Good Addict

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 1 September 2017

Sore hari, hujan jatuh dengan derasnya di kota ini. Ada yang berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat maghrib dengan membawa payung, ada yang pulang sambil mendorong gerobak kosong, dan ada pula yang pulang kerja kantoran. Aku, termasuk ke dalam golongan yang pulang kerja kantoran.

Kerjaanku tiap hari hanya duduk di belakang meja dengan perasaan acuh terhadap apapun. Aku tak peduli terhadap apapun yang terjadi yang tidak menyangkut diriku, akan merepotkan kalau suka mencampuri hal-hal yang tidak penting. Pemerintah yang korupsi, nark*ba merusak generasi muda, kecelakaan tepat di hadapanku, bahkan rekan kantorku yang duduknya tepat berada di sampingku yang sedang bersedih karena istrinya baru saja keguguran, aku tak peduli. Yang kupedulikan hanyalah pekerjaanku sendiri, kehidupan yang layak, dan masa depan terjamin. Tipikal masyarakat modern saat ini.

Setiap pulang kerja, aku selalu menunggu bus di halte yang sama setiap harinya. Di tengah perjalananku menuju halte yang jaraknya tidak cukup jauh dengan kantorku, aku berpapasan dengan seorang kakek-kakek yang membawa satu kerdus besar. Tiba-tiba, kerdus tersebut jatuh dan isinya berjatuhan di trotoar. Isi kardus tersebut adalah boneka, mungkin itu barang dagangannya, pikirku. Karena hujan deras, ia segera memungut boneka-boneka tersebut, walaupun gerakanya tidak cukup cepat. Dan yang terjadi berikutnya sudah bisa ditebak, aku hanya berlari melewatinya menuju halte bus.

Tetapi, ketika aku melewatinya, tiba-tiba kami saling menatap. Dengan matanya yang sayu karena tua tersebut, ia menatapku sesaat, begitu juga aku. Tatapannya tersebut seperti mengatakan bahwa ia tidak berharap apapun dariku.

Sesampainya di halte, aku hanya duduk termenung sambil memikirkan kejadian tersebut. Aneh rasanya bahwa kakek itu tidak menginginkan pertolongan dariku, meminta saja tidak, mengingat dengan usianya yang sudah tua ia tidak bisa gesit mengumpulkan boneka-bonekanya. Lalu aku berpikir, apakah kakek tersebut mengetahui kalau aku adalah orang yang egois?

Di saat aku termenung sambil menunggu bus, tiba-tiba di seberang jalan aku melihat seorang gadis kecil terjatuh di trotoar. Gadis kecil itu hanya duduk terdiam sambil memegangi kakinya yang sakit sambil basah kuyup terkena air hujan.
Sambil melihat kejadian itu aku berpikir, ke mana orangtua anak ini? Kok bisa-bisanya anak sekecil ini berkeliaran sore hari dengan keadaan hujan deras? Kemana semua orang? Kenapa tidak ada yang menolongnya?

Tiba-tiba aku sadar, bahwa tidak ada seorang pun di halte tersebut. Hanya aku sendiri di sana. Begitu juga dengan keadaan trotoar di seberang jalan tersebut, hanya ada gadis kecil yang mulai menangis karena kesakitan.
Tapi tetap saja aku sama seperti saat aku berpapasan dengan kakek-kakek tadi, egois. Aku bergumam, kalau aku menolong gadis kecil tersebut, baju dan sepatuku akan basah kuyup dan tidak bisa dipakai untuk bekerja esok hari. Lagipula pasti ada orang yang lewat di trotoar tersebut dan menolong gadis kecil itu. Aku pun acuh dan pura-pura tidak melihat gadis kecil itu.

Dan benar dugaanku, lima detik kemudian datanglah seorang pemuda yang menolong gadis kecil itu. Pemuda itu menyeberang dari halte tempatku menunggu bus ke trotoar tempat tempat gadis kecil itu terjatuh. Karena di trotoar tersebut tidak ada pohon atau tempat untuk berteduh, pemuda itu menggendong gadis kecil itu dan ia kembali ke halte. Sesampainya di halte ia menawarkan untuk mengantar gadis kecil itu pulang dan mentraktirnya semangkok bakso. Dengan tersenyum gadis kecil itu mengangguk mau dan memeluk pemuda tersebut. Karena kakinya masih sakit, pemuda itu menggendongnya lagi dan berlari mengantarnya pulang di tengah hujan yang mulai reda. Pikirku, baik sekali pemuda itu mau repot-repot menolong gadis kecil tersebut.

Tetapi, kembali lagi aku sadar, kenapa bajuku basah kuyup? Sepatuku pun juga? Ternyata, akulah pemuda tersebut. Akulah pemuda yang bersedia menyeberang menolong gadis kecil tersebut, menggendongnya karena kakinya sakit, mentraktirnya semangkok bakso, dan mengantarnya pulang. Tubuhku bergerak sendiri untuk melakukannya.

Aku pun heran, kenapa orang seegois aku mau repot-repot menolong gadis kecil ini? Sampai basah kuyup seperti ini? Apakah akan ada hadiah jika aku menolong gadis kecil tersebut? Apakah akan dipuji orang jika aku melakukannya? Atau karena kakek itu? Karena matanya yang sayu? Karena tatapannya yang tidak berharap bantuan apapun dariku? Ataukah itu sifat alamiah manusia? Berbuat baik? Pemikiran itu berputar-putar di kepalaku sambil mengendong gadis kecil ini.

Setelah aku mengantarnya pulang, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasakan perasaan lega, kepuasaan tersendiri. Menurutku, melakukan hal baik memiliki kesenangan tersendiri, dan aku ketagihan melakukannya.

Dengan baju basah kuyup aku berlari, mencari di mana kakek-kakek pembawa boneka tersebut itu berada. Mungkin saja ada yang bisa aku tolong terhadapnya.

Cerpen Karangan: Andrawira Diwiyoga
Facebook: Andrawira Diwiyoga

Cerpen Good Addict merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Hayat Sang Honorer

Oleh:
Suasana pagi itu tak seperti biasanya, rumah yang sepi kini mendadak menjadi ramai. Banyak mobil-mobil mewah yang hilir mudik ke sebuah rumah kecil yang terbuat dari ayaman bambu. Tak

Penyair dan Musisi

Oleh:
Ga banyak yang bisa gua lakuin di sini….. Semua terasa ga berguna bagi gua, hmm apalagi gua, terasa sangat ga berguna buat semua. Hidup gua terasa sangat hampa, “monoton”

Lelaki Paruh Baya di Sekolah Tua

Oleh:
Kaki kecil nya tak pernah letih untuk melangkah menuju sekolah tua itu. Seperti gubuk yang telah lama ditinggal oleh penghuninya. Meja dan kursi enggan menyatu dengan kakinya. Papan tulis

Malam Perpisahan

Oleh:
Kami saling mengucapkan selamat tinggal di seberang apartemen itu. Jalan beraspal penuh lubang-lubang dan anak-anak muda bodoh mengebutkan motornya di antara kami, saat itu jam 10 malam yang dingin

Rintihan Lidah

Oleh:
Semua orang memilikiku. Manusia dan hewanpun memilikinya. Bahkan, tanamanpun sama. Hanya saja berbeda nama. Ada dua cara untuk menggunakanku. Cara pertama, aku selalu di pakai orang untuk mengecap sesuatu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *