Gara Gara Wawancara
Cerpen Karangan: Ida NorsidaKategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 10 March 2016
Semilir angin malam terasa begitu sejuk bagi Pak Abu. Setelah seharian ia bergelut dengan berbagai macam pertanyaan dan silaunya blitz kamera, akhirnya selesailah sudah bebannya untuk hari ini. Menjadi seorang politikus memang tidak mudah, selalu saja ada gosip miring tentang ini itu.
“Ndak mau masuk, Pak? Nanti masuk angin loh.” Bu Abu ke luar menghampiri suaminya yang duduk di gazebo halaman rumah sambil membawa secangkir teh hangat.
“Disuruh masuk tapi kok malah dibawain teh. Ibu ini aneh aja.” Pak Abu menyahut dengan sedikit kesal.
“Bapak kenapa sih? Sejak pulang tadi kerjaannya marah melulu. Andi sampai takut tuh nanya tugas matematikanya sama Bapak! Sudah tahu Ibu nggak bisa hitung-hitungan..”
Pak Abu meneguk teh hangatnya dengan pelan.
“Ini semua gara-gara tetangga kita itu loh Bu. Istrinya kan tukang gosip. Tadi Bapak diwawancarai suaminya, katanya Bapak ini korupsi uang rakyat. Loh kok bisa menyimpulkan pertanyaan seperti itu! Mentang-mentang kemarin Bapak pergi ke KPK. Edan!”
“Kalau Bapak tidak merasa kenapa harus marah coba?”
“Ini bukan masalah merasa atau tidak merasa. Gara-gara dia Bapak jadi malu di depan rekan yang lain. Mentang-mentang Bapak baru kepilih jadi anggota dewan dan kita tinggal di rumah bagus, akhirnya mereka jadi berpikir macam-macam!”
Bu Abu kali ini hanya diam, karena Pak Abu kalau sudah marah tidak bisa dibantah. “Apa sih Bu salah kita kalau mau jadi politikus? Sebejad-bejadnya dunia politik, masih ada orang yang baik, orang yang mau rakyatnya sejahtera! Giliran mau berbakti saja langsung dicegah!”
“Namanya berbuat baik itu, Pak, memang selalu saja ada hambatannya. Coba saja Bapak ambil positifnya. Kalau berbuat baik itu mudah, ya pasti semua orang di dunia ini mau berbuat baik. Mereka yang ngambil jalan pintas untuk cepat kaya itu gampang toh, Pak?”
“Ya gampang toh Bu. Tinggal bersandiwara saja depan media, atau pura-pura ikut kegiatan amal. Kan rakyat suka menilai dari apa yang mereka lihat, dan pejabat yang bejad itu juga sangat suka ditonton. Kan kompak tuh, Bu? Kemudian diam-diam mengambil duit mereka. Lagian media zaman sekarang itu gampang betul disuruh memfitnah orang!” Pak Abu menyaringkan suaranya.
“Bapak jangan ngomong begitu. Ibu ndak suka! Nanti kalau Andi denger gimana?”
“Ya biar saja. Biar tetangga kita juga sekalian bisa dengar! Kan adil.” Kali ini Pak Abu terkekeh geli.
“Bapak!”
“Heu!” cegukan Pak Abu terdengar nyaring.
“Kan sudah dibilang dari tadi, bisa masuk angin kalau kelamaan di luar. Sudah masuk sana! Sekalian bantu Andi ngerjakan PR-nya.” Bu Abu geleng-geleng kepala sembari membawa gelas teh Pak Abu masuk ke dalam rumah.
Selesai
Cerpen Karangan: Ida Norsida
Facebook: Ida Norsida
Cerpen Gara Gara Wawancara merupakan cerita pendek karangan Ida Norsida, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"
Share ke Facebook Twitter Google+" Baca Juga Cerpen Lainnya! "
Imbalan Termewah
Oleh: Nur CahyatiMalam mengapa kau tidak kunjung berlalu, apa kau tidak merasa kasihan melihatku sendirian dan kesepian menyelimuti diriku ini. Rumahku hanyanya beralas bumi dan beratap langit, ya dari ujung ke
Sesuap Nasi Untuk istriku
Oleh: Andi MakkarajaLelaki tua itu melempar bungkus rokoknya ke tanah. Tangannya kosong. Mungkin bungkus rokoknya juga kosong. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok. Pandangannya tertumpu pada satu objek. Matanya fokus pada
Si Sombong Edo (Part 2)
Oleh: Ananda SyahendarEdo kemudian memarkir mobil mewahnya itu di depan pagar rumah. Dia kemudian membunyikan bel rumah tersebut. keluarlah seorang wanita dengan rambut dikuncir dan memakai daster, “Siapa ya pak?”, “Saya
Cinta Terlarang
Oleh: Nagun Sbastianini kisah nyata yang di alami oleh sahabat terbaikku. cerita ini aku tulis 7 tahun yang lalu, Cerita ini bermula ketika gue baru sampai beberapa hari di Jakarta. Namanya
Pangkuan Annisa
Oleh: Pungkas Yudha SusenaMobil angkutan umum yang berjurusan Taman mini – kampung rambutan berjalan lamban, agaknya hari ini belum dapat banyak uang setoran. Sopirnya begitu teliti melihat tiap sisi jalan, tiap gang,
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"
Leave a Reply