Gadis Penantang Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 11 May 2015

Gadis itu berdiri menentang hujan. Matanya menengadah marah pada langit yang gemuruh. Bajunya yang kuyup diremas-remas. Ah, apa yang dia lakukan? Mantra apapun yang dia baca tidak akan membuat bajunya kering.

“Buat apa kau mencari tahu tentang gadis itu, hah?” Burhan menyerahkan amplop besar bewarna kuning kecoklatan di atas meja kerjaku.
“Terima kasih.” Kataku sambil membuka amplop itu.
“Tahan dulu, kawanku yang baik!” Burhan menahan tangan kananku yang berada dalam amplop.
“Kau belum menjawab pertanyaanku!” sambung burhan kemudian.
“oh, kawanku yang baik, hah?” aku mencemo’oh. “Jadi, ternyata kau sudah mendengar saranku kemarin? Gaya bahasamu sudah lebih baik. Buku apa yang kau baca? Conan Doyle? Agatha Cristie kah?” aku bicara setengah serius.
“Apakah ini menyangkut adikmu yang hilang, Adi?” Burhan memegang pundakku. “Percayalah padaku. Kau hanya akan menyia-nyiakan waktumu.” Lanjut Burhan yang menatap tajam ke arah ku.
“Entahlah Han, Aku sungguh tidak yakin.” Kini burhan sudah berdiri sedikit lebih jauh dariku. Ia memandangi meja kerjaku yang berantakan. Maklum saja, aku ini manusia yang bekerja atas dominasi otak kanan.
“Oh, maafkan Aku, kawanku.” pandangan Burhan kembali tertuju ke arahku. “Sungguh Aku hanya ingin peduli terhadap masalahmu. Kapan pun kau butuh bantuan, kau tahu orang pertama yang mesti kau hubungi!” Burhan berlalu di hadapanku. Tapi sesaat kemudian dia muncul lagi.
“Maaf aku lupa pamit, istriku memintaku untuk memijatnya sore ini. Maklum saja, hobi berkebunnya memaksa kami begadang semalaman. Dia menanam pohon mangga!” kemudian ia hilang lagi.
“Ah, orang ini!” gumamku melepas kepergiannya.

“Sungguh diary, Aku merasa begitu kenal pada lelaki tampan yang menatap panjang pada diriku 3 hari yang lalu. Maafkan aku diary, karena hanya bercerita tentang dia kepadamu akhir-akhir ini. Kuharap kamu tidak bosan. Karena ku rasa, tak ada alasan bagiku untuk tidak penasaran padanya.” Ayu menutup diarynya. Berkhayal, lalu tertidur.

Sungguh aku tak percaya pada apa yang ku lihat malam ini. Aku menemukan adikku yang hilang 17 tahun yang lalu. Ya Tuhan! Aku harap ini bukan mimpi.
“Aw!” Aku mencubit pipiku sendiri. Hal yang lumrah dilakukan orang-orang untuk memastikan apa yang sedang dialaminya adalah nyata atau sekedar mimpi. Meski –kurasa– kebanyakan mereka hanya melakukan hal demikian di dunia nyata. Ah, yang pasti aku sudah menemukan adikku.

Segera kuraih telepon genggamku untuk mengabarkan Burhan sekaligus memastikan data-data yang dia berikan dalam amplop kuning kecoklatan tadi adalah benar.
“Aku ingat tadi siang aku mengatakan aku siap membantumu. Tapi apakah harus jam segini? Aku yakin kau tidak paham dengan ihwal betapa sibuknya pria yang beristri. Aku capai tahu!” Burhan bicara seperti orang mengigau. Dan sesekali kudengar lenguhan wanita yang terusik jam tidurnya.
“Maaf kawanku yang baik,” aku mencoba bicara setenang mungkin. Mengingat rasa bahagiaku saat ini bisa saja membangunkan 2 anak manusia yang begitu lelah di ujung sana. Ya meski aku tahu kalau salah satu di antara mereka telah bangun.
“Begini kawanku, apa kau bisa memastikan informasi yang kau berikan padaku tadi siang adalah benar?”
“Ya!” jawab Burhan loyo.
“kau yakin?” aku makin penasaran.
“Ya!” jawabnya singkat. “Kenapa?” tanyanya kemudian.
“Aku rasa aku sudah menemukan adikku” kataku setengah berteriak. Sejurus kemudian ku dengar bunyi ranjang berdecit dan ucapan syukur dari kawanku itu setengah berteriak pula. Sekarang dapat ku pastikan istri Burhan terbangun pula.
“Ku harap kita bisa bertemu pagi-pagi sekali di depan kantor. Aku akan menemanimu besok. Lalu, bisakah kau ceritakan padaku kebenaran ini?” Burhan bicara seolah lebih antusias dari ku. Ya, aku yakin sahabatku itu memang memiliki ketertarikan lebih terhadap masalahku yang satu ini.
“Aku yakin kau sama penasarannya denganku saat ini. Tapi dengan segala kerendahan hati, aku yakin kau begitu lelah malam ini setelah menanam mangga dengan istrimu. Untuk itu, ceritanya besok saja. Selamat malam, pria lelah.” Aku menutup telpon sambil tertawa. Tanpa sempat memberi kesempatan kawanku itu bicara walaupun sekedar mengucapkan selamat malam.

Pagi-pagi sekali Burhan dan istrinya sudah berdiri di depan pintu rumahku. Tak kusangka antusias mereka melebihi apa yang kubayangkan.
“Baru bangun, pria malas?” Burhan mengagetkan ku yang asik mengucek-ngucek mata.
“Aku yakin kamu belum gosok gigi, Adi!” kata Yanti, istri Burhan yang sungguh baru ku sadari kehadirannya.
“Maafkan Aku, pasangan muda. Meski Aku tidak menanam mangga semalaman, tapi pria lajang seperti ku ini punya kegiatan sendiri yang mampu membuatku lelah.” Aku membalas ejekan mereka –yang meski kurasa adalah sebuah fakta. Tapi kini kulihat Yanti memandang sinis kepada suaminya.
“Dia sahabatku!” kata Burhan meyakinkan istrinya. Lalu beralih menatapku dengan tatapan jengkel.
“Aku akan segera kembali.” kataku untuk memastikan mereka tidak menunggu lama hingga antusiasme mereka berkurang.

“Bukankah kita janjian di kantor?” kataku membuka pembicaraan di dalam mobil Burhan karena dari tadi mereka berdua hanya diam saja.
“Maafkan aku soal ma..”
“Sudah cukup.” kata Burhan menyela perkataanku.
“Jangan kau ungkit lagi masalah ma..” perkataan Burhan tiba-tiba disela Yanti.
“Apa yang Burhan katakan tentang mangga itu benar Adi!” tak ada di antara kami yang menyela perkataan Yanti. Kurasa di sana lemahnya pria di hadapan wanita.
“sekarang ceritakanlah semua agar kami tidak penasaran.” sambung Yanti.
“Dan ku harap kau tidak mengacaukan semuanya, Adi.” kata Yanti lagi saat aku baru membuka mulut untuk memulai cerita.

Mobil Burhan berhenti di seberang halte tempat aku melihat gadis –yang ku pastikan adikku itu– 4 hari yang lalu. Dan benar saja, beberapa menit kami disini, kini ku lihat gadis itu bejalan ke arah kami. Sontak Aku keluar mobil. Ku pacu langkah yang tak sabaran. Setengah berlari. Berlari penuh. Tak ku sadari gadis itu kaget. Lalu menghentikan langkahnya. Aku langsung memeluknya seerat yang ku bisa. Gadis itu menjerit. Orang-orang sekitar berlarian ke arah kami. Burhan dan Yanti juga. Aku tersadar dan melepas pelukanku. Kini gadis itu berlari secepat yang ia bisa. Ingin sekali mengejarnya dan mengatakan maaf. Maaf atas segala hal yang telah ku perbuat kepadanya. Maaf karena telah meninggalkannya 17 tahun yang lalu di tengah guyur hujan. Di seberang halte. Membiarkannya menantang hujan. Memarahi langit yang juga bergemuruh. Dan membiarkannya mempelajari mantra-mantra yang mungkin saja dibenaknya saat itu bisa mengeringkan bajunya yang kuyup.
Maafkan juga karena baru bisa menemukannya di tengah gemuruh hujan. Kemudian mempermalukannya di tengah keramaian. Sungguh Ayu, maafkan aku karena sudah mengacaukan semuanya.

Cerpen Karangan: Irsad Hidayat
Facebook: https://www.facebook.com/irsad.hidayat.9
Nama saya Irsad Hidayat. Saya lahir di Padang, 16 Agustus 1995. Saat ini saya tinggal di Padang. Penulis idola saya adalah Motinggo Busye. Kunjungi facebook saya di alamat, https://www.facebook.com/irsad.hidayat.9 dan Follow Juga twitter saya di @irsyad1956. Terimakasih cerpenmu.com

Cerpen Gadis Penantang Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Terindah Tapi Tidak Selamanya

Oleh:
Ini mungkin hanya cerita yang sering kalian dengar. cerita tentang lelakiku yang sekarang berada di sana. sebut saja dia ‘Gigi’. dia adalah teman SD-ku. kami sempat beberapa tahun satu

Janji Untuk Ibu

Oleh:
Benar sekali, terkadang apa yang kita inginkan memang tak melulu sesuai apa yang kita butuhkan. Terpaksa atau tidak, sakit atau tidak sakit, sudah sepantasnya aku menerimanya dengan penuh ketabahan,

Keringat Darah

Oleh:
Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya

Ayah kami bukan kriminal

Oleh:
Kami sedang berduka. Ayah kami ditangkap polisi karena dituduh merencanakan pembunuhan. Ayah tak mungkin ada niat membunuh walau dendam sekalipun. Ayah bilang ia dijebak oleh karsiman, sang direktur perusahaan

Gaul (Part 2)

Oleh:
“Loh Mas Aris sudah ke luar ya?” Sapa pria itu kepada Aris. Namanya Pak Maman yang tentunya sesuai dengan nama yang tertulis di spanduk rumahnya. Sedikit terkejut dengan sapaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *