Gelandangan Cilik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 December 2013

Ku sibak jalanan yang sunyi pagi itu, langkah lemah kakiku menapak perlahan. Tak seorang pun aku temui di jalanan itu. Langit masih nampak remang dan berkabut. Ku lirik jam tanganku, oh benar saja, baru jam setengah 5 pagi. Aku mempercepat jalanku agar segera sampai ke tujuanku.

Ketika aku sampai ke sebuah pertigaan jalan itu, ku lihat gerobak sampah dan yang sedikit mencuri rasa penasaranku adalah sesuatu yang tergeletak di sebelahnya. Aku meragukan pandangan mataku, aku kucek mataku berulang-ulang. Benar, itu seorang anak kecil. Dia tertidur meringkuk berbungkus sarung yang sangat lusuh.

Dengan ragu-ragu aku mendekatinya, saat itu yang paling aku takuti adalah bagaimana kalau anak itu sudah mati. Semakin dekat aku melihatnya, semakin jelas bahwa anak itu adalah anak laki-laki umurnya sekitar 9 tahun. Aku mencoba untuk menyentuhnya, dan ketika ujung jariku menyentuh kulit tangan yang menyangga pipi kirinya, dia bergerak. Spontan aku kaget, tapi aku juga merasa sedikit lega. Karena ternyata dia masih hidup.

“Dik, dik, ngapain kamu tidur di sini?” Tanyaku sambil menggerak-gerakkan tubuh anak itu.
Mungkin, bagi anak itu aku sudah mengganggu tidurnya. Tapi dia tetap berusaha membuka matanya. “Kamu siapa?” Spontan dia terduduk dan menjauh dariku.
“Kamu nggak usah takut, aku bukan orang jahat kok.” Aku berusaha menjelaskan padanya dengan sedikit mengulas senyum agar dia tidak takut padaku.
“Kamu bukan trantip kan?”
“Oh bukan, bukan. Aku orang biasa yang kebetulan lewat sini.” Kembali kuulas senyum kepadanya. “Kamu ngapain tidur di sini, rumahmu dimana?”
“Aku nggak punya rumah.” Dia menjawab dengan begitu singkat dan sinis.
“Terus orang tuamu dimana?”
“Ditangkap satpol PP” Dia terlihat tidak begitu takut lagi padaku.
“Lho, kok bisa?” Aku penasaran dengan anak tersebut.
“Iya, kami kan gelandangan.”
“Lalu, bagaimana kamu bisa melarikan diri?”
“Saat satpol PP itu menangkapnya, aku sembunyi di tong sampah itu. Jadi polisi tidak melihatku.” Dia terlihat begitu marah dan kecewa ketika menceritakan tentang kejadian yang sudah dialaminya.
“Kenapa kamu tidak tinggal di rumah singgah atau panti asuhan saja?” Aku mencoba memberikan saran kepada anak itu. “Di dekat sini ada panti asuhan yang pasti mau menerimamu kok.”
“Aku pernah tinggal di panti asuhan itu, tapi aku kabur. Bahkan tidak hanya aku.”
“Kenapa?” Kisah anak itu membuatku jadi sangat penasaran. Aku ingin tau seluruhnya.
“Tinggal di panti asuhan tidak membuatku lebih kenyang. Setiap hari aku dan teman-temanku tetap saja harus mencari makan sendiri. Panti asuhan itu miskin. Tidak ada bedanya dengan tinggal di jalanan.”
“Tidak mungkin. Setiap panti asuhan pasti punya donatur yang menjamin hidup anak-anak di dalamnya. Organisasi kami juga jadi salah satu donatur di sebuah panti asuhan itu.” Aku mencoba menjelaskan kepadanya. “Setiap awal bulan kami mewajibkan semua anggota untuk menyumbangkan sebagian uang mereka untuk panti asuhan tersebut. Selain itu, para dosen pun ikut memberikan sumbangan. Dana yang kami donasikan untuk panti asuhan itu tidak sedikit, jadi mana mungkin kalau kalian masih kekurangan makan apalagi sampai kelaparan.”
“Aku tidak bohong.” Anak itu tetap mempertahankan argumennya. “Kalau kamu tidak percaya, coba saja kau datang sendiri kesana.”
“Apa yang kau katakan itu sungguh aneh bagiku.” Aku berusaha merekam semuanya dalam otakku. “Hampir setiap bulan, aku sendiri yang memberikan sumbangan itu kepada ketua yayasan panti asuhan. Tapi, tidak pernah ada keluhan dari beliau tentang masalah kekurangan dana untuk membiayai anak-anak panti asuhan.”
“Kau ini, sudah besar tapi begitu saja tidak tau.” Kata-katanya terdengar begitu merendahkan aku. “Tentu saja dia tidak bilang apa-apa. Karena memang semua uang itu untuk dia sendiri, bukan kami. Kami dan Ibu panti tidak pernah merasakan enaknya uang sumbangan dari para donatur. Kami selalu mencari uang sendiri kalau ingin makan kenyang.”

Aku tersentak kaget dan hanya terpaku mendengar penuturan si anak gelandangan ini. Kenyataan yang baru saja aku dapat tidak sesuai dengan bayangan dan khayalanku selama ini. Aku, teman-temanku dan bahkan dosen-dosenku berusaha membagikan rezeki kami kepada mereka yang membutuhkan, tapi semua yang kami lakukan sama sekali tidak memberikan perubahan apapun untuk mereka. Mereka tetap saja kekurangan dan kelaparan. Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang salah dalam kejadian ini?

Terlalu lama aku berkelana dalam renunganku, dan ketika aku sadar si anak gelandangan itu sudah pergi cukup jauh untuk aku kejar. Dari tempatku berdiri hanya nampak punggungnya yang ditutupi oleh sarung lusuh.

Cerpen Karangan: Sumbulatin Miatu Khabbah
Facebook: Ateen Khabbah

Nama: Sumbulatin Miatu Khabbah
Pend. Bahasa Inggris, Universitas Islam Malang
Alamat: Malang

Cerpen Gelandangan Cilik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Topeng

Oleh:
Pada suatu ketika hidup seorang pria dengan sebuah topeng di tangannya, topeng yang sangat berat buatnya, dengan topeng itu, dia bisa menyembunyikan wajahnya, kemanapun dia pergi dia selalu menggunakan

Si Mus Anak Gembala

Oleh:
Sore itu, sekira pukul 4 sore. tampak seorang anak kecil berusia 10 tahunan, begitu lincah mengayunkan sebilah arit di tangan kanannya. sesekali ia berhenti mengayunkan benda tajam itu, sembari

Harakiri

Oleh:
Di dalam ruang ICU, seorang pria muda sedang terkulai lemah akibat kehabisan darah. Di pergelangan tangan kirinya tampak sebuah bekas luka robek yang menganga lebar hasil sayatan pisau. Tak

Sarjana Bajingan

Oleh:
Hening suasana kamar Ibnu, terlihat kondisi kamar ibnu yang berantakan bak kapal pecah. Kertas-kertas berceceran di meja belajarnya, sebagian ada yang terbuang di tempat sampah. Printer infuse yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *