Gerbong


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 18 March 2013

Langkahku terburu memasuki stasiun kota Jakarta, stasiun kereta yang di bangun tahun 1870 hasil dari otak seorang arsitek Belanda kelahiran tulungagung bernama Frans Johan Lowrens Gijsels dan kawan-kawannya itu biasa di sebut juga Stasiun Beos, (Batavia En Omstreken).

Stasiun yang sempat di tutup tahun 1926 karena renovasi dan di buka kembali tahun 1929 itu kini menjadi ribut-ribut perbincangan karena adanya niat untuk renovasi pembuatan ruang komersial sedangkan stasiun ini telah di tetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Namun bagiku stasiun ini sudah menjadi tempat kunjungan wajibku setiap harinya, pagi dan sore, dan menjadi kebutuhan penting transportasiku menuju berangkat kerja atau pulang ke rumah, lebih murah meriah dan tak harus di pusingkan oleh kemacetan.

Bayangkan jika tidak ada kereta dan aku harus bolak-balik Jakarta-Bogor menggunakan angkutan roda empat, dari rumahku hingga tiba di kantorku aku harus enam kali naik kendaraan umum, belum lagi itu melewati jalur-jalur macet yang parahnya minta ampun.

Sudah ongkosnya berkali lipat bukan hanya tubuhku saja yang penat namun otakku juga bisa-bisa eror karena capek.

Jadi Kereta memang pilihan paling tepat dan pahlawan aktivitasku.

Langkahku tak sendiri ada banyak mereka yang juga terburu seakan di kejar waktu, mengejar jadwal keberangkatan kereta, kakiku cepat menyusuri peron setelah sebuah tiket kereta jurusan stasiun Besar Bogor seharga sembilan ribu ku kantongi di saku celanaku.

Hari yang penat seperti hari-hari kemarin setelah seharian menyibukan diri dengan pekerjaan di kantor, dan sekarang harus bersiap mendapatkan kepenatan lain, selama hampir dua jam harus berdesakan di gerbong kereta comuter line yang katanya Ac namun tetap saja membuat gerah dan sesak karena harus berhimpitan dengan penumpang-penumpang lainnya.

Kereta bekas yang di hibahkan negara Jepang untuk negara tercintaku Indonesia ini kini menjadi favorit kebanyakan orang, walau harganya tiga kali lipat dari kereta ekonomi, dan tetap sama mesti berdesakan tapi setidaknya comuter line ada tulisan Ac-nya walau pada kenyataannya hanya sebuah kipas angin yang di gantung dan berputar-putar.
Namun sesekali cukup membuat nafas sedikit lega saat kipas angin berputar mengarah melewatiku.

Aku segera meloncat masuk ke salah satu gerbong berebutan dengan penumpang lain saat ku dengar di pengeras suara kereta tujuan Bogor akan segera di berangkatkan, dan benar saja semua gerbong telah penuh sehingga aku tak dapat bangku, seperti biasanya.

Aku harus berdiri bersama yang lain yang juga tak kebagian tempat duduk.
Kereta mulai melaju perlahan meninggalkan stasiun penuh sejarah di pusat kota Jakarta itu.

Beberapa orang yang mungkin juga sudah terbiasa tidak mendapatkan tempat duduk ku lihat membawa kursi lipat sehingga mereka bisa sedikit nyaman tak harus berdiri, duduk-duduk bersama kawan seperjalanan dan asyik mengobrol atau membaca koran.

Dua stasiun terlewati, rintik gerimis mulai turun, sudah beberapa bulan ini musim hujan kembali membayar kekeringan panjang di awal dan pertengahan tahun.
Beberapa orang terdengar mengomel saat hujan mulai membesarkan volume-nya, namun ada juga yang tetap bersyukur.

Ku tarik tas milikku ke depan tubuhku, sedang tangan kiriku ku masukan ke saku celana menggenggam erat handphone ku, dompet sudah ku amankan di tas ranselku, di sebelahku agak sedikit ke belakang aku melihatnya lagi, seorang lelaki muda yang ku pergoki mencopet di gerbong minggu kemarin, dan aku tak berkutik saat matanya mengancam dengan tatapannya yang tajam, seakan memperingatiku, apalagi saat ku sadari betapa cepatnya handphone yang ia curi berpindah tangan, beberapa kawannya ada bersamanya, dan sudah pasti masih banyak kawan-kawannya yang lain masih banyak di luaran sana, jika aku bertindak mungkin esok hari aku tak aman lagi.

Ah aku memang pengecut., tapi inilah hidup, persetan dengan segala kebaikan aku masih punya tanggungan satu istri dan dua anak, dan aku belum siap membuat mereka terlantar karena aku mati di hajar pencopet yang aku rusak waktu kerjanya.
Jadi ku simpan saja yang namanya kepedulian itu di hatiku yang marah karena kepecundanganku.

Aku memilih seperti manusia penuh ego lainnya, cari aman saja karena bukan hanya aku saja di gerbong ini yang tak punya hati, lihatlah seorang bapak berkumis itu, terlihat kuat, dia dengan santai duduk di bangkunya sedang di hadapannya seorang ibu berdiri lelah menggendong anaknya yang mulai rewel karena kegerahan.

Atau lihatlah seorang perempuan cantik yang terlihat berpendidikan, namun dia hanya sekilas melirik seorang kakek yang menggelosoh duduk di lantai gerbong dekat pintu karena tak kuat lagi berdiri, dengan tersenyum-senyum sendirian dia melanjutkan BBM-nnya.

Bukan tak yakin di jaman sekarang masih ada hati nurani, tapi hari gini menjadi pahlawan yang menebarkan kebajikan, menolong orang dan lalu membiarkan kita yang akhirnya tersiksa.
Mari kita memuja dan memberi aplaus buat dia yang melakukannya, yang mungkin hanya ada satu dari seribu orang yang ada.

Dan sayangnya itu bukan aku, biarkan aku tetap dengan sikapku yang lebih mementingkan diri sendiri demi kenyamanan dan keamananku sendiri, seperti yang lain mungkin.

***
Sudah separuh perjalanan, kereta terus melaju dengan cepat menembus hujan yang semakin membesar, seakan langit tiba-tiba saja terbelah dan air mencurah tanpa tertahan, belum lagi dengan di barengi petir dan kilat yang terus menyambar-nyambar, situasi semakin mengerikan karena angin bertiup lebih kencang dari biasanya.
Apakah sekarang sedang terjadi hujan badai?
Ah semoga tak terjadi apa-apa- do’a ku sepenuh hati.

Gerbong tak lagi sesesak pada awal berangkat ada banyak orang-orang yang keluar karena sudah tiba pada tujuan mereka saat kereta berhenti beberapa menit di tiap stasiun-stasiun yang di lewatinya..

Tiba di stasiun Bojong Gede yang hanya tinggal satu stasiun lagi sebelum tiba di stasiun Bogor Kereta berhenti cukup lama, biasanya hanya sekitar tiga menit saja kereta berhenti tapi ini sudah lima belas menit, aku dan penumpang yang lain mulai gelisah dan kesal, ada apa dengan kereta ini?

Sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara, permintaan maaf jika Kereta belum bisa melanjutkan perjalanan karena ada gangguan.
Orang-orang kembali sibuk mengomel, aku mendesah kesal namun hanya bisa membisu, ku kirim sms untuk istriku memberitahukan jika aku akan tiba lebih terlambat sore ini, entah kenapa aku seakan telah mendapat firasat, ada sesuatu yang sedang terjadi.

Waktu terus berlalu, sudah beberapa jam kereta berdiam diri dan masih tak ada tanda-tanda akan kembali berjalan, manusia-manusia di dalam gerbong semakin heboh dengan tingkah dan mulut-mulut mereka yang di gerakan oleh pemikiran-pemikiran otak egois mereka.
Aku lebih memilih berdiam dan memendam kekesalan dan kecemasan.

Aku dan penumpang lain masih setia menunggu, tak ku ikuti beberapa penumpang lain yang memilih turun dan beralih melanjutkan perjalanan dengan angkutan lain, jarak ku masih terlalu jauh untuk turun di Bojong Gede jadi aku lebih memilih untuk sabar menunggu, lagian hujan masih saja deras di sertai petir dan angin, mengerikan rasanya jika berada di luar sana.

Beberapa kali HP ku berdering, istri dan anakku mulai cemas karena aku sudah terlambat tiga jam dari waktu yang seharusnya.
Biasanya pukul enam aku sudah tiba di rumah namun sekarang sudah pukul sembilan dan jarak ku masih sangat jauh dari rumah.

Orang-orang di kereta semakin riuh dengan umpatan-umpatan kekecewaan karena ketidak disiplinan perjalanan kereta kali ini, berbaur dengan suara tangis anak kecil yang kembali rewel.

Pengumuman kembali terdengar, dan kali ini menjadi puncak kekesalan dan kekecewaan untuk semua penumpang termasuk aku.

Hujan yang deras dan terus menerus telah mengakibatkan sebuah bencana longsor besar terjadi di jalur sepur KM 45 jalur stasiun Bojong Gede- Cilebut yang sebelum Bogor.

Di tambah lagi dengan jatuhnya beberapa tiang karena badai yang menyertai curahan hujan, gara-gara bencana itu otomatis jalur terputus dan kereta tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Kami semua mau tak mau harus turun dan mencari transportasi alternatif lain.

Mulut-mulut pongah berkoar karena kesal karena merasa waktu berharganya untuk segera beristirahat atau untuk di gunakan aktivitas lain harus terbuang begitu saja beberapa jam di gerbong yang akhirnya tidak bisa berjalan lagi, mereka memaki, mengomel saling berasumsi, saling menyalahkan.

Tidak adakah manusia yang bisa lebih menerima kenyataan dan bersyukur di dunia ini, jika kita mau berpikir dewasa masih beruntung kita masih terhenti di stasiun Bojong Gede ini, bagaimana jika pada saat longsor itu terjadi kereta yang kita tumpangi sedang melewati KM 45, dan semuanya menjadi akan lebih kacau, rasanya aku tak ingin membayangkannya itu terjadi.

Alhamdulillah itu tak terjadi dan kita semua masih terselamatkan walau harus terlambat berjam-jam tiba di rumah.

Dan tidak seharusnya pula kita menyalahkan hujan atas takdir bencana ini.
Tidak juga manusia-manusia yang lalai karena tidak waspada dengan musim hujan hingga tidak segera memeriksa atau menanggulangi titik-titik yang memungkinkan akan terjadinya bencana ini.

Semua orang tidak menginginkan itu terjadi, tapi kuasa Tuhan yang menentukan takdir semesta.
Tetaplah bersyukur.

Seperti aku yang kini bersyukur karena akhirnya masih bisa tiba di rumah melihat dan memeluk anak istriku dengan keadaan aman walau harus terlambat.

Keselamatan diri selalu menjadi hal utama dalam hidup tapi memang tak seharusnya kita melupakan lingkungan sekeliling kita.
Karena kita tak hidup sendiri.
Belajarlah untuk tak egois mementingkan diri sendiri, dan lebih peduli pada sesama.

(Mungkin kalimat itu lebih tepatnya di tujukan untuk diriku sendiri)

End

Cerpen Karangan: Cay Cuy

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Kehidupan Cerpen Nasihat

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply