Hanya Satu Perang Yang Tidak Dapat Aku Menangkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat, Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 25 September 2021

Kebiasaanku pada waktu libur adalah mengunjungi Kakekku yang merupakan seorang anggota Veteran. Kakek sudah berusia lebih dari 90 tahun dan hanya saat aku berkunjung Kakek banyak bercerita.

Di masa tuanya, Kakek memang membatasi bersuara, kata Bude ku (Kakak dari Ibuku) “Kakung sedang jalani topo bisu”, Bude menjelaskan kepadaku kebiasaan orang jawa dulu sering bertapa salah satunya Topo Bisu yaitu tidak akan berbicara apapun. Tapi tidak berlaku kepadaku karena setiap mengunjungi Kakek, aku selalu bertanya tentang kisah heroiknya saat berperang melawan penjajah dulu.

Aku adalah satu-satunya cucunya yang berprofesi sebagai prajurit TNI sedangkan paman-pamanku tidak ada yang mau menjadi Tentara karena trauma hidup bersama Kakek yang dulu di masa susah lebih banyak menderita daripada senangnya.
“Piye, Le? Uripmu wes mulyo?”, Kakekku bertanya kabar dengan bahasa jawa yang artinya Bagaimana? Apakah hidupmu sudah senang?.

Aku bercerita betapa aku menyenangkan profesiku walaupun sejujurnya menjadi seorang prajurit itu hanya 10% enaknya sisanya 90% enak sekali. Saat mengikuti seleksi mendaftar menjadi prajurit penuh tantangan dalam perjuanganku, mengikuti pendidikan banyak peluh yang harus dicucurkan dan saat berdinas kenyataan hidup sering bertentangan dengan kenyamanan karena memang aku berdinas di satuan tempur yang setiap saat resiko mengancam.

“Kamu akan bahagia jika mampu mencintai penderitaan karena hidup prajurit itu 90% menderita”, Kakek menasehatiku ketika dulu aku hendak mendaftar menjadi Tentara. Dan memang demikian, semua kegiatan dalam kehidupanku harus dilakukan dengan gembira sehingga yang susah terasa mudah, yang berat terasa ringan. Dan itulah yang dimaksud Kakek mencintai penderitaan.

“Kung, mana yang lebih berat, perang melawan Jepang atau Belanda?”, aku bertanya kepada Kakung (Kakek dalam bahasa Jawa).
“Kita tidak pernah melawan Jepang, justru Jepang yang menciptakan Tentara kita. Kita dulu melawan sekutu setelah proklamasi”, Kakek mulai bercerita.

“Dalam sejarah kita menang melawan Sekutu, emangnya berapa banyak musuh yang terbunuh, Kung?”, tanyaku kembali.
“Menang perang itu bukan dihitung banyaknya musuh yang terbunuh, tapi tercapainya tujuan perang itu sendiri. Kita berperang untuk mempertahankan kemerdekaan, jika kita bisa merdeka, maka kita dikatakan menang”. Kakek bercerita tentang strategi perangnya.

“Kung, apa benar saat itu rakyat kita ikut berperang dengan bambu runcing? Bukankah itu tindakan bunuh diri, bambu runcing melawan senjata mesin?”, aku menanggapi cerita Kakek yang menceritakan banyak rakyat yang ikut perang walau hanya gunakan senjata bambu runcing.
“Itulah kamu yang terdoktrin dengan strategi Liberal”, Kakek menuduhku karena aku mengungkap pendapatku tentang perbandingan relatif bertempur yang mana pertempuran harus menganalisa antara kekuatan musuh dengan kekuatan pasukan sendiri.
Kakek melanjutkan ceritanya “memang bambu runcing tidak akan bisa melawan senjata mesin tetapi dengan tekad dan semangat, bambu runcing dapat mencongkel jantung musuh dan kamu akan menang kalau sudah mencongkelnya (jantung musuh) bukan hanya sebatas melucuti senjata mereka”.

“Kung, pertempuran yang paling berat yang Kakung hadapi saat kapan?”, aku kembali bertanya tentang pengalaman kakekku.
Kakek bercerita ketika beliau bertempur di Ambarawa, Jogja dan Magelang saat melawan Belanda. Beliau juga menceritakan berperang di Sumatera saat menumpas PRRI, di Maluku menghadapi RMS dan di Madiun menghadapi PKI.
“Perang itu terasa berat kalau kamu merasakannya, tapi terasa senang kalau kamu mencintainya”, pendapat kakek yang sulit untuk aku cerna. “masa’ sih kita mampu mencintai perang?”, dalam batin aku menyangsikan.

“Dari semua perang itu, musuh mana yang paling sulit dihadapi, Kung?”, tanyaku.
“Tidak ada yang sulit, nyatanya semuanya mati”, jelas kakek.
“Iya lah, Kung, kan semua manusia akan mati”, jawabku sambil berseloroh.
“Kalau kamu mati duluan, musuh akan berjaya lebih lama dan keluargamu ditindas mereka. Kalau musuh mati duluan, kamu masih ada kesempatan untuk membahagiakan keluargamu”, penjelasan kakekku yang yahud.

“Benar gak Kung, Pak Dirman itu gunakan rompi anti peluru? Kata orang Beliau kebal peluru, bukankah dulu belum ada rompi anti peluru”, aku minta penjelasan Kakek yang dulu pernah bersama Panglima Besar Sudirman.
“Benar, Pak Dirman selalu berwudhu, wudhu itulah rompi pelurunya”. Kakek bercerita pengalamannya saat bersama Pangsar Sudirman. “Kamu hanya bisa membidik, setelah kamu menekan picu, Allah swt yang mengarahkan peluru ke sasaran, kalau kamu dekat dengan-Nya, niscaya kamu akan terlindungi”.

“Kakung pernah kalah gak?”, tanyaku.
“Hanya satu perang yang tidak dapat aku menangkan, yaitu Perang Batin. Antara kenyataan selalu berbeda dengan keinginan. Kenyataan itu pemberian Tuhan sedangkan sebagian dari keinginan ada yang dari bisikan syaitan. Kalau Kamu beriman, kenyataan itulah yang harus disyukuri dan jadikan keinginanmu” nasehat Kakek yang sangat dalam artinya.

Cerpen Karangan: Riyandi Mallay

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Hanya Satu Perang Yang Tidak Dapat Aku Menangkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terlalu Cepat Kau Pergi

Oleh:
Di tengah kesunyian malam. Suara jangkrik terdengar begitu keras. Desir air bersorak begitu ria. Cahaya rembulan tampak tersenyum di malam itu. Dimas, sang pemuda tanggung yang menjadi tulang punggung

Surat Senja Untuk Fuada

Oleh:
“Tahukah kamu, Fuada, kapan tulisan-tulisan ini diikat oleh penaku dalam kertas kusam ini??” “Senja” Banyak hal yang kupelajari dari senja, dan kau harus tau!!! Pertama, aku melihatmu untuk kali

Karenamu Aku Mengerti

Oleh:
Takengon masih dengan suasana seperti hari-hari sebelumnya sejuk dan dingin bagi para pengunjung Laut Tawar ini. Tak seorangpun dari kelompok kami yang beranjak meninggalankan tenda apalagi untuk beraktifitas terasa

Tuhan, Aku Lelah!

Oleh:
Rangga mendekap kaleng racun serangga yang isinya nyaris habis tak bersisa, sementara itu seekor kecoak di hadapannya menari gembira. — Hari ini adalah awal semester ganjil. Rangga melangkahkan kakinya

Di Tengah Debu Dunia

Oleh:
“Ah. tanggal 30 September” ujar Andi dalam hati sembari melirik kalender yang berada tepat di samping ibunya, ini berarti ia telah berada di tempat itu selama satu minggu tepat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hanya Satu Perang Yang Tidak Dapat Aku Menangkan”

  1. Raditya Dzaky says:

    Kakek nya sangat berjuang berat demi indonesia kakek nya rela ikut perang membela indonesia untuk merdeka menghadapi tentara eropa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *