Halimun di Tengah Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 May 2014

Hu…hu…hu!”
Isak tangis kecil memblender ulu hati
Berulang-ulang ambul dalam pilu
Meringis miris menggidik bulu kudukku
“Uuuuuk… uuuuuk!”
Lolongan panjang anjing di tengah malam buta
Menguras rasa menggetar atma
Langit bermuram durja
Di kala dewi malam tertutup mega
Dari sebuah TPU sumber suara
Dihuni penduduknya yang tak bernyawa
Di dekatnya pagar tumbuh pohon kariwaya
Tempat bersemayam roh-roh fana

Jarak TPU – kiri dan kanan kurang lebih 200 meter dari rumah pemukiman penduduk. Suara tangisan semakin didekati semakin jelas menyayat-sayat. Tak ada seorang pun yang melewati tempat pekuburan itu, kecuali Yudi yang hendak kembali ke rumahnya.

“Nampaknya kayak Suara tangisan seorang perempuan meratap datangnya dari dalam taman makam umum ini, tak mungkin adiknya mustahil mana ada perempuan di senja buta begini. Hiii! Serem bin angker apa mungkin kuntilanak ya?” Bisik hati Yudi yang mana irama pulsasi di dadanya tambah cepat disela bulu tengkuknya yang merinding sendiri memaksa mulutnya untuk komat-kamit membaca bacaan religi. Ia pun menarik nafas panjang, tak sia-sia punya geretan api yang memiliki senter kecil di bagian belakangnya lumayan cukup untuk menerangi kegelapan malam sejauh mata memandang.

Malam pun semakin larut waktu pada jam tangannya menunjukkan pukul 01.30 dimana semua orang pada tidur dalam mimpi mereka yang indah.
“Pluk… pluk… pluk!”
Ada lemparan batu kecil di depan Yudi di jalan yang beraspal membuatnya terhenyak kaget, sorot matanya jelalatan tetapi tidak membikin hatinya kecut malah agak penasaran, kendati dadanya deg-degan.
“Ada lemparan batu lagi! Apakah arwahnya Citra Ruswita mati penasaranya? Ah nggak… nggak mungkin – peduli mbah Surip, kenapa mesti takut sama makhluk halus, bukankah juga ciptaan Yang Maha Kuasa?” Gumam kecil Yudi. Kabut tipis menghalangi pandangan matanya di tempat sesepi itu, sehabis menghadiri menujuh hari meninggalnya Citra Ruswita teman dekatnya sewaktu sekolah Dasar dulu, lalu ia mengikuti perlombaan main domino di depan rumah pak Renggo yang melaksanakan walimah anak gadisnya hingga larut malam.

Citra Ruswita – biduanita musik keyboard yang suaranya mirip Rita Sugiarto memang cantik dan montok – janda kembang rebutan sang kumbang-kumbang. Menurut kabar berita mayatnya ditemukan di sebuah gubuk tak berpenghuni di bilangan hutan yang sepi. Ia berusaha membela diri mempertahankan kehormatannya dari dua pria bejat yang sedang mabuk. Dengan sisa-sisa keberaniannya – Yudi berusaha mendekati sumber suara tangisan. Ia menjarah masuk ke TPU dengan sedikit was-was.
“Astaga! Benar dugaanku ternyata datangnya dari makam Citra Ruswita, biar lebih dekat lagi…” Bisik Yudi dengan dirinya sendiri sembari melangkahkan kakinya mendekati kuburan Citra. Senter yang menyala diarahkan cahayanya ke atas gundukan tanah tak ada apa-apa, tetapi di belakang batu nisan ia terpana melihat sesuatu benda yang merupakan sumber suara tadi.
“Edan… dasar edan! Ada orang yang nggak bener meletakkan barang berharga di atas kuburan Citra Ruswita. Mungkin ini orang hendak menakut-nakuti orang. Kukira apa ternyata hanyalah suara tangisan perempuan yang direkam lewat telepon genggam. Siapa juga yang naruh benda ini – Handphone Blackberry Nokia edisi terbaru lagi, biar kuambil saja kebetulan punyaku dipinjam adik” Fikir Yudi yang nampaknya tidak khawatir lagi karena hanya sebuah anekdot. Tetapi belum selesai monolognya dari arah belakangnya ada yang mengagetkannya.
“Plak… plak… plak!”
Ada tangan sedang hinggap di bahu kanannya. Ukurannya beda dengan ukuran tangan manusia biasa. Kukunya panjang-panjang dan hitam. Perlahan-lahan Yudi membalikkan badannya
tanpa suara-tiada kata, dan handphone tadi sudah bersembunyi di balik celananya.
“Nah lho! Dedemitan – makhluk aneh, kita sudah bertatapan, engkau pasti bukan makhluk halus beneran, karena lho punya kaki menyentuh tanah!” Ucap Yudi pada makhluk yang berada di hadapannya. Makhluk itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng yang seram.
“Heaaat… heaaat, yea dapat!”
Gerak reflek tangan Yudi menyerobot topeng dari wajah makhluk aneh jelmaan manusia. Senter yang menyala diarahkannya ke wajah dedemitan itu.
“ha… ha… ha! Mau lari kemana lho tengik? ketahuan juga akhirnya si biang kerok bohong-bohongan – makhluk sawang, kiramu aku anak kecil apa? Tawa lepas Yudi karena sudah mengenali orang yang mengerjainnya yang tidak lain adalah sahabat karibnya sendiri.
“Ssssst! Jangan ribut ada orang sakit di rumah sakit, tau?! Tadinya aku mau nakutin pak Tukimin yang penakutnya setengah hidup, biasa pulang sehabis main lomba domino, ehh… tak tahunya elu Yudi!” Ucap Herdy-sambil tersenyum dan tersipu-sipu.
“Ganteng-ganteng ngerjain orang aja, dosa Her? Ayo sana minta maaf sama almarhumah Citra Ruswita!” Tukas Yudi. Mereka berdua kemudian melangkah kaki di jalan setapak menuju rumah sambil bercengkrama di sepanjang malam nan sepi.
“Sorry sobat! Sesekali kan nggak apa-apa? Eh iya lupa mana tuh gue punya handphone – mahal harganya di beli di Duta Mall kemarin” Ucap Herdy.
“Lho itu kalau punya Handphone jangan diletakkan di sembarang tempat, coba kalau kehujanan atau diambil pak Tukimin kan bisa-bisa berabe nanti?” Saran Yudi pada sahabatnya kentalnya itu.
“Iya… iya aku ngerti! Yudi gimana tadi lomba main dominonya, kamu menang lagi, Apa hadiahnya kalau menang?”
“Aku beberapa kali mendaftar, akhirnya masuk semifinal, hadiahnya gede lho! Afanza!” “Afanza? Yang bener aja Yudi, nggak tak percaya aku!”
“Bener, tetapi Cuma rodanya doaaang!”
“Busyet lho Yudi! Nggak habis-habis main lelucon melulu”
“Biar nggak sutris eh salah stress begitu kita perlu canda!” “Aku ada info untukmu – Her!”
“Apa infonya?”
“Karang Taruna kita ‘Cahaya Harapan’ rencananya hendak berwisata ke pantai Takisung untuk menikmati semaraknya pergantian tahun baru, gimana akankah lho ikut serta?” Ajak Yudi pada sahabat kentalnya itu.
“Ahh! Bercanda lagi ya? biasa candamu berbingkai kebohongan… aku tak yakin!” Jawab Herdy pemuda kalem, suka tersenyum, dan tampan yang nampaknya ragu-ragu dengan ucapan Yudi. Sambil menepakkan telapak tangannya ke bahu Yudi.
“Berani sumpah lho, mampusnya jadi mobil truk!”
“Berapa anggota yang ikut, Yudi?”
“Ada 17 anggota putrinya dan 12 anggota putranya dan mobil colt sebanyak tiga buah sudah dicarter, tinggal kita menungu hari-H-nya” Ungkap Yudi.
“Ohhh begitu? Ya… ya.. aku percaya karena engkau sendiri adalah ketua Karang Tarunanya. Aku tak mau ketinggalan kereta-sudah lama rindu dengan butir-butir pasir di pantai itu” Jawab Herdy.
“Rindu sama pasirnya – seloki minuman ke nirwana – atau cewek manis si lesung pipit belahan buah apel? Itu… tu si Siti” Sindir Yudi.
“Mau tau aja kamu urusan orang, syirik dan nggak baik lho!” Sahut Herdy sambil mengangkat bahunya – dua belah tangannya terbuka ke atas – matanya melotot dan dahinya berkerut. Larutnya malam nan dingin membelai langkah mereka berdua. Ada sejuta harapan dan angan yang mungkin mengisi pundi-pundi perjalanan hidup mereka tak lepas dari buaian halimun yang tipis maupun yang tebal seiring kisaran waktu yang berselingkuh tak kenal siapa, apa, dan bagaimana orangnya – tak pandang kaya atau miskin, suka maupun duka.

Percikan-percikan cahaya multi warna bunga api dari mercon dan petasan bernyala – membubung tinggi menghiasi udara di kegelapan malam. Bunyi terompet bersahut-sahutan, ombak air laut kejar-mengejar di atas pepasiran di pantai yang tadinya sepi senyap kini dipadati oleh orang-orang yang haus dengan gempita ria. Kibaran aneka warna bendera di tiang yang panjang melambai-lambai ditiup derasnya semilir angin yang menderu-deru. Dingin-dingin empuknya malam tak memadamkan selera meriahnya pesta senja Tahun Baru. Goyang badan alias joget murah meria mania musik di depan sound system turut mengikuti irama aliran-aliran lagu – musikalistik yang campur baur memekakkan gendang telinga rawan. Kobaran api unggun memberi kehangatan tersendiri disela dawai gitar yang dipetik mereka membentuk lingkaran sambil bernyanyi gembira. Deretan kemah-kemah yang berteraju diatur tata sedemikian rupa. Ada yang duduk-duduk di atas pasir ipis sembari minum, ada pula sejoli yang asik bercengkrama dalam aroma asmara. Aneka versi gaya dan laku membahana di senjakala itu. Tetapi di satu sisi secara tak terduga ada teriakan kecil suara perempuan.
“Tolong… tolong… tolong!”
“Hei Lini! Kamu dengar orang minta bantuan?”
“Kayaknya teriakan seorang perempuan, Maria!”
“Jangan-jangan salah satu teman anggota Putri kita, mari kita mendekatinya!”
“Ada dua orang anggota putri kita sedang pingsan, aduh gimana nih?” Ungkap Hani dengan nafas yang tersengal-sengal, seperti kebingungan karena sementara teman-teman putri lainnya belum nampak batang hidungnya, namun tidak berlangsung lama teman-temannya yang lain berdatangan.
“Jangan bengong aja! Cari tandu atau kita bopong” Kata Ayunda.
“Siapa dan kenapa pingsan?” Tanya Desi yang belum mengenali siapa yang pingsan, karena di pantai malam itu cukup gelap.
“Fitri dan Rini! Nggak tau kenapa tiba-tiba saja mereka lemas dan lunglai lalu roboh ke dalam pangkuanku, udah cepet bantuin!” Ajak Ayunda.

Tidak ada satu pun anggota priannya yang mengetahui kejadian itu, mereka sibuk terbawa arus asik – mansyuknya kegiatan atau aktivitasnya masing-masing. Hanya ada tujuh anggota putrinya yang membantu. Sementara itu Ketua Karang Taruna – Yudi Harhara hanya enjoy saja duduk santai di penginapan sambil menonton acara televisi, ia tidak pergi ke pantai tengah malam itu.
“Segera bantuin mengangkatnya berat, nih!” Pinta Hani.
“Udah begini saja kita bagi tugas! Desi dan Ayunda membopong Rini, Aku dan Hani membopong Fitri” Tutur Lini pada teman-temannya.
“Benar! Kita gantian aja membopongnya ke penginapan karena jaraknya cukup jauh dari tempat ini” Sahut Lina.
“Rini dibopong Desi di sebelah kiri dan Dinda di sebelah kanan, sedangkan Fitri dibopong
Lini di sebelah kiri dan Hani di sebelah kanan. Mereka membentang dan meletakkan tangannya masing masing ke bahu si korban.
“Aduh capek juga! Kita sudah sampai ke penginapan, Kamu Maria dan Lina tolong persiapkan bantal dan tempat berbaring untuk kedua teman kita!” Perintah Lini.
Jangan lupa Minyak kayu putih, air putih hangat-hangat kuku serta selimut!” Sela Hani.

Yudi yang sejak tadi berada di penginapan terkejut melihat ada anggotanya yang sedang semaput, padahal sebelumnya Yudi sudah memperingatkan kepada kedua orang anggotanya itu, agar tidak pergi ke pantai tengah malam itu, karena hujan rintik-rintik dan cukup dingin, tetapi keduanya berisi keras juga pergi ke pantai dengan alasan ingin sekali menyaksikan bagaimana meriahnya pergantian tahun di pantai.

Kondisi Fitri dan Rini masih dalam keadaan lemah dan badannya sangat dingin. Mulut mereka seakan tersumbat tak bisa bicara sepatah kata pun. Hampir dua puluh lima menit keduanya terbaring lemas dengan kedua belah mata mereka masih terbuka tetapi hanya diam. Anggota Putri yang lainnya duduk manis mengelilingi kedua temannya yang layu terbaring tak berdaya itu.

“Gimana nih! Mereka belum memberikan tanda-tanda akan siuman” Ucap Hani.
“Ahh! Palingan juga mereka ngantuk dan hendak tidur” Sahut Lina.
“Kelihatannya tidak begitu, karena tadi siang mereka sudah tidur dan lihat mata mereka masih ngotot mendelik menatap laingit-langit rumah seperti melayang–layang” Seloroh Hani lagi.
“Atau… jangan-jangan kerasukan makhluk…” Sela Maria.
“Husss! Jangan berkata yang nggak-nggak, aku jadi merinding nih!” Kata Dewi agak khawatir badannya gemetaran.
“Dan lagi mana ada makhluk halus berada di tengah-tengah keramaian dan kerumunan orang!” Jawab Hani.
“Tenang… tenang Putri-putri yang manis! Tak perlu risaulah, sini biar aku bantu terapi dulu mereka” Tutur Yudi menenangkan teman-teman putrinya yang berbincang-bincang tentang Fitri dan Rini seolah-olah tak percaya hal ini terjadi.
“Tapi ingat! Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan,lho!” Jawab Hani.
“Curiga boleh, tapi jangan menduga gitu lho!” Sela Lina.
“Alamah! Itu sama aja namanya, ngajari ya? kamu cemburu Hani ya?” Tanya Ayunda.
“Saya tidak ngajari Cuma mengajarkan!” Celoteh Lina berhumor.
“Na itu! Sama lagi kan?” Sahut Ayunda.
“Cewek-cewek jelita mohon tenang bentar. ya?” Pinta Yudi pada kawan-kawan putrinya yang duduk di lantai berkarpet penginapan itu.

Yudi mendekati satu-persatu dari dua anggota Karang Taruna Putrinya yang masih belum normal-terbaring lemas dan kaku. Ia mencoba menelusuri dengan intuisinya duduk bersila – diam memejamkan mata beberapa saat. Telapak tangan kanannya diletakkan ke dahi kemudian ke ibu jari kaki kanan Fitri dan Rini. Remaja putrinya yang beada di rumah itu tertegun dan ada yang gelisah dalam hati mereka berdoa agar dua temannya itu segera sembuh. Setelah itu Yudi berjingkrak menjauh beberapa langkah dari posisi Fitri dan Rini – dibiarkannya kedua korban itu sementara waktu.
“Kita tunggu perkembangannya beberapa menit, sebentar lagi mereka berdua akan berangsur-angsur pulih!” Komentar Yudi.
“Kalau boleh tau! Apa ada sesuatu di balik misteri tidak sadarnya Fitri dan Rini ketua?” Tanya Dewi yang agak tadinya terperangah dan penasaran rasa tak percaya terhadap apa yang dilakukan ketuanya itu.
“Memang sulit dipercaya namun tidaklah belebihan dan jangan dipandang sebelah mata! kenyataannya seperti kalian lihat sendiri, faktor-faktor seperti kelelahan di sela-sela derasnya angin malam yang menderu, hiruk-pikuknya suasana pantai yang begitu ramai dan meriah menghantar mereka terlena dalam kemasygulan dan keasikan hingga mereka lupa” Jelas Yudi
“Memang di pantai tadi mereka berdua kaget dan seperti orang meriang begitu mendengar bunyi letupan mercon dan petasan!” ungkap Hani.
“Menurut mite bahari secara mistik penguasa laut adalah Nyi Roro Kidul beserta anak-anak buahnya. Dua orang anak buah Nyi Roro Kidul yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang merasa tertanggu dan menghampiri dan merasuk ke daam tubuh Fitri dan Rini” Jelas Yudi pada teman-teman putrinya.
“Bukankah itu hanya mitos?” Tanya Maria.
“Mitos itu sendiri mengatakan dalam history-nya; dahulu kala hubungan kerajaan-kerajaan di pulau Jawa berkaitan erat dengan Kerajaan yang ada di Kalimantan, seperti kerajaan Daha, kerajaan Banjar, dan kerajaan Kutei serta kerajaan lainnya. Merupakan rintisan dari kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang terpecah karena peperangan dan perebutan kekuasaan. Kita ambil contoh mudah, dahulu Pangeran Samudra – Pangeran Suriansyah di kerajaan Banjar pernah meminta bantuan pada Kesultanan Demak ketika ketika sedang berperang”. Nah! jadi hubungan itu biasanya ditandai dengan tali persaudaraan, agama, dan perkawinan.” Jelas Yudi yang malam itu mengenakan pakaian putih.
“Apakah ketua kasat mata sehingga bisa menceritakan dan mengetahui dibalik ketidaksadaran Fitri dan Rini?” Tanya Dewi agak penasaran.
“Hanya intuisi saja, Setiap orang punya mata – tapi tidak setiap orang memiliki mata hati yang tajam. Ini bisa dipelajari dengan latihan-latihan memusatkan konsentrasi mata batin. Disini juga kita ketahui arti pentingnya pelajaran sejarah. Oh iya aku sendiri pernah bermimpi dibawa ikut serta naik kereta kencana kehormatan Nyi Roro Kidul. Disaat kereta melewati laut – air laut pun tersibak membelah membuka jalan, sayangnya itu hanya bunga-bunga tidur saja” Komentar Yudi lagi.
Anggota putrinya yang sejak tadi menyimak penuturan Yudi nampaknya manggut-manggut melongo penuh takjub dan heran. Fitri dan Rini sudah mulai menggerakkan kedua belah bibirnya, kuasa mengerakkan sekujur badannya. Hani dan Lini meminumi keduanya dengan air hangat-hangat kuku, namun secara mendadak ada suara teriakan keras di luar depan pintu penginapan. Nampaknya halimun belum juga hilang dari pandangan mata di malam yang buta itu.
“Hei… eah… huk… eah… huk! ke.. ke.. sini kau.. huk… konyol… huk… tukang… huk ngangguin do’i orang… huk!”
Mendengar suara teriakan itu anggota putri yang berada di dalam penginapan itu pada lari ke kamar semua. Herdy yang tidak pernah memarahi Yudi kini seperti angin puting beliung dengan langkah kaki yang terhuyung-huyung dan lamban dengan sebilah keris di tangan kanannya berada di teras penginapan bersama Agus dan Hadi.
“Astaghfirullah! Herdy lho punya penyakit kumat lagi. Dasar ini cecunguk apa lagi mabuk pening-pening lalat atau mabuk berat?” Bisik hati Yudi yang rada-rada gentar juga mendekati sahabatnya di beranda itu. Sambil berkata dengan suara terbata-bata dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Yudi yang sudah mengetahui gelagat Herdy. Secara tak diduga-duga tanpa banyak bicara Herdy langsung menghunuskan kerisnya ke arah Yudi – Yudi yang memang sudah waspada membuat gerakan refleks menghindar-mengelak serangan itu. Tangan kanan Yudi memegang lengan tangan kanan Herdy dipelintirnya dan dipukulnya. Ia tahu jika orang mabuk maka kondisi badannya lemah, sehingga keris itu jatuh ke tanah lalu ditendangnya sehingga jauh dari jangkauan tangan. Yudi kemudian memeluk Herdy dan kaki kanannya menutup rapat gerakan kaki Herdy. Mulutnya berbau minuman.
“Heeh… heeh! ka.. mu… ka… mu.. Uh!”
Herdy dengan nafas yang tersengal-sengal kemudian lunglai lemas di dalam pelukan Yudi. Dibawanya ke dalam penginapan lalu dibaringkannya di ruang depan. Dengan sisa tenaganya dan nafas yang terengah-engah Yudi duduk di lantai. “Sobat! belum kelar lagi satu masalah kini datang lagi bahkan itu darimu sendiri, ada wahana apa gerangan?” Fikir Yudi seakan tak mengerti dengan kisi-kisi kehidupan yang menerpanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.10 Ia menyuruh Agus dan Hadi untuk pergi ke pantai. Meminta agar semua anggota Karang Taruna yang berada di pantai tengah malam itu kembali ke penginapan karena nampaknya sudah lepas tengah malam.

Paginya Herdy sudah normal kembali, tetapi masih terbaring mengeliat-geliat di samping Yudi. “Herdy kamu tidur mengendus-endus begitu kenapa? Tapi Syukurlah! kamu sudah sadar – cowok tengik ente sudah dua kali bikin aku was-was dan dalam kondisi bahaya, elu itu sahabat atau bukan?” Tanya Yudi pada Herdy yang masih layu dan menceritakan kronologisnya kenapa ia sampai tega melakukan itu. Katanya Romi yang menyuruhnya, karena tak suka bin cemburu kekasihnya disentuh orang lain. Herdy terpancing dan dimanfaatkan oleh Romi, apalagi ia dikasih uang untuk beli rok*k dan minuman.
“Lho itu Pidoh, Herdy!”
“Artinya, Yud?
“Pintar-pintar bodoh tau? Coba ingat-ingat sewaktu kita menjalin persahabatan dalam jabat tangan dan tetesan darah yang kita satukan berjanji: seia sekata, senasib sepenanggungan, dan sarantang-saruntung, tapi coba apa kenyataannya? Engkau telah menodainya, faham?” Ungkap Yudi.
“Sorry dech! Aku teledor dan keliru, serta ceroboh kalau lagi ‘on’, aku nggak tau kalau yang dipinta Romi itu ternyata kamu seandainya aku tahu, niscaya berfikir tujuh keliling dunia!” Sahut Herdy.
“Ya udah! Semua ini pelajaran buat kita dan sebenarnya aku nggak ada niatan mengganggunya, hanya ingin menolong itu saja, makanya berhenti aja Miras dan Nark*ba juga Madat sepertinya kamu itu ketergantungan, gunakan tuh lho punya otak, di taruh dimana lho punya otak di dengkulmu?” Tukas Yudi sedikit emosi.
“Ya enggak lha ya! Mau gimana lagi maunya juga begitu, tetapi belum bisa – teori itu mudah tetapi prakteknya tidak semudah membalikkan tangan” Sahut Herdy.
“Herdy… Herdy! Ada aja lho punya alasan, enggak ada habisnya, inilah… itulah… aku Cuma bisa ngasih saran yang punya diri lho sendiri. Mau berubah atau tidak tergantung elu Tanya dirimu sendiri!” Ucap Yudi gayanya seperti seorang penasehat ia sendiri terkungkung dalam lingkaran problem yang belum bisa dipecahkannya.
“Emangnya gue Satria Baja Hitam atau power ranger, yang bisa berubah diri begitu?” Jawab Herdy mencoba berhumor tetapi tidak ada yang mentertawainya.

Kedua sahabat intim itu terbawa aneka canda dan tawa dalam arus pengembaraan hidup yang penuh dengan teka-teki. Meski Herdy belum menemukan titik terang untuk berhenti dari kebiasaan minor lama yang menggerogotinya. Usianya yang terus dimakan waktu ke waktu yang tak hentinya beringsut menanggalkan rekaman memori dalam warna rasa, kendati harus memintal benang kusut semrawut yang teramat ruwet. Badannya semakin kurus kerempeng-terbalut tulang. Sampai kapan? Wallahu a’lam…****.

***Salam persahabatan selalu buat: Maslahuddin S.Pd (Martapura) – Husni Paluvi, S.Pd (Banjarmasin)- Rosehan Anwar, S. Pd (Ilung)- Rusdi, S.Pd (Amuntai)

Cerpen Karangan: Rusdiansyah

Cerpen Halimun di Tengah Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Orang Gila

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

Prahara Kampung Rawa

Oleh:
Setiap kali musim penghujan tiba, sudah bisa dipastikan bahwa kampung yang letaknya di bantaran kali sana pasti akan banjir. Setiap tahun, setiap kali hujan mengguyur, pasti sungai atau yang

RyA

Oleh:
Mungkin kalian sudah sering mendengar kisah ini. Namun tak sekali pun kisah ini terealisasikan dalam kehidupan nyata. Ku ingatkan, kisah ini bukan kisah fiksi. Kisah ini didasarkan pada sejarah.

The Power ff Liar (Sang Pembohong)

Oleh:
Di pintu masuk suatu kampung yang paling maju di daerah iwak toman, tampak ramai. Beberapa orang berseragam mengelilingi 3 orang anak muda yang membawa alat-alat musik. Ketika diperhatikan seragam

Allah SWT Memang Maha Adil

Oleh:
Dari selembar kertas kutulis pengalamanku yang membuatku menangis. Menangis deras untuk sebuah benda yang hilang. Betapa pentingnya benda itu untukku dan keluargaku. Benda itu hanyalah sebuah hp dan sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *