Gimin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 May 2017

Ketika Gimin sedang bermandi keringat menggenjot sepeda berkaratnya, teman-temannya sudah berdoa di dalam kelas. Pak Ahmad pun sudah berada di dalam ruang kelas 5 akan segera memulai pelajaran jam pertama. Gimin masih terus saja menggenjot pedal sepedanya yang sebenarnya terlalu besar untuk dirinya. Ya, itu adalah sepada warisan dari mbah kakungnya yang meninggal setahun lalu. Sepeda setua mbah kakungnya itulah yang setia mengantar Gimin ke mana pun Gimin ingin pergi. Termasuk ke sekolah tiap hari. Setia dengan terpaksa karena sebenarnya karat sudah menggerogoti sepeda itu hampir di semua bagian. Keropos. Tinggal tunggu rusaknya saja.

Memang sudah kebiasaan tiap hari Gimin telat sampai di sekolah. Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh. Alasannya selalu sama. Gimin harus merumput. Mencarikan makanan dulu untuk kambing-kambing tetangganya yang dititippiarakan kepada Gimin. Hukuman dari pak Ahmad pun selalu sama. Gimin harus mengikuti pelajaran sambil berjongkok di kelas di pojokan sampai jam untuk pelajran itu selesai. olok-olok teman-teman sekelasnya sudah terbiasa masuk ke kupingnya.
“Anak kambing, anak kambing”, begitu sorak teman-temannya.
Gimin memasukkan olok-olokan menyakitkan itu ke kuping kiri lalu keluar lewat kuping kanan. Tapi selalu saja ada sisa-sisa yang tertinggal dan mengendap di alas hatinya. Sedikit-sedikit lama-lama membukit. Namun Gimin hanya diam saja. Kekesalan itu dipendamnya dalam-dalam. Gimin bungkam. Apa lacur, kebungkaman Gimin itu malah menambah cap jelek baginya. Gimin Bengal.

Suatu pagi, seperti hari-hari sebelumnya, Gimin mengayuh dengan punggung basah kuyup oleh keringat. Ia sudah telat. Namun kayuhannya melambat. Rasa lelah mendera tubuhnya. Diputuskannya berhenti sebentar. Rehat untuk mengusir lelah barang sedetik dua detik. Gimin duduk di atas sebongkah batu seukuran pantatnya. Sepedanya ia biarkan tergeletak di tanah karena sudah tidak memiliki sandaran. Dihelanya napasnya dalam-dalam lalu dihempaskannya. Matanya memandang ke segala penjuru.

Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah sepeda. Sepeda lipat.
“Masih agak baru karena belum ada karatnya”, begitu pikr Gimin.
Sepeda itu jauh lebih bagus daripada sepedanya sendiri. Tidak dilihatnya pemiliknya di sekitar tempat itu. Sepi. Tak ada seorangpun. Hanya dirinya sendiri. Matanya berkeliaran mencari-cari pemilik sepeda itu. Gimin sibuk menjelajah, mengitari tempat itu dengan matanya.
“Barangkali pemilik sepeda itu sedang mengarit rumput di semak-semak agak tinggi yang ada di dekat sungai sebelah sana itu”, demikian gumamnya.

Namun sekitar seperempat jam kemudian, si pemilik sepeda itu tidak juga muncul.
Gimin lupa bahwa seharusnya ia harus bergegas ke sekolah.
Hatinya jadi gelisah. Teringat olehnya sepeda tuanya yang keropos dan tidak keren. Teringat olehnya saat tiap pagi ia berjongkok di pojokan kelas. Lalu teringat olehnya olok-olok teman-temannya itu. Teringat olehnya penolakan ibunya atas permintaannya untuk dibelikan sepeda meskipun bukan sepeda baru.
Gimin sadar bahwa hanya ibunyalah pencari nafkah. Bapaknya sudah lama meninggal. Betapa susah payah ibunya berjuang menjadi buruh tani di kampungnya hanya agar ia dan ibunya bisa tetap makan meskipun sering tanpa lauk.
Hati Gimin bergolak. Seakan sedang terjadi pertempuran besar di medan perang yang sepi. Di sudut hatinya, otaknya berkecamuk.

Setelah hampir setengah jam pemilik sepeda itu tak kunjung tampak, hati Gimin bertambah gelisah.
Tiba-tiba dalam lamunannya, muncul wangsit yang entah datang dari mana. Gimin akan mengambil sepeda itu untuk dirinya. Gimin akan mencuri. Mencuri itu tidak boleh. Gimin tahu itu, tapi sepeda berkaratnya sudah mngeluh minta pensiun tiap kali Gimin menggenjotnya. Suara keriat-keriut sepedanya itu selalu terdengar keras saat dikayuh. Menjewer-jewer kupingnya. Namun Gimin juga sudah tidak tega memaksa sepeda bututnya untuk ia tunggangi ke mana-mana.

Dengan pelan dan sedikit mengendap, Gimin berjalan mendekati sepeda lipat itu. Diperhatikannya semua bagian sepeda itu. Bagus. Ditaruhnya pantatnya di atas sadel. Empuk, tidak seperti sepedanya yang bersadel tanpa busa. Dicobanya meletakkan kaki di pijakan sepeda itu lalu Gimin pun mulai mengayuh. Nyaman. Enak. Satu meter. Dua meter. Tiga meter.
Tanpa disadari, tiba-tiba muncul seorang lelaki berumur dua puluhan tahun muncul dari bibir sungai. Ia mengenakan baju olahraga dan berhelm sepeda. Rupanya orang itu baru saja buang hajat di sungai.
Laki-laki itu sontak berteriak melihat sepedanya dinaiki Gimin.
“Maling. Maling. Maling”.
Rasa kaget segera melanda diri Gimin. Dengan serta-merta dipercepatnya laju sepeda yang dinaikinya. Si pemilik sepeda itu mengejar. Gimin mempercepat lajunya. Terjadi kejar mengejar antara Gimin dan lelaki itu.

Malang tak dapat dihindari. Saat melaju itu Gimin tidak menyadari bahwa di depannya adalah jalan yang berbatu-batu. Gimin terantuk-antuk dengan keras. Gimin kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh berguling-guling di jalan berbatu-batu tajam. Tubuhnya mendapat banyak luka di banyak bagian. Lecet-lecet dan mengeluarkan darah. Tubuh Gimin terhenti berguling ketika keningnya terantuk oleh batu yang agak besar. Darah segar segera mengucur deras. Gimin tak sadarkan diri. Lelaki yang mengejar Gimin segera mengghampiri Gimin. Tangan kanannya sudah terkepal. Ia bersiap hendak melayangkan jotosan ke tubuh Gimin. Namun lelaki itu urung melakukannya saat dilihatnya Gimin tak bergerak sama sekali.
Gimin mati.

Cerpen Karangan: Amanah Agus
Facebook: Amanah Agus

Cerpen Gimin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Panggil Aku Dengan Sebutan Fad

Oleh:
Namaku Fadiyah sesuai dengan penulisnya aku biasa dipanggil FAD karena itu julukan yang artinya Fadiyah Anak penDendam aku sangat benci kata Fad. “Kenapa harus kata itu? Kenapa gak Diyah?

Senyuman Terakhir Mikha

Oleh:
Mikha sedang tertidur pulas dengan infusan di tangan nya. Mama menangis melihat kondisi mikha yang semakin parah. Mikha mengidap penyakit kanker darah (leukemia). Mikha terbangun oleh tangisan mama. “Mama,

Bukan Pangeran

Oleh:
“oh my God dia handsome banget hari ini…” aku berteriak ketika dia lewat, membuat temanku bingung dan berkata, “what, what? kayak dia kamu bilang ganteng? katarak ya?” putri, temanku

Senja di Pagi Hari

Oleh:
Siang itu, seperti biasa aku berkeliling pasar untuk melihat-lihat ikan di salah satu pasar hewan di kota Malang. Kebetulan sudah tidak ada jadwal kuliah lagi. Satu-satunya kelas hari itu

Ukir dan Tono

Oleh:
Dua sahabat Ukir dan Tono, ikatan persahabatan mereka begitu erat semenjak 3 tahun terakhir dari mulai awal masuk SMP hingga kini sudah lulus, meski banyak perbedaan di antara mereka,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *