Gadis Kecil Tunawisma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 October 2017

Ia hidup namun ia mati
Ia bernapas namun sesak yang ia dapat
Ia benyanyi hanya dengan melodi perih
Ia tersenyum hanya pada maut yang mendengung
Tiada kasih, tiada sayang
Tiada cinta dan harapan
Ia ingin berlari mengejar mimpi
Namun langkah terpaksa terhenti karena hidup tak merestui
Dalam hati ia beteriak pedih,
“Oh Tuhan lebih baik aku mati daripada hidup namun serasa mati”

Di sebuah sudut pasar. Seorang gadis cilik tunawisma yang berumur 9 tahun berjalan gontai di antara kerumunan masa yang haus dan buta akan harta. Tubuhnya yang kotor berlumuran debu dan tanah karena sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan lamanya tak pernah mandi membuat orang enggan lama-lama berdekatan dengannya. Apalagi rambutnya yang super bau penuh kutu yang tak pernah menikmati shampo membuat dia tampak kacau. Bajunya yang lusuh dengan robekan-robekan khas yang membungkus tubuhnya membuat dia tampak seperti orang gila. Tubuhnya yang kurus kering kerontang tampak seperti tengkorak berjalan.

Dia begitu nelangsa apalagi mengingat dia hidup sebatang kara. Tanpa orangtua, tanpa rumah dan sanak saudara. Ayah dan Ibunya meninggal saat usianya baru 2 tahun akibat kecelakaan maut. Setelah itu dia dirawat oleh Pamannya namun saat dia baru berusia 7 tahun dia ditelantarkan begitu saja dan dirampas harta warisan dari kedua orangtuannya oleh Pamanya sendiri. Kini dia sendiri menjalani kehidupan yang sepi dan serasa mati. Hal ini membuat dia dewasa sebelum waktunya dan pribadi yang mandiri adalah tuntutannya. Dia harus berjuang seorang diri menyambung nyawa tanpa bekal yang memadai.

Setiap hari tangannya menengadah meminta belas kasih pada insan-insan yang berdosa. Meski berjam-jam lamanya dia berjalan memutari pasar. Namun tak ada seorang pun yang mau mengasihinya. Jangankan mengasihi atau berbagi rezeki, menyentuh dan berdekatan saja mereka enggan melakukannya. Mereka sibuk dengan dunia mereka tanpa mau peduli dan mengasihi yang lemah.

Dia mulai menangis pedih menahan perih perutnya yang penuh terisi duri. Sesekali dia berfikir untuk pasrah pada maut yang siap menjemput namun tiba-tiba kata Ayah beserta Ibu mengiang mengingatkannya untuk terus hidup meski dalam perih dan kematian yang selalu menghantui.

Bagaikan mendapatkan suntikan semangat yang membara. Dia menghapus air mata dengan kasar dan mulai menegakan langkah untuk menengadah meminta sedikit sedekah dari orang-orang keras kepala yang mengagungkan egonya. Berharap salah satu dari mereka ada yang mau berbagi kasih dan sayang kepadanya. Setidaknya memberikan makanan sisa atau satu koin uang rupiah pun tak apa yang penting itu dapat mengurangi pedihnya duri yang terus menusuk-nusuk lambung kecilnya.

“Bu… sedekahnya Bu, kasihanilah saya, sudah 3 hari saya belum makan. Saya lapar Bu,” katanya dengan nelangsa pada seorang pedagang cabai yang tengah asyik melayani pelanggan. Bukannya makanan atau uang yang dia dapat justru amukan macan yang super pedaslah yang dia dapat.
“Sedekah… sedekah memangnya saya pegawai Bansos apa? Sudah sana pergi minta pada Ibumu jangan padaku! Mengganggu pekerjaan orang saja. Gara-gara kedatanganmu pelangganku merasa tak nyaman ini. Cepat pergi atau sapu ini terpaksa aku pukulkan padamu!” kata Ibu itu beringas. Gadis kecil itu pun segera pergi dengan rasa takut yang masih menyelimuti hati.

Dari belakang lamat-lamat dia mendengar percakapan antara Ibu beringas dengan seorang pelanggan sok tahu.
“Masih kecil kok sudah meminta-minta, nanti kalau sudah besar mau jadi apa dia?” kata Ibu pedagang cabai.
“Iya, bener Bu. Paling-paling ini akal-akalan orangtuanya saja. Agar mereka cepet kaya namun tak perlu berkerja. Kasus semacam ini kan sekarang marak terjadi. Orang yang mengaku miskin, cacat dan memiliki keterbatasan ternyata bohongan. Padahal aslinya mereka kaya dan berlimpahan harta. Kok tega banget si orangtuannya. Memperbudak anaknya untuk mengemis belas kasihan orang lain,” kata si pelanggan sok tahu itu.
“Aaah.., biarkan saja, orang seperti itu tak perlu dikasihani. Anak sama orangtua sama saja, suka menukar harkat martabat demi sejumlah rupiah. Enak saja kita yang berkerja namun mereka yang kaya,” kata Ibu si penjual cabai.

Entah mengapa sesudah mendengar guncingan tak bermutu itu. Tiba-tiba air mata gadis cilik itu meleleh, mengucur deras membasahi kulit pipinya yang kering dan lusuh. Ada sebuah beban yang menghimpit keras dadanya menimbulkan rasa sesak dan sakit seketika itu juga.
“Peduli apa denganku, orangtuaku dan rasa kasihan? Orang seperti kalian hanya bisa berkata tanpa tahu yang sebenarnya. Hanya menjadikan hal umum sebagai patokan tanpa mau meneliti sebuah kebenaran. Kepalanya saja yang kelihatannya besar namun jika dibelah kepala itu kosong melompong tanpa isi.” Ya begitulah kira-kira isi hatinya, ada sedikit rasa tak terima dengan ucapan orang-orang bodoh yang sok tahu.

Mungkin karena kelelahan dan rasa lapar yang setia melilit tubuhnya. Akhirnya dia berhenti di depan warung makan sederhana bertuliskan “Rumah Makan Pak Kamidjo”. Matanya yang sembab sehabis menangis terus menatap hidangan-hidangan lezat yang tertata rapi di balik kaca etalase yang bersih. Berkali-kali dia meneguk air liurnya sendiri berharap air liur itu adalah paha ayam atau nasi hangat yang siap disantap dengan nikmat.
“Huuss… pergi sana! Bisa-bisa pelangganku lari tak bernafsu makan gara-gara melihatmu ada di sini. Huss… sana pergi!” kata pak Kamidjo sambil mendorong-dorong tubuh gadis mungil itu dengan kemoceng seakan ingin menghapus debu najis yang menghalangi kiosnya. Lagi-lagi gadis itu hanya bisa menangis setelah menerima perlakuan keji yang tak terpuji dari mereka yang hatinya sudah terkubur mati.

“Ayah…, Ibu…, aku lapar, aku sakit, aku kotor, aku lelah, bolehkah aku menyusul Ibu dan Ayah saja. aku sudah tidak kuat lagi. Dunia ini terlalu keji untuk kuhadapi sendiri” katanya disela isakan tangis yang membahana.
“Sabarlah gadis kecilku. teruslah melangkah. Hadapilah dunia dengan senyumanmu yang meluluhkan. InsyaAllah Tuhan akan menyiapkan kado terindah-Nya untuk gadis kecilku yang kuat dan tabah,” tiba-tiba suara Ayah datang menjawab apa yang dirisaukan gadis kecilnya.
“Tapi tak ada yang mau melihatku bahkan senyumanku Ayah. Mereka lebih suka menganggap aku sebagai lalat hijau daripada sekedar manusia,” katanya sendiri seperti orang gila.
“Jangan khawatir sayang, hapus air matamu dan bukalah hatimu. Mereka seperti itu karena mereka belum tahu siapa dirimu. Mereka hanya sedang terlena dengan harta yang membuat mereka buta dan tuli dengan sekitarnya,” sekarang ganti suara Ibu yang berkumandang.
“Tapi Bu…,”
“InsyaAllah janji Allah pasti datang, percayalah itu Nak” kata Ibu lagi-lagi menabahkan. Membuat senyum yang hampir pudar kembali berkembang. Dalam hati dia betekad untuk terus hidup meski kehidupan tak menginginkan dia hidup.

Dengan langkah penuh percaya diri bahwa hari ini dia akan menemukan seorang yang mampu mengabulkan keinginanya untuk hidup. Dia kembali berjalan menyusuri kios-kios pasar yang mulai menyepi karena hari memang sudah petang untuk seorang penjual pasar tradisional.

Tak terasa malam sudah semakin larut. Membuat dia terpaksa berhenti dari pencariannya. Rasa lapar dan lelah membuat dia tergeletak sesukanya tanpa mempedulikan dimana dia berada dan milik siapa teras kios yang sekarang ini ditempatinya. Dia duduk meringkuk kedinginan di depan kios bercat biru. Mata mudanya yang jeli menangkap kumpulan arang bekas bakaran jagung. Dengan sigap dia memungutnya dan mulai mencorat-coretkan arang itu di tembok kios yang masih bersih terawat. Sesekali dia tersenyum dan tertawa melihat apa yang ditulis dan di gambarnya. Baginya sebatang arang itu adalah mainan yang indah dan membahagiakan dari pada boneka berbie atau mainan masak-masakan. Setelah dia merasa puas dengan apa yang dia kerjakan. Dia mulai tertidur, tidur pulas dan tenang dengan senyuman yang hanya Tuhan dan dia yang tahu apa artinya.

Keesokan harinya di depan kios bercat warna biru. Sudah penuh sesak orang berkerumun di sana. Tak hanya para pembeli para pedagang yang biasa sibuk dengan dunianya sendiri tanpa berpikir dengan sekitarnya pun tak kalah heboh dan ramai. Berdesak desakan ingin melihat seulas senyuman khas yang menghanyutkan sekaligus mematikan untuk mereka yang tak pernah peduli pada sesama. kasak-kusuk terdengar di mana-mana membuat orang merasa ngeri sekaligus iba.

“Apa benar dia sudah mati?” tanya Pak Khamidjo
“Iya.. lihatlah karena harta, kita semua membunuh satu nyawa yang tak berdosa. Betapa kejamnya kita? Betapa bodohnya kita yang lalai mempedulikan sesama hanya karena harta duniawi yang sifatnya hanya sesaat ini” jelas Ibu si penjual cabai.
“Inanilahi wa inailahi rojiun. Astagfiruallah maafkanlah hamba yang hina dan berlumuran dosa ini ya Robb,” kata pak Khamidjo beristigfar setelah melihat tubuh gadis kecil yang kemarin diusirnya terbujur kaku dan biru.

Di samping mayatnya terdapat gambar serta kalimat yang begitu menggetarkan jiwa sekaligus menampar jiwa yang lemah. Dalam gambar itu terlihat orang-orang dengan ekspresi marah dan menakutkan. Di bawah gambar itu bertuliskan sebuah kalimat, “Kasihanilah mereka yang tidak mengasihaniku ya Allah” dan di sebelahnya lagi terdapat gambar sebuah keluarga kecil yang bahagia. Di mana gadis kecil itu di tengah dan sedang menggandeng tangan orangtuanya. Di bawah gambar tersebut terdapat tulisan yang berbunyi, “Ayah.. Ibu akhirnya aku menyusulmu”. Semua pasang mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa itu tak kuasa menahan air mata. Seakan mereka baru mengetahui dan sadar betul bagaimana menderitanya gadis kecil tunawisma yang tak berdaya dengan kehidupan yang keras dan tandas yang dialaminya.

Hari-hari berikutnya setelah kejadian itu. Suasana pasar yang semula liberal mendadak menjadi pasar yang suka berbagi dan mengasihi. Semua orang terlihat bahagia dan tentram meski terkadang penyesalan datang jika mengingat kematian gadis kecil tunawisma yang malang.

Cerpen ini terinspirasi The Little Match Gril by Hans Christian Andersen.

Cerpen Karangan: Jamilatul Alim

Cerpen Gadis Kecil Tunawisma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua Sisi Segala Hal

Oleh:
Namanya Kia, bibirnya merah muda dan mulutnya yang beraroma v*dka menyemburkan kalimat-kalimat yang tak ku mengerti. “Adam.” Tahukah engkau, bahwa laki-laki selalu berakhir di suatu tempat yang sama? Entah

Negeri Sampah

Oleh:
Abidin. Seorang laki-laki bertubuh pendek dibanding tubuh laki-laki seusianya masih duduk di depan pesawat televisi yang ada di ruang tamu rumahnya, oh.. maaf, ruangan dua kali dua meter itu

Abdoellah

Oleh:
Namaku Abdoellah, pemuda yatim dari Mengkasar yang nekat merantau ke negeri orang dan meninggalkan amakya di kampung sendirian. Gejolak jiwa mudaku yang ingin merantau terus meronta yang akhirnya membuat

Berkunjung ke Negeri Dongeng

Oleh:
Sabtu, 18 Mei 2013 Di pagi yang cerah itu, aku bergegas menuju ke masjid. Kakiku melangkah dengan cepat. Hatiku risau. Sepertinya aku telah mengecewakan teman-temanku karena telah membuat mereka

Tentang Bara

Oleh:
Namaku Abi. Umurku 9 tahun. Aku masih duduk di kelas 3 SD. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumahku. Biasanya aku berangkat sekolah dengan teman-teman. Pulang sekolah juga begitu. Setelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *