ajaib, seperti keluar dari topi pesulap. Saat yang pas bilang “SEMPURNA”. Dagu panjang sempit, mata bulat binar pangkat tiga, gigi gingsul kemanisan, bibir merah eritrosit, alis badai halilintar, hidung bentuk tanda lebih dari, rambut pirang tergerai apik sepundak.
“Ini pasti Ara. Si manis dalam legenda.” kata wanita itu berbumbu aksen Prancis. Bola matanya melepaskan busur menghujam ke target mata Ara. Jarinya menjulur menggapet tangan Ara. Dingin merambat ke kapiler dan pembuluh darah. “Rawles. Ups… No… No.. No exactly Aunty Rawles.”

Tiara terpaku di dalam hunian besar bereksterior Prancis dengan nuansa klasik romantis dipadu warna kuning pucat elegan. Aroma lavender dan parafin lilin menyeruak ke segala penjuru. Sentuhan pola kain bermotif floral dengan furniture klasik menambah syahdu kalbu. Serasa ambil bagian di film Beauty and The Beast. Pandangannya dilempar pada sebuah lukisan berpigura kayu jati berornamen bunga iris melingkar rapi membentuk satu lingkaran. Tak lupa, dinaungi warna khas pastel kalem dengan perspektif geometris, mirip sulapan Paul Cezanne.
Tangannya menarik paksa sebuah buku bercover coklat usang tapi masih layak baca, walaupun satu persatu, tidak, lima puluh persatu terlanjur bermigrasi.

“Jenderal Ferdinand Susanto. Susanto…” Ara menggaruk kepala padahal tidak gatal. Tangan satunya membolak-balik halaman usang sebuah buku di dekapannya. “Lumayanlah, bisa deportasi boring.” Ara celingukan mengendap-endap menuju anak tangga keramikan dan sengaja masuk ke mulut si koridor yang lambat laun melahap dirinya lalu mencerna satu persatu bagian tubuhnya.

Aku ini manusia. Kalau tak percaya, obrak-abrik saja isi perutku sekarang. Kalau perlu kalian makan atau masak semur isi perutku. Aku ini manusia. Aku punya naluri dan perasaan. Perasaan yang menuntunku merangkai sebuah cerita. Cerita dari sepenggal kata yang menggiring kalian pada sebuah cahaya keemasan. (JAZ 19:20).

Pertanyaan dalam kepalamu sekarang ini pasti, aku berani menjaminnya dengan nyawaku, “Siapakah aku?”. Asal kalian tahu, aku ini bukan siapa-siapa di dunia ini. Aku ini makhluk yang diciptakan sang Desain Agung alam semesta, bermuatan ruh yang nantinya akan terbang bebas ke nirwana yang katanya sangat indah dengan aroma positif menyeruak penuh ke setiap sudutnya. Benar, hanya bermuatan ruh, bukan bermuatan nikel, krom, tembaga atau semacamnya. Makhluk sepertiku ini memang cukup banyak ditemui di segala penjuru dunia, bukan, bukan hanya di segala penjuru dunia, tapi lebih tepat sasarannya semua makhluk di muka planet kakak bulan ini mirip denganku. Tidak terkecuali juga denganmu. Hah! Mungkin dalam saraf pusatmu sekarang ini terngiang-ngiang siapa lebih spesifiknya aku ini. Tapi… bayangan dalam otakmu sekarang sangat mustahil dan bahkan tidak masuk nurani untuk melukiskan bagaimana keadaanku sekarang. Bagaimana warna kulitku, bola mataku, garis alisku, lekukan hidungku, gelombang rambutku, tekukan bibirku, pasukan baris-berbaris gigiku pasti bisa kutebak sekarang memenuhi memori pikiranmu. Makhluk yang meninggalkan sebuah catatan tidak berguna sepertiku ini memang lebih baik dibakar sampai yang tersisa hanya plipir-plipir hitam melayang-layang membuntuti angin siang. Kalau dirimu setara macam aku… aku yakin dirimu pasti… aku yakin… pasti sangat pasti.. mencariku…

Namun, izinkan aku menceritakan sebuah kisah yang pastinya bukan kisah 1001 malam (karena ini bukan Timur Tengah) padamu, wahai manis? Kisah ini mungkin bisa dikata kisah pertemuanku dengan seorang wanita yang aku beri nama “Gadis Gula”. Ah, memang pertemuanku dengannya bukan hal yang penting bagi kamu, kau 99,9 % tidak sudi dengan kisahku, tapi kukira tak ada salah, atau benarnya juga aku menceritakan kisah spektakuler pada dirimu. Awal pertama jumpa dengannya, yah saat itu. Saat aku baru saja merayakan kelulusanku dari akademi seragam hijau. Saat takdir dan kebetulan saling beradu kekuatan menunjukkan mana yang paling pantas dianggap. Saat waktu terasa difreeze oleh es kutub yang tanpa tunggangan mendarat di daerah aku berdiri. Saat dimana hanya aku dan nuraniku yang hidup. Saat dimana semua orang terasa mati dan lumpuh. Saat dimana pandangan hinaku ini kulempar bebas ke sebuah toko roti di ujung gang tempat aku berdiri. Bayangkan! Rasakan saja saat itu adalah saat ini kau menjadi sutradara sebuah film dengan pemeran utama aku dan perempuan itu, dengan harapan akan berakhir bahagia dan menendang jauh tragis ke Planet Pluto. Hina, benar aku terlalu hina di matamu mungkin (atau kau malah setuju denganku).

Harumnya panggangan roti menyerbak ke segala penjuru kota malam itu. Namun, yang aku rasakan harum semerbak ranumnya rambut dan tubuh gadis itu yang lihainya membalik panggangan roti agar tidak hitam. Badannya yang ramping menambah pesona keindahan malam yang terasa gelap menjadi berkilauan terkena hentakan aura manis nan lembut dari sunggingan bibir merah basah gadis itu. Hasrat ingin tanganku menggapai rambutnya dan kuseret paksa untuk terbang menjelajahi habis angkasa gelap gulita ini. Tak perlu khawatir gelap, dengan binaran mata elegannya memberikan kesan matahari, bintang, bulan akan terbangun dari tidurnya dan mewarnai indahnya menghabiskan malam yang ingin kupanjangkan dari biasanya. Berdansa di antara bintang-bintang terbalut gaun awan malam nan gemerlap ditaburi pantulan sinar rembulan merah. Meluncurkan kaki di licinnya bulan sabit kuning gading sembari menikmati parade awan kelabu menyambut keheningan malam syahdu itu kini.

Cerpen Karangan: Puspita
Blog / Facebook: Alfina Puspita Prayogo

Cerpen Gadis Gula (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Penyesat

Oleh:
Matahari terasa terik sekali siang itu, tiada awan, tiada angin berdesir, hanya panas terik menyengat. Alzi, seorang pemuda pengurus mesjid di kampungnya, tampak sesekali menyeka keringat yang mengucur dari

Di Ujung Kegagalanku

Oleh:
Aku dan kamu takkan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Bahagia dan kesediahan selalu berdampingan, begitupun juga tentang harapan dan kekecewaan. Segala perasaan melebur dalam hidup. Namaku Renata.

Berkelahi Dengan Naluri

Oleh:
Saat harap tidak sesuai dengan rencana yang dinginkan, menata hidup dengan rapi tapi kenyataan selalu berkata lain, ditambah lagi dua paham yang menghantui seakan memberi jalan dengan pandang yang

The Gift For My Parents

Oleh:
“Duaaaaarrrrr.” suara gemuruh petir yang diiringi dengan derasnya hujan malam ini membuat tak terdengarnya isak tangis Salsa di dalam kamar. Ia tak percaya bahwa perbincangan dengan orangtuanya tadi membawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *