Gadis Gula (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 June 2019

Astaga! Baru saja kejahilan angan meraupi pusat kecerdasanku. Beberapa detik yang lalu, panca inderaku penuh dengan halusinogen sialan hingga aku terlena dengan sialan itu. Deg! Kakiku lengket dengan jalan setapak di bawahku, seperti prangko yang tertempel di surat pos lengkap dengan cap pos dari kantor pos. Tanganku kaku, jariku avitaminosis, bulu kudukku berdiri tegak bersamaan dengan kulitku yang tiba-tiba penuh dengan tonjolan-tonjolan transparan yang merata di seluruh pergelangan tanganku. Gadis tadi, sudah ada di sini, di dekatku entah sejak kapan mungkin sebelum sesudah atau saat aku terkena godaan rayuan sialan itu tadi. Apa mungkin dirinya sadar bahwa sedari tadi aku melontarkan pandangan nakalku ke dirinya? Dan sekarang ia ingin memaki-makiku habis-habisan, menjatuhkan harga diri seorang yang baru merayakan kelulusan seragam hijau, bahkan mungkin meneriakiku sebagai seorang “cabul”. Pulang nanti, mungkin kulit hitamku sudah bertransformasi menjadi merah dan ukuran badanku menjadi semakin besar dan menggembung. Aisshh, apa apaan aku ini? Sialan itu ternyata masih merajai panca indra dan saraf pusatku. Nyatanya, gadis itu kini masih berpose seperti tadi, memandangku dengan biasa namun bagiku mungkin itu pandangan yang tidak biasa.

Tapi kini, aku bisa lebih close up memandang lukisan Sang Pencipta yang berada di depanku saat ini. Mata zamrudnya terlihat begitu subur, hidungnya terlalu bagus untuk seorang gadis seumurannya, rambut pirangnya begitu nyaman dipandang (ingin aku membelainya), lesung pipitnya lahir karena sunggingan senyuman madunya, dan yang terakhir tatapannya yang nakal dan cantik disajikan hanya untukku seorang. Perlahan aku sempitkan jarak antaraku dengannya refleks tangankku menjadi panjang untuk menjemput tangannya yang masih setia di samping tubuhnya. Entah mungkin karena waktu begitu cemburu atau bagaimana dalam sekejap dirinya sudah raib dari pandangan anak yang baru menginjak dewasa itu. Waktu sebegitu cemburunya apa, sampai sebegitunya merebut sekeping kebahagiaan hidupku yang bisa dibilang tragis namun tidak terlalu tragis.

Ara menelan ludah dalam dalam sampai terdengar bunyi glek pelan namun masih bisa terdengar frekuensi normal. Otot matanya kencang sehingga seperti mau keluar menikmati udara bebas. Perlahan-lahan ia tarik nafas keluar, keluar masuk keluar begitu terus sampai nafasnya makin sependek rok mini. Digaruk-garuknya halaman buku tepat di atas kisah aneh itu. Matanya sengaja dipejamkan rapat-rapat, terlihat dari kelereng mata yang berputar-putar di balik kelopak mata mirip kelopak bunga sepatu merah di pinggir sungai. Aura bermuatan vanilla di mix daun mint terpancar dari tubuhnya yang kini bersila dengan tangan di atas dengkul membentuk tanda oke.

Seratus, dua ratus, tiga ratus ribu detik. Senyap. Sunyi. Hening. Tiga ratus dua puluh satu ribu detik berikutnya mata zamrudnya mendapat rehabilitasi. Tangannya menyenggol botol coke yang masih full, tanpa aba-aba si coke sudah lari tunggang langgang sampai ke pintu keluar kamar.

“Jadi, buku ini curahan hati pemuda yang galau ya? Bahasa orang jatuh cinta khas sekali.” Gumam Ara sendirian. Mungkin hanya tembok dan bantal yang dengar gumamannya itu. Sia-sia kalau ia baca tapi tidak rampung. Bukan tidak mungkin, si penulis itu pasti ingin menyampaikan suara hatinya lewat goresan tinta hitamnya yang kini ada di dekapan Ara. “Mumpung Tante Rawles masih sibuk nyinyir lebih baik khatamkan saja lah kisah ini”. Gumam Ara untuk kedua kalinya. Namun, kekuatan angin malam yang menggoda menghembuskan aroma vanilla dan kayu manis yang menyeruak ke segala tempat yang ia lewati meruntuhkkan segala yang Ara rencanakan beberapa sekon lalu.

Gelisah, gundah, bingung campur aduk di kepalaku yang besarnya tidak lebih besar dari 3 bola voli untuk olimpiade. Rasanya aku masih merasa waktu salah vonis terhadapku, salah sidang tepatnya. Kejadian tadi malam membuatku masih terus terusan menyalahkan waktu sepenuhnya. Apa aku tidak boleh bahagia? Apa aku tidak boleh menaruh harapan dan masa depanku pada gadis itu? Apa waktu ingin merebut gadis itu dariku?.

Hari itu aku masih berjalan santai di sepanjang taman kota yang dipenuhi bunga menyilaukan pandangan sendu ini. Sebersit bayangan melintas cepat di ujung sana. Gadis itu! Iya benar, gadis itu! Dirinya duduk terlalu manis di bangku panjang taman paling sudut taman bunga ini. Kulihat bunga-bunga kini mulai menguncup mungkin karena terlalu malu. Kumbang-kumbang dan lebah-lebah lebih memilih mengitari dan menemani gadis itu yang duduk membawa sekarung plastik kertas entah apa isinya. Aku tak mau melewatkan kesempatan emas ini. Segera saja dengan segenap tenagaku aku berlari melompati rumpunan bunga satu ke lainnya hingga akhirnya aku melihat aura gula dan roti untuk kedua kalinya. Tatapan nakal dan manjanya kini ia lemparkan lagi kepadaku. Oh Tuhan! Bagaimana ini, maafkan diriku yang tak bisa menjauh dari tatapannya. Segera aku rapihkan kaos putih yang aku kenakan semasa “masa getir” dan kukencangkan jam tangan yang melingkar di tanganku. Gadis itu seperti mengiyakan apa maksud gelagatku, spontan ia geser agak menepi tubuhnya menyisakan cukup besar bagian untuk tubuh pas- pasanku. Valentina, terdengar pas dan indah untuk dirinya. Kami berdua terlalu syahdu beberapa menit setelahnya. Walaupun agak gemetaran, tapi aku tidak boleh menampakkannya di depan Valentina. Kami berdua larut dalam hangatnya perbincangan ringan hari itu. Bisa dibilang kami terlalu akrab untuk ukuran dua orang yang “baru saja kenal”. Valentina terlalu berani untuk menceritakan semua tentang dirinya padaku. Suaranya lebih halus dari gula halus yang biasa aku pakai untuk makan roti waktu sarapan.

Tak terasa waktu demi waktu, hari demi hari, tahun demi tahun, dan sekarang rumpun padi di seberang rumahku mulai menyilaukan mata. Aku sekarang bisa bersama Valentina kapanpun aku mau. Valentina sepenuhnya sekarang sudah menjadi hakku. Tiap matahari hampir tidur, Valentina sering bahkan rutin menjamuku dengan bermacam-macam suguhan manis dari dalam dirinya. Valentina hampir tidak pernah absen untuk memandang pekatnya langit waktu itu sembari mengucap kata-kata indah yang membuatku tak pernah merasa lelah setiap harinya. Aku ingin bersama Valentina seterusnya. Tak peduli banyak di luar sana yang merasa tidak terima dengan kami, aku sepersen pun tak peduli. Di selipan doaku, aku ingin melindungi Valentina dan berada di sisinya tak perduli otoriter menjadi demokratis, ruko menjadi pencakar, tanah menjadi aspal, rakit menjadi kapal, bahkan bumi menjadi datar.

Kalian mungkin berpikir aku adalah orang yang sedang bahagia dan beruntung. Kalian mungkin iri dengan diriku. Tak dapat dipungkiri kenapa aku bisa berpikir macam itu. Mungkin sialan itu sekarang sudah menjadi kaisar di tubuhku yang membuat semua yang ada dalam tubuhku menjadi tunduk padanya. Tapi… apakah kalian akan berhenti di sini dan tidak mencariku lagi? Dikarenakan kalian pasti sudah tahu bagaimana aku akhirnya. Entah kenapa aku menjadi besar kepala sekarang. Di dunia ini, kebahagiaan memang menjadi salah satu hal yang ditaksir semua makhluk. Kebahagiaan terjadi karena diri kita yang membuatnya terjadi. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang tanpa batas apabila kita menginginkannya. Tapi, ingat aku, kamu, dan kalian semua bukanlah suatu hal seperti kebahagiaan. Tidak akan ada yang menyangka kalau kebahagiaan mungkin akan terus berjalan lurus, sedangkan aku, kamu, kalian? Mungkin berjalan menyudut atau berbelok.

Aku sekali lagi ingin selalu ada di sisi Valentina. Ingin membelainya, berbahagia ria, berfoya-foya, menikmati kebebasan, menyentuh pipi bakpaonya, mencubit hidung runcingnya, menarik tangan lemah gemulainya. Ingin aku lakukan terus menerus tanpa batas. Hai, kalian semua! Semua yang aku katakan tadi mungkin menjadikan kalian lebih mengerti bagaimana perasaanku. Waktu terus beputar tanpa mengenal apapun. Yang kutuliskan ini mungkin sudah tidak berlaku lagi pada zaman dimana sekarang kau duduk sambil minum cola dengan wajah mengkerut bibir menggerutu mengamati tulisan bergandengku. Tempat tidur tempat kau bersandar sekarang mungkin telah seratus kali lebih coklat dari zamanku. Mata hijaumu kini pasti lebih hijau dari zaman ketika mata hijau masih dianggap luar biasa. Dan, liontinmu itu? Apa kabar? Baik-baik saja kan? Benar. Zaman sudah terbalik sepenuhnya. Semua yang aku curahkan sudah tidak berlaku lagi pada zamanmu. Begitu juga denganku, yang tidak akan pernah layak dan pantas muncul di zamanmu. Tapi ingat satu hal, aku selalu pantas dan layak di sisi Valentina.

Bunga krisan kuning segar kini sudah tergeletak tak berdaya di atas sebuah nisan abu-abu dengan sedikit ornamen akar kayu jati yang menjadi pigura. Seorang gadis bermata hijau zamrud disusul dengan wanita tinggi semampai yang juga memiliki mata yang sama mengelap dengan irama sendu nisan abu-abu yang lambat laun dengan sendirinya tercetak sebuah tulisan.

Gadis bermata zamrud itu mengeluarkan sebuah buku lusuh dan meletakkannya tepat di atas nisan abu-abu yang sudah tercetak sebuah tulisan. Dihembuskannya udara ke atas buku itu yang membuat debu-debu melayang bebas menjemput kebebasan ke lapisan biru di atas sana.

Air mata tanpa aba-aba terjun bebas tapi tidak sampai menghujani buku lusuh dan membanjiri nisan abu-abu di bawahnya. Cukup enam sampai tujuh titik kecil tergambar rapih di atas buku lusuh tadi.
Hijau zamrud mata gadis itu kini sudah dilapisi sesuatu yang berwarna kecoklatan dan empuk. Gumamannya masih bisa terdengar, namun hanya seukuran frekuensi sang hati.

“Aku, Ara. Aku di sini ingin bertemu denganmu. Benar katamu, zaman sudah terbalik sepenuhnya. Rakit sudah menjadi kapal, otoriter bosan sehingga sekarang demokratis yang berkuasa, ruko kini seutuhnya menjadi cakar, tapi aku belum yakin kalau bumi sudah menjadi datar.
Namun, ada sebuah berita untukmu. Gadis bermata zamrud kini sudah menjadi wanita! Terlepas dari semua itu, hanya satu yang tak bisa diubah dan mustahil untuk berubah. Dirimu dan Valentina.”

Cerpen Karangan: Puspita
Blog / Facebook: Alfina Puspita Prayogo

Cerpen Gadis Gula (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Sederhana

Oleh:
Elsia adalah namaku Pagi buta.. bunyi kericikan air wudlu membangunankanku. Seperti biasa ibuku bangun lebih awal. Bahkan dia bangun sebelum suara adzan subuh berkumandang. rumah kecil ini hanya ada

Metamorfosa Malaikat Tanpa Sayap

Oleh:
Langit biru dan awan putih ketika pagi adalah alasan kuat mengapa aku masih bertahan hidup di bumi, aku berjalan di atas terjalnya dunia, dan berbicara di antara ribuan orang

Tak Seorangpun

Oleh:
Aku tak bisa memberitahumu kenapa dia merasakan hal itu. Merasakannya setiap hari. Dan aku tak bisa membantunya. Aku hanya melihat dia melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan yang seharusnya tak

Aku Kakek dan Foto

Oleh:
Sudah lebih satu jam ku bolak-balikan lembar foto yang berserakan di atas meja kerjaku. Aku lelah dan mulai putus asa. 113 foto, karya terbaiku sudah aku tunjukan, tapi belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *